Perjalanan Rasa


fahd djibran, kurniaesa publishing

Sampul Perjalanan Rasa

Pengarang: Fahd Djibran
Penerbit: Kurniaesa Publishing
Tahun terbit: 2012
Tebal Halaman: 202

Bernuansa Kahlil Gibran. Mengenai perjalanan batiniah penulis menemukan sesuatu berdasarkan rasa yang dihadapinya. Novel ini menyuguhkan kuliah sejenak mengenai kehidupan

Di halaman belakang buku, di atas ISBN ditulis: Novel/Fiksi. Tetapi saya agak bingung dengan pernyataan tadi setelah membaca bukunya. Saya pribadi lebih cenderung menyebutnya sebagai kumpulan cerpen karena cerita antara bab tidak dilanjutkan ke bab berikutnya. Sebagai contoh, pada cerita bab pertama berjudul Mama tidak dilanjutkan di bab kedua dengan judul Sembuh. Judul Mama menceritakan bagaimana seseorang merasa pilu mengingat perlakuannya sendiri terhadap mamanya, sementara judul Sembuh menceritakan tentang dialog seseorang dengan seseorang yang dicintainya. Namun jika hubungannya ditinjau dari Perjalanan Rasa seseorang, bisa dikatakan ada hubungannya. Sebagai contoh, pada akhir bab satu tertulis seperti ini:

Semoga Mama lekas sembuh

kata sembuh kemudian menjadi judul pada bab dua.

Sehingga, bisa dikatakan Fahd Djibran berusaha mengisyaratkan bahwa masih ada rangkaian antara bab sebelumnya dan sesudahnya melalui apa yang disebut Rasa

Buku ini memuat 51 judul cerita. Isi cerita bervariasi, dimulai tentang perasaan tentang Mama dan diakhiri tentang perasaan tentang Ayah. Saya sudah mulai terharu melihat cerita tentang Mama, begitu juga cerita di akhir tentang Ayah. Namun sayang ada beberapa cerita yang menurut saya agak susah dicerna. Sebagai contoh, cerita dengan Judul Permainan. Disini Fahd Djibran memasukkan judul-judul Game: The Legend Of Zelda, Contra:Irresistible Force, Super Mario World, dan lain sebagainya. Jika pembaca sudah pernah atau tahu memainkan game-game ini, maka dapat tetap menikmati cerita pada judul ini, tetapi yang belum pernah main game atau tidak tahu game itu apa, agaknya mereka akan mengernyit. (Saya rasa Fahd Djibran seorang gamer). Dalam hal ini Fahd Djibran tidak dapat disalahkan, kan buku ini tentang perjalanan rasa dia sendiri. Jadi kalau dia seorang pemain game tersebut, tidak dapat disalahkan jika unsur game dimasukkan.

Hal menarik lainnya adalah tentang disertakannya puisi Sapardi Djoko Damono dengan judul Hujan Bulan Juni, di bukunya. Yang menarik bukan diikutsertanya puisi tersebut (di novel-novel lain memang sudah jamak memakai puisi, bahkan lagu), tetapi sebagai buku bertipe novel, bukan kritik sastra, Fahd Djibran sedikit mengupas (mengkritik?) puisi tersebut. Sebelum saya memberi komentar, saya suguhkan puisi tersebut terlebih dahulu:

tak ada yang lebih tabah
dari hujan bulan Juni
dirahasiakannya rintik rindunya
kepada pohon berbunga itu

tak ada yang lebih bijak
dari hujan bulan Juni
dihapusnya jejak-jejak kakinya
yang ragu-ragu di jalan itu

tak ada yang lebih arif
dari hujan bulan Juni
dibiarkannya yang tak terucapkan
diserap akar pohon bunga itu

Catatan saya:

  1. Lihat baris puisi:tak ada yang lebih tabah
    dari hujan bulan Juni,
    Fahd Djibran berkomentar:

    Aku tak pernah benar-benar mengerti mengapa orang-orang merasa senang jika tak ada yang lebih tabah dari hujan bulan Juni?

  2. Lihat baris puisi:dirahasiakannya rintik rindunya
    kepada pohon berbunga itu,
    Fahd Djibran berkomentar:

    …..Misalnya, mengapa rintik rindu harus dirahasiakan dari pohon yang berbunga?

  3. Lihat baris puisi:tak ada yang lebih bijak
    dari hujan bulan Juni,
    Fahd Djibran berkomentar:

    Benarkah tak ada yang lebih bijak dari hujan bulan Juni ketika ia justru menghapus jejak-jejak kakinya yang ragu-ragu….

Saya tidak mempermasalahkan kupasannya. Tapi saya pribadi baru menemui novel yang mengupas hasil sastra. Yang sering saya temui, justru lagu dan puisi sering dijadikan bahan yang diagung-agungkan pada novel tersebut.

Meskipun saya sempat agak kecewa, karena ternyata buku yang menyatakan dirinya novel ini tidak seperti novel-novel yang saya baca pada umumnya, tetapi lebih mirip Chicken Soup For The Soul atau Burung Berkicau karya Anthony de Mello, atau bahkan seperti Kahlil Gibran. Tetapi saya tetap dapat menikmati perjalanan rasa seorang Fahd Djibran dan mulai membuka pintu gerbang perjalanan rasa saya sendiri.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s