Tokoh Tanpa Emosi Seperti Makan Tanpa Garam


Saya pernah membaca sebuah novel dengan penggambaran karakter yang ciamik. Penulis menjelaskan cara berpakaian, model rambut, warna kulit, dsb, dsb. Saya memang bisa membayangkang tokoh tersebut dalam benak saya, tetapi sayang dalam perjalanan tokoh tersebut sepanjang novel, penulis kurang menggambarkan emosi tokoh.

Apa gunanya kerangka mobil kalau mobilnya tidak bisa jalan? Atau kita balik, apa gunanya punya mesin sekelas lamborghini tapi tidak bisa dikendarai? Raga dan fisik adalah satu kesatuan yang memperindah tokoh. Nantinya mobil “tokoh” ini akan berjalan dengan mulus di jalan”plot”. Ini adalah paduan novel yang sempurna.

Tapi sebentar! Memangnya apa sih yang disebut emosi? Emosi adalah reaksi seorang tokoh yang dibangkitkan oleh keadaan internal atau eksternal dari tokoh tersebut. Biasanya reaksi ini terjadi tanpa diharapkannya dan terjadi karena jenis kepribadian tokoh tersebut. Seorang pemarah akan lebih mudah meledak jika dia bersinggungan dengan sisi sensitifnya. Si Penakut akan mati kutu jika berada di rumah kosong di malam hari dengan hujan yang turun deras.

Berdasarkan teori Carl Gustav Jung, ada dua belas tipe dasar emosi. Penggambaran emosi ini diambil dari tokoh-tokoh mitos Yunani.

  1. The Innocent (Si Lugu)
    Tokoh yang digambarkan dengan imut—bisa wajah atau kelakuan—berjiwa bebas dengan tujuan hidup mencari kebahagian. Tokoh ini takut disakiti atau dihukum namun mempunyai keyakinan teguh akan kebaikan, dengan demikian selalu mencari cara untuk berbuat kebaikan.
  2. The Orphan (Sang Yatim)
    Maksud orphan disini bukan tokoh yang sejak awal novel  digambarkan tak-berorang-tua. Orphan adalah tokoh yang takut diluar kelompoknya. Selalu ingin menjadi bagian dari seseorang. Tidak membeda-bedakan antara pria-wanita selama mereka mau menjalin hubungan dengan the orphan. Orang tipe ini sangat ber-empati, tidak suka berpura-pura, dan selalu berpikiran apa adanya.
  3. The Hero (Pahlawan)
    Siapa yang tidak kenal the hero. Tokoh pahlawan. Selalu memecahkan masalah yang dihadapinya. Tokoh ini berpikiran bahwa seseorang mempunyai arti jika memiliki keberanian memecahkan masalah, dengan demikian, sebagai konsekuensinya, tokoh ini terlihat sombong. Sok percaya diri.
  4. The Caregiver (Tukang Asuh)
    Tukang asuh juga bisa disebut tipe penyayang. Selalu memperhatikan sesama. Gampang dimanfaatkan oleh protagonis. Sangat sedih melihat kekacauan dan permusuhan.
  5. The Explorer (Penjelajah)
    Suka kebebasan. Tidak suka dihalang-halangi apabila mempunyai keinginan. Pantat panas kalau harus diam di suatu tempat dalam jangka waktu lama. Tokoh ini sering tidak punya tujuan. Hanya ingin mencari hal-hal baru saja dan terlihat canggung.
  6. The Rebel (Tukang Berontak)
    Peraturan untuk dilanggar. Ini adalah semboyan the rebel.  Senang jika dapat membuat kekacauan, tidak perduli benar atau salah. Cara melawan orang ini adalah dengan membuatnya merasa kerdil atau orang kecil, maka jiwanya akan limbung.
  7. The Love (Pecinta)
    Sangat perhatian pada pujaan hatinya. Setia. Senang menjadi dekat dengan orang lain. Sangat menderita jika kesepian dan tak dicintai. Begitu perhatian pada orang lain, orang tipe ini malah tidak perduli pada dirinya sendiri.
  8. The Creator (Pembuat)
    Senang berpikiran menjadikan sesuatu yang tak-ada menjadi ada. Tipe pemikir tetapi tidak pandai melaksanakan. Terlalu perfeksionis. Punya imajinasi tingkat tinggi dan kreatif. (Kok seperti ciri-ciri penulis, ya?) …he..he..he
  9. The Jester (Pelawak)
    Hidup itu santai aja, kata the jester. Masalah itu jangan diambil hati. Jalani saja. Berhasil syukur, tidak berhasil ya dinaikan becak…eh maksudnya ya diulang lagi. Tidak heran the jester lebih sering menghabiskan waktu untuk bersantai. Teman yang baik untuk bersenang-senang, tetapi jangan meminta nasehat untuk memecahkan masalah.
  10. The Sage (Sang Bijak)
    Senang mengendalikan seseorang. Senang merasa lebih pintar dari orang lain. Suka sekali menganalisa masalah. Orang yang tepat untuk dimintai nasehat. Tetapi bukan orang yang tepat untuk aksi lapangan. The sage lebih tepat duduk di depan meja untuk belajar, bukan mendaki gunung.
  11. The Magician (Sang Magis)
    Optimis dalam mencapai cita-cita. Tidak suka bersinggungan dengan orang lain. Dia sendiri menang, orang lain juga senang. Hidupnya berpusat pada pencapaian cita-cita hidupnya sendiri. Tidak senang merepotkan orang lain. Jangan harap Sang Magis akan curhat. Mereka sangat percaya diri dengan segala kemampuannya, kok.
  12. The Ruler (Penguasa )
    The ruler senang jika orang-orang menyanjungnya karena senang mengontrol orang lain. Segala tugas akan dikerjakan dengan penuh tanggung jawab dan penuh perhitungan sehingga sangat susah jika terjadi kekacauan karenanya. Cara mengalahkannya adalah dengan menurunkannya dari “penguasa” menjadi orang biasa.

Nah, mulai sekarang pikirkanlah “mau kemana” dengan karakter Anda. Dandani dengan character sheet. Isi dengan emosi. Biarkan tokoh itu berjalan-jalan di plot.  Buatlah jalan tadi berbelok (sub plot) .  Jalan pun tidak selalu mulus, ada yang naik-turun. Kadang bebas hambatan lewat jalan tol (tension).  Jangan lupa, pastikan tokoh tadi berhenti pada tujuannya (goal).  Novel Anda akan cetar membahana. Selamat menulis.

Sumber foto:  Lee Jeffries, huffingtonpost.com