Simpan Rinduku Buat Kakak


GoodBye2


catatan penulis:
ini adalah cerpen pertama saya yang pernah nongol di majalah Gadis. Saya melakukan perubahan di beberapa bagian cerita, sehingga sedikit beda dengan yang pernah terbit di majalah tersebut

“Sial banget.” Aji menatap ban bocor motornya. Jam ditangannya sudahmenunjukkan setengah tiga sore di hari terakhir tahun 1999. Matanya celingukan mencari-cari tukang tambal. Tapi sejauh matanya memandang, tak seorang pun. Malas, capek dan kesal bercampur jadi satu ketika kedua tangannya mulai menuntun motor, mencari tukang tambal ban.

Sepuluh menit berlalu, akhirnya sesosok tukang tambal ban di depan mata. Setelah berbasa-basi sejenak dengan tukangnya, dia duduk pada kursi kayu. Sejenak tangannya mengusap peluhnya yang bercucuran. Sudah seminggu ini Aji mencari dana untuk acara open air di SMA-nya. Namun kekurangan dana lima juta masih belum tertutup.

Tukang tambal ban itu kelihatannya tahu Aji sedang susah. Baik susah dengan ban motornya maupun susah dengan tulisan-tulisan di proposal yang sekarang sedang dibacanya.

“Dari sekolah, Mas?” tanyanya membuka pembicaraan.

“Iya, Pak,” jawabnya malas.

“Mencari dana, ya?” tanyanya. Dalam hati Aji heran, kok orang ini jenius sekolah nebak dia cari dana. Padahal di cover proposalnya cuma bertuliskan: proposal Open Air SMA Gelora, Jl. Woltermongosidi 12-14 Surabaya.

“Saya punya anak perempuan. Dia kayak Mas, sering aktif cara dana buat acara sekolah.”

“Oh,” Aji menyahut pendek. “Oh, ya Pak. Kenalkan nama saya Aji.” Aji merasa tidak enak, sendari tadi berbicara tapi masih belum tahu nama masing-masing.

“Panggil saja saya Jaya, Mas.” Aji tersenyum kecil. Ia jadi ingat nama bis antar kota yang bernama sama.

Aji hendak membaca deretan tulisan di proposal lagi ketika ada suara perempuan berbicara pada pak Jaya. “Pa, nanti malam aku mau keluar sama teman.”

Pak Jaya kelihatannya tidak senang. “Nanti malam, malam tahun baru. Jalanan ramai Vie, kamu di rumah aja.”

“Malas Pa. Masa di rumah. Temen-temenku pada jalan-jalan.”

Pak Jaya menatap anaknya dengan tak sabar. “Kamu di rumah. Titik.”

Aji cuma menghela nafas. Memang sih, ga enak banget malam tahun baru cuma dirumah. Namun sudah dua tahun ini Aji menghabiskan malam tahun barunya sendiri. Teman-temannya tidak ada yang bisa diajak keluar bareng. Mereka keluar dengan pasangan masing-masing. Aji lama termangu-mangu, ketika Pak Jaya menyapanya dengan suaranya yang berat. “Sudah Mas. Empat ribu.” “Terima kasih, Pak Jaya.” Aji menyodorkan uang.

***

Aji melihat jam dinding. Hatinya galau, rasanya pengin keluar dari tadi, tapi kalau sendirian aja ga asyik. Ingatannya kembali ke sore tadi, ketika bannya bocor. Gadis yang dipanggil Vie  oleh bapaknya itu pasti juga berpikiran sama dengan dirinya. Bete banget malam tahun baru di rumah aja. Tiba-tiba Aji dapat inspirasi, bagaimana kalau aku ajak dia aja, ya? Tapi bapaknya jelas-jelas melarang dia pergi. Apalagi dengan orang yang baru dikenalnya. Ah, tapi kalau ga dicoba mana tahu. Kebiasaan Aji ikut OSIS ada gunanya juga. Di OSIS dia di doktrin “Usaha sampai titik darah penghabisan.” Emangnya perang kemerdekaan?

Aji melambatkan motornya seratus meteran dari rumah Pak Jaya. Aji masih belum tahu situasi di rumah Pak Jaya. Ia berharap gadis itu diijinkan orang tuanya sehingga dia bisa pergi berdua. Sepoi-sepoi ia melewati seorang gadis yang berjalan mengendap-endap ketika ia hampir sampai di rumah Pak Jaya. Aji segera mengenali gadis ini sebagai Vie. “Hi,” sapa Aji.

Gadis itu terkejut. Jalanan menuju rumah Pak Jaya memang agak gelap. Banyak tanah kosong sebagai pembatas antar rumah satu dengan rumah lainnya. Wajahnya kelihatan takut. Aji cuma paham dengan suasana batin gadis ini. Disapa seseorang cowok tidak dikenal di jalan yang sepi pasti bukan hal menyenangkan bagi seorang gadis.

“Aku Aji, yang tadi siang nambal ban di papa kamu. Ingat?” Aji berusaha menggali ingatan gadis  itu. “Kamu kan cewek yang tadi sore pengin keluar malam ini, tapi papa kamu ga kasih ijin.” Gadis itu berangsur-angsur sembuh dari rasa terkejutnya, sebuah senyum malu tersamar tampil di wajahnya.

“Eh..iya. Aku ingat, Kak.”

“Aku tadi mau jemput teman, tapi dia kayaknya udah pergi.” Aji berbohong. Untung dia bukan pinokio, jadi tidak perlu hidungnya bertambah panjang ketika bohong.

“Pacar?” selidik gadis itu.

“Aku tidak berpacaran dengan teman cowok,” Aji mencoba menampilkan senyumnya yang paling manis. Dia memang harus super manis, soalnya gadis ini kelihatan masih tidak nyaman. Gadis itu tertawa juga dengan agak tertahan.  “Gimana kalau kita keluar bareng?”

Aji heran, darimana dia punya cara bicara menyakinkan seperti ini. Dua tahun ini gelar jomblo disandangnya karena dia sendiri tidak berani menyatakan cintanya pada gadis yang disenanginya, tapi sekarang ia seperti profesional dalam urusan cinta.

Gadis itu terlihat masih tidak percaya. Matanya sekilas melihat sepeda motor Aji. Sepeda motor cowok yang berwarna hitam legam dengan tangki yang dicat air brush halus bergambar api, cukup bagus. Kemudian matanya beralih ke dandanan Aji. Rambut Aji yang agak panjang dibelah di tengah. Kaos warna biru yang ditutupi dengan jaket kulit dengan sabuk kulit juga terkesan jauh dari kesan cowok nakal. Lama Aji menunggu jawaban tapi gadis itu masih membisu. Aji cukup mengerti. Baru kenal langsung berboncengan seperti ini pasti bukan hal mudah baginya.

“Oke deh. Kalau memang ga mau, aku pergi dulu, ya.” Aji menstarter motornya lagi.

“Sebentar, Kak. Aku ikut.” Katanya membuat Aji senang. “Oh ya kita belum berkenalan kan. Namaku Aji.” Aji bertanya ketika ia lagi memacu motornya.

“Aku Evelyn, biasanya dipanggil Evie.”

“Nama yang bagus,” pikir Aji, “kamu keluar diam-diam, ya? Kok jalannya tadi kayak maling ayam sih.” Aji mencoba bercanda.

“Kakak kan tahu, tadi aku dilarang keluar. Bete kan malam tahun baru cuma di rumah.” Evie kemudian mengganti pokok pembicaraan. ”Kak, boleh pegang pinggang. Aku takut jatuh.”

“Asal kamu gak punya pacar aja.” Evie cuma tersenyum kecil. Dipegangnya pinggang Aji pelan-pelan dengan lembut. “Kak Aji sekolah dimana?”

“Vie, panggil aku Aji aja, ga enak pake Kak segala.”

“Ga enak Kak, kelihatan kakak lebih tua dari Evie.”

“Aku di SMA Gelora. Klo kamu dimana?” Aji ganti bertanya.

“Aku di SMP Marthadinata.”

Opps!. Tiba-tiba jantung Aji berhenti berdetak. Gadis yang diboncengnya ini masih SMP. Aku pikir udah SMA. Badannya yang menurut Aji bukan badan anak SMP disertai tinggi yang hampir sama dengan dirinya membuat Aji salah tebak.

Takut-takut Aji bertanya dia kelas berapa.

“Kelas dua, Kak.”

“Ampun kelas dua lagi. Masih imut banget!” pikir Aji, dirinya sendiri kelas dua SMA. Sementara adiknya sendiri di rumah kelas tiga SMP, jadi Evie masih seumuran dengan adiknya. Aji mencoba menghilangkan rasa terkejutnya dengan bertanya, “Vie, kamu mau jalan-jalan kemana?”

“Terserah Kak Aji. Pokoknya asyik aja, Kak.” Evie mulai cair. Kekakuannya terhadap Aji berubah.

“Gimana klo makan ayam goreng krispi sambil nunggu jam 12 malam.”

“Iya Kak, aku senang makan disana.”

Sejak malam itu Aji bimbang. Apakah ia akan memacari Evie atau tidak. Hati kecilnya mengatakan untuk bilang: Ya, maju terus. Tetapi logikanya berkata lain. Masih terlalu muda. Kata-kata itu selalu bergiang di otaknya. Tapi kenapa dia sendiri sering menjemput Evie?

Aji baru tahu SMP Evie ternyata berada di selatan sekolahnya sendiri. Celakanya jalan itu adalah jalan pulang terdekat ke rumahnya. Kalau tidak melalui jalan itu, dia bakal melewati pasar loak yang ramainya minta ampun di jam pulang sekolah.

Evie sering dilihatnya menunggu angkot di depan sekolahnya. Mulanya ia pura-pura tidak melihat. Lama-lama ia merasa kasihan juga. Jalan panas dan berdebu di depan sekolah Evie bukan tempat yang menyenangkan untuk menunggu angkot.

Entah apakah dirinya kasihan atau memang menyukai gadis itu, Aji akhirnya memboncengnya pulang. Aji ingat sekali wajah gadis itu, tidak henti-hentinya ia memperlihatkan giginya yang putih bersih karena menyungging senyum. Pernah seorang kawannya memergokinya dengan Evie, ketika kawannya bertanya siapa yang diboncengnya, Aji menjawab adiknya. Lewat kaca spion Aji melihat perubahan wajah gadis itu ketika ia selesai menyebut kata adik. Mulutnya mengatup rapat, dahinya berkerut dan tangannya yang semula memeluk pinggang Aji dilepaskan.

***

Waktu itu hari sudah hampir sore, bulan Desember hujan turun deras. Aji lupa membawa jas hujan. Kasihan dengan Evie, ia berhenti di salah satu halte bis. Keduanya berteduh dengan duduk di kursi besi. Aji memandang Evie tertawa. “Kedinginan ya?” Evie cuma tersenyum. Aji melepas jaketnya lantas dipakainya untuk membalut tubuh Evie. Gadis itu cuma tersenyum malu. Lama keduanya diam diiringin bunyi hujan dan halilintar.

“Kak Aji punya pacar?”

“Belum.” Jantung Aji berdetak cepat.

“Aku juga belum punya, Kak.” Evie menyilangkan tangannya di depan dada.

“Kak Aji mau jadi pacar Evie?” Aji kaget. Dia tidak menduga gadis ini menyatakan cintanya terlebih dahulu. Aji mencoba menyusun kata-kata. Ia tidak ingin melukai perasaan gadis ini betapa pun kecilnya luka itu. Gadis ini baru mengenal cinta. Jika ia terluka, hal itu akan membekas seumur hidupnya.

“Ev, aku rasa kamu baru saja menginjak remaja kan. Evie mau ga belajar dulu, sampai saatnya nanti.”

“Maksud Kakak?”

“Nanti ada saatnya Evie boleh merasa suka dengan cowok. Tapi tidak sekarang.”

“Jadi Kakak ga mau jadi pacar Evie?”

Aji mencoba menjawab dengan hati-hati. “Evie mau ga berteman sama cowok yang egois?” gadis itu menggeleng pelan.

“Kakak ga mau jadi cowok egois. Kalau sekarang kita berpacaran itu berarti kakak mengganggu Evie. Sekarang Evie baru saja belajar menjadi seorang remaja. Banyak yang harus Evie pelajari dulu sebelum punya pacar.” Evie tidak menjawab. Hujan sudah berhenti. Gadis itu cuma diam terpekur.

“Kita pulang yuk. Udah sore,” ajak Aji. Tapi tiba-tiba Evie bersuara. “Kak Aji mau menyimpan semua rasa sayang Evie, semua rindu Evie buat nanti, ketika Evie udah besar dan kita pacaran?” Aji tidak menjawab, dia hanya tersenyum. Keduanya meninggalkan halte. Masing-masing sibuk dengan perasaannya sendiri. Evie memeluk erat pinggang Aji. Perasaan Aji tidak dapat menjelaskan, apakah Evie melakukannya karena begitu sayang dengannya atau karena kedinginan. Namun yang jelas ia merasakan ada sesuatu yang hangat di punggungnya tempat Evie meletakkan kedua bola matanya.

***

Hari ini sudah enam tahun berlalu dari kejadian di halte bis. Aji terpekur sendiri di kamarnya. Perasaannya serasa tidak menentu. Bayangan seorang gadis dengan kepang kecil lima di kiri dan kanan kepalanya yang kemudian disatukan di belakang dengan ikat rambut begitu menghantuinya. Ada perasaan rindu yang teramat dalam, apalagi sejak lulus SMA ia sengaja kuliah di Bandung untuk menghindari Evie.

“Aku harus menemuinya.” Suara hatinya berkata. “Apapun yang terjadi aku akan kesana.”  Aji mengambil jaket bertuliskan nama perguruan tinggi teknik di Bandung. Mengenakannya dan sebentar kemudian suara motornya keluar menjauhi rumah.

Hatinya berdebar-debar, ketika dari kejauhan ia melihat kesibukan di rumah Evie. Tenda pesta dipasang di depan rumah. Sebagian kursi-kursi tertata sebagian masih ditumpuk. Beberapa ibu sibuk dengan nasi yang baru ditanak dan beberapa lagi dengan masakan di panci dan wajan.

Aji  memarkir motornya agak jauh dari rumah Evie. Ia tidak ingin kehadiran mencolok bagi orang-orang. Ketika dirinya ragu antara berjalan ke arah rumah Evie atau tetap tinggal di tempat, Aji melihat seorang gadis keluar dari pintu rumah. Aura gadis itu sangat istimewa di mata Aji. Make-up-nya tidak tebal, sapuan bedak terlihat samar menutupi kulit wajahnya yang kuning langsat sementara untaian kalung emas melingkari leher jenjangnya. Aji bertanya-tanya, “Apa dia Evie?” diliputi oleh rasa kerinduan yang dalam kaki Aji sudah tak sabar melangkah untuk menyapanya.

Jarak antara dirinya dan gadis itu tinggal beberapa langkah lagi sewaktu kedua bola mata  gadis itu beradu pandang dengannya. Wajahnya tampak terkejut. Senyumnya yang sempat mengembang tampak perlahan-lahan berganti dengan kekakuan. Aji berhenti melangkah. Ia menangkap perubahan di wajah gadis itu. Ini pasti Evie, tebak Aji. Sebab kalau tidak, pasti wajahnya akan biasa-biasa saja melihatnya atau setidak-tidaknya hanya menyiratkan tanda tanya.

Kakinya yang jenjang mendekati tempat Aji berdiri. “Kak Aji?” gadis itu bersuara kelu  manakala jarak mereka cukup dekat untuk berbicara.

“Kamu Evie?” gadis itu mengangguk kecil. Evie berubah drastis, ia sekarang menjelma menjadi bidadari dalam impian. Sungguh Aji tidak menyangka gadis polos berkepang kecil itu sekarang menjadi wanita dewasa yang anggun.

“Kak. Kita berbicara di sana aja.” Evie menunjuk pada tanah lapang di sebelah rumah. Tanah itu dibatasi oleh rumput dan ilalang setinggi seratus enampuluh senti. Sangat sulit bagi orang di dalam rumah untuk melihat mereka. Keduanya duduk pada bangku besi bekas rel kereta api. Suasana di sana amat rindang karena pohon asam yang tua menaungi mereka. Untung saat itu tidak ada anak-anak yang bermain bola, sehingga mereka bisa leluasa berbicara.

Seketika itu juga, buliran-buliran air mata Evie berjatuhan. Aji terkejut. “Ada apa Evie?” Evie hanya diam. Dia terisak-isak dengan kedalaman nafas yang berat.

“Kak Aji jahat. Kenapa kak Aji ga pernah menghubungi Evie. Kak Aji bilang kalau Evie udah gede kak Aji mau jadi pacar Evie.”

“Untuk itu Ev, aku sekarang datang kesini.”

“Terlambat, Kak!”

“Kenapa?”

“Nanti sore aku bertunangan.” Entah kenapa Aji tidak terkejut, meski ia kecewa. Bukan pada Evie, tapi kecewa pada dirinya sendiri.

“Maafkan aku Ev,” Aji bangkit berdiri. Baginya tidak ada yang dapat dikatakan lagi. “Selamat ya. Aku harap kamu bisa bahagia dengan apa yang kamu pilih. Setidaknya aku kemari untuk mengembalikan apa yang sudah kamu titipkan. Rasa rindu kamu. Rasa sayang kamu.”

Aji berjalan tanpa melihat ke belakang. Satu hal yang menjadi alasan kenapa dia melakukan ini. Supaya dia punya kekuatan meninggalkan apa yang seharusnya berada di dalam gengamannya dan hilang karena kesalahannya sendiri.

8 responses to “Simpan Rinduku Buat Kakak

  1. asyik..ceritanya.he

    Suka

  2. Huhu, ada trik tertentu selaen itu?

    Suka

    • Saya tidak tahu selain itu. Saya sendiri baru bisa diterima di media setelah menulis sebanyak limapuluh cerpen. Setelah itu, lama-lama menulis menjadi mudah, bahkan tanpa outline sekalipun. Bahkan bisa dalam waktu kurang dari satu jam.

      Suka

  3. Aku suka nulis juga, tapi kadang buntu, dan sering nggak puas, gimana ya?

    Suka

    • Kalau masalah buntu: Menuliskan dengan jumlah kata yang kamu bisa. Kalau tidak buntu menulis 1000 kata, tulis saja 100 kata.

      Masalah tidak puas: Jangan pikirkan puas atau tidak puas dahulu. Ilmu karateka Sabuk Putih memang masih belum bisa dibuat berkelahi tetapi perlu sebagai landasan sabuk diatasnya

      Suka

  4. Wahh keren dehh hiks hiks

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s