Arsip Tag: resensi novel remaja

Where She Went


where she went

Where She Went

Pengarang: Gayle Forman
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit: 2011
Jumlah Halaman: 231

Setelah sembuh dari luka-luka akibat kecelakaan, Mia Hall memasuki sekolah musik Julliard. Saat itulah dimulai pacaran jarak jauhnya dengan Adam. Sayang, tanpa pesan apapun, tiba-tiba Mia tak bisa dihubungi lagi. Adam bingung, apakah Mia memutuskan hubungan mereka?

Mia Hall mengalami kecelakaan fatal. Orangtua dan adiknya meninggal di tempat kecelakaan. Mia sendiri akhirnya selamat dari kecelakaan tersebut.

Adam Wilder, pacar Mia, selalu menemani Mia saat gadis itu koma di rumah sakit. Pada saat Mia sedang terpuruk itulah, Adam membuat janji pada Mia, jika dia tetap hidup, maka apapun yang diminta Mia akan dikabulkan oleh Adam. Termasuk jika itu berarti Mia meminta Adam meninggalkannya.

Masalah mulai muncul saat Mia memasuki sekolah seni Julliard di New York karena menerima beasiswa untuk mendalami permainan Cello lebih lanjut. Jarak antara kota Adam dan New York sangat jauh. Namun akhirnya Adam tetap melepaskan kepergian Mia dan berharap mereka dapat terus berkomunikasi melalui ponsel.

Suatu ketika Adam sibuk dengan band Shooting Star, tempat ia menjadi pencipta lagu, gitaris dan vocalis sehingga ia lupa menelepon. Sejak saat itu Mia tidak dapat dihubungi. Adam menjadi bingung, apa yang sebenarnya diinginkan Mia. Gadis itu tak pernah bilang marah ataupun putus. Dia menghilang begitu saja.

Setelah tiga tahun patah hati, Adam bangkit dan menciptakan lagu-lagu untuk membuat album berjudul Collateral Damage. Tak disangka albumnya lagu keras. Adam dan anggota band-nya mulai dikenal orang. Di saat inilah ia mulai mengenal salah satu artis yang menjadi pengagumnya bernama Bryn.

Suatu ketika pihak manajemen band Shooting Star menjadwalkan tur ke Inggris. Sebelum berangkat, Adam berjalan-jalan sendirian di New York. Saat melintasi Carnegie Hall ia melihat poster. Poster tersebut menyebutkan: SERIAL KONSER MUDA MEMPERSEMBAHKAN MIA HALL.

Sebenarnya ia tidak ingin melihat pertunjukkan tersebut. Saat ini ia sudah mempunyai pacar, Bryn dan ia sudah berkomitmen untuk melupakan Mia. Namun rasa penasaran dan tentu saja kangen membuatnya memutuskan untuk melihat konser tersebut.

Rupanya Mia mengetahui bahwa Adam melihat konsernya. Ia lantas menyuruh seseorang menemui Adam dan memintanya menemui dirinya di belakang panggung. Pada pertemuan ini, Mia mengajak Adam menemaninya berjalan-jalan ke tempat-tempat favoritnya di New York.

Perjalanan mereka berakhir di rumah Mia dan disana, Adam mencoba bertanya pada Mia, kenapa gadis itu meninggalkannya. Jawaban dari Mia mencengangkan Adam. Ternyata Mia dapat mendengar janji yang diucapkan Adam saat dia koma. Janji itu yang membuat Mia membenci Adam, karena sebenarnya ia ingin mati bersama keluarganya saat kecelakaan itu, tetapi karena permintaan Adam, Mia masih hidup.

Adam berusaha menyakinkan Mia kalau ia masih tetap mencintainya. Sebagai bukti, Adam menelepon Bryn untuk memutuskan hubungan serta berjanji pada Mia bahwa dia akan keluar dari band-nya agar mereka dapat terus bersama-sama.

Novel Where She Went ini adalah lanjutan dari If I Stay, meskipun begitu, anda masih dapat membaca novel ini tanpa harus membaca If I Stay. Beda dengan novel pendahulunya yang bercerita dari sudut pandang Mia Hall, maka pada novel ini, pembaca akan mendalami karakter Adam Wilder karena sudut pandangnya memang dari dia.

Temanya juga sedikit berbeda. Pada novel pertama, temanya adalah kebangkitan Mia Hall dari komanya akibat kecelakaan yang dialami Mia dan keluarganya. Sedangkan pada novel ini, temanya adalah kebangkitan Adam Wilder karena Mia tak pernah terdengar kabarnya selama tiga tahun.

Disamping perbedaan diatas. Keduanya memiliki persamaan. Kedua novel ini sama-sama menekankan narasi. Cuma saya agak bosan pada gaya narasi Where She Went. 36 halaman pertama adalah perjuangan terberat untuk terus membaca novel ini. Baru pada halaman 37, saat Adam membaca poster konser Mia, saya tergugah untuk membaca dengan perasaan suka lagi. Mulai halaman 37-lah cerita romantis Mia dan Adam mulai bergulir.

Penokohan di buku 2 ini lebih bagus. Pada novel pertama, bisa saya katakan hanya ada satu tokoh menonjol dan tokoh-tokoh figuran. Tentu mudah ditebak, tokoh utama di novel pertama adalah Mia Hall. Sedangkan pada Where She Went. Ada dua tokoh utama: Adam dan Mia, serta beberapa tokoh figuran. Bahkan tokoh Adam digambarkan dengan sangat manusiawi. Saya bisa berkata demikian, karena saya baru tahu seorang pemusik rock pria digambarkan menangis di depan pacarnya, padahal biasanya seorang tokoh rock pria selalu digambarkan sebagai orang yang brutal, pemarah dan pengganggu kelas wahid, sehingga sukar digambarkan tokoh tersebut akan mengeluarkan air mata.

Baik pada novel pertama dan novel kedua, jumlah alur flashback terlalu banyak. Ini membuat perhatian saya terpecah. Sebab ketika memasuki alam flashback, saya harus menyimpan cerita sebelumnya di ingatan saya dan nanti harus saya gali lagi ketika alur kembali ke masa kini.

Novel dengan kadar masalah ringan ini lebih tepat untuk teenlith. Kekontrasan karakter antara Mia yang jagoan Cello klasik dengan Adam yang mempunyai band rock benar-benar mewarnai banyak kalimat. Penyertaan semua lagu di album Collateral damage juga turut memperkuat karakter Adam. Hanya saja karena teks tadi tidak diterjemahkan, maka bagi pembaca yang tidak memahami bahasa inggris terasa mengganggu.

Diluar masalah paragrap yang panjang-panjang dan sampul yang tidak terlalu menarik perhatian, novel ini cukup bagus dinikmati oleh remaja ke atas.

Baca tinjauan buku pendahulu Where She Went: If I Stay