Bis dari Pulogadung


bus_pulogadung“Aku pergi dulu.” Robert memecah keheningan di ruang tamu Amelia, sore hari itu. Amelia tak menjawab, galau. Ia ingin Robert masih di Jakarta, tempat Amelia tinggal. Tapi tak mungkin Robert lebih lama tinggal, liburan sekolah sudah hampir selesai.

“Aku janji, entar kalau ada hari liburan lagi aku pasti ke Jakarta.” Tangannya menggenggam telapak tangan Amelia. Jam di tangan Robert sudah menunjukkan pukul empat lebih limabelas sore sementara bis executive dari Pulogadung yang akan ditumpanginya berangkat pukul lima lebih limabelas menit.

“Kamu ga usah anterin aku sampai Pulogadung.”
“Kenapa?”
“Entar malah aku ga mau pulang.”
“Biar aja. Biar kamu tetap di Jakarta.” Canda Amelia di sela udara sore yang masuk ke dalam rumahnya pelan-pelan. Sisa-sisa sinar mentari yang sebentar lagi tenggelam di barat masih menyisakan sedikit sinar pada beranda tempat mereka berdua berbicara.

Mereka kemudian berjalan keluar menuju jalan yang akan dilalui angkot jurusan Pulogadung. Untung jarak dari kompleks perumahan Amelia ke Pulogadung tidak jauh, sehingga Amelia dan Robert masih dapat berlama-lama berbicara.

“Tuh, udah ada.” Amelia menunjuk arah datang angkot dengan dagunya. Tangan sebelahnya masih menggenggam erat tangan Robert. Ketika Robert akan memasuki angkot, ia berusaha dengan keras melepaskan genggam Amelia. “Yang! udah dong. Aku entar ga jadi pulang.” Amelia tersenyum pahit. Pelan-pelan direnggangkan gengamannya.

Pria itu berusaha tetap memandang wajah Amelia sampai wajahnya tidak terlihat lagi karena angkot membawa dirinya menjauhi tempat Amelia berdiri di pinggir jalan.

Amelia, gadis berusia delapan belas tahun. Bersekolah di SMA Negeri, yang dikenalnya lewat facebook, benar-benar membuat ia rela menempuh perjalanan dari Surabaya ke Jakarta tiap liburan. Semuanya di lakoninya tanpa sengaja. Bermula dari dirinya dan ketiga cowok anggota geng-nya bertaruh. Taruhannya cukup sederhana, siapa yang dalam waktu seminggu mempunyai friend di facebook terbanyak, dia yang menang. Sementara yang kalah harus mentraktir yang lainnya dengan nilai traktiran maksimal lima ribu setiap kali traktir selama seminggu. Robert langsung ngiler membayangkan Batagor Bang Ipul, Bakso Granat Bu Samsia dan Pangsit Kaisar.

Pertama kali Robert bingung, bagaimana caranya menambah friend, sementara temannya yang mempunyai Facebook cuma sedikit. Senyumnya langsung mengembang manakala melihat suggested friend di facebook. Tergiur dengan traktiran yang bakal mampir di lidahnya, ia kesurupan menambah friend-nya dengan menekan tombol suggested friend.

Dari sekian orang yang ia tambahkan sebagai teman, hanya seorang yang protes. Dan orang itu adalah Amelia. “Hei, siapa elo sih kok bikin request friend ke gue. Gue kagak kenal ama loh.” chatting Amelia di Facebook mampir di mata Robert. Sambil chatting Robert berusaha melihat profil Amelia. Beruntung Amelia tidak menyembunyikan profilnya. Foto narsis Amelia dengan rambut lebat pendek dan kacamata minus nongol di monitor.

Mungkin Amelia ada hubungan saudara dengan Hermione, teman Harry Potter itu, sehingga dengan mengajarkan sihir pada Amelia, ia mengubah kedua bola matanya menjadi alat sihir yang menarik perhatian Robert.

“Hei, aku Robert. Dari Surabaya. Kenalan dong.” Balasnya.
“Elo belum jawab pertanyaan gue. Kenapa request friend ke gue?”
“Karena kamu cakep aja.“ Jawab Robert asal. Amelia membalas dengan mengirimkan emotion picture mencibir. Robert menjadi kecanduan. Bukan terhadap FB, tetapi terhadap Amelia. Gadis itu riang banget. Sesederhana apapun percakapan mereka, dia bisa mengubahnya menjadi hal yang menarik buat dibicarakan. Sampai akhirnya Robert nekat menemuinya di Jakarta dan menembaknya. Amelia menerimanya dengan syarat setiap liburan dia harus main ke Jakarta. “Wah kok tiap liburan.” Kerutan kening Robert terbentuk.

“Ya, tiap liburan. Kenapa? Elo merasa keberatan? Salah sendiri kenapa pacaran ama cewek Jakarta.” Amelia tidak perduli. Robert tertawa kecut. Cinta emang ga nyambung ama logika.

***

Bis sudah berjalan selama kira-kira satu jam, ketika terdengar suara, “Permisi.” Suara merdu seseorang menyapanya. “Boleh aku duduk disini?”

“Emh..mau duduk ditempatku atau di dekat jendela?” Tanya Robert.
“Terserah deh.” Robert akhirnya duduk dekat jendela.
“Maaf ya,” katanya tidak enak. “Aku tadi duduk di barisan belakang. Banyak cowok disana godain aku. Aku ga suka. Aku minta kondektur supaya aku bisa pindah ke tempat lain. Trus dia suruh aku duduk di tempatmu.” Robert manggut-manggut.

“Adinda. Panggil aja Dinda.” Tangannya mengulur dan Robert menjabat tangannya sambil menyebutkan namanya.
“Dari Jakarta mau kemana?” Tanya Adinda membuka pembicaraan.
“Surabaya.”
“Di Jakarta ngapain?” Robert diam. Ia masih sibuk mengamati gadis disampingnya ini. Bentuk muka dan model matanya seperti bukan orang Jawa. Tubuhnya jangkung. Sorot matanya tajam dengan alis mata tebal. Mengingatkannya akan model orang…..

“Maaf, kalau aku sudah bertanya hal yang pribadi.” Dinda menangkap ketidaknyamanan Robert terhadap pertanyaannya. “Aku ke rumah temanku.”

“Cewek atau cowok?” Adinda seperti menggoda.

“Cewek.” “Hemmm…Pasti bukan sekedar teman cewek. Pacar, kan? Jauh-jauh dari Surabaya hanya cuma teman? Gak mungkin la yaow.” Robert cuma tersenyum tak menjawab.
“Klo kamu sendiri mau kemana?”
“Ke Denpasar.” Bingo! Robert berteriak dalam hati. “Itu dia. Wajahnya wajah Bali.” Robert membayangkan perjalanan yang amat capek dan membosankan dari Jakarta ke Denpasar. Aku pikir aku sudah cukup menderita harus menikmati perjalanan dari Jakarta ke Surabaya. Ternyata ada yang lebih yahok.

“Iya sih. Demi sebuah misi.” Adinda mengembangkan bibirnya tersenyum, kemudian bibirnya kembali seperti biasa.

Mission impossible.” Robert menimpali. “Kamu pastinya sayang banget ama pacar kamu?” Entah mengapa Robert menangkap kekeluan dalam pertanyaan Adinda. Lebih tepatnya kesedihan. “Tanpa menjawab, kamu pasti tahu.”

“Dan cewek kamu pastinya sayang banget ama kamu.” Kedataran suara Adinda menarik perhatian Robert. Ada keingintahuan yang besar dari diri Robert, kenapa Adinda sepertinya sangat tertarik dengan hubungannya dengan Amelia.

“Siapa nama cewek kamu, kalau ga keberatan?”
“Amelia.” Robert menyahut. Dia lantas diam, berharap Adinda bercerita lebih banyak, agar ia mengetahui apa maksud Adinda.

“Pasti cewek dengan tubuh mungil, ga lebih tinggi dari kamu. Manja ama kamu. Badan kecil. Suaranya kayak anak kecil.” Robert terkejut. “Deskripsimu hampir benar. Kamu sepertinya mengenal dia?” Selidik Robert.

“Enggak. Cuma dari pengalamanku, nama Amelia selalu seperti itu.”

“Aku berharap Amelia tidak seperti aku.” Mata Adinda menerawang ke arah jendela bis. Robert merasa, ini adalah detik Adinda membuka diri. Ia memasang telinga lekat-lekat pada setiap suara yang akan dikeluarkan Adinda.

“Siapa sebenarnya kamu?” Robert mencoba memancing lebih jauh.
“Aku seorang pengkhianat.”
“Pengkhianat dalam hal apa?” Lelehan air mata mengalir dari matanya. Nafasnya tampak tersengal-sengal oleh besarnya cerita yang akan dia ungkap. Robert mengambil tisu dari jaket dan mengulurkan pada Adinda.

“Terima kasih.” Suaranya menjadi parau. “Aku punya pacar. Hubungan kami sama seperti kamu. Hubungan jarak jauh. Aku di Jakarta, dia di Denpasar. Dia sangat menyanyangi aku. Bahkan terlalu baik.” Adinda mengambil nafas sebentar. Ia menatap Robert yang sendari tadi memang menatapnya.

“Bahkan dia pernah mengatakan, aku boleh pergi berduaan ama cowok. Entah buat Jalan-jalan. Entah nonton bioskop.” Tangannya meremas-remas tisu yang baru diberikan Robert. “Asal dengan syarat,” Adinda melanjutkan. ”Kami ga boleh berciuman. Paling banter cuma pegangan tangan.”

Robert tidak habis pikir. Kok bisa ada cowok model gini. Ia masih menunggu Adinda bercerita, tetapi Robert gelisah. Kandung kemih-nya seakan mau meledak. Pengin ke toilet. Ini gara-gara di rumah Amelia, dia menghabiskan softdrink hampir setengah botol ukuran satu setengah liter.

Sekilas Robert ragu untuk pamit ke toilet karena dia merasa tidak sopan menghentikan cerita Adinda. Tapi mau bagaimana lagi, dia lebih malu kalau sampai pipis di tempat. “Dinda, aku mau ke toilet dulu, ya.” Adinda tersenyum. Senyum yang manis. Robert merasa beruntung dia menaiki bis executive dengan fasilitas toilet ini. Coba klo tidak.

Robert tiba-tiba tertegun ketika berjalan di lorong penumpang, menuju toilet yang terletak di belakang barisan tempat duduk. Sekali lagi matanya menelusuri barisan penumpang. “Aneh!” Pikirnya. Robert bingung.

Dia sudah kembali duduk di samping Adinda. Dengan kebingungan ia melirik Adinda. “Aku pengin denger lanjutannya.” Robert menepuk tangan Adinda menyemangatinya agar melanjutkan ceritanya.

“Terima kasih.” Suaranya tidak parau lagi. Tampaknya dia sudah dapat menguasai emosi. “Ada seorang cowok yang sering mengajak aku pergi. Dia sudah tahu klo aku punya cowok. Mula-mula aku bersikap biasa. Tapi entah kenapa, saat dia memegang tanganku aku merasa lain. Mungkin aku cuma membayangkan cowokku saja, atau mungkin aku ada rasa dengan dia?”

Hari mulai gelap. Sinar sore yang tadi mengisi lorong bis sekarang berganti dengan sinar lampu berwarna kuning. Guratan wajah Adinda sekarang agak samar. Sesekali ia menyeka matanya dengan tisu, namun Robert tidak dapat melihat lagi beningnya buliran-buliran yang keluar dari mata Adinda.

“Tiba-tiba dia menciumku. Entah kenapa aku membalasnya. Mungkin aku kangen sama cowokku dan aku melampiaskannya pada dia.” Adinda tiba-tiba bertanya pada Robert, “Kamu ga muak dengan cewek seperti aku?” Robert menggeleng pelan. Dia cukup mengerti meski tidak menyukai apa yang dilakukan Adinda. Dia sendiri sering rindu sekali dengan Amelia. Dan bukan salah Amelia kalau tidak berada disisinya sekarang. Sudah tahu kalau tempat Amelia di Jakarta, kenapa masih nekat jadian.

“Aku mengerti perasaan kamu. Sungguh! Pacaran jarak jauh emang tidak mudah.” Robert tulus mengatakan pada Adinda. Gadis itu tersenyum kecut.

“Tapi cowokku tidak sebaik hatimu Rob. Entah darimana dia tahu kalau aku tidak sekedar jalan-jalan dengan cowok tadi,” berhenti sebentar, kemudian Adinda melanjutkan. ”Aku akui aku mendua. Aku masih mencintai Handoko, cowokku. Tapi aku juga ga bisa ninggalin Bara.” Adinda terisak lagi. Robert merasa inilah bagian terberat yang menggayuti hati Adinda. Dirinya jadi berpikir, apakah Amelia seperti Adinda?

“Terima kasih kamu sudah percaya sama aku, Adinda. Tapi kenapa kamu menceritakan ini? Kita baru kenal, bagaimana bisa kamu percaya dengan aku begitu saja.” Robert mulai gatal untuk menanyakan pertanyaan yang mengganjal dirinya. Gadis itu berhenti menangis. Pertanyaan Robert barusan seakan mengingatkan dia akan sesuatu. Tangannya diusap-usapkan ke matanya. Disandarkan kepalannya pada bantalan di kursi sehingga matanya dapat melihat ke atap bis.

“Aku mau minta tolong sama kamu Rob. Aku ga memaksa kamu, tapi aku berterima kasih kalau kamu mau bantu aku.” Tangannya merogoh kantong tas ranselnya yang terletak paling depan. Dikeluarkannya kotak perhiasan kecil yang terbuat dari kayu. Ia menyerahkan liontin kepada Robert. “Ambillah ini. Tunjukkan pada Handoko, kalau dia tidak percaya sama kamu.”

Robert menerimanya, masih dengan tanda tanya besar. “Apa maksudnya?” Pikir Robert. Seperti mengetahui pikiran Robert, Adinda menambahkan. “Tolong katakan kepada Handoko, kalau aku sangat mencintai dia. Bantu aku agar dia memaafkan aku.”

Tiba-tiba pikiran Robert terbuka. Ia sekarang tidak bingung lagi. Ia sudah dapat menerka kejadian-kejadian apa yang dihadapinya saat ini.

“Adinda.” Gadis itu menoleh dengan perasaan berterima kasih.
“Kamu sudah meninggal, kan?” Robert bertanya dengan hati-hati, “Kamu meninggal karena apa?”

Adinda terhenyak. “Apa yang membuat kamu menduga kalau aku sudah meninggal.” Adinda bertanya serius. Tapi sorot matanya tetap sorot mata berterima kasih pada Robert.

“Kamu bilang kalau kamu tadinya duduk di belakang. Lantas kamu pindah kemari karena kamu digoda cowok-cowok di belakang.” Adinda tersenyum, sementara Robert melanjutkan. “Pertama. Sejak dari Pulogadung, bis ini tidak pernah berhenti. Jadi semua penumpang disini pasti dari Pulogadung. Tidak ada penumpang yang naik dari jalan. Kedua, Di belakang tidak ada kursi kosong yang seharusnya ada karena kamu pindah kemari. Semua kursi terisi penuh. Ketiga, di belakangku cuma berisi ibu dan anak, beberapa wanita dewasa. Serta tiga orang bapak. Aku rasa yang kamu maksud dengan cowok-cowok bukan bapak-bapak ini.”

Adinda bertanya balik, “Kenapa begitu Rob?”

“Karena satu orang bapak menderita stroke, satu lagi buta, dan satu lagi berumur sangat renta sehingga harus berjalan dengan bantuan tongkat.” Robert mengambil nafas dalam-dalam, “Jadi kalau kamu baru ada di bis ini setelah satu jam perjalanan itu tidak mungkin. Kecuali ‘KAMU TIBA-TIBA SAJA ADA DISINI’.”

Adinda menunduk, “Kamu benar.” Suaranya begitu tenang menjawab pertanyaan Robert. “Handoko sangat kecewa denganku. Begitu kecewanya dia, sampai dia akhirnya membenci seluruh wanita. Sekarang dia lebih menyukai cowok, Rob. Dia sekarang lebih menyukai menjadi seorang wanita.”

Robert bisa merasakan kegetiran dari cerita Adinda. Meski sekarang ia melihat tampaknya Adinda lega bisa bercerita semua masalahnya, namun Robert tetap menaruh iba pada diri Adinda.

“Aku mencoba dengan segala cara untuk meminta maaf, tapi ia sudah menutup semua pintu maafnya. Aku tertekan karena aku sangat mencintainya. Aku tidak tahan lagi, Rob. Berhari-hari aku tidak mau makan. Orangtuaku sangat bingung saat itu. Gabungan tubuhku yang lemah. Mentalku yang jatuh dan penyakit asmaku, yang membuat aku tidak sanggup bertahan lagi.”

Adinda tampak face1sangat memohon, “Berjanjilah Rob, kamu mau bantu aku menyampaikan permintaan maafku?”

“Ya, Adinda. Sekarang kalau kamu mau pergi, pergilah. Pergilah dengan damai. Aku yakin diujung jalanmu tangan Tuhan akan menerimamu. Aku janji akan menemui Handoko.”

“Terima kasih Robert. Salah satu alasan kenapa aku memilih kamu buat bercerita, karena aku tahu kamu sangat mencintai Amelia. Itu berarti kamu juga pasti mau dengerin aku. Amelia sangat beruntung punya cowok seperti kamu,” Adinda berhenti sebentar. Robert merasa ini adalah perkataan terakhir Adinda.

“Di liontin itu ada foto aku dan Handoko. Kamu bisa tahu wajah dia dari situ. Dan mengenai tempat…..Kamu pasti tahu tempat waria berkumpul di Surabaya, kan?”

“Jalan Irian Barat?” Adinda mengangguk. “Selamat jalan Adinda.” Robert melihat tubuh Adinda semakin lama semakin memudar sampai akhirnya kursi Adinda kosong.

***

Waktu sudah hampir jam setengah tujuh pagi, ketika bus yang ditumpangi Robert memasuki terminal Bungurasih. Pikirannya masih kalut oleh kejadian tadi malam. Antara percaya atau tidak. Tangan kirinya menyentuh sesuatu ketika ia memasukkan ke saku celananya. Ia mengambil liontin milik Adinda. Terlihat wajah gadis muda tersenyum disamping wajah seorang yang cukup tampan. Robert melihat kursi di sampingnya. Kursi itu tetap kosong.

Iklan

4 responses to “Bis dari Pulogadung

  1. dyahlennyayoe@yahoo.com

    memang agak horor sich, tapi untungnya hantunya cakep

    Suka

  2. waduhh, rada2 hororrr hihihi…

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s