Cinta Tanpa Jeda


Cinta Tanpa Jeda, Indah Hanaco

Sampul Cinta Tanpa Jeda

Pengarang: Indah Hanaco
Penerbit: Bukune
Tahun Terbit: 2012
Jumlah Halaman: 275

Pengalaman masa kecil menghantuinya. Berjuang dengan rasa jijik kepada dirinya sendiri dan rasa tak suka pada seorang pria. Mae berusaha bangkit dari keterpurukan

Kalau satu orang dapat mengubah dunia dengan cinta, bagaimana dengan dua orang? Mae ingin mengubah jalan hidupnya. Jalan hidup yang mengharuskan dia mengutuk cinta karena pengalaman masa lalunya. Pada rencana awal, ia ingin mengubah pemikirannya pada masa lalu tanpa menyertakan cinta. Namun rencananya berubah saat ia menemukan Anton.

Mae Sellina sangat cantik. Wajah kekanak-kanakannya di usia menjelang tiga puluhan adalah modal yang cukup untuk membuatnya menerjuni dunia model. Mae terjun pada dunia model secara tak sengaja. Suatu hari, salah seorang model terkenal, Florence Zetta, menjadi juri pada pemilihan model di Medan. Ketika berjalan-jalan pada sebuah toko, Florence menemukan Maya Handoyo, salah satu SPG toko tersebut. Lilian menyemangati Maya yang ragu pada saat itu.

Dibayangi oleh keinginan untuk mengubah nasib. Maya Dwi Handoyo mengikuti Florence Zetta ke Jakarta. Dalam gemerlap dunia model, ia mengganti namanya menjadi Mae Sellina. Disana, ia menjadi terkenal. Namun meskipun kemapanan menghapirinya, ada suatu kekosongan. Kekosongan itu bernama cinta.

Lewat acara Marco, salah seorang desainer kenalannya, Mae berkenalan dengan Anton Daneswaga. Kedinginan hatinya saat itu tak mengijinkan kehadiran Anton pada hatinya. Tetapi Mae salah jika menganggap Anton berputus asa. Cinta menggebu membuat Anton berusaha dengan sekuat tenaga merebut hati Mae.

Dua hal yang dilakukan Anton untuk merebut hati Mae:

  1. Menghadiahkan jam tangan
    Kesalahan besar. Jam tangan tersebut mahal, sementara Mae adalah wanita dengan trauma mendalam akan kekuasaan pria dengan cara memberi hadiah seperti itu
  2. Manghadiahkan Coklat Cap Ayam
    Cukup sederhana. Tapi langsung menohok Mae. Coklat merek ini adalah coklat kesukaan Maya eh…maksud saya Mae.

Mae mengambil keputusan berani. Untuk menyembuhkan luka batinnya, ia bermaksud ke sumber masalah, tanah kelahirannya. Dengan kenyakinan baja, satu persatu kenangan ia munculkan kembali. Dari menjenguk saudara kandungnya, Arul, bahkan mengunjungi makam ibunya. Hasilnya? Ia sekarang mulai menerima keadaan dirinya dengan memaafkan perbuatan Arul yang hanya diam saat Om Andi melakukan tindakan senonoh padanya dan tentu Om Andi sendiri.

Tinggal satu masalah Mae. Cinta dari Anton! Hubungannya merenggang sebelum Mae pulang ke Medan membuatnya agak kosong. Tantangan dikeluarkan Mae terhadap Anton. Semula ini hanya lelucon tetapi menjadi kenyataan. Mae menantang Anton: Jika memang Anton mencintainya, dia harus menjeput dirinya di Medan. Dan tantangan itu terjawab dengan kedatangan Anton dan Rika asisten Mae.

Sesampai di Jakarta. Anton menyewa gedung bioskop untuk memutar film Sleepless in Seattle. Film kesayangan Mae. Dalam kegembiraan melihat fim kesayangannya itu, Anton melamar Mae. Sejak saat itu mereka resmi menjadi sepasang kekasih lagi dan hubungan Mae dan Anton berujung pada pernikahan. Tapi masalah belum selesai, Mae sulit hamil, Sekali lagi kesetiaan Anton diuji.

Ada beberapa catatan menarik ketika saya membaca novel ini. Pertama: Penulis berusaha membuat epilog untuk menarik minat pembaca agar membaca terus. Ini strategi yang bagus. Apalagi epilog tersebut dibiarkan mengambang. Sehingga pembaca penasaran. Kedua: Bobot novel menjadi bertambah karena ada penambahan detil yang unik seperti:

  1. penambahan tentang Elizabeth Bathory yang membunuh 650-an orang
  2. Pengetahuan Mae tentang detil dunia balap
  3. Penambahan detil tentang merek coklat merek cap Jago
  4. Istilah-istilah dalam bahasa jepang, dll.

Penambahan detil seperti diatas cukup menyenangkan, karena novel tidak berisi hanya cerita saja tetapi juga setidak-tidaknya sedikit pengetahuan sebagai nilai lebih

Alur yang dipakai ada dua, klimaks dan flashback. Suatu teknik menarik menghindari kebosanan membaca. Namun agak sayang,desain sampul terlalu minimalis. Kurang greget, kurang menarik perhatian. Bentuk font sampul juga kurang sederhana, sehingga dibutuhkan perhatian lebih untuk mengamati.

Penulisan dengan gaya lebih ke melankolis bagi saya pribadi tidak bermasalah. Saya rasa ini hanya masalah selera saja. Dengan demikian bagi pembaca melow bisa menikmati novel ini.


Karya Indah Hanaco lainnya:


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s