Memilikimu


Sampul Novel Memilikimu

Pengarang:  Sanie B Kuncoro
Penerbit: GagasMedia
Tahun Terbit: 2011
Jumlah Halaman: 284

Layaknya pasangan suami-istri baru, Anom Ilalang dan Samara, terbuai mimpi akan kahadiran seorang anak. Mimpi tersebut buyar manakala dokter mengatakan bahwa Samara mandul

Anom yang sangat menginginkan anak, sedih. Dibantu oleh seorang pria temannya, ia menyewa rahim Lembayung untuk calon anaknya. Ia melakukannya tanpa sepengetahuan Samara.

Meski Lembayung sesekali melayani kencan dari pria-pria. Apa yang ditawarkan Anom tidak begitu saja diterimanya. Namun jawaban akhir dari permintaan itu adalah Ya. Jawaban ini hadir karena ia ingin membeli sawah dan rumah peninggalan ayahnya yang dijual ibu Lembayung sebagai biaya hidup.

Semula Anom mempunyai rencana bagus untuk memasukkan anak dari Lembayung dan dirinya ke rumah. Anom akan menyuruh Lembayung meletakkan anak tersebut di muka pintu rumah pada pagi hari. Ia berharap disaat itu istrinya akan berbelas kasih dan menerima anak tersebut.

Setelah beberapa lama, Anom merasa bersalah atas rencananya ini. Dia berniat berterus terang pada istrinya. Samara marah atas pengakuan Anom. Dan sejak itu sifatnya menjadi dingin. Anom merasa sedih. Pagi itu meski hubungan dia dan Samara masih dingin, ia pergi ke kantor. Ditengah perjalanan, taxi yang ditumpanginya ditabrak truk.

Rencana Lembayung dan Anom berubah total. Lembayung bingung karena Anom sekarang telah tiada. Bayi itu membuat dia dan ibunya jatuh cinta. Namun demikian ia tetap mengantarkan bayi tersebut untuk diserahkan pada Samara.

Samara menolak bayi tersebut, namun Ibu Samara tidak. Ia dengan telaten merawatnya sampai akhirnya harus masuk rumah sakit karena terkilir parah. Ketiadaan ibunya membuat Samara mau tidak mau harus merawat Magenta, nama bayi tersebut. Suatu ketika kekesalannya memuncak. Dia membawa Magenta ke rumah sakit, dengan maksud agar ibunya saja yang merawat Magenta. Ibu Samara marah ketika anak yang masih bayi tersebut dibawa ke rumah sakit. Akhirnya sambil mendongkol, Samara membawa kembali Magenta pulang ke rumah. Karena masih kesal, ia membasuh Magenta dengan air dingin. Samara lantas curiga, karena beberapa kali Magenta buang air besar. Samara membawanya ke rumah sakit. Dan benar, Magenta mencret. Samara takut melihat Magenta semakin lama terlihat lemah. Dokter mengatakan bahwa malam itu adalah malam kritis. Jika sampai keesokan hari Magenta bertahan, dia akan sembuh.

Tiba-tiba saja Samara memiliki bayi tersebut. Dia tidak ingin Magenta pergi. Keesokan harinya ia bangun karena tendangan lembut pada kepalanya. Magenta kembali ceria.

Bahasa pada novel ini sangat lembut. Untuk ukuran saya, bahkan terlalu lembut. Kelembutannya bagus untuk adegan lembut, seperti ungkapan dan tindak tanduk Anom dalam merawat Lotus, bayi temannya. Penggunaan kata-kata lembutnya membuat pembaca teraduk-aduk perasaannya, apalagi bagi pasangan yang belum mempunyai anak. Namun untuk adegan agak keras, sementara penggambaran kemarahan Samara, atau kesedihan ibu Lembayung ketika mengetahui anaknya hamil, agak tidak tepat. Rasa dalam peristiwa tadi kurang menohok.

Tetapi ini bukan hal yang salah. Ini hanya sekian dari banyak cara bagaimana mengungkapkan suatu peristiwa. Dalam dunia pertunjukan pun juga hal semacam ini. Kita tentu tahu bagaimana film India atau opera, tiba-tiba bernyanyi dan menari ketika lagi bersedih atau marah. Dalam dunia sebenarnya pasti tidak mungkin ada orang tiba-tiba menari ketika dalam keadaan seperti tadi. Tetapi kita seharusnya memandang film sebagai seni. Sementara cerita adalah bagian yang di-seni-kan. Begitu juga dengan lukisan abstrak.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s