Menulislah Untuk Mengurangi Jumlah Pasien Rumah Sakit Jiwa


frustasi orang gilaSuatu ketika, saya dan teman-teman pernah mengadakan seminar. Dalam seminar tersebut, kami hendak menghadirkan seorang dokter rumah sakit jiwa. Saya dan dokter tersebut bertempat tinggal di Surabaya, tetapi saya harus menemui di tempat kerjanya di Rumah Sakit Jiwa di daerah Lawang, dekat dengan kota Malang. Suatu kota berjarak hampir 80 Kilometer dari Surabaya atau 19 Kilometer dari Malang. Karena saya adalah panitia bagian seksi acara, maka dengan berat hati saya bersepeda motor kesana.

Ternyata pemandangan di daerah rumah sakit tersebut sangat menyejukkan mata. Berlatar gunung. Kabut tipis menyamarkan rumah sakit daerah kejauhan dan suasana jalan yang lepas dari keramaian sungguh menyajikan hati yang nyaman. Nyaman? Saya harus meralatnya beberapa menit kemudian.

Setelah berbicara kepada seseorang di ruangan depan. Saya harus menunggu dokter tersebut terlebih dahulu. Agar tidak jemu, saya berjalan-jalan mengelilingi ruangan. Di dekat sebuah jendela, saya memandang ke arah luar. Berjarak lima meter dari jendela, saya melihat seorang laki-laki duduk. Pandangannya tak jelas kearah mana. Pakaiannya cukup bersih, tetapi raut wajahnya tidak begitu. Sesekali dia tersenyum-senyum. Orang gila? Saya tidak berani menanyakan pada orang di ruangan itu. Kata orang gila agak sensitif, jadi saya cuma mengamatinya dalam diam.

Tatkala dia selesai tersenyum. Saya melihat matanya seakan-akan memandang dunia lain. Bukan dunia saya dan orang-orang di ruangan itu, tetapi dunia lain, tempat dia dan tujuan pandangan matanya berada. Apa yang dia pikirkan? Masalah apa yang membawanya ke tempat ini? Masalah cinta? Masalah warisan? Masalah pekerjaan? Saya terhenyak. Waktu itu saya tidak sempat berpikir panjang, hanya sedih. Saat ini saya baru menyadari apa yangseharusnya saya lakukan sendari dulu. Seharusnya saya menebarkan virus. Bukan jenis yang berbahaya. Virus menulis.

Anda, saya dan semua pasti mempunyai masalah. Seharusnya masalah tadi membuat kita kuat, bukan jatuh. Jika kita sekarang mengalami masalah A maka di kemudian hari kita seharusnya tangguh menghadapi masalah A, asalkan pada saat ini kita memecahkan masalah A terlebih dahulu.

Anda sedang mencintai seseorang tetapi orang tersebut tidak mencintai Anda? Kenapa Anda tidak mengambil komputer untuk membuat cerpen dan mulai menuliskan di cerpen tersebut bahwa kalian sedang memadu kasih. Bahwa cowok atau cewek gebetan Anda memang mencintai andai. Tulislah segala sesuatu sesuai dengan imajinasi Anda. Menontonlah bioskop bersamanya di cerpen. Berjalan-jalanlah di air terjun bersamanya. Katakan Anda mencintainya di bawah guyuran air terjun, buatkan dialog kalau dia mencintai Anda juga.

Anda seorang karyawan dengan kesibukan bak hujan pertama bulan Desember? Kenapa tidak saat jam istirahat kantor Anda menulis cerita bahwa Anda sedang ke daerah pegunungan di daerah Lembang. Bayangkan wangi daun teh. Kabut merayap setiap sentimeter kulit anda. Setelah puas, Anda berarung jeram mengitar bebatuan. Rasakan ketakutan ketika Anda akan menabrak batu. Rasakan rumput berembun dengan pongah menatap Anda yang takut terantuk batu.

Anda jengkel dengan keadaan saat ini? Tidak punya uang? Hidup dalam kemiskinan? Menulislah. Larilah kedunia science fiction dalam cerita Anda. Hiduplah dengan barang-barang serba cerdas dengan pikiran komputer. Senangkan diri Anda yang dengan berteriak Kopi! Maka komputer akan membuatkan kopi bagi Anda. Duduklah di kursi yang dapat mendeteksi otot Anda yang pegal dan memijitnya.

Memang! Menulis tidak memecahkan masalah. Anda masih harus bangkit dan menyelesaikan masalah tersebut. Tetapi pikirkan demikian. Jika Anda mempunyai botol hampir terisi penuh. Maka Anda harus mencari cangkir atau gelas untuk menampung cairan berikutnya agar air tidak tumpah dan meresap ke dalam taplak meja berwarna putih. Anda pasti setuju dengan saya bahwa lebih mudah membersihkan gelas yang terisi kopi daripada taplak meja putih yang ketumpahan kopi? Setidak-tidaknya Anda dapat mengulur waktu, memberi kesempatan Anda fresh sambil memikirkan jalan keluar bagi masalah Anda. Cara ini lebih sehat dibandingkan Anda menahan segala rasa stress di dalam diri Anda dan ujung-ujungnya masuk dalam pengawasan dokter jiwa.

Jangan pernah takut jelek! Menuliskan tanpa memikirkan benar atau salah. Menulislah untuk meredam gejolak jiwa Anda. Hanya itu tujuannya. Siapa tahu setelah beberapa lama Anda mempunyai pikiran untuk menawarkan ke penerbit. Jika penerbit tersebut menerima naskah Anda, bukankah itu menyenangkan? Jika tidak menulislah lagi. Semakin sering Anda menulis, semakin Anda terlatih. Seperti pisau. Semakin diasah semakin tajam.

Saat saya menulis artikel ini, 17 Mei 2013, dunia kepenulisan sedang menggeliat. Geliatannya melahirkan banyak penulis baru dengan gaya berbeda-beda, pada gilirannya mereka menghasilkan banyak buku. Sudah selayaknya, pada masa ini kita beramai-ramai menulis. Tidak masalah karena faktor uang ataupun sekedar bersenang-senang.

Iklan

15 responses to “Menulislah Untuk Mengurangi Jumlah Pasien Rumah Sakit Jiwa

  1. terima kasih untuk sharing-nya, saya setuju menulis dapat meringankan tekanan emosi yang terpendam, dan meredakan derita & gejolak batin…sangat menukung pandangan mas tentang menulis sebagai terapi..
    untuk info lebih tentang menulis jurnal & kehidupan, silahkan kunjungi:
    penulispiritual.blogspot.com
    terima kasih sebelumnya..

    Suka

  2. Wow…! keren postingannya.

    Bener tuh. Saya sangat menikamati menulis. walau itu hanya menulis di blog. tapi dalam 2 bulan terakhir ini, saya bisa menghasilkan minimal 5 postingan dalam seminggu. Nyaman sekali rasanya di saat tulisan diposting dan banyak yang baca. Terasa bermamfaar utk orang.

    Menulis seperti melepaskan semua hal. Seperti melepas burung dari sangkar. Lega dan sangat lega sekali.

    πŸ™‚

    Suka

    • Terima kasih atas kunjungannya. Wow…hebat sekali dalam seminggu bisa lima postingan..Lebih baik kecanduan menulis daripada kecanduan obat-obatan. Mas sudah berbuat hal yang positif

      Suka

  3. Sama-sama Mas le. Saya menulis diatas karena saya sendiri juga punya teman seperti yang saya ceritakan diatas. Rasanya sayang sekali masa muda dihabiskan di tempat yang tidak seharusnya..

    Suka

  4. sip! Mantap!
    saya menulis sejak bertahun2 lalu.. menghasilkan beberapa blog dan bergabung di komunitas penulis.
    tetapi karena suatu hal, saya memutuskan berhenti
    alih alih menyelesaikan masalah.. saya malah makin depresi..
    saat seorang mengusulkan untuk saya menulis supaya sembuh, saya menurutinya…
    setahun ini saya kembali menulis..
    dan entah kekuatan apa yang mendorongnya…
    saya lebih kuat, sehat, bersemangat, sangat hepi,..
    thanks sudah sharing tulisan yang menyenangkan .. mas octa

    πŸ˜€

    Suka

  5. so wonderfulll….aku juga suka nulis tapi kadang ga PD coz apa yang aku tulis menurut aku komposisi tulisanku ga semenarik tulisan orang lain.

    Suka

    • Jangan menyerah. Ada baiknya kalau Kak Tata Sii Nobiieta meminta pendapat orang lain dengan memintanya membaca tulisan Kakak. Sering terjadi, orang mengira tulisannya jelek tetapi orang lain berpendapat sebaliknya

      Suka

  6. Iji share πŸ˜€

    Suka

  7. Reblogged this on Kertas Warna and commented:
    Tulisan yang bermanfaat

    Suka

  8. Saya setuju dengan judulnya. Buat saya menulis itu melegakan dan membuat kita memandang dunia dari berbagai sudut. Sedikit sharing, saya dulu sempat depresi dengan keadaan kesehatan saya. Namun, setelah rajin menulis diary, saya lebih memandang diri menjadi positif. Buat saya lebih baik bercerita dengan buku ketimbang orang lain πŸ˜‰

    nice share mas

    Suka

    • Terima kasih, Mbak. Saya senang membaca sedikit curhat dari Mbak. Menulis memang berkali lipat lebih baik daripada stress. Tak terbilang banyaknya orang yang bahagia seandainya mereka mau menulis. Tak ada orang bunuh diri, Rumah Sakit Jiwa bangkrut dan dokter jiwa tidak laku,

      Suka

  9. Keren, Octa, ulasannya.
    pengalaman pribadi bisa menjadi pelajaran menarik buat orang lain yang mengunjungi blog ini. Tapi, aku pernah mendapatkan saran dari penulis ternama, bahwa kita jangan sekali-kali menulis pengalaman pribadi (khususnya yang negatif) untuk diterbitin jadi cerpen atau novel, karena akan dikonsumsi banyak publik. Awalnya aku sudah ingin buat novel sesuai pengalaman pribadi, tapi setelah mendapatkan saran dari penulis itu, aku malah ganti ide. Menurut Octa gimana?

    Suka

    • Saya ingin bertanya kepada Mas Iwan. Jika Mas mendengar cerita seseorang akan sesuatu tempat yang indah, mana yang lebih Mas Iwan percayai, seseorang yang sudah pernah kesana? Atau “Katanya”?

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s