Mama Munafik


Rose_Bouquet_wallpaper_1152x864“Aku benar-benar muak melihat Mama. Benar-benar munafik. Tampang saja seperti muka bayi, tapi apa yang dia lakukan jauh berbeda dengan kenyataan.” Deena menenggak dalam-dalam gelas berisi minuman ringan. Kemudian meletakkan kembali di meja dengan kasar. Untung saja gelas yang dipakainya berpantat tebal, kalau tidak, mungkin gelas itu sudah pecah.

“Jangan ngomong begitu, Deena. Enggak baik. Masa mama sendiri dibilang munafik.” Lisa dengan santai melahap pangsit mie. Deena bersikap seperti ini sudah tradisi. Temperamental. Ceplas-ceplos dan tidak pernah berusaha memperhalus bahasa yang dipakainya. Syukur saja Deena tipe cewek barbie. Kecantikannya menutupi tabiatnya. Biarpun nyebelin, cowok-cowok tetap antri menunggu jawabannya “Ok, you have a date with me.”

“Bayangkan, Lis. Sejak SMP Mama selalu bilang ‘jangan pacaran, kamu itu masih kecil, belajar dulu’ ‘Deena, pakaian kamu terlalu rendah. Panjangin dikit rok-nya’ ‘Kalau kamu pacaran, kamu kawin aja, gak usah sekolah.”

Lisa mencari-cari es teh, kepedasan. Setelah menandaskan hampir setengah gelas, ia menyahut. “Rasanya enggak ada yang salah sama omongan mama kamu, deh. Kenapa kamu sewot?”

“Itu sudah kuno. Lis. Emang sekarang jaman batu apa?”

“Yah, sudah, Non. Kalau memang kamu ada masalah ama mama kamu ya bicarakan sama mama kamu. Kok ngomong ke aku.”

Deena sebal. “Aku sekarang curhat sama kamu. Nyebelin!” Diangkatnya pantat cepat-cepat untuk menggeser kursi ke belakang. Suara derit kursi beradu dengan lantai mengagetkan Lisa.

“Pokoknya malem ini aku laporin ke Papa kalau Mama selingkuh.”

Lisa tersendak. Kali ini rasa pedasnya masuk ke kerongkongan. Tangannya menggapai-gapai gelas es teh. Setelah reda, ia menatap tak percaya. “Kok kamu tahu?”

“Sejak aku masih SD, Mama sering dapet bunga dari kurir toko bunga. Waktu itu aku kira Mama dapat dari Papa, tapi dua bulan yang lalu aku gak sengaja buka laci rias Mama. Nama di kartu itu bukan nama Papa.”

Lisa manggut-manggut. Ini masalah dalan negeri, dia tidak berani berkomentar. Ia cuma menggeleng-geleng prihatin pada Deena yang meninggalkannya tanpa pamit.

***

Deena dan papanya berjalan beriringan menuju kamar. Mama sedang mematut-matutkan diri di cermin setelah mandi.

Deena berdiri dekat pintu bersedekap. Balas dendam pada mama segera terlaksana. Pak Daryadi, papa Deena, berjalan mendekati meja rias istrinya, Santi.

Dengan serta merta Daryadi membuka laci rias. Matanya puas memandang tumpukan kartu-kartu ucapan.

“Jadi benar apa yang diomongin Deena.”

Mama tidak menjawab apa-apa. Wajahnya datar. Deena semakin muak. Kelihatannya mama tidak merasa bersalah.

“Sekarang tunjukkan sama Papa, Ma. Siapa laki-laki ini!” Wajah Daryadi benar-benar merah tanpa metafora. Darahnya benar-benar bersiaga mengalir dari kepalanya.

“Besok saja, ya, Pa. Sekarang sudah malam.”

“Enggak, Ma. Se…ka…rang…ju..ga.” Daryadi mendelik.

Santi melihat tanpa ekspresi ke arah Daryadi. “Baiklah, Pa. Mama antar Papa kesana.”

Mereka hanya berdiam diri sepanjang perjalanan. Deena penasaran, seperti apa laki-laki yang menyukai mamanya. Betapa berani dan kurang ajar laki-laki itu. Deena ingin mendaratkan pukulan karatenya di mukanya.

Papa dan Deena heran saat Santi memandu mereka memasuki jalan sepi. Saat berada di muka gapura Pemakaman San Diego Hills, Mama meminta Papa berhenti. Dengan muka tak mengerti Papa dan Deena saling berpandangan. Saat membuka pintu tadi, Papa membawa serta tongkat baseball miliknya dengan garang. Tapi sekarang tongkat baseball itu tergantung di samping.

Daryadi dan Deena berpandang-pandangan. Mereka masuk ke sebuah makam.

Kedua mata Santi melihat dengan berkaca-kaca pada makam di depan mereka.

“Sebelum aku sama kamu, Mas. Aku sudah berpacaran dengan Brian. Ini makamnya. Aku sudah berpacaran selama enam tahun. Setiap kali aku ulang tahun, Brian selalu mengirim buket mawar merah kesukaanku. Dia tidak pernah lupa menyelipkan kartu di sela-sela bunga. Sesaat sebelum dia meninggal karena leukemia, ia memberi sejumlah uang pada toko bunga. Ia meminta toko itu mengirim buket mawar setiap kali aku berulang tahun.” Santi berhenti. Ia mengusap air mata di pipi dengan punggung tangan. “Ia meminta toko itu tetap mengirimkan bahkan setelah dia mati.”

Denna tak dapat lagi melihat mamanya dengan jelas. Perlahan-lahan seluruh matanya tertutup oleh cairan hangat. Tangan Daryadi bergetar. Tongkat baseball-nya jatuh ke tanah. Kedua tangannya lemas menggantung disamping badan.

***

Santi melihat jam di dinding. Baru pukul setengan dua pagi. Ia beranjak bangkit dari tempat tidur. Dia berjalan ke arah lemari. Tangannya mengambil sebuah kotak. Ia lantas berjalan menuju balkon rumah di bagian belakang. Air dari kolam renang di bawahnya tampak berkilauan disinari lampu mercury di dekat tembok.

Matanya memandang dengan haru pada isi kotak. Beberapa bunga mawar tampak mulai layu dan kering. Dengan jempol dan jari telunjuk, ia mengambil setangkai mawar. Diciumnya sampai air matanya kembali meleleh.

“Brian.” Matanya memandang ke arah bulan. “Bisakah kamu meminta pada Tuhan agar aku bisa ketempatmu?”

Jauh di dasar kotak kardus itu, sebuah kartu tampak kekuning-kuningan. Sebuah kalimat tertulis disana.

Aku selalu mencintaimu, Santi. Cinta kita abadi.

Brian.