Daun yang Jatuh Tak Penah Membenci Angin


Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin, Tere-Liye, Gramedia Pustaka Utama Tere-Liye

Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin

Pengarang: Tere-Liye
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit: 2012
Jumlah Halaman: 256

Tania dulunya adalah pengamen jalanan yang dekil. Namun sekarang dia berubah menjadi gadis jelita dan mengalami penderitaan karena cintanya pada penolongnya, Danar, tidak terbalas karena dia pengecut

Tania, adiknya: Dede, dan ibunya ditolong oleh Danar. Sebelumnya Tani dan Dede hanyalah pengamen jalanan. Ibu mereka hanya tergolek lemah di rumah kardus mereka, di tepi bantaran sungai. Semenjak itu hidup mereka berubah. Tania dan adiknya mulai bersekolah.

Kebahagiaan mereka tidak lama. Ibu mereka meninggal karena kanker paru-paru stadium IV. Sejak saat itu Tania dan Dede tinggal bersama dengan Danar di rumahnya. Cinta mulai tumbuh di hati Tania. Ia menyadari dirinya masih kecil. Dia berusia tiga belas tahun, sementara Danar berusia dua puluh tujuh.

Tania sebenarnya berberat hati ketika Danar mengusahakan beasiswa sekolah di Singapura, bukan hanya karena hal itu akan menjauhkannya dari Danar, tetapi juga karena sekarang Danar berpacaran dengan Ratna. Tapi dia sudah berjanji pada dirinya sendiri, bahwa dia akan patuh pada Danar.

Letak dirinya yang di Singapura justru membuat cintanya semakin bertambah. Berulang kali temannya Anne mencegah Tania agar tidak mengakui cintanya kepada Danar. Sampai suatu ketika hatinya hancur mendengar Danar akan menikahi Ratna.

Beberapa bulan setelah menikah, Ratna mengirimkan email. Ratna mengatakan, bahwa sebenarnya Danar tidak mencintainya. Ratna seperti bersaing dengan bayangan seseorang yang ada di benak Danar. Dari bukti liontin yang dipakai Danar, dan novel yang tulis Danar, serta pembelian tanah bantaran sungai tempat rumah kardus Tania dan keluarganya, Tania tahu siapa perempuan yang ada di benak Danar, Sang Pengecut.

Saya berani mengatakan Tere-Liye pastilah seorang penulis jempolan. Saya mendasarkannya pada beberapa hal:

Pertama:
untuk pertama kalinya saya membaca novel roman dalam balutan cerita ala detektif. Tentu, pokok masalahnya bukan pembunuhan tetapi cinta.

Kedua:
Ide cerita sebetulnya sederhana, tetapi sang novelis bisa memberikan bumbu yang membuat lidah meneteskan air liur. Seperti seorang Chef, yang menyajikan tempe, yang biasanya diremehkan orang, namun dalam balutan rasa western sehingga bule-bule memakannya selayaknya makan kalkun panggang.

Ketiga:
Kebiasaann mengubah-ubah nama profile Dede, adik Tania, yang mencerminkan suasanan hatinya adalah tindakan yang cerdas. Dengan demikian, disamping narasi dan dialog, pengubahan nama profile ini turut menjadi alat cerita.

Yang saya sayangkan:

  1. Sampul bukunya tidak bagus. Pertama, tulisan judul agak sudah dibaca kalau tidak berkosentrasi. Pada bagian blurb, yang terletak di belakang buku. Warna latar belakang terbelah dengan dua warna. Warna yang kanan agak mengganggu tulisan blurb, sehingga agak sulit dibaca.
  2. Penggambaran lamunan di toko buku oleh Tania agak membosankan, karena mengulas hal yang sama. Tempat fotokopi, warung tenda……(adegan ini lebih dari sekali), meskipun dengan narasi yang berbeda.
  3. Sikap Danar yang pengecut :)- ….Sorry bercanda! Tapi beneran sebagai pria, saya pengin jitak Danar.

Saya sangat menyarankan peminat novel roman untuk membaca novel ini. Tidak hanya bagus, tetapi juga memberikan pengalaman lain, cinta dalam balutan cerita ala detektif.

3 responses to “Daun yang Jatuh Tak Penah Membenci Angin

  1. Di benak saia selalu terfkirkn ingin membuat suatu karangan(novel).. dan saia teramat sangat ingin menerbitkan. Tpi saia takut karya saia di tolak. Namun apa salah nya saia mencoba setidak nya saia berusaha membuat karya sebaik mungkin .
    Kemana aku harus mengirimkan karya yg saia buat.

    Suka

  2. sampai detik ini saya masih penasaran apa yang danar “BIsikan” di ending novel ini?? menurutmas octa gmn??

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s