Pantai dan Gunung


CoupleBeach“Kamu masih sayang aku?” jeritnya tertahan. “Kamu masih cinta aku?” tangannya mengoyang-goyang wajah pria itu. Kali ini, tidak ia biarkan pandangan matanya beralih dari setiap jengkal kalimatnya.

“Jawab aku, Ger. Aku mohon.” Matanya saat ini serasa kering karena tertumpah sambil menahan lengan Gery.

Laki-laki itu melembut. Hanya satu hal di dunia ini yang pasti akan membuatnya membeku tanpa pernah membiarkan otaknya bekerja. Dan hal itu adalah Shienny. Pandangan mata Shienny masih menatapnya, menyuruhnya menjawab pertanyaan sederhana.

“Ya, Shien. Kamu pasti tahu itu tanpa bertanya.”

“Kalau kamu memang masih sayang sama aku, kamu pasti mau dengerin aku. Jangan lakukan ini. Aku mohon. Ini aku yang minta. Dia suamiku. Dan aku……” Air matanya digantikan dengan tarikan berat nafasnya. Sesenggukan Shienny selalu membuatnya trenyuh. Semarah apa pun dulu, kalau Shienny sudah menangis seperti ini, dia pasti akan terdiam. Ujung-ujungnya, telinganya akan terbuka lebar mendengarkan apapun yang Shienny minta. Entah gadis itu menyadari apa tidak, tetapi hal ini yang pasti dilakukan Shienny manakala segala usah terakhirnya gagal mencapai hati Gery.

“Aku mencintainya. Sama seperti aku mencintai kamu.”

Gery memandang gusar ke arah Shienny. “Kamu bilang, kamu mencintainya sama seperti kamu mencintai aku. Kamu ngomong pakai logika apa, sih,  Shien? Aku ga ngerti. Kalau aku tahu kamu punya hati seperti ini, aku tidak akan membiarkan diriku jatuh cinta sama kamu. Aku menyesal punya pacar seperti kamu. Apa pernah aku mengkhianati kamu? Apa pernah aku selingkuh sama wanita lain ketika aku berpacaran dengan kamu? Pernah? Kalau tidak, kenapa sekarang kamu mengkhianati aku seperti ini?” Suara Gery kembali melengking.

Mata Gery dengan buas memandang suami Shienny. Pria itu terkapar dan mengerang. Semburat darah membasahi sekitar hidung. Sebuah Kacamata retak terinjak oleh dirinya sendiri sewaktu jatuh karena pukulan Gery terletak di samping kanan.

Pelukan Shienny melorot. Ia sekarang terduduk di tanah, namun kedua tangannya tetap memeluk kaki Gery erat-erat. Ia masih takut Gery mendatangi suaminya dan kemudian mengulangi apa yang baru saja Gery lakukan.

“Kamu pernah bilang. Kita ga akan putus sampai aku mutusin kamu, kan? Kamu masih ingat? Kalau sekarang aku melakukannya seperti apa yang kamu minta, kenapa kamu marah?” Gery tiba-tiba menyesal pernah mengucapkan kata-kata itu. Tentu ia masih ingat ketika mengucapkan kata-kata itu.

***

Gery duduk dengan Shienny. Mereka berada di suatu pantai di daerah Lampung, pantai Mutun. Butiran pasir putih memantulkan cahaya mentari. Memainkan warna-warna serupa pecahan kaca. Angin kering bearoma garam nan lembab sudah berulang kali berkejaran di samping kanan dan kirinya. Sudah beberapa waktu lalu, Gery menyapa Shienny dengan Hai! Tetapi sejak itu, sejak senyum terkejut Shienny karena kedatangan Gery, menghilang dan ia kembali menatap kemilau biru pantai, Gery masih membisu.

Ia mencoba menyusun keberanian berada di dekat Shienny sudah beberapa lama. Baru kali ini, ketika kelompok pecinta alam sekolahnya mengadakan latihan di Lampung. Ia mendapat kesempatan berdua.

Dari tadi pagi ia merencanakan akan mencari lokasi untuk latihan pertolongan pertama. Gery sendiri meyukai lokasi pantai Mutun karena keunikannya. Lokasi pantai bercampur hutan dengan ombak laut kecil-kecil, sangat aman untuk maksud latihan gabungan saat ini. Dengan memecah menjadi dua tim, sehabis makan ikan bakar di tepi pantai tadi, ia mulai menyusuri tebing. Saat itulah ia melihat Shienny sedang duduk pada batu karang. Sendiri. Semula Gery bingung untuk memutuskan, apakah ia mendekati Shienny saat ini atau tidak.

Dikuatkan hatinya mendekati Shienny. Saat itu gadis itu menatap ke arah deburan ombak yang datang dari Pulau Tangkil di seberang pantai Mutun.

“Lagi cari rute buat latihan survival, ya?” Shienny menoleh pada Gery. Ia mengangguk. “Kamu sendiri ngapain disini? Sendirian lagi.”

“Kalau aku sendirian, lah disebelahku ini siapa?” Shienny tersenyum nakal. “Maksudku sebelum aku datang.” Gery mencoba memberi penjelasan yang tak perlu. Kaki Gery memain-mainkan air dengan jemari kakinya. Dasar air terlihat begitu jernih dari tempat mereka berdua duduk. Shienny terpancing dengan keisengan Gery. Segera saja ia memain-mainkan kakinya sendiri.

Tiba-tiba Gery menyapu air ke arah kaki Shienny. Demikian kerasnya sampai mengenai lipatan celana Shienny.

“Ger…” Shienny pura-pura marah. “Basah, tahu.”

Gery menghentikan aksinya. Didorongnya badan ke belakang. Ia menjadikan kedua tangannya sebagai tumpuan, menyangga tubuhnya sendiri agar tetap di tempatnya. “Kamu suka pantai, Shien?”

“Banget! Oleh karena itu aku disini. Aku suka lihat ombak memecah mengenai karang.” Gery tersenyum terselubung. Namun Shienny menangkap kilatan senyum Gery. “Kenapa senyum, ngejek, ya?”

“Eh, enggak. Aku…cuma merasa lucu aja. Aku tidak terlalu menyukai pantai. Bagiku tempat dengan guratan alam yang sangat kentara cuma gunung. Tapi justru aku yang mangusulkan tempat latihan bersama disini.”

Shienny tertarik dengan obrolan mereka dan dengan keheranan bertanya, “Kenapa?” “Karena kamu. Aku tahu kamu suka pantai.” Shienny agak terkejut. Ia tidak mengira jawaban Gery seperti itu.

“Darimana kamu tahu aku suka pantai?”

“Dari mantanmu.” Shienny makin keheranan. Ia dan Gery berkenalan belum cukup lama, sekitar setahun. Dimulai saat mereka memasuki masa orientasi bersama di kelompok pecinta alam. Ia merasa dirinya tak terlalu akrab dengan Gery. Bahkan tak mengira, Alex, pacarnya, adalah sahabat Gery. Dari kata mantanmu, Shienny dapat menebak, Alex pasti banyak bercerita pada cowok disampingnya ini. Rasa sendu muncul setelah sempat menghilang karena kedatangan Gery.

“Apa yang sudah diceritakan dia tentang aku?”

“Apapun itu, aku ga percaya sama dia. Aku rasa dia selingkuh dan mencari-cari alasan buat putus sama kamu.” Shienny terdiam. Kali ini ia menunduk. Kata-kata Gery cukup dalam mengingatkan kejadian saat Alex dengan angkuh meminta untuk menyudahi hubungan mereka.

Gery tidak membiarkan Shienny teringat akan Alex. Ia tahu, Shienny berdiam diri sendiri disini pasti karena memikirkan Alex. “Shien..Aku masih harus mencari tempat buat survival. Mau temani aku?” Shienny menoleh dengan punggung masih membungkuk. Ia mengangguk.

 ***

Gery mengulurkan tangan untuk membantu, saat Shienny akan mendaki batu karang licin. Ia cuma tersenyum saat gadis itu berhasil di tempat yang sama dengan tempatnya berdiri. Gery lupa melepas tangan Shienny ketika mereka melanjutkan perjalanan. Semula Shienny agak jengah ketika tangannya tetap dipegang oleh Gery. Tepat ketika ia ingin melepaskan tangannya dari genggaman Gery, tiba-tiba mereka berdua melihat Alex sudah berdiri di tengah-tengah jalan mereka.

Pandangan Alex tampak tidak senang terhadap Gery. Tetapi tampaknya Gery bersikap biasa-biasa saja. Bahkan mempererat genggaman tangannya. “Jadi aku benar, kamu berselingkuh?” Mata Alex tampak panas. “Aku barusan jadian dengan Shienny hari ini, sementara kamu jadian dengan Ely seminggu sebelum kalian putus. Menurutmu siapa yang berselingkuh?” Gery tampak menantang.

Shienny kaget dan menoleh ke arah Gery. Ia seperti meminta penjelasan. Tapi saat itu Gery masih sibuk menantang Alex dengan kata-katanya.

“Kamu pengkhianat, Ger! Bajingan.”

“Oh, ya. Jadi menurutmu kamu bukan pengkhianat? Bukan bajingan? Gitu? Lihat diri kamu, Lex. Ngomong pakai kaca, dong.”

“Sudah, Ger.” Shienny berusaha agar kedua orang sahabat ini tidak berkelahi. Apalagi karena dirinya. Dia cukup terkejut ketika Gery mengaku-ngaku dia dan Gery jadian. Sekarang ditambah dengan kemungkinan perubahan status Gery dan Alex dari sahabat menjadi musuh.

Gery berbisik, “Jangan kuatir, Shien. Dia ga bakalan berani cari perkara sama aku.” Dan benar, dengan meraung keras, Alex meninggalkan mereka berdua. Gery melepaskan genggamannya.

“Kenapa kamu ngaku-ngaku kalau kita jadian?”

“Entah. Tiba-tiba tercetus begitu saja.” Shienny berjalan beberapa langkah ke depan. Melipat tangan di dada, kemudian berbalik menghadap Gery. Shienny menatap tajam. Gery tidak berani menatap Shienny. Berkali-kali ia melempar arah pandangannya jauh ke gugusan ombak dibawah mereka. Namun Shienny menyiksanya dengan mendiamkannya dan….menatap wajahnya.

“Oke..Oke. Aku nyerah,” Gery ganti menatap Shienny. “Aku suka kamu.”

Shienny tampak tidak terkejut. Kenapa terkejut terhadap seseorang yang memilih pantai agar dia senang, menemaninya duduk untuk sekedar menyapa, dan sekarang….mengaku-ngaku sudah jadian di hadapan mantannya.

“Kenapa ga dari awal kamu bilang. Kamu malah ngomong di saat yang ga tepat.” “Karena aku tahu kamu sedang terluka. Aku malah menganggap, bilang suka kamu saat kamu baru putus malah ga tepat. Saat ini, aku bilang kita jadian untuk menunjukkan sama Alex, ‘Jangan sakiti kamu’ karena dia akan berhadapan dengan aku.”

“Jadi itu alasanmu sebenarnya? Cuma buat melindungi aku bukan karena hal yang lain?” Shienny sinis. Gery berjalan mendekati gadis di depannya. Kedua tangannya mencari telapak tangan Shienny yang masih dilihat di depan dadanya. Kemudian mencoba menggengamnya setelah kedua lengan Shienny berada di samping badannya.

“Shien…Aku cinta kamu.” Suara Gery bergetar. Lelaki sebesar apapun, ternyata selalu tunduk di depan orang yang dicintainya. “Dan itu jauh hari sebelum kamu jadian dengan Alex. Di hari sabtu waktu itu, aku datang ke rumah kamu, aku lihat Alex ada di rumah kamu. Kalian berpegangan tangan. Mulai saat itu aku tahu kalian jadian. Besoknya Alex cerita, bahwa tiga hari sebelum kemarin kalian sudah jadian.”

Gery menaikkan tangannya, dari menggengam tangan Shienny sampai memegang kedua lengannya. Shienny masih menunduk. Tangan kanan Gery memegang dagu Shienny, mengangkatnya agar menatap mata Gery. “Shien..Aku jatuh cinta sama kamu. Aku mungkin tidak berperasaan jika aku mau bilang Aku senang mendengar ketika kalian putus, karena aku lebih mencintai kamu daripada Alex.” Gery terdiam sebentar. Ia ingin mencari jawaban dari sinar mata Shienny. “Shienny. Kamu mau jadi pacarku?”

Jantung Gery sepertinya bekerja lebih keras dari biasanya. Pembuluh darahnya memutari badannya terlalu cepat. Ia ragu. Bingung. Penasaran. Takut akan jawaban Shienny.

Shienny merasa pandangannya kabur. Selaput air membanjiri seluruh kelopak matanya tanpa ampun. Kala setiap sudut matanya penuh, air matanya tertumpah mengalir melalui pipinya. Dadanya terguncang cukup keras. “Kamu tahu aku sekarang sedang terluka dengan pengkhianatan Alex. Kalau kamu sampai  melakukan hal yang sama, kamu sama saja membunuh aku.”

Gery mencoba menghapus alur-alur air mata pada pipi Shienny. Ujung-ujung jarinya penuh kelembutan memutus jatuhnya air mata berikutnya. “Shienny….mungkin suatu ketika aku akan meninggalkan kamu. Tetapi bukan karena aku sudah tidak mencintai kamu, tetapi karena aku tahu kamu mendapat cowok yang lebih baik dari aku. Kita tak akan putus sampai kamu mutusin aku.”

Tidak butuh waktu lama, setelah Gery mengatakan kata-kata terakhirnya tadi, tangan Shienny melingkari belakang kepala Gery. Memeluknya erat. Ia menangis lagi, tetapi kali ini karena bahagia.

***

Sudah beberapa remasan kertas dibuang pada tong sampah kecil di samping meja belajar. Hanya suara isak tangis, memenuhi kamar seukuran empat kali lima meter saat itu. Terakhir kali, dibantingnya bolpoin di atas meja. Pecahannya berhamburan ke segala arah. Ia menutup mata dengan kedua tangan. Air matanya tercurah setelah ia berusaha sekian lama bertahan untuk tidak menumpahkan kesesakannya lewat air mata. “Tidak! Aku tidak bisa Gery. Aku sungguh tidak bisa.” Tidak ada pertolongan. Tidak seseorang pun datang ke kamarnya untuk sekedar memeluk dan membiarkan rasa sedih itu larut dalam belaian sebuah tangan.

Andai pokok permasalahan saat ini bukan pada Gery, tentu ia akan menelepon Gery. Membiarkan bayangan pelukannya yang hangat dan sanggup menghilangkan dingin perasaannya saat ini. Kata-katanya yang lambat tapi bijak tak pernah gagal menyentuh ujung hatinya. Tapi sekarang, ia akan menulis surat untuk Gery.

“Maafkan aku Gery,” katanya sekali lagi. Jam sudah pukul dua belas lewat lima menit. Ketika akhirnya sebuah surat berhasil ditulisnya. Surat yang menjadi wakil dirinya karena ia tidak punya cukup keberanian menyampaikan sendiri.

***

Beberapa murid tampak bergerombol di depan kelas masing-masing. Beberapa diantaranya bergurau dan saling melempar kapur. Gery duduk bersama Shienny di sudut kelas. Keduanya tampak berbicara pelan-pelan. Gery sudah capek membuat lelucon. Wajah Shienny masih tampak mendung.

“Yang, kamu kenapa? Kok kelihatannya sedih banget. Lihat tuh teman-teman. Pada deg-degan senang menunggu pengumuman kelulusan ujian nasioanal. Kamu malah kelihatan bete banget.” Shienny hanya tersenyum pahit. Rupanya rona kehitaman di sekeliling mata Shienny luput dari perhatian Gery. “Aku senang, kok.” Jawab Shienny pendek.

Gery memegang siku tangan Shienny. “Kamu takut kalau aku kuliah di tempat yang ga sama dengan kamu?” Shienny menggeleng. Dan semakin membuat Gery terpengaruh hawa kelabu.

Gery kemudian menepuk-nepuk bahu Shienny untuk memberikan semangat. Dari jawaban Shienny yang pendek-pendek, Gery tahu, kekasihnya ini tidak ingin berbicara apa-apa. Shienny menoleh pada Gery. “Yang, aku mau ke bangku Anna dulu, ya?” Gery tersenyum. Kepalanya mengangguk.

Shienny berpindah tempat duduk di sebelah Anna, sahabat karibnya. “Ingat, An,” bisiknya. “Begitu aku dapet amplop pengumuman dan kemudian pergi dari kelas. Tunggu sampai sepuluh menitan, baru kamu berikan suratku ke Gery.” Anna mengangguk.

“Tapi sebenarnya apa sih isi suratmu, kok kayaknya misterius banget.” Shienny tersenyum pahit. Anna melihat sahabat dekatnya itu prihatin.

“Apa Gery menyakiti kamu?” Pandangan mata Anna berkeling ke arah tempat duduk Gery. Shienny menggeleng. “Sebaliknya. Gery tuh, cowok ideal banget. Emang, sih kadang dia cuek. Tapi di kesempatan lain, aku diperlakukan seperti putri. Gak ada kan cewek yang menolak diperlakukan seperti putri oleh cowoknya.”

“Tapi kenapa kamu kelihatan sedih banget. Tuh, lihat matamu. Sembab banget. Kamu pasti habis menangis. Dan pasti bukan karena ketakutan sama pengumuman kelulusan, kan?” Shienny lagi-lagi tak menjawab.

Tiba-tiba kegaduhan semakin meningkat. Dua orang guru tampak memasuki kelas. Semua anak-anak dengan serta merta merapikan diri. Shienny makin sedih, setiap menit menuju ke pengumuman sama dengan setiap menit menuju keadaan tersiksanya.

Saat itu tiba. Di tangannya sudah ada amplop pengumuman itu. Saat dia harus pergi. Matanya menatap penuh arti ke arah Anna. Temannya itu mengangguk, tanda mengerti maksud tatapan Shienny.

Ketika dilihatnya Shienny keluar dari kelas. Degub jantung Anna bertambah keras. Ia memang tidak tahu isi surat Shienny. Tapi dari keadaan wajah Shienny, ia seperti mencium, bahwa surat Shienny pasti menyedihkan bagi Gery.

“Ger!” “Hai,” Mata Gery melihat ke bangku Anna. “Lho, kemana Shienny?” Anna mengedik. Tangannya menyodorkan surat. “Ini dari Shienny.” Wajah Gery langsung berubah. Ia merasa ada sesuatu yang tidak beres. Cepat-cepat dibukanya surat dari Shienny.

Gery, sayang.

Kamu pasti lulus, kan? Congrats, ya!

Aku senang kamu punya cita-cita kuliah di Kedokteran. Semoga tercapai, Sayang.

Ger, aku sayang banget sama kamu dan aku juga tahu kamu sayang banget ama aku. Selama ini aku cukup merasakan, bagaimana kamu memperlakukan hati keramik-ku. Hati yang mudah pecah karena pengkhianatan. Aku tahu, satu persatu teman wanitamu kamu jauhi hanya supaya aku ga jealous. Ma kasih, ya. Tuhan sudah memberikan seseorang yang memberikan hari-hari terindah di akhir masa SMA-ku, yaitu kamu.

Ger, aku pengin kamu tidak salah pengertian. Aku pengin kamu tidak menganggap aku seorang pengkhianat. Aku pengin kamu mengerti bahwa Cinta itu punya arti besar bagiku. Bagiku Cinta tidak hanya kencan di hari Sabtu-Minggu. Cinta tidak hanya berpegangan tangan manakala kita jalan berdua. Tapi Cinta bagiku adalah kesembuhan. Cinta kamu menyembuhkan perasaan benciku pada cowok. Cinta kamu sudah membuatku berani bermimpi. Mimpi tentang kebahagiaan. Mimpi yang dulu membuat aku takut, karena aku tidak percaya sanggup mencapainya.

Ger, maaf jika aku mengatakan bahwa hubungan kita sampai disini saja. Please, jangan salah terima. Aku tidak membencimu, bahkan akan terus mengingatmu. Kamu sendiri pernah mengatakan kalau kita berpisah jika aku menginginkannya. Dan sekarang saat itu tiba. Aku mohon kamu tetap ingat aku, bukan sebagai mantan tapi kekasih kamu.

 Aku selalu menyanyangi kamu,

Shienny

Gery pucat pasi. “Kemana Shienny pergi?” tanya Gery. “Aku benar-benar tidak tahu, Ger. Sungguh.” Anna menjawab dengan gusar. Seperti dikejar setan Gery cepat-cepat keluar kelas. Ia melongok kesana-kemari, tapi sosok Shienny tak nampak.

 ***

“Tapi kenapa kamu balik sama Alex. Bukankah dia mengkhianati kamu? Kenapa kamu malah menikah dengan dia?” Gery menatap Alex yang menunduk dengan kucuran darah di hidung. “Sungguh Shien. Jalan pikiranmu rumit. Aku ga tahu bagaimana bisa kamu melakukan ini?” Gery putus asa mencerna kejadian saat ini.

“Pergilah, Shien.” Akhirnya Gery berbicara setelah beberapa menit ia terdiam. “Pergilah, aku janji tidak akan pernah memukul dia lagi.” Gery membelai Shienny dengan perasaan hancur, ini adalah saat terakhir ia dapat membelai mantan kekasihnya. Ia berjanji pada dirinya sendiri, ia tak akan pernah menyentuh Shienny. Semoga.

Shienny melonggarkan dekapannya pada kaki Gery. Ia merasa Gery sudah tidak emosi lagi. Ia menoleh ke Alex, “Lex, bisakah kamu tinggalkan aku dan Gery dulu. Nanti aku menyusul.” Alex berdiri sambil tetap menunduk, kemudian meninggalkan Shienny dan Gery. Shienny sekarang berdiri sejajar dengan Gery. Mata teduhnya menatap mata Gery.

“Kamu pengin tahu kenapa aku putusin kamu?”

“Sangat, Shien.”

Shienny menata suara. Menarik nafas, kemudian berkata, “Kamu masih ingat ketika mama kamu kakinya membusuk karena diabetes. Dokter waktu itu menyarankan untuk mengamputasi kakinya. Kamu bilang ke aku kamu tidak punya biaya untuk operasi.” Gery mengiyakan, namun tetap masih belum mengerti hubungan antara amputasi kaki mamanya dengan niat Shienny memutuskan hubungan dengannya.

“Kamu tentu ingat. Operasi tidak bisa dilangsungkan kalau belum dibayar lunas. Dan tiba-tiba ada seseorang yang membayar biaya operasi.” Shienny membiarkan Gery mencerna kata-katanya terdahulu. Kemudian ia melanjutkan. “Orang yang membayar lunas adalah Alex. Aku yang memohon padanya. Dia setuju membayar dengan syarat….Aku harus balik ke dia. Aku jadi pacar Alex lagi….” Shienny memejamkan mata. Namun ia tak bisa menyembunyikan air mata yang sudah terlanjur menetes membasahi hem putih Gery. “Demi Tuhan, Gery. Aku sangat sayang sama kamu. Ini adalah pilihan tersulit bagi aku.”

Gery memeluk Shienny. Ia pun ikut menangis. Sesuatu yang sangat dibencinya selama ini. Sesuatu yang selalu dimasukkan ke dalam otaknya bahwa laki-laki pantang menangis. “Cobalah kamu pahami perasaanku Ger. Andai waktu bisa diputar balik ke saat itu. Siapakah yang harus aku pilih: Kamu atau Ibumu? Jika aku memilih kamu, ibumu pasti sudah tiada sekarang karena infeksi. Namun jika aku memilih ibumu, aku bakalan kehilangan orang yang aku cintai, yaitu kamu, karena Alex pasti menagih janjinya.”

Air mata Gery membasahi rambut Shienny, begitu juga dengan air mata Shienny. Membasahi rambut Gery. Sampai beberapa lama mereka bertukar tangis.

“Ger. Aku sayang kamu. Itu aku buktikan dengan pengorbananku untuk kamu.  Tolong, sekarang buktikan cinta kamu ke aku dengan berkorban melepas aku ke Alex. Jangan dendam dengan Alex. Sekarang dia adalah suamiku. Menyakiti dia sama saja dengan menyakiti aku. Kamu ga akan menyakiti aku, kan?”

Shienny merenggangkan pelukannya. “Bukankah dengan pengorbanan, cinta itu dibuktikan.” Tangannnya sekarang menangkup wajah Gery. Mencari komitmen Gery agar merelakan dirinya bersama Alex.

“Aku mencintai kamu, Shien. Tapi bukan begini caranya.” Shienny menyergah bantahan Gery. “Mana yang kamu pilih. Hatiku atau badanku?”

“Shien…” Telunjuk Shienny menempel pada bibir Gery. “Jawab saja, Ger….Jangan berbantahan dengan aku.”

“Aku memilih hatimu.” Shienny tersenyum senang dengan pilihan Gery. “Kalau begitu Alex tidak akan pernah mendapatkan hatiku, karena kamu sudah memintanya. Hatiku ada di kamu.”

Gery masih belum rela ketika lambat-lambat Shienny meninggalkan dirinya. Mata mereka berdua masih memandang dengan kepiluan. “Aku suka pilihanmu Gery. Kamu lebih memilih hatiku. Aku sekarang yakin, kamu benar-benar sayang sama aku. Aku pantai dan kamu gunung. Pantai dan gunung tidak dapat bersatu. Biarkan mereka ada di tempatnya. Air dari gunung pasti bermuara di pantai. Hatimu pasti menuju ke hatiku.” Shienny berbalik dan meninggalkan Gery.

CowokSedihGery terduduk dengan bertumpuh pada lutut. Ia, lelaki yang selalu sinis dengan teman-temannya yang patah hati, menertawakan kebodohan mereka. Sekarang ia sendiri harus merasakan rasa sakit yang seperti ini. Rasa sakit yang menusuk saat ditinggalkan orang yang kita cintai, padahal kita masih begitu mencintainya. Rasa takut akan menjalani hari berikutnya dengan kelam dan sendiri? Beginikah rasa patah hati?

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s