Cerpen: Seperti Mas Hendra yang Kukenal


Sumber: Pinterest

Klara berlari ke arah Hendra. Matanya sembab dan kemerah-merahan. Jelas sekali dari isakannya, gadis enam tahun itu menangis dengan hebat.

Hendra meletakkan kopi, berlutut dan menyambut dengan tangan terbuka.

“Ada apa Klara? Kok pagi-pagi sudah menangis?” Tangannya membelai rambut ikalnya.

Klara bercerita bahwa teman-temannya mengejeknya lagi. Mereka selalu berkata padanya, “Hitaci. Hitaci.”

Hendra maklum apa maksud teman-teman Klara. Sebagai salah satu Tionghoa di komplek perumahan ini, sudah jelas warna kulitnya berbeda dengan kebanyakan orang. Namun perbedaan itu tak termasuk Klara. Kulit Klara sawo matang. Hitaci sendiri adalah kata candaan yang artinya Hitam Tapi Cina.

Saat baru pertama kali mendiami perumahan disini, tetangga-tetangga sering kasak-kusuk mengguncingkannya dan Mike. Mereka menduga-duga bahwa Hendra pernah menghamili salah seorang karyawannya atau mengangkat anak dari panti asuhan.

Hendra tidak pernah menggubris pada awalnya. Tetapi jika melihat Klara pulang dalam keadaan seperti ini, batinnya selalu trenyuh. Akankah dia mengatakan siapa sebenarnya Klara pada anak itu ataukah menunggu sampai umurnya cukup dewasa untuk memahami?

Mike, istrinya melarangnya untuk memberitahukan apa yang sebenarnya terjadi pada Klara. “Tunggulah sampai dewasa, Ko.” Kalau sudah begini, ia cuma memeluk Klara erat-erat. Membelai punggungnya sampai gadis itu tertidur. Enam tahun yang lalu, Hendra juga sering membelai punggung seorang. Seseorang itu bernama Riska.

***

“Mas Hendra ini suka laki-laki, ya?” Riska memijat-mijat punggung Hendra perlahan-lahan. Dia baru saja memijat titik ransang kelaki-lakiannya, tetapi Hendra sama sekali tidak bereaksi apa-apa.

“Kok ngomong gitu, Ris?” Hendra tidak tampak tersinggung. Segala pikirannya seakan-akan meloloskan diri entah kemana setiap kali ia mampir ke tempat pijat langganannya di bilangan perumahan elit Surabaya.

Riska hanya tersenyum. Tentu saja Hendra tidak melihatnya karena dia sedang tengkurap. Panti pijat ini memang menyediakan pijat plus. Pihak pengelola memang tidak terang-terangan mempromosikan. Bahkan berlagak tidak tahu. Cuma dari mulut ke mulut. Orang yang menginginkan pijat plus akan bernegosiasi sendiri dengan pemijatnya. Pihak pengelola hanya mengutip sejumlah uang tertentu sebagai biaya tutup mulut dari pemijat. Oleh karena itu jangan heran jika pemijat disini mempunyai nilai wajah minimal sembilan. Mau dari Rusia, Asia, atau Timur tengah? Tergantung isi kantong Anda.

Riska tahu tentang pijat plus ini. Setiap kali ada pelanggan yang memakai jasanya, dia berharap salah satu dari mereka meminta pijat plus. Pijat plus berarti uang plus. Teman-temannya sesama pemijat mengajarkan kepadanya teknik-teknik pijatan yang membuat pria akan meminta pijat plus. Dan saat ini dia melakukannya pada Hendra.

“Tolong berbalik, Mas.”

Hendra berbalik. Dia kaget ketika kedua tangan Riska melucuti selimut yang membungkus dirinya. Perempuan itu sendiri berdiri dengan baju tipis. Begitu tipis, sampai Hendra dapat melihat segala lekuk tubuhnya.

Betul dugaan Riska. Hendra tampak biasa-biasa saja. Jika Hendra lelaki normal, dia akan segara bangkit menghampirinya, dan terjadilah tawar menawar. Tetapi Hendra hanya diam. Sifat liarnya teredam.

“Jangan kuatir. Disini bebas kok, bahkan teman saya juga ada yang lines.”

Hendra memikirkan perkataan Riska berhari-hari sejak itu. Dia memang ingin berubah. Dia ingin memutuskan Dodi. Mulai berpacaran dengan gadis seperti laki-laki normal lainnya. Tetapi bagaimana caranya? Riska pasti tahu caranya. Dan suatu hari Hendra membulatkan tekadnya.

“Riska, kamu harus menolongku. Aku anak tunggal, keturunan keluargaku terancam kalau aku seperti ini. Aku pengin menikah. Aku pengin punya anak. Aku harus sembuh. Bantulah aku. Aku bisa bayar berapa saja yang kamu mau. Ini—” Hendra memperlihatkan cek kosong dengan tanda tangannya. “Kamu boleh mengisi berapa saja, tapi kamu harus menyembuhkan aku dulu.”

Riska terdiam sebentar. Ia menatap mata penuh harap milik Hendra. “Datanglah ke kosku setiap malam mulai besok.” Riska menuliskan alamat pada notesnya dan mengulurkannya. “Bawa saja cek itu.”

***

Riska di panti pijat beda dengan Riska di tempat kos. Di panti pijat Riska seperti seekor singa betina. Di tempat kos, Riska seperti kelinci. Perempuan itu memperlakukan Hendra seperti layaknya kaisar di harem. Tak mudah memang membangkitkan Singa yang tertidur bertahun-tahun.

Hendra mulai menjalankan diet khusus rancangan Riska. “Kita mulai dari makanan,” ucap Riska suatu ketika. Setiap dua hari sekali, Hendra harus memakai kerang dan cumi-cumi. Sementara tiap hari, Riska menyediakan coklat dan stroberi sebagai kudapan.

“Ini harus aku makan,” omel Hendra. Riska mengangguk.

Riska memijat seluruh badan Hendra setelah mandi dengan air hangat. Ia tak lupa melakukan pijatan-pijatan pada titik-titik syaraf kekuatan pria. Namun Hendra tak bereaksi apa-apa.

Wanita itu tak putus asa. Ia meminta Hendra pergi dengan dirinya selama tiga hari di sebuah resort di Pulau Bali.

“Jangan pakai apa-apa.”

What?” Hendra terperangah. “Kedinginan dong. Lama-lama bisa masuk angin.”

“Jangan kuatir. Cottage kita tertutup. Tak ada orang yang melihat.” Riska tersenyum nakal. Riska sengaja membiarkan Hendra merasakan kedinginan. Jika saat itu terjadi, Hendra pastilah mencari kehangatan. Dan ia sudah menyediakan kehangatan itu. Tak percuma Riska mempelajari yoga selama lima tahun. Riska tahu bagaimana membuat suhu tubuhnya meningkat disaat Hendra membutuhkan kehangatan. Riska membuat Hendra belajar untuk membutuhkan dirinya. Dirinya yang seorang wanita.

Mereka membutuhkan waktu hampir setahun setengah sampai saat Hendra merasakan bahwa sentuhan Riska bukan lagi seperti balok es. Balok es itu berubah seperti whipped cream dalam kopi latte kesukaannya. Lembut tetapi meninggalkan bekas manis di bagian dalam tubuhnya. Dan ketika percikan-percikan itu bergelombang membesar, Hendra memeluk Riska erat-erat. “Terima kasih, Ris.” Hendra mengucapkan dengan lirih.

Tibalah saat Hendra menjalani tahap kedua. Tahap memutuskan Dodi, pasangannya selama ini.

Sungguh mengejutkan. Dodi sama sekali tak nampak marah. Wajahnya datar-datar saja. Sedatar bentuk badannya yang menjulang tinggi tak menonjolkan sebaris otot pun. Bahkan Dodi yang mengantarkan Hendra dengan mobilnya ke tempat Riska. Dodi menatap Riska ketika Hendra hendak membuka pintu mobil. “Aku akui Riska gadis yang cantik.”

Dodi melihat bagaimana Riska mencium pipi Hendra mesra. Dan meninggalkan mereka berdua untuk selama-lamanya. Esok hari Hendra membaca judul headline di koran, Seorang Pianis Ternama Bernama Dodi Tewas Kelebihan Dosis.

***

“Aku hamil, Mas.” Kata-kata dari Riska membuat Hendra tersentak. Ada perasaan bahagia sekaligus takut. Dia bahagia karena itu artinya dia sembuh. Dan tentu saja dia takut. Bagaimana dia memberitahu papa? Riska bukan Tionghoa. Papa tidak akan setuju kalau dia menikah dengan Riska. Apalagi jika Papa tahu kalau Riska sedang mengandung seorang anak. Bagaimana juga jika Papa tahu apa pekerjaan Riska?

Dugaannya benar. Baru kali ini Hendra melihat seluruh wajah Papa berubah merah. Istrinya hanya diam. Mama sengaja duduk antara Papa dan Hendra. Mama Hendra tahu adat suaminya. Dia tidak ingin suaminya memukul anak satu-satunya ini.

Papa berteriak keras. “Kalau kamu nekat mengawini dia, Papa tidak akan menulis namamu di surat waris Papa.”

Hendra tak kalah hardik. Dia mengancam akan pergi selama-lamanya dari rumah jika Papa tidak mau melamar Riska untuknya. Hendra tahu, di keluarga Tionghoa, anak laki-laki ibarat emas. Apalagi dia anak satu-satunya. Siapa lagi yang akan memimpin sembahyang leluhur kalau bukan dirinya. Tak ada anak laki-laki berarti tak ada yang mendoakan leluhur.

Tangisan Mama dan ketakutan Papa akan kepergian Hendra meluruhkan kekerasan Papa. Pelan-pelan Papa bertanya, “Kapan kamu mau Papa lamarkan?” Hendra lega. Bulan berikutnya Riska sudah menggandeng lengannya di kursi pelaminan.

***

“Bagaimana, Dokter?” Hendra tampak cemas. Wajah dokter berpeluh dan muram. Pasti ada apa-apa. Hari ini kandungan Riska diperiksa untuk kedua kalinya. Dokter keluar dari ruang periksa tanpa Riska. Kenapa? Apakah dokter itu ingin bicara secara pribadi sama aku?

“Istri Bapak kena kanker mulut rahim.”

Jantung Hendra terpompa ke tekanan maksimal. “Apa bisa disembuhkan, Dok?”

“Masalahnya bukan itu.”

“Lantas apa, Dok?”

“Bapak harus memilih anak atau istri?”

“Kenapa saya harus memilih? Tidak bisakah dua-duanya.”

“Kemoterapi akan membunuh bayinya—Tapi istri Bapak meminta saya untuk menyelamatkan jabang bayi.”

Hendra langsung lemas. Kegembiraan yang seharusnya menjadi miliknya saat menimang anak menjadi neraka tak kasat mata. Kenapa begini, Tuhan? Aku sembuh. Punya Riska, dan segera punya anak. Kenapa kamu buat kebahagiaan ini tak sempurna?

Hendra berlutut di dekat ranjang istrinya. Dia memohon pada Riska agar mau menjalani pengobatan kanker.

“Tidak, Mas. Aku pengin punya anak. Itu anak kita. Masih kecil. Masih lemah. Tolong jangan bunuh anak kita.”

“Aku sudah sembuh, Ris.” Hendra hampir putus asa. “Kita masih bisa berusaha lagi. Jika kamu yang pergi, darimana aku bisa cari kamu?”

“Kalau kamu sayang aku. Biarkan anak kita hidup. Kanker ini hukuman Tuhan buatku. Aku menerimanya. Mudah-mudahan hukuman ini cukup pantas untuk menggantikan semua keliarannku di masa lalu. Aku mengijinkan kamu mencari mama buat anak kita. Tapi tolonglah, Mas. Jadilah seperti Mas Hendra yang kukenal. Kalau kamu bisa mencintai aku, cintai juga anak kita. Kalau kamu mau memperjuangkan aku di mata keluargamu, maka aku juga berharap kamu mau memperjuangkan hidup anak kita.”

Hendra memegang tangan Riska erat-erat. Didekatkannya telapak tangan itu pada kedua pipinya. Riakan cairan hangat mulai mengalir melalui telaga pada ujung matanya.

***

Hendra keluar dari rumah. Pantai Senggigi di sore hari tampak lebih indah. Angin dari laut menari-narikan rambut ikal milik Klara. Didekapnya tubuh mungil Klara lekat-lekat. Seperti hendak diusirnya semua angin agar tidak menggangu Klara yang sedang mencari perlindungan pada kedua lengannya.

“Saat kamu sudah agak besar—“ Mata Hendra menerawang memecah pantai. “Papa ingin mengajak kamu ke Rinjani. Kalau kita sudah sampai puncaknya, kita pasti sedikit lebih dekat ke surga. Mungkin kita bisa meminta ijin Tuhan agar mama diperbolehkan mengulurkan tangannya buat kita.”

Mike, yang sedang menggendong Wei Wei, berjalan menuju arahnya. Mike memang jago renang. Dia pasti sedang mengajari Wei Wei berenang di pantai tadi. Hendra menghapus air matanya, dia tak ingin Mike bertanya ada apa. Ia tak ingin memicu kecemburuan pada diri Mike. Ia ingin mencintai Klara dan Wei Wei sepenuhnya. Seperti janjinya pada Riska.