Tag Archives: aditia yudis

Mendamba


mendambaPengarang:  Aditia Yudis
Penerbit:  Gagas Media
Tahun Terbit: 2010
Jumlah Halaman: 184

Andrianna menyesal telah meninggalkan kekasihnya saat dia kecelakaan. Dengan mengingat cintanya yang masih menyala, dia kembali ke Yogyakarta.  Ditemani Naufal ia berusaha mencari Reno untuk mendapatkan cintanya lagi. Sanggupkan dia menerima kenyataan Reno sekarang?

Dibuka dengan pemaparan keadaan Andrianna saat ini. Sebagai perempuan menjelang tiga puluhan, Andrianna mulai dibayangi sang Ibu. Pertama-tama, sang Ibu ingin ia mendaftar sebagai CPNS, kedua, permintaan untuk segera menikah. Terhadap permintaan pertama Andrianna hanya mengiyakan, meski dirinya sudah mempunyai pekerjaan yang mapan. Tetapi terhadap permintaan kedua, dia cuma terdiam. Permintaan itu mengingatkannya akan pacar yang ditinggalkan bertahun-tahun lalu dengan berlari ke Perancis, Reno.

Rasa cinta membara membawanya kembali ke Yogya, pangkal cerita berlangsung. Dibantu dengan Naufal, pemuda wiraswastawan, pewaris usaha pertambangan, cuek, tetapi sangat sedih atas kematian pacarnya, Afra. Ia didaulat menjadi asisten pendamping mahasiswa yang sedang praktek lapangan. Lewat usaha ini, Andrianna dapat bertemu Reno, yang memang adalah pemandu mahasiswa tadi.

Disaat Reno mulai terlihat menerima Andrianna kembali, gadis itu kecewa. Andrianna baru tahu bahwa ternyata Reno telah menikah dan mempunyai seorang anak. Meskipun istri Reno telah meninggal, gadis itu memutuskan untuk melupakan Reno.

Novel ini banyak menampilkan detil. Hal itu nampak pada penyebutan jenis mobil, nama makanan pada restoran siap saji, tipe kamera, merek parfum, dan keadaan lapangan gunung Merbabu dan Merapi. Ini memang hal yang biasa pada novel. Tetapi tetap saja hal ini membuat saya benar-benar kagum. Novel dengan detil membuat kita seakan-akan hadir di tempat tokoh-tokoh bermain peran.

Kisah dalam novel ini mengingatkan saya akan novel Jealous karya Sujatrini Liza. Sang Tokoh sama-sama wanita. Tetapi penggambaran di novel Jealous sangat menonjolkan gelora emosi sementara pada novel ini, suasana percintaan ala mahasiswa lebih kentara. Menyesal tetapi tidak mengemis, menangis tetapi tidak cengeng, terkejut tetapi tidak berlebihan penggambarannya. Novel ini berhasil menyembunyikan akhir penyelesaiannya sampai bab terakhir.

Sayang, cover dari novel tidak dijadikan media promosi yang baik. Penggambaran sulur tanaman (?) berbentuk love memang dapat menyiratkan isi, namun hal ini tidak segera tertangkap saat buku novel terpajang di rak-rak buku penjual. Kurang menarik perhatian. Adapun font yang timbul dengan warna maron mengkilap terkesan sangat mewah. Saya menyukainya. Font pada buku cukup proporsional, cukup bersahabat dengan mata saya. Gambar semacam batik pada tiap halaman bagian mewah terkesan sangat Indonesia sekali. Dan sebagai akhir tulisan, dapat saya katakan, kesan inovasi pada latar nomor bab dengan gantungan berbahan semacam kertas daur ulang telah mencuri perhatian saya. Angkat jempol untuk tim gagasmedia