Sembilan Tipe Narator pada Cerita Fiksi


Narator

Sumber: Pinterest

Menurut KBBI, narator adalah orang yang bercerita/pencerita. Dalam novel, narator bertindak sebagai pembawa cerita untuk pembaca. Ketika seseorang membaca novel, pembaca tersebut merasa seakan-akan ada orang yang menceritakan isi novel pada pembaca itu. Penulis memilih jenis narator tertentu dengan maksud tertentu untuk membawakan cerita novelnya. Berikut ini adalah jenis-jenis narator. Artikel ini merupakan lanjutan dari artikel saya yang berjudul: Mengenal Unreliable Narrator.

  1. Orang Pertama Protagonis (First Person Protagonist)
    Lakon-lakon dalam novel sering bertindak sebagai narator. Karena tokoh tersebut narator, maka diharapkan bahasa yang dipakai haruslah baik. Jika dia berbahasa indonesia, dia haruslah berbicara bahasa indonesia yang baik. Tetapi bolehlah memakai bahasa slang atau tak baku jika sedang berdialog. Dengan cara begini, pembaca sudah tahu siapa yang jadi orang baik-baik di novel tersebut.

    Contoh:
    Aku tidak tahu apakah yang aku lakukan ini benar. Aku puas. Bisikan-bisikan di telingaku sekarang mereda. Suatu pertanda bahwa mereka terpuaskan.

  1. Orang Pertama Protagonis Tingkat 2 (First Person The Secondary Character)
    Disamping protagonis utama, terdapat protagonis tingkat dua. Biasanya sih protagonis jenis ini adalah teman dari protagonis utama. Meskipun hampir sama dengan narator protagonis, the secondary character tidak berpusat pada kejadian, oleh karena itu jangan heran jika ada satu-dua kejadian terlewat (biasanya untuk mengecoh pembaca) dan baru terbuka di akhir cerita.

    Contoh:
    Aku heran pada temanku. Wajahnya cukup cantik, tetapi kenapa masih belum ada cowok yang mencoba menjadikannya pacar. Apa mereka takut? Kalau begitu, takut apa? Dia cukup baik. Wajahnya tak pernah mendung. Selalu pula memaafkan. Pasti ada sesuatu. Aku harus membantunya.

  1. Orang Ketiga Serba Tahu (Third Person Omniscient)
    Narator ini serba tahu. Dia dapat menceritakan seluruh pikiran tokoh dalam sudut pandang orang ketiga. Penulis dapat memaparkan cerita dengan sangat dalam jika memakai narator jenis ini.

    Contoh:
    Adi turun dari mobil pelan-pelan. Malas, ini alasannya. Dia sudah sepuluh tahun meninggalkan rumah ini, masa sekarang harus kembali lagi? Tetapi sebuah SMS dari adiknya membangkitkan kerinduannya. Lain pula dengan Kirno. Adik Adi ini tak pernah merindu pada rumah ini. Kalau pun dia tetap tinggal, dia hanya bermaksud menunggu ayah mereka mati sebelum mengeruk harta warisan.

  1. Orang Ketiga Terbatas (Third Person Limited)
    Sama saja dengan nomor 3. Perbedaannya terletak pada pemaparan pikiran tokoh. Hanya tokoh tertentu yang diketahui benak pemikirannya, sedangkan tokoh lain tidak.

    Contoh:
    Bella mengernyit. Ada sesuatu dari pembicaraan Joko yang merusak minatnya. Apa maksud orang ini? pikirnya. Apa dia ingin perusahaan ini hancur?

  1. Pengamat tak masuk cerita (The Detached Observer)
    Narator ini hampir sama dengan third person omniscient, perbedaannya, narator the detached observer tidak memasukkan pikiran/pendapatnya. Jadi benar-benar detached, berdiri di luar cerita.
  1. Pemberi komentar/komentator (The commentator)
    The commentator masuk ke dalam cerita tetapi tidak secara fisik. Yang hadir dalam cerita adalah pikiran-pikiran/pendapat-pendapatnya.

    Contoh:
    Setujukah Anda jika ada pendapat, “Jadi orang itu jangan suka mencampuri urusan orang lain.” Jika memang ikut campur, sebaiknya orang ini dilempar sandal saja.

  1. Pewawancara (The interviewer)
    Narator ini mendapat informasi setelah kejadian berlangsung (sehingga tidak omniscent). Dia tidak boleh tahu isi pikiran tokoh lain. Jenis narator ini lebih mirip dengan dunia nyata.

    Contoh:
    Della duduk di depanku. Aku sempat membaca sebuah merek terkenal tercetak di tasnya. Tak heran. Della memang anak pengusaha sukses. Apalah artinya lima puluh juta untuk sebuah tas.“Mau minum?” tanyaku sambil menyodorkan daftar minuman.
    “Beri saja aku martini pakai es.” Ia menjawab sambil memandang tepat di mataku.

  1. Narator Rahasia (The Secret Character)
    Narator ini tidak jelas kedudukannya. Kadang-kadang posisinya diungkap oleh tokoh di dalam cerita. Kadang baru terungkap di akhir cerita. Penulis terkadang memakainya untuk memasukkan dirinya di novel tanpa menyebutnya secara jelas.
  1. Narator tak-dapat-dipercaya (The unreliable narrator)
    Jenis ini sudah saya singgung di artikel saya yang berjudul Mengenal Unreliable Narrator.  Silakan membacanya disana.