Saga no Gabai Baachan (Nenek Hebat dari Saga)


saga no gabai baachan, nenek hebat dar saga, yoshichi shimada, Pustaka InspiraJudul Buku: Saga no Gabai Baachan (Nenek Hebat dari Saga)
Penulis: Yoshichi Shimada (Akihiro Tokunaga)
Penerbit: Pustaka Inspira
Tahun Terbit: 2013
Alih Bahasa: Indah S Pratidina
Tebal Halaman: 254
ISBN: 978-602-97066-2-8

Akihiro Tokunaga cuma seorang anak kecil. Tanpa meminta persetujuannya, ibunya dan adik ibunya mengirim dirinya ke Saga untuk diasuh oleh Nenek. Akihiro sedih, namun lambat laun ia mengagumi neneknya

Ayahnya baru saja meninggal karena radiasi nuklir di Hiroshima. Ibu Akhiro memutuskan membuka sebuah bar untuk menghidupi keluarga. Tetapi beban semakin berat. Ia lantas meminta adiknya, Kisano, agar membawa Akihiro Tokunaga ke Saga untuk diasuh neneknya.

Saat pertama kali melihat rumah nenek, Akihiro terkejut. Rumah nenek lebih parah dari rumah ibu. Jika keadaan ibu dapat dikatakan miskin, keadaan nenek jauh lebih miskin. Waktu pertama kali baru menginjakkan kaki di rumah Nenek, Akihiro membayangkan Nenek akan menawarinya makan. Alih-alih makan, Nenek malah mengajarkan bagaimana menanak nasi.

Pada pagi hari, sewaktu menunggu neneknya yang belum pulang dari bekerja. Ia melihat dengan kadar ketertarikan tinggi pada galah-galah yang terlihat sengaja dipasang di sungai dekat rumah. Nantinya ia tahu bahwa galah-galah tersebut sengaja dipasang Nenek agar dapat menghentikan sayur-sayuran yang dibuang orang-orang di sungai. Lewat cara inilah Nenek dapat memasak makanan untuk mereka. Nenek menjuluki sungai tersebut dengan Supermarket. Akihiro mulai tertarik dengan cara-cara Nenek bertahan hidup. Nenek memang miskin, tetapi nenek bahagia dengan kemiskinannya. Dia tidak pernah mengeluh, bahkan mengucapkan miskin-turun-temurun dengan tertawa.

Akihiro terheran-heran ketika mendengar bunyi klontang-klontang saat Nenek pulang. Dengan nada tak mengerti ia melihat ada sebuah tali yang diikat di belakang Nenek. Di ujung tali tersebut, ada sebuah besi dan pada besi tersebut terlihat beragam logam menempel. Nenek menjelaskan bahwa besi tersebut adalah magnet. Nenek sering berjalan kemana-mana sambil membiarkan magnet tersebut terseret-seret sepanjang perjalanan. Dengan cara ini, Nenek mengumpulkan logam-logam yang tercecer di jalanan. Logam-logam tersebut kemudian dijual pada pengepul logam bekas.

Keadaan Akihiro dan neneknya diketahui oleh semua orang. Tidak mengejutkan jika guru-gurunya pura-pura sakit perut agar dapat menukar makanan Akihiro yang sederhana dengan punya guru tersebut yang lebih bergizi dan enak. Seorang gadis, Yoshinaga-san, juga tak kekurangan akal dengan berbagai akal untuk mentraktir Akihiro semangkuk besar Mie Udon. Sementara Nanri-kun membawa sayur-sayuran hasil bumi orangtuanya untuknya. Sedangkan Hashiguci-kun mencuci baju Akihiro. Bahkan Akihiro terkejut, ketika neneknya membelikan sepatu berpaku mahal demi kepentingan hobi baseball-nya seharga lima ribu yen, padahal dia berpendapat kalau neneknya pelit. Dan saya heran bahwa cerita ini nyata, bukan fiksi. Biasanya kebaikan-kebaikan seperi ini cuma monopoli cerita-cerita film layar lebar.

Tidak banyak novel yang menyajikan cerita dari sudut pandang anak kecil yang sedemikian menyentuh. Kata menyentuh disini jangan diartikan selalu menangis atau sedih tetapi sungguh ada sesuatu yang berarti di dalamnya. Totto-chan dan Saga no Gabai Baachan adalah beberapa diantaranya. Penulisan cerita tidak berdasarkan plot tertentu. Cerita seperti berdiri sendiri antara satu dan lainnya, meskipun tentu saja mereka dihubungkan dengan waktu, mengingat cerita ini adalah kisah hidup seseorang.

Novel ini mempunyai dua tokoh utama. Akihiro dan Nenek Osano. Karakter Akihiro lebih kuat dari Osano. Penulis menggambarkan Akihiro baik secara tindakan fisik maupun keadaan pikirannya. Sedangkan Nenek Osano hanya dinarasikan secara fisik saja. Tidak mengherankan, Yoshichi Shimada adalah Akihiro sendiri, sehingga dia pastilah tahu pikiran-pikirannya sendiri. Namun saya tak bisa mencela kekurangan sudut pandang orang pertama sebagai narator tetapi menceritakan tokoh lain sebagai tokoh sentral ini. Bagaimanapun ini adalah kisah nyata, wajar kalau penulis tidak maha tahu terhadap pikiran tokoh lain. Satu-satunya tindakan fisik yang menyentuh dan menggambarkan pikiran Nenek Osano adalah ketika dia mengatakan, “Jangan pergi,” saat Akihiro akan meninggalkan neneknya untuk melanjutkan sekolah di Hiroshima. Ini baru bagus, bahwa disamping ketegaran, seseorang pastilah mempunyai sumber air mata pada dirinya. Sungguh suatu cerita akan terlihat kurang bumbu tanpa cacat pada tokoh utama.

Menurut saya, ada tiga kebaikan dari Saga no Gabai Baachan: cara-cara bertahan hidup, ketulusan hati, dan menjalani hidup sesuai dengan apa yang ada. Nenek Osano mencari sayuran-sayuran terbuang dari sungai dan mencegat persembahan orang pada dewa berupa makanan yang dihanyutkan di sungai untuk makanan mereka sehari-hari. Ketulusan Nenek Osano yang tetap bersedekah meskipun ia sendiri berkekurangan diganjar dengan kebaikan orang. Dokter yang mengobati Akihiro tidak mau dibayar. Tukang tahu menjual separuh harga untuk tahu yang rusak. Dan yang paling penting, Nenek Osano selalu bergembira setiap hari. Buku ini benar-benar harus dibaca oleh semua orang.

Daftar Tokoh:

Nama Tokoh

Keterangan

Akihiro Tokunaga

Tokoh utama. Menjelang SD harus berpindah dari Hiroshima ke Saga untuk diasuh neneknya

Nenek Osano

Nenek Akihiro Tokunaga. Hidup miskin di Saga. Selalu mempunyai akal dalam mempertahankan hidupnya dan cucunya

Ibu Akihiro Tokunaga

Janda. Pandai menyanyi

Bibi Kisako

Adik ibu Akihiro Tokunaga. Bisa memainkan Shimasen

Tanaka

Guru olahraga di sekolah Akihiro Tokugawa

Nanri-kun

Suka membawakan hasil kebun untuk Akihiro. Ayahnya pemilik perkebunan besar

Hashiguci-kun

Teman Akihiro. Ayahnya pemilik Penatu. Suka mencucikan baju-baju Akihiro

Gyu-chan

Guru Akihiro yang suka memancing

Penjual Tahu

Sering merusak tahu-nya sendiri agar dapat dibeli Nenek Osano dengan separuh harga

Guru Musik

Akihiro menjahilinya. Karena tindakan ini ia harus mengganti papan tulis sekolah

Sanrou

Penjahit, sepupu Nenek Osano. Sering meminjam uang pada Osano

Yoshinaga-san

Gadis yang sering membelikan makan Akihiro dengan cara tersembunyi

Kubo

Teman klub baseball Akihiro. Semua teman-teman baseball membantunya agar Kubo dapat mengunjungi Miyazaki bersama mereka