Duo Udik


DuoUdikDina menghitung uang yang ada di tangan setelah sebelumnya membenahi rambut dengan membawa beberapa helai rambut ke belakang telinga. Cuma enam ribu rupiah.

Ia menyesal sudah membeli nasi bungkus untuk makan siangnya. Matanya melihat sekumpulan kue pukis berwarna kuning yang baru saja dipanggang di etalase di depan supermarket. Bau harumnya memang menggoda. Tadi pagi ia berencana membelikan ketiga adiknya kue yang sangat mereka sukai itu, tapi Dina lupa. Setelah membeli nasi bungkus, uangnya kurang. Harga sebuah kue pukis tiga ribu rupiah, jadi untuk ketiga adiknya ia butuh sembilan ribu. Lipatan-lipatan koran di tangannya tinggal separuh sementara hari sudah pukul sepuluh siang. Sebentar lagi ia masuk sekolah. Ia tidak bisa meneruskan berjualan koran untuk menambah uang di kantong. Diurungkannya menyenangkan adiknya hari ini.

Dina tidak menyadari bahwa sendari tadi ada sepasang mata yang mengawasinya. Rambutnya terpotong rapi pendek, tangannya kukuh berotot, meskipun badannya tidak seberapa besar namun otot-otot kakinya membentuk jalinan otot padat. Dia berusaha bersembunyi dari padangan Dina dengan duduk diatas sepeda MTB-nya di pertikungan jalan belakang warung. Kepalanya manggut-manggut pertanda ia mengerti apa yang dipikirkan Dina saat ini.

Beberapa saat kemudian ia mengayuh sepeda meninggalkan tempat itu. Sebelum melewati gerbang sekolahnya, ia berhenti sebentar. Ada ritual yang harus dilakukan terlebih dahulu sebelum masuk sekolah, yaitu tarik nafas dalam-dalam. Beberapa siswa tampak duduk di parkiran sepeda motor. Seperti biasa, Budi, Nonot, Kris, dan Hari tampak bercanda disana. Begitu dilihatnya Bobi akan memarkir sepeda MTB-nya, serentak mereka diam sejenak.

“Wuih…hari gini pakai sepeda.” Nonot mencibir, seketika Budi, Kris dan Hari tertawa kompak. “Maklum udik, Not,” Kris menimpali,”Otak boleh encer, dompet kosong.” Gerombolan mereka tertawa lagi.

Bobi cuma diam. Untuk merekalah tarik nafas dalam-dalam dilakoni Bobi akhir-akhir ini. Itu bermula ketika keempatnya mencoba membayar Bobi untuk memberi mereka contekan di ulangan matematika tiga bulan yang lalu. Bobi menolak dan mereka sangat tersinggung. Selama ini memang tidak pernah ada yang punya nyali menentang mereka, disamping karena mereka orang berada, mereka sering membayar orang-orang di luar sekolah untuk memberi pelajaran bagi orang yang tidak mereka sukai.

Mareka semakin panas lihat Bobi cuma diam. “Kamu jagoan, ya?” Kris mengangkat tangannya ingin memukul. Tapi tiba-tiba ada sebuah tangan memegang tangan Kris.

“Klo kamu pengin jadi jagoan, isi otak kamu dulu.” Dina melotot ke arah Kris. Kris gantian melotot ke arah Dina. “Mau pukul? Pukul aja.” Kris mengendorkan ototnya dan Dina melepas tangan Kris.

“Laki apaan tuh, pakai cewek jadi tameng?” Hari mencibir Bobi dan sekali lagi ia cuma diam.

“Bobi punya versi cewek. Dina alias Bobiwati”.

“Apa kata dunia, sekolah kita punya dua pecundang udik.” Keempat orang yang tidak disukai Dina dan Bobi itu tertawa lagi setelah bersahut-sahutan mencemooh. Bobi pergi diikuti Dina di belakang. “Terima kasih Din.” Bobi berkata pelan sambil tersenyum kecil. Dina sebetulnya heran kenapa Bobi cuma diam. Melihat ketenangan wajah Bobi, dirinya menduga Bobi diam bukan karena takut. Dina mengangguk tak kalah pelan.

Sepanjang jam pelajaran, Bobi mencoba mencari info alamat Dina, tetapi anehnya tidak ada yang tahu. Misterius sekali cewek ini. Hanya ada satu cara pikirnya. Mengikuti dia pulang sampai rumah. Bel pulang berdetang. Bobi bersiap-siap dengan sepedanya. Begitu dilihatnya sosok Dina, ia mulai mengikuti. Untung Dina hanya berjalan kaki untuk pulang ke rumah, sehingga Bobi mudah mengikuti. Akhir perjalanan Dina ternyata sebuah pasar. Rumah Dina ternyata di tingkat dua salah satu stan pasar disana. Tingkat dua pasar ini memang sepi, sehingga cuma sedikit lapak yang terlihat, karena beberapa stan kosong, beberapa orang mengontrak stan tadi untuk rumah. Dilihat dari ukuran stan disana, kelihatannya rumah Dina terdiri dari dua stan.

Pagi ini Bobi punya misi khusus ke rumah Dina. Sebelumnya ia mampir di depan supermarket yang menjual pukis. Tidak sampai lima menit dia sudah sampai di tempat Dina. Dilihatnya dari jauh Dina sedang menyapu-nyapu tanah. Setelah terkumpul ia meletakkan pada penampi beras. Rupanya Dina sedang memungut butiran-butiran beras yang jatuh ketika diangkut oleh kuli pasar.

Bobi menghentikan langkahnya. Dia sangat penasaran dengan apa yang dilakukan Dina. Hampir lima belas menit berlalu, Bobi hampir saja berjalan mendekati Dina, ketika dilihatnya Dina masuk kedalam rumah dengan satu tas plastik berisi beras yang ditampinya, kemudian keluar lagi. Ia berjalan menuju lantai dasar pasar. Di sana dia memunguti sayuran-sayuran yang jatuh di tanah dan sudah diinjak-injak orang. Lagi-lagi ia memasukkannya ke dalam tas plastik yang sudah dipersiapkannya. Tangannya yang kecoklatan dipanggang matahari memunguti wortel, brokoli, sawi dan sayuran-sayuran yang lain.

Sekali lagi Bobi menggeleng-geleng tidak percaya. Seumur hidupnya baru kali ini dia melihat orang memasak makanan dari beras tampian yang jatuh di tanah dan sayuran-sayuran yang jatuh di tanah pasar.

Dina kembali menuju rumah. Bobi masih termangu-mangu mencerna apa yang baru saja dilihatnya dengan duduk di salah satu lapak yang kosong. Hatinya benar-benar trenyuh. Sungguh baru kali ini dirinya melihat cara orang mencari makan dengan cara seperti ini. Setelah dirasa cukup bagi dirinya untuk mencerna apa yang baru saja dilihatnya, ia melangkahkan kakinya menuju rumah Dina.

Seorang gadis kecil berumur sekitar sepuluh tahunan membukakan pintu. Wajahnya yang dihiasi gigi ompong memandang datar.

“Kakak cari siapa?”

“Emmh. Kak Dina ada?” Senyum malu-malu, ia masuk ke dalam lagi tanpa menutup pintu.

“Bobi?” Dina terkejut.

“Darimana kamu tahu rumahku.” Bobi tersenyum kecil.

“Ga disuruh masuk nih?” Dina bingung. Sepertinya ia tidak ingin Bobi masuk. Tapi membiarkan tamu diluar juga bukan hal yang sopan.

“Masuk Bob.” Kata Dina kagok. Tiba-tiba adik Dina keluar semua menemui Bobi. Bau kue pukis yang dibawa Bobi memang tidak bisa disembunyikan dari hidung-hidung kecil itu. Sambil tertawa Bobi menyerahkan kue pukis yang dibawanya pada adik Dina yang kelihatan paling besar. Serentak mereka berebut.

Dina hampir tidak percaya. Kemarin dia tidak jadi membawakan kue pukis, sekarang ada orang yang membawakan kue pukis. Hatinya senang melihat adik-adiknya senang. “Ayo, bilang apa sama kak Bobi ?” Dina bertanya sambil menepuk pundak adiknya yang paling dekat dengan tempat duduknya.

”Terima kasih kak”. Mereka bertiga berlalu sambil berlari-lari senang masuk ke dalam. “Nah sekarang jawab pertanyaanku. Darimana kamu tahu rumahku ?” Dina menyelidik.

“Tidak ada satu teman kita pun yang tahu rumahku.”

“Apa kamu tidak pernah mengisi data pribadi waktu mendaftar sekolah?” Bobi menyusun kebohongannya.

“Emang kamu dapat dari sekolah?” Bobi cuma tersenyum. Tidak bilang ya dan juga tidak bilang tidak. Suatu bentuk jawaban yang tidak bisa disanggah di kemudian hari, pikir Bobi. Ya, di kemudian hari. Kalau suatu ketika Dina ternyata tahu bahwa dia sebenarnya mengikuti Dina pulang. Dina tidak bisa mengatakan dirinya bohong. Karena dirinya tidak pernah bilang ya atau tidak, kan.

“Trus kenapa kamu pengin main kesini?”

“Aku pengin bilang terima kasih.”

Dina mencibir, “Kamu tuh terlalu membesar-besarkan masalah. Aku berani yakin waktu itu kamu tidak perlu bantuanku. Yang benar aja cowok kayak kamu butuh cewek kayak aku buat ngadepin gerombolan cowok kayak kemarin.” Bobi cuma tersenyum.

“Tapi makasih ya buat kue pukisnya. Adik-adikku memang suka banget.” Lesung pipit terbentuk di pipi saat gadis itu tersenyum.

Bobi menikmati wajah Dina saat tertawa. Ia memang sangat menyukai Dina sejak MOS. Saat itu kakak kelas mereka menyuruh mereka maju di depan kelas. Satu-satu persatu dari mereka diminta untuk mengatakan pasangan ideal mereka seperti apa.

Bobi ingat sekali saat itu Dina mengatakan bawah ia suka cowok mandiri. Cowok yang tidak suka memamerkan kepunyaan orang tua mereka. Cowok sederhana dengan otak mengkilap. Saat itu seluruh anak MOS dan semua kakak kelas tertawa. Hanya satu yang tidak tertawa dan itu adalah dirinya. Kata sederhana yang diucapkan Dina di depan kelas tertangkap di telinga Bobi, sehingga sejak itu ia merubah dirinya. Dia urung membawa sepeda motor atau mobil ke sekolah. Digantinya jam tangannya yang berharga lebih dari satu juta dengan jam tangan seharga seratus lima puluh ribu. Semua itu ia lakukan demi mengejar Dina.

Ia kadang bingung, apa yang membuat Dina begitu menarik di matanya. Pertama, Dina tidak populer di sekolah, bahkan bersama dengan dirinya, mereka dijuluki duo udik. Kedua, tidak seperti gadis SMA lainnya, Dina tidak pernah memakai parfum sama sekali. Hanya bau badannya yang keluar karena keringat yang menetes saat mencari sesuap nasi untuk keluarganya. Bagi Bobi itu adalah bau badan yang paling harum.

Tiba-tiba Dina berteriak, “Ya ampun, maaf Bob, aku tadi masih masak di dapur. Tunggu sebentar ya.” Kedua kakinya berdebam-debam keras, “Cici, Anton, Mela temenin kak Bobi dulu.”

***

Senyum Bobi mengembang di pagi itu. Selangkah demi selangkah ia makin mendekati Dina. Meski belum menyatakan perasaannya, Bobi yakin sekali jalan yang ia tempuh untuk mendapatkan dia aman-aman saja. Dibersihkannnya sepedanya dengan kain lap lambat-lambat. Sayup-sayup ia mendengar anak berjualan koran meneriakkan berita terbaru hari itu. Matanya beradu pandang dengan penjual koran.

“Lho, Anton?” Bobi terkejut, “Kan biasanya kak Dina yang jual. Anton ga sekolah?” “Kak Bobi ya?” Anton agak ragu. Maklum, baru kemarin mereka berkenalan. Ia mengangguk. Setelah melihat anggukan Bobi, Anton meneruskan kata-katanya, “Anu, kak Dina kemarin disenggol mobil waktu pulang sekolah. Sekarang kaki kakak terkilir. Jadi Anton yang gantikan sementara.”

“Terkilir.” Anton mengeryitkan dahi. Itu berarti Dina mungkin tidak bisa pergi ke sekolah. Padahal hari ini adalah UTS. “Kakakmu entar ke sekolah gimana?”

“Tadi kak Dina bilang, mungkin pake becak.” Bobi berpikir sambil melihat ke arah belakang punggungnya, menatap pintu geser alumunium putih. Ia tersenyum.

Jam sepuluh siang Bobi sudah sampai di rumah Dina. Gadis itu terkejut manakala Bobi sudah ada di depan pintu. Bobi menceritakan pertemuannya dengan Anton, adiknya, sehingga akhirnya Dina tahu.

“Nah sekarang kamu pergi ke sekolah bareng aku. Gak usah pake becak.” Dina tertawa ngakak.

“Gak sangka, kamu bisa ngelawak juga.”

Bobi bingung, “Aku serius.”

“Emangnya aku mau kamu taruh di ban sepeda. Sepedamu kan gak ada boncengannya.”

“Siapa yang bilang aku bawa sepeda?” Bobi nyengir.

“Taksi ?” Dina masih mencoba menebak. “Enggak. Klo taksi enggak. Aku ga punya uang dan aku gak mau pake uangmu juga.”

Bobi sekarang mencibir, “Siapa juga yang pake taksi.”

“Lantas apa dong?” Dina menyerah.

“Daripada kamu cape mikir. Sekarang kamu aku gendong.”

“Enggak. Enggak mau. Apa-apaan sih.”

“Trus kamu gimana caranya kamu jalan, hayo?” Bobi melipat tangannya di dada menggoda Dina. Dicobanya berjalan, ia merasa kesakitan.

“Nah lho. Nyerah kan. Atau kamu lebih memilih ga ikut ujian?” Dina mendelik, “Aku harus ikut.” Tanpa meminta persetujuan Dina, Bobi menggendong Dina. Gadis itu meronta-ronta minta diturunkan. Dia tidak ingin orang-orang di pasar melihatnya. Tapi ketika dirasa percuma melawan tenaga Bobi, dia akhirnya diam saja.

Dina terperangah, ketika Bobi membawanya ke sebuah Honda CRV bercat putih. “Bobi, ini punya siapa?”

“Punyaku.” Tangan Bobi membuka pintu, kemudian mendudukan Dina pada kursi senyaman mungkin lantas naik dari sisi mobil yang satunya.

“Maksudmu mobil ayahmu?” Dina masih tidak percaya.

“Seperti kataku tadi. Ini punyaku.”

“Darimana kamu dapet duitnya buat beli ?” Bobi menstarter mobil, mengganti Persneling, kemudian menjawab, “Waktu memasuki SMA, ayahku meninggal. Ayahku punya usaha bengkel, jadi aku meneruskan usaha beliau.”

“Klo kamu emang punya mobil, kenapa pakai sepeda ?” Dina masih penasaran. “Aku atlit balap sepeda downhill. So…supaya terlatih terus…aku pakai sepeda kemana-mana.” Rasa penasaran Dina mulai turun berganti dengan rasa kagum pada cowok disampingnya ini.

“Justru karena usaha bengkel dan sepeda aku jadi punya uang buat beli mobil. Waktu menang aku dapat uang dari sponsor, so…ditambah sedikit tabungan jadi deh mobil ini.”

Bobi menatap ke samping, ke arah Dina,”Dan aku siap.” Dina melihat Bobi.

“Siap buat apa?” Dina melongo dan garuk-garuk kepala.

“Aku siap memasuki hatimu, kalau kamu mau membuka pintu hatimu cuma buatku.” Dina terperanjat, meskipun ia merasa senang selangit. “Kamu mau jadi pacarku Din?” Dina tidak menjawab. Tangannya malah memain-mainkan seatbelt sendari tadi. Sebenarnya hati Dina tertambat pada Bobi sejak lama. Tapi keadaannya memaksa ia menguburkan angan-angan untuk menjadi kekasih Bobi. Sekarang cowok itu sendiri yang menyatakan cintanya. Haruskah dia menolaknya? Keadaan akan lebih mudah jika dia dan teman-temannya belum tahu kalau Bobi punya mobil. Tapi sekarang dia sendiri bahkan nanti teman-temannya pasti tahu.

“Jujur aku takut. Mereka pikir aku matre. Setelah apa yang akan mereka lihat ini.” Dina melirik pada pria di sampingnya.

“Maksudmu mobil ini.” Tanya Bobi. Dina mengangguk.

“Ga usah pikirin mereka. Kalau kamu selalu pengin menjadi seperti apa yang dipikirin orang, kamu malah ga jadi apa-apa.” Mereka diam beberapa saat. Bobi menggenggam tangan Dina dan gadis itu membalasnya. Bobi tersenyum. Meski Dina belum memberikan jawaban, ia tahu Dina pasti menjawab Ya.

4 responses to “Duo Udik

  1. Bagus. Ada pesan moril di dalamnya.

    Suka

  2. Cerita bagus, susunan paragraf dan tata bahasa jg lumayan bagus, tetapi maaf sebelumnya rasanya ada sedikit kesalahan penulisan di paragraf ke 3 ” Dia berusaha bersembunyi dari padangan Dina dengan duduk diatas sepeda MTB-nya di pertikungan”, kata padangan mungkin seharusnya pandangan .

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s