Maria Tsabat


sampul novel maria tsabat, karya Herlinatiens, penerbit Diva-press

Sampul Maria Tsabat

Pengarang: Herlinatiens
Penerbit: Diva-press
Tahun Terbit: 2012
Jumlah Halaman: 386

Besar sebagai maestro biola. Maria Tsabat mempunyai ketertarikan terhadap masalah-masalah cinta, politik, dan falsafah hidup. Akankah pencarian dan tanda tanyanya terjawab? Bahkan oleh orang yang dicintainya?

Pembukaan cerita dimulai dari penuturan Canang. Dia adalah seorang fotografer yang akan mengadakan pameran foto tentang Maria Tsabat. Sayang sekali, sebulan sebelum pameran, Maria Tsabat diketemukan tak bernyawa di rumahnya. Pada titik itulah cerita bergulir. Kisah-kisah Maria ketika masih hidup dihadirkan kembali lewat penuturan Romo, Canang, John dan Maria sendiri.

Maria Tsabat adalah pribadi unik. Dia tipe pemberontak dalam diam. Pikirannya yang cerdas selalu menganalisa keadaan di sekitarnya. Dia termasuk menaruh perhatian besar pada masalah-masalah hidup bernegara. Dia mengkritik LSM-LSM. Ia curiga bahwa LSM tersebut hanya berdiri untuk mengambil uang donatur. Berbohong mengatakan hal-hal baik dan menentang pemerintah, tapi ujung-ujungnya tujuan mereka hanya hidup dari uang donatur.

Romo sebagai dosennya, sering menjadi teman diskusi bagi Maria Tsabat. Romo sendiri sering dituding oleh Maria sebagai orang yang berdiri di tengah-tengah. Tidak putih. Tidak juga hitam. Namun sebagai seorang religius, Romo memang memposisikan dirinya sebagai jembatan Maria antara pikirannya sendiri yang lebih mendukung pemerintah dan LSM yang dicurigainya.

Canang, Si Pewawancara, tampaknya juga menyadari dan menduga, bahwa diluar sikap Maria yang terkadang seperti pemberontak, Maria sendiri mempunyai sisi yang lain. Lewat surat-surat yang diberikan kepadanya oleh Maria. Canang memperoleh kesan, bahwa Maria adalah seorang pecinta yang romantis. Bahasa-bahasa yang puitis di suratnya, dan tanda-tanda kelemahan jiwanya manakala sedang dilanda cinta benar-benar melengkapi pribadinya yang terkesan ganas.

Canang sendiri rupanya juga merasa hampa. Dia menyukai tokoh Jeng. Dia tidak sendirian. Haidhar menjadi lawannya. Namun sebagaimana Maria Tsabat menganggap bentuk diam Romo dianggap terlalu munafik, maka Jeng sendiri juga pasti menganggap Canang pengecut, karena cuma diam.

Konflik terus berlanjut. Beberapa cerita mengungkapkan konflik tak berujung. Kata tak berujung ini lebih tepat jika dikenakan pada Canang dan Haidhar. Keduanya sama-sama bimbang mengungkapkan perasaan mereka pada Jeng. Sementara Maria Tsabat sendiri tak terlalu menganggap masalah akan penolakan dari cinta Sang Kekasih. Lewat beberapa suratnya yang tak pernah dikirim. Dia menggambarkan kerinduan, rasa sepi, sedikit pemberontakan akan keadaan di luar dirinya namun tetap menganggap cinta mereka abadi meski tak diakhir oleh sebuah pernikahan.

Selama ini saya membuat resensi dengan gaya populer. Maksud saya, agar tulisan saya tidak terkesan berbelit. Agar orang dengan berbagai latar belakang bisa memahami. Dan lagi, saya memaksudkan agar tulisan saya dapat digunakan sebagai referensi singkat untuk membantu para calon pembaca untuk memutuskan membeli novel tersebut atau tidak? (tidak lebih) Oleh karena itu saya lebih menyukai menyebut tulisan saya ini sebagai tinjauan buku bukan resensi.

Meskipun saya lebih sering menggunakan gaya populer. Saya secara implisit tetap memasukkan unsur-unsur tema, tokoh, dan lain-lain. Terkadang memang tidak lengkap. Saya memilih unsur yang agak menonjol saja.

Namun belakangan ini, saya mendapat permintaan dari teman-teman, agar saya membuat resensi sebenarnya, yang biasanya dilakukan oleh pembuat resensi. Saya cuma mengatakan, “Okelah, lihat nanti.” Untuk tulisan kali saya mencoba untuk membuat seperti resensi pada umumnya.

Tema
Jujur. Agak sulit mencari tema untuk novel-novel seperti Maria Tsabat. Novel-novel ini banyak bercerita mengenai banyak hal. Namun semua berpusat pada diri Maria Tsabat. Novel ini berisi pendirian Maria Tsabat dalam menyikapi persoalan-persoalan di luar dirinya. Sikap tersebut dalam ranah cinta, politik, dan hubungan kemanusiaannya

Toko dan Penokohan

1. Maria Tsabat
Digambarkan sebagai violis yang mahir. Suka dengan kemewahan. Selalu curiga dengan maksud-maksud lembaga swadaya masyarakat(LSM) dalam berkarya. Seseorang yang ingin dicintai tetapi pantang untuk mengemis cinta. Dalam urusan politik, Maria Tsabat dijadikan sebagai tokoh pembela pemerintah.

2. Canang
Tokoh Canang adalah tokoh yang paling banyak menyoroti Maria Tsabat. Tokoh ini juga yang terlihat seperti mewawancari para tokoh yang lain. Canang sendiri mewawancari tokoh lain dalam kapasitas untuk mendukung pameran foto-foto Maria Tsabat. Di luar itu, Canang adalah kompetitor Haidhar dalam memperebutkan Jeng, nama panggilan Maia Diatri.

3. Haidhar
Digambarkan pemalas. Sering tidak punya uang. Dahulu, pernah mencari nafkah dengan penari kemudian beralih ke pembuat canang untuk upacara-upacara adat Bali. Sangat mencintai Jeng, namun akhirnya mundur pelan-pelan dan mulai melirik Rani.

4. Romo
Seorang pemuka agama. Dosen dari Maria Tsabat. Seorang terpelajar. Penggiat LSM, sering bertukar pikiran mengenai masalah politik dengan Maria Tsabat. Tokoh ini adalah sahabat, teman debat, dan dosen Maria Tsabat. Romo digambarkan sebagai seorang yang tenang. Pendiam. Romo adalah tokoh penengah di segala permasalahan Maria Tsabat. Dalam cerita tersirat, bahwa kelihatannya Maria Tsabat menyukai Romo. Padahal Maria Tsabat adalah calon istri adik Romo, namun pernikahan tersebut tidak pernah terjadi.

5. John
Pria ini adalah tokoh yang sangat tidak disukai oleh Maria Tsabat. Hal ini disebabkan karena John dianggap orang yang berpihak pada LSM. Meskipun Maria Tsabat tidak anti terhadap LSM. Maria hanya berpendapat dalam kapasitas hati-hati.

Plot/Alur
Alur yang digunakan adalah aluran campuran.

1. Alur flashback
Cerita dimulai dengan pemberitahuan bahwa tokoh Maria Tsabat ditemukan meninggal di tempat tinggalnya. Dari sini si pencerita memapaparkan runtutan ke belakang tentang tokoh Maria Tsabat

2. Alur maju
Dalam menceritakan tentang sesuatu hal. Tokoh-tokoh menceritakan dengan alur maju, tetapi sering, di tengah cerita, digunakan alur flashback.

Latar/Setting cerita
Ada dua tempat yang dipakai sebagai setting cerita: Bali dan Yogyakarta.

Sudut Pandang
Sudut pandang orang pertama dan kedua

Gaya Bahasa
Hampir di sebagian besar halaman, Herlinatiens, menggunakan bahasa-bahasa puitis. Saya sempat berulang kali membaca, agar mengerti apa maksudnya. Terutama pada bagian terakhir, ketika membaca surat-surat milik Maria Tsabat. Yang menyolok adalah personifikasi dan Hiperbola.

Secara ringkas, saya dapat mengatakan bahwa novel ini bercerita tentang Politik, Intrik LSM, Cinta, Pengorbanan, serta falsafah hidup. Termasuk novel dengan kategori berat. Kenapa berat?

  1. Setiap tokoh berbicara mengenai banyak masalah
    Masing-masing tokoh terkadang tidak fokus membicarakan satu masalah. Contoh: Canang terlihat mewawancarai para tokoh tentang pendapat mereka pada Maria Tsabat. Namun tokoh Canang sendiri juga bercerita tentang rasa cintanya kepada gadis yang dipanggil Jeng. Bahkan dia bersiteru dengan Haidhar.
  2. Bahasa yang dipakai puitis.
    Seperti kata para pakar. Bahasa sastra, terutama puisi mengalami deotomatisasi. Artinya, arti kalimat di dalamnya tidak langsung dapat dimengerti.
  3. Bahasa Bali
    Bahasa Bali di novel ini tidak ada terjemahannya, sehingga terpaksa saya bertanya pada teman Bali saya
    Contoh:

    Katemah dening bhuta kala dengen (hal: 78)

    ngidih nasi (hal: 79)

    balih-balihan (hal: 98)

    tanpegat agering (hal: 245)

  4. Tidak ada Bab
    Tidak ada Bab untuk memisahkan kelompok cerita. Tetapi diganti dengan Sebuah nama dan beberapa kalimat dibawahnya. Yang menjadi masalah. Nama tadi bisa muncul berkali-kali sehingga sangat sulit menandai kelompok cerita tertentu.

Jika anda penggemar novel seperti karya Ayu Utami, novel Herlinatiens ini bisa dijadikan alternatif bacaan anda.

6 responses to “Maria Tsabat

  1. nonovel ini sangat sulit di pahami

    Suka

  2. suka membaca ini, terimakasih

    Suka

  3. salam kenal… melihat blog octacintabuku, menggugah keinginan saya untuk menulis resensi lagi🙂

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s