Mengenal Kaidah Pemlotan: Plausability, Suspense, Surprise, dan Unity


Para penulis Novel mempunyai sifat kreatif dan imajinatif. Kata kreatif mengacu pada sifat bebas menciptakan cerita, tokoh, gaya bercerita, dan teknik sehingga menghasilkan nilai estetis (keindahan). Sifat imajinatif berarti penulis dapat membuat cerita bahkan cerita yang belum pernah ada sekalipun. Kata imajinatif dan kreatif inilah yang membuat penulis “liar” sejauh imajinasi mereka. Keliaran ini harus dikendalikan dengan plot agar dapat disajikan secara menarik bagi pembaca

  1. Plausability
    Sifat plausability adalah suatu sifat bahwa sebuah cerita dapat dipercaya sesuai dengan logika cerita. Betapa kita merasa begitu frustasi, bingung, dan ragu kalau membaca cerita tak logis sama sekali. Contoh: Ada jagoan A yang sedang berada di bumi. Tiba-tiba dia mendapat tugas memberantas pemberontakan di planet Mars. Tanpa menjelaskan apa-apa, penulis novel mengatakan bahwa jagoan tersebut telah berada di planet Mars kurang dari satu detik. Nah, lho? Andai dia menjelaskan bahwa perpindahan tersebut karena memakai teleporter atau melalui mesin warp, kita masih bisa menelan ceritanya.Lantas bagaimana kita menilai apakah suatu cerita itu plausability atau tidak? Cara pertama adalah dengan membandingkan dengan realitas faktual (dunia nyata). Namun cara ini mempunyai kelemahan. Bagaimana dengan cerita fantasi yang benar-benar imajinatif semacam Harry Potter? Memangnya bisa suatu ketika kita terbang dengan sapu semacam dia? Oleh karena itu lantas timbul apa yang dinamakan realitas imajinatif.

    Sampai disini, kita dapat menilai apakah cerita tersebut bersifat plausability atau tidak. Sebuah cerita dikatakan plausibel jika tokoh-tokoh cerita dan dunianya dapat diimajinasi (imaginable) dan peristiwa-peristiwanya mungkin saja dapat terjadi.Ngomong-ngomong masalah logis dan tak-logis, saya jadi ingat istilah Deus ex Machina. Istilah ini berasal dari bahasa latin. Kurang lebih artinya “a god from machine”. Istilah ini terbentuk sejak jaman orang yunani sering mementaskan drama. Pada pementasan drama tersebut sering dikisahkan bahwa dewa-dewa turun ke bumi untuk memecahkan masalah manusia.

    Pada jaman sekarang, istilah deux ex machina tetap dipergunakan tetapi dengan konotasi yang negatif. Contoh: Anda tentu sering bahkan sangat sering melihat adegan di sinetron seperti ini: Untuk mengangkat tokoh yang miskin, Sang Tokoh lantas ditabrak orang kaya. Orang kaya tersebut lantas melakukan tindakan yang berhubungan dengan pemindahan kekayaan dari dia ke tokoh miskin ini. Ada berbagai cara. Mungkin dia mewariskan kekayaannya ke tokoh ini karena dia mau mati atau dia mengangkat tokoh ini menjadi anak. Ini yang disebut deux ex machina. Penulis potong kompas. Cari gampangnya saja sehingga akhirnya menyelesaikan persoalan dengan cara yang mengurangi kadar plausability cerita tersebut.

  2. Suspense
    Pernah kesetanan membaca sebuah novel? Anda ngebut sampai empat jam hanya karena penasaran dengan cerita dalam novel tersebut? Atau anda sampai tidak tidur malam. Nah novel anda tersebut bisa saja karena memiliki kadar suspense sangat tinggi. Suspense timbul karena pembaca menyadari adanya sesuatu yang tidak pasti sedang menimpa tokoh tempat dia bersimpati atau adanya harapan pembaca yang belum terpuaskan. Misal, pembaca ingin tokoh A berpacaran dengan tokoh B. Tetapi sampai halaman 120, pembaca masih belum melihat A dan B ini berpacaran. Tentu saja pembaca penasaran.

    Salah satu teknik yang dipakai untuk menimbulkan suspense adalah foreshadowing. Teknik foreshadowing adalah teknik menampilkan peristiwa-peristiwa masa depan pada saat ini secara tidak langsung. Foreshadowing semacam pertanda bahwa di masa depan akan terjadi peristiwa-peristiwa besar yang akan dialami tokoh novel.Novel-novel kriminal sudah jamak mengandung suspense, namun tidak demikian dengan novel di luar genre tersebut. Mengatur suspense memang tidak mudah. Ada penulis yang memberikan fakta sedikit demi sedikit. Ada juga penulis yang menampilkan peristiwa besar yang seharusnya secara kronologis terjadi di tengah-tengah novel tetapi sudah ditampilkan di bab awal. Ada juga yang terang-terangan mendeklarasikan bahwa A dan B berpacaran dan sepanjang novel sampai sebelum klimaks, penulis mengocok-ocok rasa penasaran pembaca “Kapan nih A dan B bahagia” dengan menampilkan penderitaan-penderitaan mereka berdua dalam perjuangan mereka untuk bersama.

  3. Surprise
    Setelah plausability dan suspense, maka unsur penting lainnya adalah surprise. Jika penulis dapat menampilkan kejadian-kejadian yang menyimpang dari dugaan pembaca, maka penulis tadi dapat dikatakan telah membuat surprise untuk pembaca. Surprise tidak hanya menyangkut keputusan final (klimaks), tetapi bisa juga diterakan pada penokohan/watak, reaksi tokoh, cara berpikir para tokoh, gaya bahasa atau cara ucap. Saya pribadi sangat terkejut ketika membaca novel-novel Ayu Utami. Saya merasa surprise dengan penggambaran seks dan cara ucap para tokoh yang menurut saya vulgar. Sebelumnya saya tidak pernah menemui novel-novel seperti itu.Pada jaman saya masih bersekolah, cerita stensilan Nick Carter atau Enny Arrow sudah dikatakan porno, lantas bagaimana dengan Fifty Shades Of Grey karya EL James? Saya sendiri heran, kenapa punya EL James ini sedemikian laris. Maaf jika saya katakan ceritanya sebetulnya biasa-biasa saja, tetapi unsur surprise-lah yang membuat pembaca ingin membelinya, Wah ternyata kok ada, ya cerita macam begini. Beli, ah! Mungkin itu yang ada di pikiran para pembaca.
  4. Unity
    Menjaga agar semua unsur saling terkait dan mendukung di dalam novel bukan pekerjaan mudah. Tidak semudah cerpen. Penulis dituntut mempunyai pengetahuan dan inteligensi tertentu. Ini diperparah jika plot utama mempunyai sub-plot, plot paralel atau plot bertipe in medias res (plot dibalik dari bagian akhir ke bagian depan).

    Setiap unsur harus mempunyai benang merah yang menghubungkan antar mereka. Jika tidak sebaiknya dibuang saja. Peristiwa boleh saja bersifat satelit, tak mengubah plot tapi harus tetap mempunyai hubungan ke plot utama karena setiap unsur harus disiasati, diorganisasi, dan dikreasi agar seluruh komponenya tampak koheren sehingga menampilkan novel sebagai karya yang utuh (an artistic whole)