Memori


Sampul Memori, karya Windry Ramadhina

Sampul Memori

Pengarang:  Windry Ramadhina
Penerbit: GagasMedia
Tahun Terbit: 2012
Jumlah Halaman: 301

Mahoni benci ayahnya karena menceraikan ibunya. Ia terpaksa pulang ke Indonesia karena ayahnya meninggal. Dengan keengganan dia berusaha untuk menerima masa lalu dan menyongsong masa depan bersama Simon

Jika diringkas dengan satu kata, maka saya meringkas cerita dalam novel ini dengan CLBK (Cinta Lama Bersemi Kembali). Jika agak diperpanjang sedikit. Maka akan menjadi CLBK antara Mahoni dan Simon. Dan jika diperbolehkan lebih panjang, maka akan menjadi: CLBK antara Mahoni dan Simon dalam balutan masalah Mahoni dan adik tirinya; Simon dengan Sofia.

Suatu ketika, Mahoni yang sedang berada di Virginia, Amerika, ditelepon adik Papa-nya. Beliau mengabarkan bahwa ayah Mahoni tewas dalam kecelakaan bersama ibu tirinya, Grace. Mahoni gusar. Di satu sisi ia tidak perduli dengan nasib ayahnya. Di sisi yang lain, suara menghiba om-nya tersebut meluluhkan hatinya.

Berbekal ijin selama dua minggu tidak masuk kerja, Mahoni pulang ke Jakarta. Disana segala masalah yang pernah ia tinggalkan kembali bergema. Sigi, anak dari Papanya dan seorang perempuan bernama Grace, harus ia asuh, sebab sepeninggal kematian Papa dan Grace, Sigi tidak punya siapa-siapa lagi.

Dengan segala keinginan untuk melupakan masalahnya sebentar, ia pergi ke Mall. Disana ia bertemu dengan Simon dan pacarnya, Sofia. Simon dan Sofia pada waktu itu sudah mempunyai studio perancangan bernama Moss. Berbekal pengetahuan Simon, bahwa Mahoni memang berbakat seperti dirinya ia mengajak Mahoni untuk bergabung. Bagi Simon dan Mahoni bertemunya mereka kembali adalah anugrah, tetapi tidak dengan Sofia. Simon kembali mengungkapkan perasaannya pada Mahoni. Mahoni semula bingung dengan Simon, meski belum resmi pacaran, semenjak kuliah di Universitas Indonesia pada jurusan Arsitektur, mereka berdua memang akrab. Hanya karena kejadian “Simon mencuri cium padanya”, anggapan Mahoni agak berubah dari teman-akrab menjadi mungkin-pacar. Dia menganggap demikian sebab Simon tidak pernah mengatakan “Aku Cinta Padamu.” Sekarang Simon memberikan harapan pada Mahoni disaat ada Sofia di sampingnya.

Simon memilih Mahoni dan memutuskan Sofia. Semula Sofia tidak terima, tetapi kemudian berusaha memahami hubungan Simon dan Sofia. Sayang, disaat hubungan Mahoni dan Simon membaik. Simon mendapatkan kontrak pekerjaan selama dua tahun pada biro arsitektur terkemuka di Belanda.

Dua tahun setelah itu, Sofia mengkabarkan kepada Sofia bahwa Simon memperpanjang kontraknya di Belanda. Mahoni kecewa. Ia berharap ia akan bertemu Simon setelah dua tahun masa kontrak, tapi sekarang Simon malah memperpanjangnya. Masih dalam kegelisahan masalahnya, Sofia menyuruh Mahoni untuk melakukan kunjungan ke sebuah rumah untuk masalah renovasi. Ternyata, justru disanalah ia bertemu dengan Simon.

Novel ini sangat berbau arsitek. Tidak heran, penulis novel ini memang seorang arsitek. Dengan alasan ini, ia sangat piawai dan tentu sangat jagoan menggambarkan permasalahan-permasalahan arsitek sebagai latar belakang cerita, disamping cerita roman antara Mahoni dan Simon; permasalahan Mahoni dan Sigi, serta antara Mahoni dan Mae.

Gaya hidup orang pada strata menengah juga dengan apik dipertunjukkan. Mulai dari penggambaran Mahoni yang suka dengan coklat merek Godiva seharga lima dolar tiap seduhannya, kopi Gayo kesukaan Simon, permen Ricola-nya Mahoni yang diberikan untuk Simon, sampai pada masak instan bubur krim yang dibuat Mahoni untuk adiknya Sigi. Untuk yang terakhir ini, jarang dipakai pada novel, seingat saya, biasanya yang digambarkan sebagai makanan instan itu mie goreng atau mie rebus.

Dialog-dialog yang digubah tidak terasa kaku bahkan cair serta alami. Mengikuti dialog pada novel ini seperti mendengar dialog sebenarnya di alam nyata. Ini juga yang membuat saya tertarik untuk terus membaca. Di awal cerita, penulis menyembunyikan berbagai misteri. Potongan-potongan misterinya diberikan tahap demi tahap. Sebagai contoh: diceritakan bahwa Mahoni membenci ayahnya, tetapi penulis tidak langsung memberikan alasan. Kemudian juga pada kejadian penjemputan Sigi yang gagal di stasiun karena Mahoni sudah pulang terlebih dahulu. Beberapa waktu kemudian Mahoni baru sadar jika Sigi ingin menjemputnya, sebab sewaktu Sigi mengucapkan janjinya untuk menjemput, Mahoni tidak memperhatikan perkataan Sigi. Hal-hal seperti ini mungkin kecil bagi orang lain, tetapi bagi saya, penyimpanan misteri dan hubungan antar detil kecil peristiwa sambung menyambung sepanjang novel sangat menarik. Bagi saya, novel yang menarik seperti jaring laba-laba dan mungkin seperti air di sungai,

Sampul buku juga menarik. Pemandangan rumah seperti kuno itu memang tidak jauh dari kesan judul novelnya. Tulisan judul juga cukup besar dan artistik; Ukuran font cukup bagus untuk pembaca berkaca mata. Begitu juga dengan warna kertas yang tidak terlalu hitam. Harapan saya, semoga para arsitek juga ingin membaca novel ini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s