Monica


monicaAku memandang dengan aneh pada seorang gadis di depanku. Rambutnya dipotong model bob. Berhiaskan bandana berenda yang memagari rambut-rambut yang akan jatuh ke kening.

Selama ini aku lebih suka gadis dengan rambut panjang. Karena ketika aku masih SD, cuma ini cara membedakan antara gadis dan pria sewaktu mereka memakai celana pendek saat masih olahraga. Tentu tahu, kan alasannya?

Namun ada suatu hal menarik tergambar pada penampakan fisiknya. Senyum lesung pipitnya, mata bulat kecilnya, dan tawanya yang mirip kuda. Ya, aku bilang mirip kuda. Ia selalu tertawa lepas dengan terpatah-patah dan melengking. Mulanya aku tidak suka, tetapi lama-kelamaan, tawa spesifiknya membuatnya tampak menarik.

Seiring berjalannya waktu. Aku dan dia semakin akrab. Keakraban tanpa maksud apa-apa. Kita akrab karena kita satu kelas, sama-sama menyukai humor, dan sama-sama benci bangun pagi. Keakraban kita suatu ketika berubah, bukan lagi sebagai teman. Itu semua berawal ketika suatu saat aku baru keluar dari kelasku. Aku melongok kesana-kemari, tetapi orang yang kucari tidak memberiku penampakan sama sekali.

Aku berjalan menuju gerbang sekolah. Jam sudah di ujung pukul setengah satu. Tiba-tiba seseorang menyapaku saat aku baru saja melintasi gerbang sekolah. “Hai,” Monica berteriak. Dia berdiri dibalik gerbang sekolah. Pantas aku tidak melihatnya dari dalam sekolah. Badan kecilnya rupanya dihalangi oleh tembok gerbang.

“Ya, ampun,” aku meraba dada,”teriakanmu sama sekali ga feminim. Makan apa, sih barusan. Dedak campur jagung, ya?”

Monica tertawa renyah. Ini sifat baiknya. Dia tidak pernah tampak marah, sehebat apapun aku mengolok-oloknya. “Aku lagi nunggu jemputan.”

“Oh,” aku cuma membulatkan mulut. Aku melirik ke arah lima puluhan meter dari Monica berdiri. Para pembeli pangsit mie sedang sepi. “Makan pangsit dulu, yuk. Aku laper.”

Wajahnya berkerut-kerut karena gembira. “Mau traktir, nih? Kamu cowok baek deh.” Aku cuma mencibir dengan memonyongkan mulut kemudian beranjak pergi.

Mata belia kami terbelalak penuh nafsu. Sepasang mangkok pangsit mie panas terhidang. Aku dan dia berlomba-lomba mencampur saos dan sambal. Ini adalah ritual persahabatan kami yang tak terlupakan.

Monica dan aku saling bertukar joke untuk beberapa lama, sampai suatu ketika Monica menanyaiku. “Entar sore ada waktu, ga?”

“Buat apa?” Bibirku kepanasan karena sambal.

“Buku paket biologi yang di perpus sudah pada habis dipinjem. Jadi aku terpaksa beli.”

“Terus, apa hubungannya dengan aku?” Aku bingung.

“Tolong anterin ke toko buku. Kan kamu bisa naik motor.” Memang! Waktu itu aku sudah sering pergi kemana-mana memakai motor. Aku belum mempunyai SIM, tapi sudah terlanjur nekat memakai motor. “Oke deh.”

“Tapi…,” Monica berpikir, “jemput aku di pos satpam aja.”

“Kenapa? Ga enak kan pergi ama kamu kayak pencuri. Emangnya ortu kamu ga tanya kamu pergi ama siapa?”

“Udah ga usah cerewet kayak nenek-nenek. Sesekali ga usah pake tanya kenapa?” Monica melap mulut dan ngeloyor pergi.

“Lho?” Aku terkaget-kaget. “Dasar SMP lo, Sehabis Makan Pulang.

“Sori ya.” Ia menunjuk dengan dagu, “tuh, jemputanku sudah datang.” Monica menjulingkan mata sambil tertawa. “Sampai ketemu nanti.”

Aku menggeleng-geleng. Watak Monica memang seperti itu. Cuek. Apa adanya.

***

Aku datang lima belas menit lebih awal. Aku tahu pasti, Monica itu gadis tepat waktu. Kalau tidak bisa tepat waktu jangan membuat janji dengan Nona Jam ini. Bakalan di damprat. Dicuekin sampai lumutan.

Monica berjalan santai. Ia berbaju katun coklat dengan bagian atas transparan dan bagian bawah dibiarkan lepas berkibar. Celana denimnya tampak modis. Sangat pas dengan sabuk tali berwarna pada pinggang. Tanpa berbasa-basi, ia langsung melenggang di boncengan sepeda motor.

Kami keluar dari toko buku saat jam tujuh lebih lima. Masih menyisakan tawa yang selama beberapa menit membuat heboh di toko buku terbesar di Surabaya ini.

“Aku janji sama Papa pulang paling lambat setengah sembilan. Jadi kita masih punya waktu ngomong-ngomong sampai jam delapan. Mau kemana?” tanyanya.

Aku memang selalu mendominasi pembicaraan jika sudah tiba pada pertanyaan Mau kemana? Tapi saat itu aku yakin, aku tidak mempunyai uang yang cukup untuk makan, jadi aku hanya diam. Monica melihatku sepintas, dan mungkin mengetahui apa yang ada di pikiranku.

“Makan steak, yuk.” Ajaknya sambil merajuk.

“Hemmm..”

“Udah, ga usah dipikir, ayo!” Tangannya membimbingku ke arah motorku diparkir.

Kami tiba di sebuah restoran steak, Boncafe. Tempatnya di dekat jalan Manyar Kertajaya. Dari toko buku kesana memang tidak jauh. Keringat dingin langsung menetes di keningku. Waduh mati aku. Berapa duit, nih?

Aku duduk berhadapan dengan Monica. Gadis itu cuma cengar-cengir daritadi, sementara keringatku makin cepat meluncur. Kalau ada orang yang belum pernah melihat air terjun keringat, seharusnya dia hadir melihatku saat itu.

“Tenderloin Steak dua. Jus jeruk manis satu…trus kamu minumnya apa?”

“Emh…air putih.” Alis Monica menyatu. “Kalau cuma air putih, di rumah juga ada Boss. Kasih dia lemon tea aja, mbak. Itu minuman kebangsaannya dia.”

Setelah pelayan pergi aku berbisik, “Mon, aku ga bawa duit banyak. Entar bayarnya gimana?” Monica tak menjawab. Ia pasti sedang menyiksaku. Suatu kebiasaan dari Monica yang tidak aku suka. “Udah. Diem aja. Kamu kok kayak nenek-nenek sih. Cerewet.”

Monica memakan dengan lahap. Waktu hanya berjarak beberapa menit sejak suapannya yang kedua ketika ia bersuara, “Jangan takut, Rud. Kali ini aku yang traktir.” Aku mendengarnya dengan lega.

“Tahu, ga. Kenapa saat ini aku traktir kamu?” Aku menggeleng jujur. Tak tahu. Gadis itu cemberut. Pipinya yang baru saja menggembung, sekarang menipis. “Katanya teman. Tapi ga tahu apa-apa tentang aku.” Ia melanjutkan sambil tetap cemberut.

“Sungguh, Mon. Aku beneran ga tahu.”

“Hari ini ulang tahunku.” Monica berkata dengan tidak rela. Aku tahu kenapa. Ia berharap aku tahu sendiri bahwa hari ini hari ulang tahunnya, tetapi ternyata kenyataannya tidak.

“Oh.” Aku cepat-cepat menghabiskan sisa daging di mulut, kemudian mengulurkan tangan. “Met ulang tahun, ya.”

Monica masih saja enggan mengulurkan tangan. Wajahnya masih kelabu. “Maaf, ya. Beneran maaf.” Monica tidak menanggapi kata-kataku. Sisa waktu saat itu kami habiskan hanya dalam diam.

Setelah selesai membayar. Aku dan Monica menuju tempat parkir. Di dekat jalan menuju tempat parkir, aku menemukan bangku kayu. Letaknya terlindung dari pandangan orang-orang dari dalam restoran. Di tepi sebuah pohon.

“Mon, duduk disini sebentar, ya?” Aku memohon. Monica melihat jam tangannya kemudian mengikuti aku duduk. Tangannya dilipat di muka dada. Wajahnya tetap cemberut. Ia menyandarkan diri pada pohon. Kakinya ia selonjorkan di depan dengan kaki kanan menumpang pada kaki kiri.

Apa yang ingin kukatakan sekarang sudah aku pikirkan selama tiga bulan. Sekarang saatnya mengatakannya atau tidak sama sekali. Mengingat beberapa bulan lagi kami akan ujian terakhir dan masuk Perguruan Tinggi.

“Mon.” Aku menoleh kesamping. “Aku pengin mengatakan suatu hal ke kamu. Tapi aku berharap, apapun jadinya nanti, tolong, jangan pernah mengubah hubungan persahabatan kita.” Monica tetap diam. Wajahnya menunduk ke tanah. Rupanya ia masih marah.

Jantungku berdebar. Kali ini bukan keringat dingin, tetapi lebih mirip serangan jantung. Aku mencoba menarik perhatiannya lagi agar aku yakin bahwa dia mendengarkanku.

“Mon, aku suka kamu. Kamu mau jadi pacarku?” Lidahku langsung kelu. Aku menelan ludah. Berdebar menunggu jawaban Monica. Ia melepaskan jalinan kedua tangannya. Sambil berusaha membetulkan posisi duduk, ia menoleh kepadaku. Aku menyumpahi waktu saat itu. Kenapa jarum jam berjalan tidak lebih cepat dari siput?

Jantungku sekarang kembali normal. Angin dingin malam itu yang menjadi penyebabnya. Angin malam waktu itu memang tak seberapa keras. Usapannya melalui rambut wangi Monica  mampir menerpa wajahku. Sementara aku hanya memain-mainkan jari karena gelisah.

“Kamu sungguhan? Ga bercanda?” Monica mencari kepastian dariku. Aku mengangguk pelan. Bukannya karena ragu tapi malu. Bahkan saat itu aku tidak berani memandang kedua bola matanya.

“Kenapa baru sekarang? Aku sudah menunggumu mengatakan itu sejak pertengahan kelas dua.” Aku menengadah. Menatap wajahnya. Aku menumpangkan kedua tanganku pada tangannya. “Aku lagi mengumpulkan keberanian. Dan baru sekarang keberanianku tumbuh.”

“Beri aku alasan. Kenapa kamu menyukai aku?” Sebelum aku menjawab, Monica menambahkan, “dan aku ingin jawaban itu bukan karena aku cantik. Bukan karena kulitku putih. Bukan karena aku pandai. Bu….” Aku meletakkan jari telunjukku pada mulutnya. Aku merogoh tas plastik tempat buku dan selotif yang baru kami beli di toko buku. Aku menyobek sedikit selotif dan merekatkannya pada punggung tangannya.

Monica memandang tak mengerti terhadap apa yang aku lakukan. Tiba-tiba aku menarik selotif dengan keras. Monica mengaduh. “Aduh, Rudy. Sakit.”

Aku menatap wajahnya dan berkata, “Begitu juga dengan aku jika kamu mencabut dirimu dari aku. Aku juga bakalan sakit. Oleh karena itu, aku ingin kita tidak usah saling mencabut. Biarkan hati kita saling melekat ditempatnya.”

Ada buliran bening menggantung di sudut mata Monica. Ia berusaha menahannya agar tidak jatuh.

“Hari ini kamu sudah membuat aku jatuh cinta. Ingat itu! Dan kalau hari ini juga aku memberikan cintaku ke kamu, aku mohon, jangan pernah sakiti aku. Kamu bisa mengerti?” Aku mengangguk.

“Kalau begitu mulai dari sekarang. Kamu cowokku.” Monica memberiku senyum paling manis.

“Rud. Kita pulang sekarang, ya? Udah malem.” Aku menggandeng tangannya menuju ke boncengan sepeda motor. Aku melesat meninggalkan Boncafe dengan gembira. Bahkan euforia. Monica meletakkan kepalanya di punggungku. Kedua tangannya memeluk pinggangku. Aku bisa merasakan saat itu pelukannya sangat erat. Dalam perjalanan pulang, kami tidak berkata apa-apa. Satu-satunya komunikasi yang terjadi hanya lewat rambutnya. Rambut Monica berkibar ditiup angin. Meskipun saat itu aku memakai jaket. Aku bisa merasakan semburat rambutnya menyapu-nyapu punggungku.

Kami tiba lagi di pos satpam kosong tempat awal kami bertemu. Monica dengan enggan merenggangkan pelukannya dan turun dari boncengan motor. Aku memasang standar motor kemudian berjalan menuju tempat Monica berdiri.

Lucu sekali. Kami berdiri berhadapan tetapi cuma diam. Waktu itu aku dan Monica berdiri saling berhadapan bukan lagi sebagai sahabat tetapi sepasang kekasih. Sepasang kekasih yang bodoh. Baik aku dan Monica sama-sama baru pertama kali berpacaran. Kami berdua tidak tahu apa yang harus dilakukan saat berdiri berhadapan seperti ini.

Entah hanya naluri atau tidak, aku memegang kedua tangan Monica. Aku mendekatkan badan. Kemudian mendekatkan bibirku mencium keningnya. Badannya menegang. Aku bisa merasakan dari pegangan tanganku. Kemudian turun mencium pipinya. Ketika aku akan mencium bibirnya, tiba-tiba ia menjauhkan badannya. Diletakkannya ujung jari jemarinya pada mulutku. Ia menggeleng.

“Aku memang cewek kamu. Tapi, aku belum siap buat yang ini. Beberapa jam yang lalu kamu sahabatku. Sekarang pacarku.” Monica tersenyum memperlihatkan gigi putihnya. “Aku perlu menata satu persatu hatiku. Menyiapkan tempat buat kamu disana. Karena selama ini itu hanya tempat sahabat, bukan pacar. Tunggu saatnya, ya?”

Aku mengangguk tanda mengerti. Sekarang aku memeluknya. Waktu berjalan beberapa lama. Malam sangat hening di selimuti suara jangkrik dan kumbang tanah. Rumah Monica memang terletak di kawasan yang baru dibangun. Terletak di pinggir Surabaya. Sehingga saat itu tak seorang pun mengganggu kami.

“Rud,” tiba-tiba Monica berbicara. “Aku boleh minta kamu satu hal lagi?”

“Apa itu?” Monica memakai pinggangku untuk menjauhkan badannya dari aku. Sekarang ia menatap aku dengan perasaan lain daripada biasanya. “Aku minta jangan sampai teman-teman tahu hubungan kita.”

“Kenapa?” Aku secepat kilat tersinggung. Monica menangkap ketidaksukaanku pada perkataannya. “Aku tidak malu sama hubungan kita.” Ia berhenti sebentar. “Tapi ada beberapa cowok yang tidak akan suka dengan kamu kalau mereka tahu kamu pacarku.”

“Aku bisa mengerti.” Monica tersenyum lagi.

“Ma kasih….udah, ya. Sekarang aku pulang. Sampai ketemu besok.” Monica melepaskan pinggangku kemudian berjalan ke arah rumahnya. Aku melihatnya dari kejauhan, sampai aku mendengar ada suara pintu pagar tertutup.

***

Sejak Monica menjadi kekasihku, hampir tiap sabtu aku pergi keluar bersama dia. Kali ini tujuan kita adalah bioskop di Mall. Sebenarnya ini bukan perbedaan besar bagi kami. Sebelum berpacaran pun, kami adalah sahabat. Kami sering berpergian bersama. Cuma perbedaannya, sekarang aku mulai berani menggandeng tangannya. Bahkan memeluknya saat kami cuma berdua. Apa yang kami obrolkan sekarang juga berbeda. Aku lebih sering memanggil dia honey daripada Monica, dan ia lebih sering memanggilku Sayang atau Yang daripada Rudy.

“Yang.” Suaranya menerawang ke depan. Saat itu aku dan Monica sedang duduk di sebuah batu besar di air terjun Coban Rondo. Monica memain-mainkan air dibawah kakinya. “Kamu tahu apa halangan pertama yang bakal kita hadapi?”

Aku menoleh. Kedua tanganku yang tadi memaku erat pada batu sekarang aku tumpangkan di paha. “Aku tidak tahu.” Dia mengarahkan kepalaku untuk melihatnya. “Coba lihat wajahku.” Aku melihatnya, matanya kecil..dan…Yeup, aku tahu maksudnya. “Kamu hendak mengatakan bahwa kamu cina dan aku jawa?”

Gadisku mengangguk. “Orangtua kita bakalan tidak suka.” Ia mengeluh. “Cici dan Koko-ku ga ada yang punya pacar selain cina. Dalam sejarah keluargaku baru kali ada yang berpacaran dengan jawa.” Aku melintaskan lenganku pada punggungnya; membimbingnya agar mendekatiku. Aku bisa memahami apa yang dia katakan.

Aku tidak pernah memikirkan hal ini sebelumnya. Sekarang aku baru mengerti perbedaan cinta cowok dan cewek. Seorang cewek akan selalu berpikir untuk bersatu selamanya dengan kekasihnya dan tidak akan berpikir untuk mencari cowok lain, sedangkan cowok mungkin saja hanya ingin main-main. Setelah bosan dia dengan mudahnya berpindah ke lain hati. Tetapi itu bukan aku. Namun aku tidak bermaksud saat ini untuk memikirkan hubungan kami terlalu serius. Aku dan Monica masih berusia tujuh belasan. Masih terlalu jauh ke arah pernikahan. Tapi Monica berbeda. Dia berpikir seakan-akan kita akan menikah beberapa bulan lagi, sehingga kita harus terburu-buru memikirkan untuk menghadapi orangtua kita masing-masing.

“Kita akan mengatakan pada mereka kalau kita memang saling mencintai.” Monica cuma tersenyum pahit. Aku tidak tahu arti senyumnya waktu itu. Tetapi nantinya aku tahu apa arti senyum Monica waktu itu.

***

Monica mencegatku di dekat pintu keluar kelas saat jam istirahat. “Aku pengin ketemu entar sore bisa?” Tentu saja jawabanku iya. Semula perasaanku cuma bahagia saja. Namun mataku menangkap mata sembab pada matanya. Aku ingat sekali, Monica tidak mempunyai kantung mata. Tapi sekarang aku melihat gunungan hitam dibawah matanya.

“Ada apa? Kamu sakit, honey?” Aku setengah berbisik. Seperti kesepakatan kami, aku dan Monica tidak boleh menunjukkan kalau kita jadian di sekolah.

“Nanti kalau kita ketemu aku jelasin. Aku ga bisa ngomong sekarang.” Mata Monica mengitari tempat mereka berdiri, sepertinya ia ingin memastikan tidak ada seorang pun mendengar pembicaraan mereka. “Kamu masih ingat, di belakang rumahku ada bangunan belum jadi yang disamping kanan dan kirinya masih rawa-rawa?” Aku mengangguk. “Kita ketemu disana jam enam tepat.”

Aku bingung. “Kenapa tidak di pos satpam seperti biasanya?” Monica memandangku dengan sedih. “Nanti aku jelaskan….Dan aku mohon Yang. Bisakah kamu berpakaian terbaik yang kamu bisa. Aku juga melakukan hal yang sama.”

“Oke, sampai nanti.”

Monica langsung meninggalkan aku. Aku semakin tidak mengerti.

Kalau saja tidak sedang berada di sekolah aku pasti berlari dan memeluknya. Aku merasa ada hal besar yang diinginkan Monica untuk dikatakan padaku. Jam pelajaran Biologi kali ini tak menarik bagiku. Aku ingin langsung memutar jam agar langsung bertemu Monica.

***

Aku memakai hem flanel kotak garis merah, suatu pakaian yang sering aku pakai ketika berada di kegiatan gunung. Pada bagian luar, aku memakai jaket berkantung. Jeans yang aku pakai saat ini juga jeans kesayanganku. Kickers. Sepatuku pun berleher tinggi dengan tali di bagian depan.

Dengan perasaan tersiksa aku menunggu dalam bayang senja. Untung di dekat sana ada sebuah kayu yang dijadikan semacam lincak. Aku dapat merebahkan diri sebentar.

Baru saja aku  akan menutup mata. Aku mendengar ada suara kaki melangkah. Aku langsung berusaha berdiri.

“Sayang. Kamu dimana?” Suara Monica berbisik pelan. Saat itu memang agak gelap, sehingga Monica tidak dapat melihatku meskipun jarakku dengannya cuma sekitar lima meter. “Aku disini,” jawabku.

Begitu yakin itu adalah aku, Monica setengah berlari menuju ke arahku. Ia langsung menabrakku dan memelukku erat-erat. Aku terkejut. Meskipun lirih, aku mendengar sisa-sisa sesenggukkan tangis masih terdengar. Aku membiarkannya memelukku lama tanpa berkata apa-apa.

Aku bertanya kepadanya saat sesenggukannya mereda. “Honey, sebenarnya ini masalah apa? Dan kenapa kamu memintaku memakai pakaian terbaik.” Monica masih melingkarkan tangan pada pinggangku sementara keningnya ia tempelkan pada dadaku.

“Koko memergoki kita sewaktu kita nonton bioskop waktu itu. Ia melaporkan aku ke Papa. Papa marah besar. Ia memintaku untuk putusin kamu. Setelah ini, Papa menyuruh aku sekolah di swasta aja dengan orang-orang sepertiku. Supaya kejadian seperti ini ga terulang lagi.” Aku tahu maksud Monica dengan orang-orang sepertiku.

Aku menahan emosi dalam-dalam. Aku merasa tak berdaya. Aku hanya anak berumur tujuh belas tahun. Belum mapan. Dan perjalanan sekolahku juga masih jauh. Bisa apa aku melawan usahawan kelas kakap semacam Papa Monica. Mereka pasti tertawa. Aku ingin melindungi Monica tapi aku tidak punya taring.

“Apa itu berarti kita putus?” Air mata Monica makin deras membasahi dadaku. Emosinya kembali pecah. Menangis sesenggukan. Tiba-tiba ia mengangkat kepalanya. Mengusap-usap sisa cairan pada matanya. “Waktu kita gak banyak. Aku pengin dansa dengan kamu. Ia membuka cardigan-nya. Dibawah baju atasan, aku melihat walkman terjepit dibagian atas rok spannya. Satu kabel earphone ia pasang di telingaku. Satunya lagi bertengger di telinganya.

“Kamu suka lagu ini?” Jarinya memperbesar volume. Aku mendengar lagu Untukmu yang dinyanyikan Tito Sumarsono. Kebetulan sekali, aku sangat suka lagu ini. Aku mengangguk sambil tersenyum.

Aku tidak tahu bagaimana berdansa. Badannku cuma aku goyang ke kanan-kiri dan Monica mengikuti arah tubuhku. Aku mendesah gelisah saat bait terakhir Untukmu dinyanyikan. Itu menandakan sebentar lagi dansa kami akan berakhir.

Benar saja. Begitu kata terakhir menghilang. Kepala Monica mendongak. “Rud. Kamu pernah ingin menciumku, kan? Dan aku menolaknya.” Bibirku terangkat karena memberi senyuman pada Monica. “Kamu mau melakukannya sekarang?”

Sungguh ini adalah hal terindah dalam hidupku. Ciuman nanti pasti akan menjadi sesak nafas terindah. Terhipnotis paling mengesankan dan mimpi tanpa pernah ingin bangun yang selalu tak pernah aku sesali. Tapi sekarang aku menciumnya karena keadaan terpaksa. Hanya karena waktu yang tak banyak. Ini tidak bisa aku lakukan.

“Aku mohon, Rud. Lakukan. Aku hanya ingin kesan ciuman pertama dari kamu. Aku tidak ingin cowok lain yang membekas di diriku. Tapi kamu….” Aku mengadu keningku dengan lembut pada keningnya. Aku terpejam dengan rasa sesak. Aku yakin Monica merasakan hal yang sama. Air matanya mulai mengalir lagi. Kita melakukannya dalam keadaaan yang tidak siap. Hati kami sama-sama belum menginginkan hal ini, tetapi hanya karena tidak memiliki banyak waktu.

Aku mencium keningnya. Menelusuri ujung hidungnya, dan akhirnya bibir kami berhadapan. Mendekatkan pelan-pelan. Aku tak berani melihat. Mataku terpejam. Hanya beberapa detik, bibirku merasa menyentuh sesuatu. Sesuatu yang dingin. Seharusnya ini menjadi hal yang terindah. Tetapi kenapa diselingi air mata.

Entah sudah berapa lama kami melakukannya. Saat mataku terbuka. Aku mendapati diriku sedang memeluknya sedangkan tangan kananku menepuk-nepuk punggungnya. Kepala Monika terbenam di dadaku. Dengan berlalunya waktu bukannya pelukannya bertambah renggang pertanda kami harus memisahkan diri, tetapi sebaliknya. Pelukan Monica sangat erat.

“Aku tidak ingin pergi. Tapi sekarang sudah malem.” Aku mencoba menyadarkan Monica. Dia mengeluh pelan. “Aku akan ingat kamu. Kamu sudah memberikan apa yang biasanya diberikan seorang kekasih untuk pertama kali. Aku akan selalu ingat kamu siapapun yang nantinya memeluk aku. Wajah kamu pasti aku bayangkan manakala pacarku kelak menciumku.”

Aku mengendorkan badan dari Monica. Sekarang kami cuma berpegangan tangan. Aku memuas-muaskan diriku memandangnya. Mencoba menghafal setiap bagian darinya pada memori di kepalaku. Dia pun cuma diam. “Selamat tinggal Rud.” Aku tidak suka kata selamat tinggal, aku membalasnya dengan….”Sampai ketemu lagi.” Sekali lagi kami berpelukan untuk terakhir kalinya setelah itu kami pergi dengan bergandengan tangan.

***

Hari ini adalah hari penyerahan hasil ujian akhir kami di SMA. Kepala sekolah memerintahkan kami semua untuk memakai pakaian batik. Alasannya sudah jelas, agar kami tidak corat-coret pakaian sekolah. Aku duduk disamping Monika. Tetapi gadis itu tak menoleh sedetik pun. Teman-teman kami banyak yang bercanda dengan tawa sampai memekakkan telinga. Semua bergembira karena sebentar lagi kami akan lulus.

Saat ini justru membuat aku sedih. Karena aku tahu, ini adalah saat terakhir aku melihatnya. Monica hanya menunduk menunggu penyerahan hasil ujian yang diletakkan pada sebuah amplop. Aku dan Monica sudah menerimanya. Tapi tidak seperti teman-teman kami yang lainnya, kami berdua cuma diam.

Detik demi detik sangat menyedihkan. Ketika kami pulang aku melihat LastHugepunggung Monica menjauhi aku. Sebuah Mercedez putih terbuka. Seorang pria tua dengan potongan perlente menyambut dan memeluknya. Ketika pintu mobil sudah tertutup dan meninggalkan sekolah kami. Detik itu juga aku menyadari hubungannku dengan Monica sudah berakhir. Hubungan yang indah.

Sampai sekarang, aku sering mencari namanya di Facebook, Twitter dan Google. Namun aku tak pernah lagi menemukan namanya. Aku mencarinya bukan karena apa-apa. Tapi sekedar ingin melihat senyum manisnya, karena saat ia meninggalkan aku, aku hanya melihat kantung mata dan wajah sembabnya. Where are you, Monica? I do miss you.

Iklan

6 responses to “Monica

  1. Saya suka ilustrasinya sih #eh
    Entahlah ya, memang cinta anak SMA bisa seserius ini? Hohoho… temanya lebih cocok untuk yang dewasa, karena untuk remaja, sepertinya ini terlalu ‘serius’. Tapi saya suka XD

    Suka

  2. dyahlennyayoe@yahoo.com

    Mungkin karena ini kisah cinta remaja SMP, jadi tidak menggambarkan kisah cinta indah yg menggebu nggebu, tapi menurut saya cerita ini lumayan untuk ukuran sebuah cerpen karena pengaturan paragraf dan pemenggalan ceritanya tepat, tata bahasanya jg tidak bertele tele sehingga tidak membingungkan pembacanya. Dan yang membuat saya penasaran apakah cerpen ini sebenarnya kisah nyata dari pengarangnya sendiri karena dari endingnya ditulis Where are you Monica????

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s