Des(c)ision, Kisah Galau Sepanjang Masa


Almira Raharjani, Des(c)ision, Kisah galau sepanjang masa, gramedia pustaka utama, novel, fiksi, roman, resensi, ringkasan, sinopsis

Sampul Des(c)ision, Kisah Galau Sepanjang Masa

Pengarang: Almira Raharjani
Penerbit: Amore, Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit: 2012
Jumlah Halaman: 223

Desi sudah bulat memutuskan De, kekasihnya, dengan alasan…Ini dia! Alasannya tidak jelas. Desi sudah bosan dengan De yang serba misterius, terlalu jaim, dan merasa hubungan mereka monoton.

Tidak ada angin tidak ada petir, Desi memutuskan De, pacarnya. Alasan? Tidak Jelas! De tidak banyak bicara. De tidak pernah membicarakan dirinya sendiri. De tidak romantis. Dan alasan-alasan tak jelas lainnya. Apalagi ketika sahabatnya, Cindy, juga menyarankan putus. Dia tanpa ragu mengatakan putus. Jadilah sekarang Desi jomblo.

Desi tidak mengerti. Cindy yang kelihatannya anti cowok tiba-tiba mempunyai cowok. Bahkan rasa persahabatan yang biasanya ditunjukkan Cindy pada Desi hilang. Ini disebabkan karena Desi mengejek pacar Cindy, bernama Dodi. Cindy malah ganti mengejek Desi yang sekarang adalah jomblo.

Desi makin terperangah. Justru di saat dia putus dari De, dia malah mengetahui siapa sebenarnya De. Desi sekarang mengetahui kalau De adalah pria mandiri. Disamping beberapa fotokopi, De mempunyai usaha lain: Depot Bakmi. Semua berawal Nindya. Nindya adalah sahabat De. Dia meninggal ketika melahirkan Nia. Suami Nindya, bernama Prima, tidak mau mengasuh Nia. Nenek Nia merasa berat dengan biaya perawatan Nia. De mengajukan diri untuk merawat Nia. Dengan menjual sepeda motornya, dia mulai berbisnis fotokopi dekat kampus Desi.

Kenyataan-kenyataan yang mengagumkan tentang De, sedikit banyak membuat Desi menyesal memutuskan hubungannya dengannya meskipun dia tidak terang-terangan mengakui. Desi jelas tidak mungkin meminta hubungan mereka pulih seperti sedia kala. Dia perempuan. Pantang mengucapkan hal-hal berbau asmara lebih dulu daripada pria. Tetapi Desi tidak perlu kuatir. Akhir yang bahagia ada di pihak Desi. Di hari Lebaran, De datang melamar Desi.

Judul novel ini sebetulnya cukup inovatif. Gampang untuk ditulis tetapi tidak mudah untuk diucapkan. Coba anda ucapkan Des(c)ision. Namun diluar itu, novel ini mempunyai beberapa hal yang menyenangkan. Dialognya jenaka. Kadang saya tertawa mendengar kekocakan dialog antara Desi, Anggi, dan Fifi. Cuma….apakah mahasiswa di Semarang memang memakai Gue-Elo dalam percakapan? Teman-teman saya yang dari Semarang, bahasa Jawa-nya malah medok banget.

Ada yang janggal di novel ini dan membuat saya bingung. Pada saat menyelidiki masalah anak De, yang berangkat ke rumah De ada tiga orang: Desi, Anggi dan Fifi (halaman 178). Sebelum masuk ke rumah De, diceritakan Desi pulang karena takut pada De (halaman 181). Berarti yang masuk ke rumah De cuma Anggi dan Fifi. Anehnya, yang menyikut Fifi karena dianggap terlalu banyak ngomong kok Desi? (halaman 186). Bukannya Desi sudah pulang? Apa saya salah baca?

Novel ini cukup sederhana, tetapi bukan berarti jelek. Malah saya rasa dialognya cukup menghibur karena cukup kocak.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s