Montase


sampul montasePengarang: Windry Ramadhina
Penerbit: GagasMedia
Tahun Terbit: 2012
Jumlah Halaman: 398

Tiba-tiba Rayyi merasa bahwa Haru Enomoto begitu cantik. Rasa kagum agaknya tak akan berpengaruh lama pada Haru karena dia sedang menghadapi kematian karena leukemia. Namun gadis itu menyadarkannya akan arti sebuah cita-cita

Rayyi cuma geleng-geleng kepala tatkala memandang Haru Enomoto, gadis jepang, mahasiswa IKJ, tempatnya kuliah. Haru selalu salah menjatuhkan barang-barangnya. Selalu salah ruang kuliah dan selalu tertawa serupa perahu naga. Teman-temannya: Bev, Andre dan Sube setuju terhadap pandangan Rayyi.

Pandangan Rayyi berubah setelah mengambil gambar Haru. Dalam rekaman kameranya, Haru tiba-tiba menampilkan aura kecantikan. Rayyi terkesima. Dia masih belum menganggapnya tertarik. Hanya sekedar terpesona.

Perjalanan pertemanan mereka semakin lama semakin berubah tanpa Rayyi sadari. Ia menjadi sering mengantar Haru berkeliling. Mulai dari menonton pameran, pertunjukan film, atau sekedar mengerjakan tugas kuliah perfilman mereka.

Hari itu akan diingat Rayyi untuk selamanya. Saat Haru jatuh sakit setelah ia memaksa diri berjalan-jalan di bawah hujan di kota tua diikuti Haru. Ia merasa bersalah, tapi Haru mengatakan bahwa ia sakit sampai tidak masuk kuliah selama tiga hari karena hal lain, bukan karena hujan.

Dari Bev, Rayyi mendapat informasi bahwa Haru sering mengeluarkan darah dari hidungnya dengan deras. Namun sampai detik itu Rayyi dan Bev masih belum mengetahui apa yang sebenarnya terjadi pada Haru.

Baik Rayyi dan Bev terkejut menerima SMS dari Haru. Gadis itu mengucapkan salam perpisahan karena akan kembali ke Tokyo. Cepat-cepat mereka berdua ke bandara. Disanalah Haru membuat pengakuan yang mengejutkan. Haru menderita leukemia.

Selama dua tahun berturut-turut semenjak kematian Haru, Rayyi tetap merayakan ulang tahun Haru. Sepucuk surat dari Haru datang. Rayyi terkejut. Tiba-tiba ia punya harapan kalau saja Haru tidak meninggal. Ia berharap Haru sembuh dan menantinya di Tokyo. Dengan menggunakan seluruh tabungannya, ia berangkat ke Jepang.

Saya bilang wow banget untuk novel ini. Temanya memang tidak unik. Kasih sayang antara dua manusia yang berujung kesedihan karena si gadis meninggal. Kena leukemia lagi, penyakit yang biasa diulas di novel. Tetapi sungguh mati, ramuan tulisan di novel ini benar-benar menimbulkan efek yang tak biasa.

Tiap karakter mempunyai sifat independen terhadap yang lain. Maksud saya, sifat mereka dapat dibedakan, sehingga mereka memang pribadi-pribadi yang masuk akal di dunia nyata. Tokoh Haru sebagai gadis jepang digambarkan dengan pernak pernik khas negeri itu. Membawa sumpit, senang kue mochi, suka susi, pendek, dan tentu saja selalu sopan dengan membungkuk. Sesekali diiringi bahasa jepang untuk memperkuat karakter.

Tokoh Rayyi juga digambarkan sangat apik. Agak plin plan di awal. Cuek terhadap kuliah. Suka terhadap film dokumenter daripada film mainstream. Dan tentu agak ragu apakah dia mencintai Haru atau tidak.

Novel ini mempunyai start of fire yang bagus. Dimulai dengan flashback. Membuat pembaca penasaran, kenapa tokoh Rayyi ke Jepang dengan sepucuk surat dalam genggamannya. Setelah prolog, pembaca dibawa langsung ke alam sinematografi. Setting tempat begitu detil. Khas dunia film dan khas penulis Windry Ramadhina. Novel ini adalah novel kedua dari Windry Ramadhina yang saya baca. Dari kedua novel tersebut, saya dapat merasakan ciri khasnya. Windry sangat bagus menceritakan setting. Kelihatannya penulis selalu melakukan riset sebelum membuat novel. Sebagai perbandingan saja, di novel Memori, penulis menceritakan setting cerita di alam arsitektur dengan sangat menarik. Sangat mendukung karakter dalam novel. Bahkan memberikan sedikit pengetahuan bagi pembaca yang belum pernah mengetahui dunia dalam setting tersebut.

Hanya saja, bagi pembaca yang ingin cepat-cepat memasuki cerita cinta, pasti agak senewen di halaman-halaman awal. Tak ada jejak di halaman-halaman awal bahwa ini adalah novel roman sebab yang dibahas cuma kuliah di bidang film dan kegugupan Haru saja.

Adegan roman di novel ini terbilang sedikit. Tetapi tetap tidak mengurangi rasa campur aduk cinta di hati pembaca. Sebagai gantinya, adegan tadi digantikan lewat dialog tokoh-tokohnya. Dan lagi-lagi, penulis membuat saya kagum. Pergantian antar plot begitu fade, sehingga tak terasa janggal.

Saat mengetahui tokoh Haru menderita leukemia, saya langsung dapat menebak nasibnya dan mencoba mereka akhir cerita. Tetapi saya keliru. Penutup cerita tak saya duga. Adegan ditutup bukan dengan akhir yang membuat ngilu mata dan hati pembaca. Namun dengan rasa terima kasih Rayyi atas kehadiran Haru di kehidupannya. Semangat dan kata-kata gadis itu menyadarkannya untuk mengejar cita-citanya sebagai ahli film dokumenter.

Salut banget buat penulisnya. Tak heran jika penulis dinominasikan sebagai penerima penghargaan di bidang literasi.

2 responses to “Montase

  1. Saya setuju dengan pendapat resensi ini. Yang membuat saya suka dengan novel2nya Windri karena kekuatan settingnya itu, benar-benar ada risetnya. Jadi pembaca ga sekedar dihibur tapi dapat pengetahuan baru

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s