Camar Biru


camar biru, nilam suri, gagasmedia

Sampul Novel Camar Biru

Pengarang: Nilam Suri
Penerbit: GagasMedia
Tahun Terbit: 2012
Jumlah Halaman: 279

Nana mempunyai masalah kelam bersama Devon. Masa lalu ini menghalanginya berhubungan dengan Adith, teman masa kecilnya, dan sekarang adalah tunangannya

Adalah empat sekawan: Nana, Adith, Naren, dan Sinar. Mereka sudah akrab sejak mareka masih imut. Nana adalah adik Naren, sementara Adith adalah adik Sinar. Sebagai satu-satunya perempuan di geng mereka, Nana selalu mendapat perlakuan istimewa dari ketiga laki-laki lainnya.

Suatu hari Nana menangis sedih ditemani Adith. Nana baru saja putus dari Devon. Nana berkeluh kesah betapa dia takut kalau suatu ketika tidak akan mempunyai cowok lagi. Dalam pengaruh alkohol, Nana dan Adith berjanji untuk selalu menyimpan origami berbentuk burung. Sepuluh tahun dari sekarang origami burung itu adalah alat syah yang mengingatkan mereka untuk menikah jika Nana masih belum menikah juga.

Nana menyimpan luka batin sejak kecil. Ia merasa tidak diperhatikan oleh orangtuanya. Narenlah, yang selalu mendapat segala limpahan kasih sayang. Mengetahui hal ini, Naren justru semakin menyanyangi Nana. Seakan-akan Naren menggantikan segala limpahan kasih orangtuanya yang tidak didapat Nana.

Sampai suatu ketika, Nana dan Naren mengalami kecelakaan mobil. Naren tewas di tempat. Mama mereka menyalakan Nana. Tidak betah dengan keadaan di rumah, Nana pergi dari rumah dan menyewa apartemen sendiri.

Sepuluh tahun lagi mereka bertemu. Keadaan sudah sangat berubah. Kini geng mereka tinggal mereka berdua, sebab sesudah Naren meninggal, Sinar kuliah di luar negeri. Adith menyumpah-nyumpahin kakaknya itu bahwa dia pengecut. Bahwa dia kuliah di luar negeri karena tidak kuat menghadapi kenyataan Naren sudah meninggal.

Adith baru menyadari sesuatu setelah Danish, sahabat Nana bercerita padanya. Danish bercerita bahwa ada yang tidak beres dengan Nana. Nana sering bermimpi dan bangun dalam keadaan takut dan gelisah luar biasa. Adith berusaha mencari tahu, masalah apa yang membebani Nana. Nana sendiri pada mulanya tidak mau mengatakannya.

Sampai suatu ketika, Adith sangat marah mendengar cerita Nana bahwa sebelum Devon meninggalkannya, ternyata Devon memperkosanya. Adith berusaha meredam hatinya dengan berlalu dari Nana untuk sementara waktu.

Nana menceritakan keadaan dirinya dan Adith pada Sinar. Setelah mengetahui permasalahannya, Sinar berkehendak untuk pulang ke Indonesia, mencoba menjadi jembatan antara Adith dan Nana. Akhirnya Adith sudah dapat menerima Nana. Nana bahagia. Tetapi dia ingin pergi ke luar negeri. Sejenak melupakan masalahnya. Sejenak menginginkan untuk merasakan kedewasaannya, kali ini tanpa dipaksa.

Sampulnya lumayan keren. Dibuat seperti kertas tua. Satu burung camar di bagian kiri. Cocok dengan isi buku. Begitu juga dengan kertas, tebal. Putih, sehingga tidak memperkosa mata. Pun tidak takut robek ketika membuka halaman demi halaman. Dan tulisan judul juga lumayan besar sehingga gampang dibaca.

Ada yang lain daripada yang lain di penamaan bab. Biasanya bab diberi penanda dengan bilangan romawi atau bilangan romawi dan judul bab. Tetapi disini tidak begitu. Awal bab diawali dengan cuplikan syair lagu dan gambar origami burung. Namun model seperti menyulitkan saya untuk menandai peristiwa tertentu di bab. Pun kalau saya ingin berdiskusi dengan teman saya mengenal novel ini, saya terpaksa menyebutkan peristiwa pada halaman sekian. Tidak nyaman.

Hal menarik yang lain adalah suatu bab yang menggambarkan Sinar mengirim email ke Naren yang sudah meninggal. Saya kaget ketika memasuki bab ini karena tidak ada kata-kata pembukaan. Nilam Suri langsung menulis dalam format email. Yang saya bingung, apakah email ini ditulis saat Naren masih hidup ataukah ketika sudah meninggal. Memang, akhirnya saya tahu di bagian agak akhir di bab. Bab ini membutuhkan perenungan saat membaca. Sebab maksud bab ini sangat implisit. Bab ini cukup singkat, tetapi menggambarkan bagaimana perasaan Sinar sebenarnya.

Ada tiga tokoh dengan gambaran kuat, yaitu Nana, Adith dan Danish. Sayang ketiganya adalah tokoh protagonis, sementara yang antagonis seperti Devon dan mama Nana kurang dijelajahi.

Banyaknya kata-kata berbahasa inggris dalam novel ini membuat tidak semua kalangan dapat nyaman membaca. Saya pribadi lebih menyukai gaya tulisan berbahasa inggris seperti novel Three Wedding and Jane Austen karya Prima Santika. Ada terjemahannya ketika menuliskan beberapa bagian novel Jane Austen. Namun jika itu dipergunakan di novel ini, juga menjadi masalah. Sangat tidak nyaman. Agak rese juga kalau hampir di banyak tempat, ada catatan kaki. Mungkin bisa diakali dengan menuliskan terjemahannya dalan bentuk miring, agar dapat dibendakan mana yang bahasa indonesia asli atau bahasa indonesia yang merupakan terjemahan dari bahasa inggris.

Di luar catatan tersebut diatas, novel ini lumayan juga sebagai bacaan ringan. Materi cerita sedikit diatas Take A Bow karya Elizabeth Eulberg, punya Bentang Belia dan dibawah sedikit dari Dark Love karangan Ken Terate, punya Gramedia Pustaka Utama.

 

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s