Arsip Tag: novel fiksi

The Curse Of Beauty


the curse of beauty, indah hanaco, rumah kreasi

The Curse Of Beauty

Pengarang: Indah Hanaco
Penerbit: Rumah Kreasi
Tahun Terbit: 2012
Jumlah Halaman: 303

Apakah anda berharap cinta selalu indah? Jawabannya pasti “Tidak!” jika Leala yang menjawab. Ia masih mencari cinta yang membuat kepalanya tertidur dengan nyaman diatasnya

Segala sesuatu yang indah memang selalu diharapkan oleh setiap insan. Tidak terkecuali bagi Leala. Mempunyai orangtua yang mencintainya. Berada. Serta kehangatan diantara setiap anggota keluarga selalu membuatnya ingin pulang ke rumah. Keluarga adalah ekstasinya.

Sampai suatu ketika, dia berada dalam keadaan buruk. Keenan, pacarnya, mencoba merayunya agar mereka menyewa sebuah vila agar mereka dapat berduaan. Meradang telinganya mendengar permintaan Keenan. Saat itu juga ia memutuskan hubungannya dengan pria itu.

Masalah rupanya masih ingin menyapa. Orangtuanya memutuskan bercerai. Tanpa perlu memikirkan sebanyak dua kali, Leala memutuskan untuk keluar dari rumah dan kos dengan sahabatnya, Kimi. Ia merasa muak dengan kedua orantuanya.

Orangtuanya tetap membiayai kuliahnya dan tentu segala keperluan hidup Leala. Tetapi dia memutuskan untuk mulai hidup mandiri. Kimi mengenalkannya pada dunia SPG. Jadilah hari-hari mereka selanjutnya diwarnai dengan penawaran-penawaran produk.

Sebagai teman yang selalu mengerti, Kimi berusaha mengubah kesedihan Leala. Ia berusaha mencari-carikan pacar. Salah satu pria yang dianggap sesuai olehnya dikenalkan pada Leala. Pria itu bernama Levi. Awalnya Leala enggan. Tetapi senyum pria itu seperti jebakan. Sekali terjebak tak akan bisa lepas. Leala mulai berkencan. Kencan awal tidak masalah. Di kencan-kencan berikutnya, Levi mulai memperlihatkan wajah aslinya. Levi mengajak Leala mendatangi hiburan-hiburan berbau seks, mulai dari yang paling biasa: Striptease.Menanjak pada melihat tontonan berupa hubungan intim berlainan jenis pada sebuah “akuarium kaca”, berhubungan badan di kolam terbuka berbusa, sampai pada berganti pasangan. Yang terakhir ini membuat Leala muak. Ia segera memutuskan hubungan mereka.

Kali ini Leala benar-benar hancur. Sudah kepalang basah. Ia yang bersikap moralis di awal masa remajanya sekarang telah berubah. Pekerjaan sampingannya diluar SPG adalah…..Kupu-kupu malam, tetapi Leala lebih jujur mengakui: Pelacur.

Levi tidak menyerah untuk kembali mendapatkan Leala. Saat pulang dari peluncuran produk di Jakarta, Levi mencegatnya dan berusaha membawanya masuk ke dalam mobil miliknya. Beruntung, disaat itu hadir Irvin. Lelaki itu menyelamatkan bahkan mengantarkannya pulang ke Bogor.

Leala jatuh ke dalam pesona Irvin. Pelan-pelan ia masuk ke dalam kehangatan sebuah cinta. Sebuah kehangatan yang lama tidak ia rasakan. Ternyata Leala tidak bertepuk sebelah tangan. Irvin juga mengakui bahwa dirinya jatuh cinta pada Leala. Akhir hubungan mereka tak membuahkan senyum di bibir Leala. Irvin akan menikah dengan tunangannya.

Sampulnya bagus. Menggambarkan cerita dan sangat menggelitik. Pas sekali dengan judulnya. Dibandingkan dengan Cinta Tanpa Jeda, sampul novel yang sekarang lebih baik. Font-nya mantap, lumayan besar dan jenis font-nya unik. Lain daripada yang lain. Saya sering membaca novel ketika di dalam mobil, sehingga Font yang besar cukup dapat dibaca meski saya agak terguncang-guncang di jalan. Apalagi kertasnya juga tebal. Sehingga tidak takut sobek sewaktu membalik halaman.

Ini adalah novel kedua dari Mbak Indah Hanaco yang saya baca. Andai saya tidak membaca nama pengarang di sampul depan, saya pasti berpikiran kalau novel ini dibuat oleh penulis yang berbeda. Gaya penulisan di novel pertama, Cinta Tanpa Jeda, dan novel ini sangat berbeda. Pada novel Cinta Tanpa Jeda, saya agak bingung merasakan ceritanya. Ceritanya bernuansa dewasa tetapi taste yang ditimbulkan beraroma remaja. Cara antar karakter dalam menghadapi karakter lain terasa lebih ke gaya remaja. Tidak ada tabrakan yang berarti antar karakter. Sangat terasa tokoh sentralnya adalah Mae, sementara karakter-karakter lainnya seakan-akan hanya pelengkap tokoh Mae.

Di The Curse Of Beauty, Mbak Indah Hanaco lebih matang. Bahkan sangat matang. Indikasi pertama adalah cara penulis mengungkap sebuah detil. Saya selalu mengamati karakter dan detil. Caranya menggambarkan bagaimana pakaian, ciri spesifik tokoh, dan perasaan tokoh cukup baik. Indikasi kedua, penulis menggunakan gaya bahasa yang tidak terkesan berlebihan. Ketika dia menggunakan hiperbola, saya tidak merasa hiper pada penggambarannya bahkan terasa sangat alamiah, layaknya saya mendengar Leala menuturkannya pada saya.

Saya juga salut dengan akhir dari novel. Saya terjebak. Penulisnya berhasil menipu saya, sehingga saya salah menduga mengenai akhir hubungan Leala dan Irvin. Penulis menyembunyikan hal-hal yang membuat pembaca menduga-duga sehingga terkejut pada ending novel. Semakin ke belakang, cerita semakin menarik, bahkan saya rela tidur hampir jam setengah satu pagi hanya karena penasaran dengan akhir cerita.

Saya sangat sulit menemukan kelemahan di novel ini. Jika saya dipaksa untuk menuliskan kelemahan (seperti yang biasanya ada di tulisan resensi), saya cuma mengatakan ada kesalahan tulis (salah cetak?) di beberapa kata. Saya sendiri tidak terlalu perduli dengan salah cetak/salah tulis sepanjang tidak mempengaruhi pengertian saya akan jalan cerita.

Saya memberikan nilai plus untuk: gaya bahasa, plot, alur, detil karakter, setting sampul, dan juga ending cerita. Saya cukup puas dengan novel ini. Terutama terhadap keberanian penulis membuat cerita dengan akhir yang tidak bisa dibilang indah. Bukankah Jamu dan obat berasa pahit? Sementara kebanyakan asupan gula yang manis membuat kita diabetes? Cerita sedih tidak selalu buruk. Justru dapat kita jadikan cermin.


Karya Indah Hanaco lainnya: