Perempuan Kembang Jepun


Sampul Novel Perempuan Kembang Jepun

Sampul Novel Perempuan Kembang Jepun

Pengarang: Lan Fang
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit: 2012
Jumlah Halaman: 284

Bukan cerita cinta yang indah. Bukan pula cinta dengan warna biru. Ini adalah realita para pelaku cinta menaklukkan sembilu perjalanan kasih mereka

Kisah dimulai dengan adegan seorang ibu, Matsumi, yang akan meninggalkan anak semata wayangnya, Kaguya. Kekalahan Jepang pada sekutu saat itu membuat Matsumi kuatir untuk terus tinggal di Indonesia. Kebingungan melandanya, ketika harus memutuskan, membawa Kaguya, anak hasil hubungannnya dengan Sujono, ke Jepang, atau meninggalkan di Indonesia.

Sujono sendiri adalah kuli angkut kain pada Babah Oen, pemilik toko kain. Suatu ketika ia bertemu dengan Sulis, seorang penjual jamu, yang sering lewat di jalan depan toko tempat ia bekerja. Awalnya bukan karena kecantikan Sulis yang membuatnya sering meminum jamu buatannya. Tetapi karena Sulis-lah satu-satunya tempat dia dapat meminum jamu tanpa membayar.

Sujono mengetahui, bahwa Sulis menjalin hubungan dengan Mas Wandi, seorang tukang becak. Namun tetap sambil lalu ia menggoda Sulis. Suatu ketika, dalam keadaan mabuk ia pulang ke rumah Sulis. Disana tanpa sadar ia berhubungan intim dengan Sulis.

Ketika menyadari dirinya hamil, Sulis sudah menetapkan hati untuk memilih Sujono sebagai suami, padahal justru Mas Suwandi yang pertama kali berhubungan dengannya. Sujono tentu tidak terima, karena ia sudah bertunangan dengan seorang gadis. Dengan keterpaksaan, akhirnya Sujono dan Sulis menikah.

Rumah tangga mereka tidak bahagia. Sujono tetap tidak menganggap anak Sulis bukan sebagai anak kandungnya. Dalam ketidak nyamanan suasana rumah, hatinya kemudian bertumbuk pada Matsumi, seorang Geisha ternama di Kembang Jepun. Bermodalkan uang hasil curian dari toko Babah Oen, ia berhasil berhubungan dengan Matsumi.

Matsumi yang tidak pernah sekalipun berhubungan intim dengan gaya seperti Sujono, lama kelamaan menjadi menyukai Sujono. Akhirnya mereka menikah karena Matsumi hamil. Lahir-lah anak mereka, Kaguya.

Cerita dalam novel ini sungguh mengejutkan. Saya pribadi tidak terbiasa membaca penggambaran hubungan intim yang demikian tragis dan “Sadis”. Yang terbiasa saya baca adalah penggambaran yang romantis, atau setidak-tidaknya diperhalus dengan kata-kata. Mungkin, maksud Lan Fang adalah sengaja memberikan gambaran ketidakenakan cinta. Bahwa ada sebagian masyarakat melakukan hubungan seks secara egois, bukan karena saling membahagiakan tetapi lebih pada nafsu.

Saya agak menyayangkan tatanan sampul buku. Agak buram (mungkin disengaja supaya kelihatan terkesan kuno?) dengan warna tulisan tidak jauh berbeda dengan latar belakang, sehingga saya sempat memicingkan mata agar judul dan nama pengarangny terlihat jelas. Tetapi pemakaian Lan Fang, sang penulis, sebagai model foto dan sampul terasa inovatif. Baru kali ini saya melihat teknik seperti ini.

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s