Resensi Misteri Rumah Kosong Karya Glenn Alexei


RumahKosongJudul Buku: Misteri Rumah Kosong

Penulis: Glenn Alexei

Penyunting: Fatimah Azzahrah

Jumlah Halaman: 220

Penerbit: Media Pressindo

Tahun Terbit: 2015, cetakan pertama

ISBN: 978-979-911-540-X

Adi membeli rumah baru. Yang menjadi soal rumah tersebut bukan rumah biasa. Rumah itu rumah Erika

Rani sudah tak tahan berada di rumah mertuanya. Pertengkaran-pertengkaran dengan si Empunya rumah yang menjadi penyebabnya. Mau tak mau Adi meluluskan permintaan Rani untuk membeli rumah. Sebuah rumah di kawasan Darmo, Surabaya, menarik perhatiannya. Besar, di kawasan elit, harga murah, plus perabotan lengkap membuatnya meneteskan air liur untuk membelinya. Rani curiga dengan murahnya harga rumah. Adi tak perduli. Dan beberapa hari kemudian mereka menempati rumah tersebut.

Salah satu orang yang membantu di rumah tangga mereka, Sri, merasa ada yang aneh dengan rumah tersebut. Begitu juga Rani. Tetapi Adi tetap tak percaya ‘ada apa-apa’ di rumah tersebut. Dia tetap bersikukuh untuk tetap tinggal.

Sri tak kuat. Berbagai gangguan dari ‘yang tak terlihat’ membuatnya selalu cemas. Rani dan Adi merasa kehilangan sepeninggal Sri. Pembantu itu mengundurkan diri. Sekarang tinggal Rani yang merasa terganggu dari ‘yang tak terlihat’

Kelakuan Rani semakin lama semakin berubah. Sikapnya tak menunjukkan seperti sikap Rani pada umumnya. Adi pelan-pelan percaya bahwa rumah Darmo tempatnya tinggal berhantu. Adi meminta bantuan teman-temannya. Tetapi tak ada diantara mereka yang dapat membantu. Pilihan terakhirnya jatuh pada paranormal terkenal bernama Ki Seno.

Hasil penyelidikan Ki Seno sungguh mengejutkan. Istri pemilik rumah itu menuntut dia dimakamkan dengan benda kesayangannya. Yang menjadi masalah, Adi tidak tahu dimana mayatnya? Dan dimana letak benda kesayangannya itu.

Sampul novel terasa membawa aroma horor. Apalagi judulnya. Dengan warna font merah dan tulisan mirip darah, cukup membawa aroma seram saat memandangnya. Pesan saya, hati-hati membukanya, sepertinya halaman buku rentan lepas.

Adegan awal untuk memasuki setting cerita tak bertele-tele. Saya suka ini. Kenapa? Sebab orang sudah tahu (dengan melihat sampul dan blurb) bahwa ini adalah novel horor dengan tempat kejadian perkara di rumah. Sehingga bertele-tele memasuki setting pusat menjadi membosankan. Sebaliknya, jika pembaca tak punya keinginan masuk ke setting cepat-cepat, ya jangan diberitahu lewat judul. Dalam hal ini, pembuat judul novel ini cukup jeli.

Alur berjalan maju dan klimaks di akhir. Lambat di awal, cepat di belakang. Pergerakan alur lambat disebabkan penulis mulai menebar atmosfer horor, kemudian mempersiapkan alasan kenapa terdapat “suasana tak mengenakkan” pada rumah. Saya mempunyai sedikit catatan di bagian muka cerita (sekedar pendapat pribadi. Tidak ada hubungannya dengan baik-buruknya novel ini). Andai ke-horor-an rumah di-ekploitasi lebih dalam dan segi kejiwaan lebih di-permak, maka bisa saja saya merasakan kenikmatan lebih dalam ber-horor-ria.

Beberapa tahun yang lalu saya pernah membaca kisah horor di majalah Intisari. Rumah dalam cerita tersebut nyata. Sebuah rumah di Amerika yang dijual murah karena banyak didiami roh-roh jahat. Sayang sekali saya melupakan judulnya. Cerita di dalamnya benar-benar membuat saya ketakutan waktu itu. Cara bercerita di majalah tersebut juga sama dengan novel ini, yaitu dimulai dengan pindah rumah, gangguan-gangguan awal, dan memuncak sampai menimbulkan korban. Bedanya rumah tersebut tak pernah aman, sedangkan di novel ini, rumah angker milik Adi menjadi tentram.

Saya senang penulis memasukkan unsur-unsur mistis khas Indonesia. Puasa patigeni, ayam cemani, dan kambing kendit. Dengan masuknya hal-hal tadi, suasana mistis makin terasa. Begitu juga dengan penyebutan beberapa lagu klasik terkenal yang biasa dimainkan biola, seperti Canon in D milik Pachelbel dan requiem untuk lagu kematian dan menuliskan hal-hal berbau biola, seperti arpus (saya lebih sering menyebutnya rosin) dan ukuran biola. Penulis sudah tampak memperdalam cerita dengan baik.

Novel ini cocok bagi Anda yang suka terhadap cerita horor, tetapi masih “takut-takut”. Dengan bahasa yang ringan, Anda tak akan menemukan kata yang terlalu sulit sehingga harus membuka kamus. Novel ini tak seperti The Sweet Sins karya Rangga Wirianto Putra. Sebuah novel yang memasukkan unsur musik sehingga pembaca yang bukan pemusik pastilah keningnya agak berkerut. Anggap saja sebagai latihan menghadapi novel horor kelas berat. Ah, saya jadi ingat anak teman saya yang masih remaja. Dia suka sekali membaca horor tetapi penakut. Saya akan rekomendasikan buatnya.

 

Daftar Tokoh:

Nama Tokoh

Keterangan

Adi Tokoh utama. Suami Rani
Rani Istri Adi.
Sri Pembantu
Yunita Mantan Adi
Felix Sales properti
Nikko Sugianto Pemilik rumah yang dibeli Adi
Erika Istri Nikko
Anton Teman Adi
Lukman Kepala HRD tempat Adi bekerja
Suyanto Direktur tempat Adi bekerja
Ki Joko Seno Paranormal