Tentang Linka


OLYMPUS DIGITAL CAMERAGalang berjalan menapaki tanah basah. Hujan kemarin malam masih menyisakan sedikit tarian beku di taman ini. Di kota Batu, tempat ia tinggal, bau tanah terselimuti butiran air adalah pemandangan biasa. Udara lembab dan sinar matahari yang malu-malu menghunjam, menjadikan kota ini seperti kota dalam benteng kabut.

Galang menyapu-nyapu kotoran yang menempel pada batu yang dipahat menjadi kursi. Beberapa tahun yang lalu, saat pertama pindah kemari, orangtuanya memang ingin mempunyai tempat duduk dengan pemandangan gunung di belakang rumah. Pensiun dini yang diajukan ayahnya diterima. Dengan mengambil sedikit uang pesangon untuk membeli rumah dan sebidang tanah, untuk sekedar ditanami bunga dan sayur, ayahnya bisa menghidupi kuliah Galang dan adiknya, Clara.

Laptop hitam sudah terduduk di meja bambu, tepat di depannya. Sambil menunggu laptopnya siap, ia membetulkan posisi duduknya sehingga terasa nyaman.

Ia menuang coklat panas dari botol minum ke dalam gelas. Bau harumnya segera memenuhi sekitar ia duduk. Dulu minuman yang selalu menemani ia menulis adalah kopi. Seorang gadis bernama Linka mengatakan padanya bahwa terlalu banyak kopi sangat tidak baik bagi lambung. Ia menyarankan supaya mengganti dengan coklat.

“Linka. Nama kamu belum pernah pudar sampai saat ini.” Galang berkata lirih. Tangannya mulai mencetak huruf-huruf pada monitor. Dimulai dengan lima huruf yang diketiknya dengan perasaan mendalam.

“Linka, bagaimana kabarmu sayang? Engkau ada dimana sekarang?” Perih, Galang menulis. “Saat ini bunga mawar yang kita tanam sudah berbunga. Tapi maaf, entah kenapa kelopaknya menggulung. Keriting. Aku tidak sepandai kamu merawat mawar. Kamu belum banyak mengajari aku sebelum kamu pergi.”

Galang menghela nafas untuk mengusir rasa pedih, “Apakah aku salah Linka, kalau aku ingin mengulang saat pertama kali kita bertemu dan bukan saat kita berpisah. Rambut kamu yang sebahu, juga mata kamu coklat muda, membuat aku berhenti main playstation waktu itu. Kamu memandangi sekilas acuh.” Galang tersenyum mengingat waktu itu.

Linka saat itu baru datang dari Australia. Tante Linda ingin sesekali Linka berlibur di Indonesia. Maka ia memilih rumah kakaknya, ibu Galang, sebagai tempat menginap. Ayah dan ibunya tinggal Australia setelah dua tahun menikah di Indonesia. Linka adalah singkatan nama tante Galang, Linda dan suaminya, orang Rusia, Karpov Deliminov.

“Aku ingat kamu cemberut, waktu aku tertawa mendengar namamu pertama kali. Kamu tidak mau bicara dengannku selama dua hari. Ibuku bertanya, kenapa aku tidak berbicara dengan kamu. Aku jawab lagi ‘M’. Kening ibuku langsung berkerut.”

“Linka, sayang. Hari itu hari Sabtu, saat kita bersepeda bersama di kebun teh Wonosari, Lawang. Kamu senang sekali. Kamu bilang kamu juga suka bersepeda di kebun teh di New South Wales, Australia bersama kekasihmu, John. Kamu tidak tahu kan, saat itu aku cemburu. Kamu bertanya kenapa aku diam, aku cuma menjawab tidak apa-apa.” Galang menengadah ke langit. Senyum getir mengembang.

Galang memejamkan kepala, ia mencoba mengingat di hari itu. Galang duduk di tanah di sebelah Linka. Dia sedang asik melihat awan membentuk gambar domba. “Lihat, Galang. Awan itu seperti domba.”

Galang melihat keatas, “Ya, memang.”

“Aku pernah liburan dengan papa ke New Zealand, disana banyak peternakan domba. Sekali-kali kesana, ya. Aku mau tunjukkan tempat favoritku di New Zealand.” Galang cuma bisa tertawa. Belum pernah seumur-umur dia bermimpi akan keluar negeri. “

Ketika Linka asik bercerita sambil melihat langit, Galang justru melihat wajah Linka. Tiba-tiba Linka menghentikan ceritanya. Ia menoleh pada Galang. “Kok kamu tidak perhatian, sih. Coba, aku tadi cerita apa?”

“New Zealand?”

“Setelah itu?”

“Hemm..”

“Nah, tuh kan. Tuh, kan. Aku sudah capek-capek cerita kamunya tidak perhatian.” Galang melihat senyum malu pada pipi Linka. Ia tahu, gadis itu tahu kalau Galang memperhatikan wajahnya. Ia berpura-pura marah hanya menutupi rasa malu di hatinya.

Lamunan Galang pecah. Hembusan angin lembah yang melewati air terjun membasahkan wajahnya. Sekali lagi dilihatnya laptop untuk melihat kalimat terakhir yang ditulisnya. “Linka, sekarang ini musim hujan. Tempat ini hampir sepanjang bulan Desember selalu basah, kamu ingat? Saat ini, ketika aku menulis, hujan tidak turun. Rumput-rumput taman yang pernah kita injak berdua tumbuh subur. Aku jadi ingat saat menyemprot kamu dengan air. Tubuhmu basah. Kedinginan. Menggigil. Aku jadi serba salah. Maaf, waktu itu aku cuma bercanda. Aku tidak tahu kalau kamu suka demam jika tersiram air pada saat hawa dingin.”

Galang menulis lagi setelah meminum sedikit coklat panas, “Adikku, Clara cepat-cepat mengambil handuk dan menyelimuti badannmu. Mata Clara tersorot tajam ke arahku, semakin menambah perasaan bersalah. Malam itu kamu benar-benar demam. Ibu memarahiku habis-habisan. Sepanjang malam beliau tidak putus-putus mengungkapkan kekuatiran kalau anak adiknya, kamu, akan sakit parah.”

Galang terdiam lagi. Matanya terpenjam. Ia ingin sekali mengingat kejadian waktu itu untuk ia tulis. Malam itu kala ia datang ke kamar adiknya Clara, tempat Linka tidur, adiknya masih membaca novel. Clara duduk di meja belajar sambil mendengarkan lagu lewat earphone. Linka berbalut bed cover. Mata tertutup. Clara melirik sekilas ke arah Galang, kemudian menatap buku yang dibacanya lagi.

“Aku menelusuri wajahmu. Kamu begitu tenang, meskipun suhu badanmu masih tinggi,” tulis Galang. “Aku meraih tanganmu. Tiba-tiba kamu membuka mata. Aku takut kamu mulai mengeluarkan kalimat kejengkelan. Tapi tidak. Kamu malah tersenyum. Rupanya kamu tahu aku merasa bersalah. ‘Take it easy. Don’t worry. I will be fine later’, kata-katamu membuat aku tenang. Aku meraih tanganmu dan menepuk-nepuk kecil. Kamu cuma tersenyum lemah.”

Galang merasa kedinginan. Angin lembab lembah terus menerus menurunkan suhu. Ia melihat ke langit. Kelihatannya hujan akan segera tiba. Dibawanya laptop dalam keadaan masih menyala, begitu juga gelas dan botol minum.

Clara yang baru selesai membantu ibunya memasak, cengar cengir. “Baru pindahan ya, Mas?” Galang tersenyum kecut. Ia berpindah ke kamarnya yang tidak seberapa besar. Pandangan orang akan dikunci dengan banyaknya rak-rak buku. Hanya satu sisi tembok yang selamat dari rak buku.

Galang mulai menulis, setelah duduk pada kursi yang menghadap pada jendela. “Linka, sayang. Sekarang hujan. Hujan ini mengingatkan aku sewaktu musim hujan bersama kamu. Aku, kamu dan Clara. Kita buat teh bersama di ruang keluarga. Aku dan Clara terpesona sekaligus pusing. Kamu menjelaskan begitu detil bagaimana orang jepang meminum teh. Cuma minum teh kok rumit banget, komentarku waktu itu. Pembicaraan kita bertiga diputus sementara oleh Ibu. Dia meminta tolong aku membetulkan pipa pembuangan air kotor di dapur. ‘Airnya mampet, tidak bisa terbuang.’ Ibu beralasan waktu itu. Dengan malas aku bangkit. Aku malas karena masih ingin duduk disana memandangi wajahmu.”

Matanya penat. Setelah mengusap-usap, Galang meminum cairan hangat coklat sampai menyisakan seperempat gelas. Hujan masih belum reda. Guyuran hujan yang menyapu kaca jendela, menghalanginya melihat suasana taman di depan jendela. Suasana ruang cukup hangat. Mata Galang terasa cukup berat untuk disangga. Tanpa sadar ia tertidur.

Galang terkejut. Ia seperti melihat layar di depannya. Layar yang menampakkan dirinya sedang berlari karena hujan menuju gudang peralatan berkebun dan kerja yang terpisah dari rumah. Setelah ada di dalam ia menutup pintu supaya air hujan tidak masuk kedalam.

Saat ia membalikkan badan untuk keluar karena apa yang dicarinya ketemu. Galang kaget. Hampir saja dia terjatuh kebelakang. Linka sudah berdiri di belakang. Matanya mengerjap-ngerjap. Kedua tangannya saling berpegangan. “Linka, kenapa kamu kemari?” Linka cuma diam. Ia melangkah dengan cepat ke arah Galang.

Entah siapa yang memulai. Galang dan Linka berpelukan. Cukup lama mereka dalam posisi itu tanpa bersuara.

“Linka…Kamu sudah tahu, kan. Kalau aku suka kamu?”

Linka cuma menjawab dengan anggukan. “Aku juga suka kamu Galang.” Linka merenggangkan pelukannya. “Aku tahu kamu terus memandangi aku waktu di kebun teh. Tapi aku tidak berani memikirkan, Lang. Kamu tahu aku sepupu kamu. Tidak mungkinlah kita menjadi sepasang kekasih.”

“Ya, aku tahu Linka. Andai kita bukan sepupu aku pasti sudah meminta kamu menjadi kekasihku dari dulu.”

“Tapi kenapa kamu sekarang memeluk aku?” Linka bertanya.

“Aku sayang kamu, Linka. Aku tidak ingin membohongi hatiku.”

“Aku juga Lang. Lantas apa yang kita lakukan?”

“Kita memang tidak mungkin menikah. Tapi kenapa tidak kita menikmati hubungan kita seperti pasangan kekasih lainnya sampai hati kita siap berpisah?”

“Kalau ternyata aku tambah sayang sama kamu, bagaimana?” Linka menggoda.

“Emangnya sama John kamu tidak pernah bosan?” Linka mencubit Galang.

“Jadi kita pacaran sampai bosan?”

“Yeup.” Sahut Galang.

“Oke. Setuju. Sekarang kita keluar seperti sikap kita biasa saja.”

Galang memandang nanar layar di depannya. Keputusan yang diambilnya saat itu salah. Sudah dua tahun mereka menjalani hubungan terlarang itu dan mereka jadi bertambah dekat. Setiap liburan, Linka selalu ke Indonesia. Tante Linda yang tidak curiga dengan hubungan mereka malah senang manakala Linda lebih sering ke Indonesia. Meskipun suami Tante Linda adalah orang asing, tetapi Tante Linda lebih senang Linka dikenal sebagai orang Indonesia.

Gambaran pada layar di depan Galang kembali menampilkan cerita. Saat bulan terang, ia dan Linka bergandengan tangan sambil berlari ke jalan setapak menuju belakang rumah yang dipagari lembah dalam. Sesampainya di tempat, mereka tidak sabar untuk saling memeluk. Cukup lama selama sehari mereka menahan diri agar orang lain tidak mengetahui hubungan mereka.

Cuma di tempat ini Galang dan Linka bisa menumpahkan perasaan masing-masing. Cukup lama keduanya dalam gelora hati, sampai akhirnya mereka diam terpekur.

“Lang, sampai sekarang aku masih suka sama kamu. Malah aku lebih sayang dari pertama kali kita ketemu. Andai kamu bukan sepupuku.” Linka berkeluh.

“Aku juga, Lin.”

“Terus apa yang akan kita lakukan?”

“Kita harus sengaja berpisah, Lin. Cuma aku belum tahu caranya.”

Linka memeluk Galang lebih erat.

“Linka, kamu kenapa? Kenapa menangis?”

“Tidak. Tidak apa-apa.” Linka mengusap mata dengan punggung tangan.

“Lang?” Linka bersuara lirih. “Kamu masih mau bermimpi tentang aku kalau nanti kita tidak bersama lagi?”

“Aku tidak pernah berhenti menoreh anganku dengan kamu.”

“Meskipun nanti ada seorang wanita disisi kamu?” Suara Linka agak lemah.

Galang mengangguk. Ia mengacak-acak rambut atas Linka. “Aku janji.”

“Lang, aku mengerti kamu sulit memutuskan. Biarkan aku saja yang memutuskan.”

“Apa keputusanmu?” Galang menoleh dengan penasaran.

“Nanti kamu akan mengerti.” Linka masih berusaha menghapus sisa-sisa kepedihan yang baru saja membanjiri mata. “Aku cuma mohon, ingat aku, ya?” Galang mengangguk.

“Ayo kita sekarang masuk ke rumah. Kalau kita terlalu lama bersama, mereka akan curiga.”

Paginya, Galang tergesa-gesa ke kamar adiknya setelah bangun dari tidur. Ia tidak ingin melewatkan kesempatan untuk bersama Linka karena ia tahu Linka tidak akan selamanya ia miliki. Matanya hanya menangkap ranjang kosong. Bahkan Clara tidak ada disana. Galang langsung berlari ke dapur.

“Bu, kemana Linka?”

“Lho, kamu belum tahu? Tadi Linka bilang sudah pamit sama kamu kemarin malam.”

“Pamit? Dia mau kemana?”

“Pulang. Liburannya sudah selesai.”

“Selesai?” Galang merasa ada gelagat tidak beres. Liburan Linka habis minggu depan. Ia mencoba menghubungi ponsel Linka. Mati. Kemudian dicobanya menghubungi ponsel adiknya. Mati. Ia membanting ponsel di ranjang ketika ia memasuki kamarnya sendiri. Ini yang dimaksud Linka dengan keputusannya, malam itu.

Usapan lembut sebuah tangan menyentuh punggung Galang. Ia terbangun. Hujan sudah reda. Dengan terkaget ia menoleh ke belakang. Ia hanya menemui senyum Clara, bukan senyum Linka. Ternyata ia jatuh tertidur. Ia menatap laptop. Sadar bahwa isinya sangat pribadi ia berusaha menutup laptop. Clara kini duduk pada tepi ranjang. Bola matanya memancarkan keprihatinan pada kakaknya.

“Mas, aku tahu perasaan Mas Galang sama Kak Linka.” Galang terkejut. Hampir ia bertanya dengan nada gusar. Tapi diurungkannya. Ia mencoba mengendalikan perasaaan.

“Kamu membaca tulisanku di laptop?”

“Tidak sengaja Mas. Tapi aku tahu hal itu bukan dari laptop.”

“Darimana?”

“Ketika Mas Galang sama Kak Linka malam itu keluar, aku sedang ada di luar. Aku melihat Mas Galang mencium Kak Linka.”

Galang tertunduk. “Siapa saja yang tahu masalah ini, Clara?”

“Aku tidak pernah bercerita sama orang lain Mas.” Galang diam. “Aku bisa mengerti perasaan Mas Galang. Cinta tidak bisa memilih. Tapi tolong jangan salahkan Kak Linka. Dia pergi supaya hubungan Mas dan Kak Linka berakhir. Bagi seorang perempuan, mengakhiri cinta itu tidak mudah. Hati seorang perempuan pasti tersayat manakala cinta berakhir. Butuh beberapa waktu bagi dia untuk membuat cinta lagi. Tetapi seorang pria bisa langsung jatuh cinta esok harinya begitu dia putus cinta. Kak Linka benar-benar berkorban buat Mas Galang.”

“Terima kasih Clara. Kamu bisa menyimpan masalah ini meskipun kamu tahu hubunganku dengan Linka.”

Clara berdiri lagi. Menepuk-nepuk punggung kakaknya lantas pergi dengan mata penuh dukungan pada Galang.

Galang duduk terpekur. Matanya memandang laptop. Menutupnya, dan sekali lagi merebahkan badan pada ranjang. Ia ingin tidur lagi dan bermimpi tentang Linka. Semoga kata Clara benar, bahwa keesokan harinya aku jatuh cinta lagi dengan gadis lain, dengan begitu aku tidak perih mengingatmu. Tapi sementara itu, maukah kamu datang dalam mimpi-mimpiku. Dosakah aku membayangkan kita sepasang kekasih meski cuma dalam mimpi?

5 responses to “Tentang Linka

  1. Nice

    Disukai oleh 1 orang

  2. ini keren😀

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s