Rahasia Menulis Fiksi


kacamatapecah

Saya sudah lama ingin menulis materi ini, semata-mata karena apa yang saya tulis di blog ini masih terlihat di langit, sedangkan pembaca blog saya di bumi. Sulit untuk dilakukan! Bagi penulis senior, bahasa yang lancar saat menulis memang bukan halangan. Satu keadaan bisa diuraikan sampai satu paragraf. Penulis pemula mungkin heran, “Kenapa penulis senior sedemikian cepat menulis ini-itu, sedangkan saya kok seperti nabrak tembok, padahal hanya menulis satu kata?”

Penulis pemula lantas mulai mencari buku-buku teori menulis yang memang banyak bertebaran di toko-toko buku. Tidak puas juga, mereka mulai mengikuti kursus-kursus menulis, lomba, tanya ini-itu ke penulis senior tetapi—mereka tetap kecewa karena belum bisa membuat satu cerpen pun. Salahnya dimana? Apakah kurang teori?

Teori tak akan membantu Anda. Sebab teori hanyalah senjata yang hanya berguna jika penembaknya mahir menggunakannya. Anda pasti tahu bahwa merokok adalah berbahaya, dapat menyebabkan kanker dan bla..bla..bla yang lain, tetapi jika Anda perokok, apakah itu cukup menghentikan Anda dari merokok. PADAHAL ANDA TAHU TEORINYA. Anda juga tahu bahwa bebek dan soto daging adalah makanan berkolestrol tinggi. tetapi meskipun ANDA TAHU TEORI ITU, apakah itu akan mencegah Anda menikmatinya (jika Anda pecandu-nya). Teori tak berguna bagi Anda selama Anda tidak mahir memakainya. Jadi bagaimana dong?

Mari kita mundur ke belakang…ke masa tahun 80-an. Saat itu media komunikasi dan hiburan tidak sebanyak sekarang. Paling cuma ada TVRI, radio, telpon, ORARI (ngomong pakai HT atau istilah kerennya break-breakan) dan—buku bacaan. Mau tidak mau angkatan-angkatan saya ya cuma dicekoki oleh itu—itu saja. Drama radio membuat pendengarnya ber-imajinasi. Kebosanan pada acara-acara TV (yang notabene lebih banyak produk lokal) menyebabkan orang-orang mencari jalan sendiri menghibur diri.

Saat saya SD, menulis catatan harian atau diari sangat ngetren. Saking hits-nya, pihak percetakan sampai mengeluarkan buku diari hardcover dengan gembok di sampingnya.

Dari sinilah kebiasaan menulis angkatan saya bermula. Mereka menulis tanpa beban karena mereka menulis pikiran-pikiran mereka sendiri. Mereka juga tidak dibebani pesan-pesan sponsor dari penerbit. Mereka menulis ya menulis saja. Genre apa saja mereka tulis. Mulai dari nggosipin guru yang killer, cewek kelas sebelah yang cakep, cinta pertama yang ditolak meskipun sudah di-bela-belain nulis di kertas panjang lebar dan diselipkan di laci bangku mereka.

Kegiatan menulis menyenangkan. Amat menyenangkan saat itu. Kita dipaksa oleh keadaan tetapi justru membuat kita menjadi terbiasa menuangkan ide lewat tulisan.

Jadi apa rahasia menulis itu?

  1. Menulislah tiap hari, seperti menulis diari
  2. Menulis topik yang Anda sukai saja sebagai tahap awal. Menulis yang Anda senangi berarti menulis pada bidang yang Anda benar-benar mahir di dalamnya. Anda menulis yang Anda tahu. Anda menulis sesuai pengetahuan Anda sendiri.
  3. Menulislah apapun yang ada di benak Anda tanpa harus memikirkan Bahasa Indonesia yang baik dan benar
  4. Sering-seringlah mendengarkan kata hati Anda dan cobalah tuangkan hal itu dalam tulisan. Ingat! Tulis saja. Jangan pikirkan hal yang lain. Ini melatih “imajinasi” bekerja lebih optimal
  5. Tulislah hal-hal yang berhubungan dengan perasaan Anda saja. Misal, komentari tetangga Anda yang cantik. Komentari dosen Anda yang killer. Komentari makanan yang baru saja Anda makan. Tulis perasaan Anda ketika ditolak cinta oleh seseorang. Jangan menulis yang diluar perasaan Anda.
  6. Inti dari semua point diatas adalah: Anda jagoan menulis karena Anda sering menulis.
  7. Milikilah blog. Tulis apa saja disana. Tulis apa yang menjadi minat Anda. Saya mempunyai blog lebih dari satu. Saya menulis apa saja: Bahasa program komputer, gitar, biola, cerita fiksi, cerita seram, cerita anak-anak, tentang planet atau pengetahuan-pengetahuan lainnya. Cepat atau lambat pengetahuan-pengetahuan itu juga akan berguna saat saya menulis fiksi. Kenapa saya bisa menulis banyak blog? Bukan karena saya hebat, tetapi karena saya menulis topik yang saya gemari.