Super Sad True Love Story


super sad true love story,Gary Shteyngart, alvabet. novelJudul: Super Sad True Love Story
Penulis: Gary Shteyngart
Tahun terbit: 2011
Penerbit: alvabet
Tebal Halaman: 510
ISBN: 978-602-9193-11-4

Mereka berusaha menjembatani perbedaan diantara mereka. Namun hasil akhir tak berpihak pada Lenny. Eunice meninggalkannya untuk berpaling pada Joshie

Novel dengan setting kehancuran Amerika di saat China dan Norwegia mulai menjadi raksasa ekonomi baru ini menyajikan hal-hal tak biasa. Mulanya Saya sempat bingung dengan model novelnya sebab ketika memilih novel ini untuk saya beli, saya mengambilnya secara acak saja. Saya rasa saya tertarik karena penampakan novelnya tampak wah. Sampulnya tampak menantang: Seorang gadis dengan gambaran sedih. Tulisan judul juga tampak menawan dengan tipe timbul. Judulnya-pun tampak menarik: Super Sad True Love Story. Kertasnya tebal. Benar-benar eksklusif. Saya berharap tak kecewa dengan isinya. Dan dimulailah petualangan baca saya…..

Leonard Abramov (dengan nama panggilan Lenny) dan Eunice Park bertemu di Italia. Sejak saat itu, Lenny terobsesi padanya bahkan sampai Lenny sendiri pulang ke Amerika dan tinggal di New York. Cinta mereka tak bertepuk sebelah tangan, saat Eunice mendatangi Amerika setelah putus dari kekasihnya. Ia setuju untuk berbagi tempat tinggal dengan Lenny. Hanya karena satu alasan, ia sendiri juga mulai menyukai pemuda Rusia keturunan Yahudi itu.

Baik Eunice dan Lenny segera menyadari, banyak perbedaan diatara mereka yang bakal menghalangi cinta mereka untuk sampai pelaminan. Eunice berumur tak jauh dari 20-an, sementara Lenny menjelang 40-an. Ayah Eunice menginginkan puterinya menikah hanya dengan orang korea. Leny juga seorang yang pintar dengan tingkat kekayaan termasuk kelas menengah, tapi Eunice tak seberapa pintar dan berasal dari keluarga yang kurang harmonis.

Eunice dan Lenny sepakat untuk menjalani terlebih dahulu jalinan cinta mereka. Lama-kelamaan Eunice makin mengenal watak Lenny. Eunice jengkel terhadap Lenny yang malas membersihkan tempat mandi. Lenny juga agak cengeng. Terbukti, pria itu menangis sambil berlutut kepadanya saat Eunice hendak meninggalkannya.

Satu hal yang menjadi kesalahan terbesar Leonard adalah mengajak Eunice menghadiri undangan makan malam Joshie, bos Leonard di perusahaan Wapachung. Joshie tertarik pada Eunice, dan sebaliknya. Eunice merasa bahwa Joshie begitu berkuasa dan tegas dibandingkan Lenny. Joshie tertarik pada Eunice karena kemudaan Eunice mengingatkannya akan hidup ceria yang kurang dimilikinya. Sudah bisa ditebak. Eunice meninggalkan Lenny dan lari ke pelukan Joshie.

Seperti yang saya tulis pada paragrap awal, ketidaksiapan saya akan tipe novel ini membuat saya bingung. Saya langsung bingung terhadap istilah Apparat. Memang di beberapa puluh halaman ke depan saya bisa menduganya bahwa apparat adalah semacam gagdet. Begitu juga dengan setting cerita. Pada novel ini Amerika digambarkan sedang diambang kehancuran. Mata uang yang laku bukan Dolar tetapi Yuan. Sampai tarap ini saya bingung. Ini jelas bukan masa lampau atau masa depan Amerika. Sehingga saya akhirnya berkesimpulan kalau gambaran Amerika disini adalah gambaran imajinasi (genre science fiction dicampur roman) pada saat dilanda distopia (lawan utopia) yang berarti dunia kacau balau.

Penggunaan beberapa istilah medis juga sempat membingungkan saya. Buat apa, sih? Pikir saya sewaktu bingung. Toh, Tidak ada tokoh yang bergerak di dunia medis. Namun di kemudian waktu saya memahami, bahwa istilah medis disini digunakan untuk memperkuat karakter Leonard Abramov. Sebagai catatan saja, Leonard bekerja di perusahaan Wapachung divisi post-human service. Divisi ini mengurusi masalah peremajaan sel-sel tubuh manusia sehingga manusia dapat hidup abadi.

Suatu hal yang sangat saya sayangkan. Banyak istilah asing yang tidak diterjemahkan, lingkungan cerita yang asing bagi orang Indonesia dan juga ada sedikit terjemahan yang kurang tepat. Bahkan bisa saya katakan, ini adalah novel yang saya tahu, yang minim penjelasan atas sesuatu yang bukan berasal dari budaya Indonesia, sehingga pembaca benar-benar bingung. Coba anda bandingkan dengan novel First Love Forever Love karya Shu Yi, di novel itu terdapat beberapa catatan kaki yang membantu pembaca mengerti budaya Cina dan arti asing lainnya. Sebagai contoh, saya tampilkan beberapa istilah-istilah asing yang ada:

Aiuto me (halaman 20)

Che cosa? (halaman 29)

Arrivi dan partenze (halaman 86)

Juga tak terbilang beberapa singkatan-singkatan yang membingungkan seperti berikut ini:

TIMATOV, ROFLAARP, PRGV, JBF (halaman 39)

Sebagai cerita cinta (seperti tersirat di judulnya), novel ini kurang menyajikan emosi antara Eunice dan Lenny. Background cerita malah lebih banyak menggambarkan kekacauan ekonomi di Amerika daripada mendukung percintaan Eunice dan Lenny. Penulis lebih asyik menceritakan keadaan eksternal daripada internal (emosi cinta antara Eunice dan Lenny). Cerita percintaan mereka lebih intens di halaman-halaman terakhir novel.

Yang lebih membuat saya kecewa, mana sad-nya? Apalagi yang super sad-nya. Ketika membaca judulnya, saya pikir saya akan menghadapi cerita semacam Romeo-JulietMontase punya Windry Ramadhina atau Love Letter karya Indah Hanaco. Bahkan pada bagian Endorsement, dikatakan bahwa sang penulis seperti Vladimir Nabokov? Saya rasa masih jauh. Gaya penulisan Vladimir lebih baik dari penulis novel ini.

10 responses to “Super Sad True Love Story

  1. resensi yang bagus menurutku, salam kenal🙂

    Suka

  2. He….m. mungkin memang butuh beberapa langkah untuk bisa menuju puncak, Mas. namun, dari cara penulisan resensi yang Mas tampilkan di blog ini sudah lebih baik dari pada aku yang belum bisa seperti itu. anyway, aku juga sedang mencoba, dan inilah langkah awalku untuk nerbitin novel. Lha, sekarang Mas ikut lomba penulisan novel di penerbit mana aja?

    Suka

    • Terakhir kali di Amore. Kita sama-sama belajar, Mas. Tidak ada yang lebih hebat di antara para penulis. Semua penulis memiliki gaya yang unik dan pembaca yang unik yang menyukai gaya-gaya unik penulis kesayangan mereka. Orang yang berbeda pasti akan menghasilkan resensi yang berbeda juga. Salam Sukses, Mas Iwan

      Suka

  3. Wah, tambah semangat aku. Oya, kak Okta ngomong2 sudah nerbitin berapa novel?

    Suka

    • Belum pernah. Sering ditolak penerbit. Aku disuruh edit di beberapa bagian yang justru aku tidak suka edit, alasanku di novel lain malah ada yang lebih “serem” dari itu. Mungkin harus belajar untuk tidak terlalu idealis?😦

      Suka

  4. Yap! Oke. aku masih bayi, kok. baru belajar nulis novel, jadi belum terlalu banyak tahu tentang bagus tidaknya novel. Ini aja aku langsung nekad ikut lomba penulisan novel di Bentang dan Bukune. tapi justru dengan lomba, semangat nulis malah tumbuh bersemi. walaupun speklulasi menang atau malah ditolak mentah2, haha.

    Suka

    • Setuju Mas. Menang kalah masalah nanti. Saya salut sama Mas Iwan karena sudah berani mencoba. Jangan lupa kirimi saya Novel bertanda tangan Mas Iwan kalau sudah berhasil menerbitkan novel. :))

      Suka

  5. Mungkin atau bahkan memang kecewa sih jika novel yang kita beli ternyata isinya tak se-wah desian sampul dan judulnya. tapi bagi saya, Kak Okta sudah punya poin bagus untuk bisa menulis sebuah resensi buku, minimal menjadi pelajaran bagi semua penulis terutama pemula agar belajar lebih kritis untuk menilai novel. terus berjuang!

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s