Cerita Anak: Gara-gara Stipo


Stipo2Pras menggosok-gosok kertas pada buku tulis. Sebuah penghapus tinta biru ada diujung jarinya. Dahinya berkeringat. Dia sudah melakukannya untuk ketiga kalinya. Dia tidak menyukai pelajaran PMP, Pendidikan Moral Pancasila. Terlalu banyak menulis, ujarnya suatu kali. Kalau disuruh memilih, dia lebih menyukai olahraga.

Pras masih beruntung. Dia menggosok pelan-pelan, sehingga kertas miliknya tidak pernah sampai berlubang. Lain lagi dengan Devi yang duduk di depannya. Gadis kecil itu sering membuat kertasnya berlubang. Dia terlalu bersemangat menggosok dengan penghapus tinta.

Devi melihat pada papan tulis berwarna hitam. Wuih, masih banyak yang harus ditulis. Kepalanya berputar melihat teman-temannya. Saat matanya melihat Harsono, dia tertegun.

Harsono memegang kuas kecil di tangan. Kuas itu dipoleskan pada kertas, sesudah itu ia memasukkan kuas tadi pada sebuah botol. Devi keluar dari bangku dan berjalan menuju tempat Harsono. Matanya mengarah pada kertas. Dia melihat seperti sapuan cat berwarna putih. Pada bekas sapuan tadi, Harsono menuliskan sesuatu.

“Apa itu?”

Harsono menoleh pada Devi. Ada perasaan bangga di matanya.

“Ini namanya Stipo. Untuk menghapus tulisan di kertas.” Tangannya mengetuk-ngetuk botol stipo dengan telunjuk.

Suara Harsono membuat beberapa temannya mengarahkan pandangan padanya. Beberapa orang mendekati bangkunya. Dodot sampai harus berjinjit karena pandangannya terhalang. Dodot memang bertubuh lebih pendek dari teman-temannya.

“Bagaimana cara memakainya?” Wicaksono bertanya.

Jempol dan telunjuk Harsono memegang penutup botol. “Lihat. Putar tutupnya seperti ini untuk membuka. Kemudian sapukan pada tulisan yang salah. Tunggu beberapa sampai kering dan abragedabra…..kita dapat menulis diatas sapuan tadi.”

Kemudian Harsono mengambil botol plastik kecil lagi. “Ini pengencernya. Kalau stipo kering, kita bisa mengencerkan dengan ini.”

Dia menuangkan botol pengecer pada kuas stipo. Terjadi keajaiban. Cat putih di kuasnya mencair.

Pras terkagum-kagum. Nanti sore dia akan meminta Papa untuk membelikan stipo.

***

Esok hari, Wicaksono, Pras dan Devi berangkat sekolah dengan hati gembira. Di tas mereka terdapat stipo.

Pada pelajaran Orkes, Olahraga dan Kesehatan, Devi berulangkali memakai stiponya. Lain dengan Pras. Dia cukup hati-hati memakai stipo. Berusaha menghemat. Stipo seakan-akan emas yang harus hati-hati saat digunakan.

Teman-temannya yang tidak mempunyai stipo juga bergembira. Mereka sering meminjam dari mereka berempat. Sampai suatu saat, Pras melihat Wicaksono menuliskan namanya di bangku menggunakan stipo. Dia juga ingin melakukan. Tetapi dia menuliskan pada sandaran kursi. Teman-teman yang lain segera mengikuti. Ada yang menulis di samping bangku. Di laci bangku. Bahkan mulai usil mencoreng pipi teman mereka dengan stipo.

Bu Aminah menghentikan menulis di papan tulis. Hidungnya mencium bau pengencer stipo. Baunya keras. Ia membalikkan badan. Menghadap pada murid-muridnya. Betapa terkejutnya. Beberapa anak tampak asyik mencorat-coret bangku.

“Hei…ada apa ini.” Bu Aminah memukulkan penggaris di meja. Tarrrr. Suaranya seperti lecutan tali di udara. Tarrrrrrrrr.

Anak-anak terdiam. “Kenapa kalian mencorat-coret bangku?”

Tak ada anak yang menjawab. “Punya siapa itu?” Ujung penggaris Bu Aminah terarah pada sebotol stipo dan pengencernya di meja depan. Tak ada yang mengaku.

Ketika Bu Aminah meraih stipo tadi, suara Wicaksono bergetar. “Punya saya, Bu.” Bu Aminah tidak jadi mengambil.

“Sekarang masukkan semua stipo ke tas. Mulai sekarang, kalian dilarang membawa stipo ke sekolah.”

***

Seminggu sudah berlalu sejak Bu Aminah melarang membawa stipo. Pras merasa tak bergairah bersekolah. Dia tidak bisa memamerkan stipo barunya. Devi kembali lagi membuat lubang pada kertas. Kadang-kadang dia seperti menangis melihat kertasnya. Bu Aminah selalu melakukan razia setiap hari. Tas murid-muridnya dibuka. Siapa yang membawa stipo pasti disita.

Bu Aminah sedang menulis sesuatu di mejanya. Meja guru itu menghadap ke murid-murid. Pras lesu menulis. Matanya terkadang beredar ke penjuru kelas. Sesekali matanya melihat Bu Aminah tampak kesal. Kacamatanya seakan mau jatuh saat menatap kertas di hadapannya.

Bu Aminah mengangkat dagu, memandang murid-muridnya. Wajahnya tampak ragu. “Siapa yang membawa stipo?”

Wajah murid-murid SDN Kalisari II langsung tegang.

Bu Aminah tersenyum. “Ibu tidak bermaksud menyita. Ibu cuma mau pinjam.”

Anak-anak masih tidak percaya. Bagi mereka stipo adalah benda mahal. Kalau sampai disita, mereka tidak mempunyai kebanggaan lagi.

Bu Aminah mengulangi lagi pertanyaannya. Kali ini dia menunjukkan kertas ke hadapan mereka. “Ibu menulis hasil ulangan kalian di kertas ini. Kalian tentu tidak ingin Ibu menulis angka enam padahal nilai kalian sembilan, kan?”

Pras ragu. Ia membawa stipo. Ia menyelipkan stipo di kaus kaki, sehingga lolos dari razia tadi pagi. Dia tidak bermaksud menggunakan di sekolah, tetapi di tempat kursus bahasa inggris.

Dengan ragu ia mengambil stipo di kaus kaki dan mengacungkan pada Bu Aminah. Seluruh kelas tambah tegang. Mereka takut jika mendengar suara penggaris menabrak meja. Tarrrrr…..

Tetapi tidak. Bu Aminah tersenyum, mengambil stipo milik Pras. “Nanti Ibu kembalikan. Sekarang Ibu pinjam dulu.”

Pras lega. Bu Aminah tidak menyitanya.

“Bu Aminah memperbolehkan kalian membawa stipo lagi. Tetapi kalian harus berjanji. Jangan mencorat-coret bangku. Lihat, bangku kalian sudah dibersihkan oleh Pak Ahmad. Kasihan jika Pak Ahmad harus membersihkan corat-coret kalian lagi.” Bu Aminah berkata di depan kelas setelah selesai menulis nilai ulangan mereka di kertas.

Teman-teman Pras merasa lega. Devi hampir menangis. Bukan karena sedih, tetapi bahagia karena tidak harus melihat kertasnya berlubang lagi.