Love, Edelweiss, and Me


Sampul Love, Edelweiss, and Me

Sampul Love, Edelweiss, and Me

Pengarang: Monica Anggen
Penerbit: Rumah Kreasi
Tahun Terbit: 2012
Jumlah Halaman: 286

Kesedihan Sasa akan kematian Arie begitu menguras pikirannya. Ketika Rudi mencoba masuk ke dalam hatinya, akankah dia menerimanya, apalagi setelah dugaannya akan kematian Arie ternyata salah….

Sasa sedih karena pacarnya, Ari telah pergi untuk selamanya. Sejak saat itu seluruh pemikirannya terkuras untuk memikirkan Ari, tanpa menyediakan kesempatan bagi pria lain untuk mendekatinya. Seluruh teman kos dan teman-teman kuliahnya sudah mengetahui masalah ini, baik tentang Ari dan sikap dinginnya. Sasa beruntung, di saat keadaannya labil, dia mempunyai sahabat akrab, yaitu kakak-beradik Keyla dan Dewa.

Rupanya diantara teman kuliahnya di jurusan arsitektur, ada dua orang yang terus terang memperlihatkan rasa tertarik kepada Sasa. Seorang dari mereka bernama Rudi, satu lagi bernama Billy. Rudi lebih merebut perhatian Sasa. Rudi mengetahui satu hal. Dia tidak dapat memaksa Sasa agar segera jatuh cinta padanya. Sebaliknya pelan-pelan dia mencoba menyembuhkan Sasa dari sikap dinginnya. Sebaliknya, cara-cara Billy justru lebih kasar dan cenderung menyakitkan bagi Sasa.

Suatu hari, dosen memberikan tugas berkelompok. Isi dari tugas itu adalah merancang proyek perumahan dengan arsitektur yang tidak biasa. Baik Billy dan Rudi berkelompok bersama Sasa. Agar dapat membuat tugas dengan baik, kelompok mereka berencana mengamati rumah-rumah di daerah gunung Bromo.

Rudi mempunyai rencana untuk menyembuhkan luka batin Sasa. Saat di gunung Bromo, Rudy akan berusaha menghadapkan Sasa dengan salah satu hal yang menyakitkan. Rudi berpikiran bahwa cara sembuh dari trauma adalah justru dengan berhadapan dengan sumber trauma tersebut.

Di gunung Bromo. Rudi memberikan Edelweiss. Suatu bunga yang membuat Sasa traumatis, sebab Edelweiss adalah bunga yang mengingatkannya pada Ari. Perkiraan Rudi salah. Sasa malah bertambah menjadi histeris. Sasa berlari menjauhi Rudi sampai akhirnya dia terjatuh di kawah gunung Bromo.

Kecelakaan di gunung Bromo menyebabkan banyak luka di pihak Sasa. Gadis itu masuk rumah sakit. Di tempat inilah ada kejadian tak terduga. Ternyata Sasa bertemu dengan Ari. Cerita mulai terkuak. Saat Ari dalam bahaya kematian karena obat-obat terlarang, dokter di Indonesia menyerah. Tetapi orang tua Ari tidak mau menyerah. Dia membawa Ari ke luar negeri untuk berobat dan Ari sembuh.

Dalam suatu percakapan. Secara tidak sengaja Rudi mendengar kalau Sasa masih mencintai Ari. Rudi sedih. Meskipun dia tidak rela, namun, mengingat kalau Ari memang pacar terdahulu Sasa, ia tidak berusaha membela posisinya di hadapan Ari.

Sampul novel cukup bagus. Cuma, ada satu pertanyaan dari saya. Apa hubungan gambar sampul dengan cerita? Memang suasana sampul seperti di daerah terpencil, misal pegunungan. Tetapi dalam gambar, sepintas seperti suasana rumah/gubuk dalam lingkungan bersalju. Di dalam cerita tidak ada situasi bersalju seperti gambaran sampul. Malah, jika melihat gambar sampul, semula saya menduga ini adalah cerita korea.

Baik font, kertas serta judul bab tampak berseni. Saya tidak takut kertas sobek saat saya berpindah halaman dan besar font cukup bagus untuk mata. Saya menyukainya. Sepintas kemasan sampul dan kertasnya mengingatkan saya akan buku-buku dari penerbit GagasMedia.

Tempat kejadian cerita digambarkan dengan detil sangat bagus. Orang Malang akan meng-amin-i soal ini.

Novel ini lebih bercerita mengenai perasaan Sasa terhadap masa lalu dan masa saat Ari kembali. Tidak ada tabrakan protagonis dan antagonis yang cukup berarti (jika memang keadaan Billy bisa dianggap sebagai antagonis karena sering mengganggu Sasa). Tidak masalah. Bagi saya novel tidak selalu berisi benturan antagonis dan protagonis.

Adanya unsur suspense (contoh: bagaimana Sasa memandang masa depannya tanpa Arie), surprise (contoh: ternyata Ari masih hidup) dan Plausibilitas (unsur logika) dapat saya katakan cukup.

Akhirnya sebagai penutup, novel ini cukup bagus membawa misi show-must-go-on biar pacar pergi jangan lebay. Tetap saja menatap ke depan. Jangan seperti Romeo-Juliet, tahu pacarnya mati malah minum racun. Ternyata pacarnya pura-pura mati. Nyesel, kan!


Karya Monica Anggen lainnya:


9 responses to “Love, Edelweiss, and Me

  1. Prillischia Bernanda

    Knp gag bisa saya kirimi pesan.. Permintaan pertemanan… Atau memberi komentar… ??????

    Suka

  2. Prillischia Bernanda

    Ok saya tanyakan….. Semoga aja masih ada yaa

    Suka

  3. Prillischia Bernanda

    Dimana sya bisa dapet novelnya lagi ya..???? Utk novl love.. Edelweiss n me?????? Mohon direq.. Terimakasihhh..

    Suka

  4. dyahlennyayoe@yahoo.com

    Novel memang ceritanya bagus, dibuat dgn tata bahasa yg indah, hanya saja ending nya masih mengambang, itu yg bikin pembaca bertanya – tanya. Mengenai ringkasan yang mas Octa buat menurut saya sudah bagus dan membuat orang yg blm pernah membaca novel ini menjadi penasaran untuk membacanya ( good job), saya jg menunggu part 2 nya

    Suka

  5. novelnya bgus bgeet. .
    Keren abis. Rasanya crtanya nyata. Latarnya dpat drasakan. Endingnya akhirnya Sasa pilih Ari kan?trus Rudi gmana?
    Apa ada love,edelweiss and me part 2nya?

    Suka

    • Di akhir novel Rudy diceritakan patah hati. Dia pergi ke Jalasutra, bermain-main dengan ombak sambil mengingat Sasa. Ceritanya berhenti sampai disitu. Masalah part 2, entar aku tanyakan sama Mbak Monica Anggen

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s