Hari Esok yang Menantang


hari esok yang menantang, balai pustakaJudul Buku: Hari Esok yang Menantang
Penulis: Soetarjo
Penerbit: PN Balai Pustaka
Tebal: 60 Halamannya
ISBN: 978-979-1948-46-3

Randimin menggembalakan kerbau pertamanya pada saat umur 9 tahun. Ayahnya seorang petani dari sawah seluas satu hektar di daerah Kutayasa. Bukan sawah yang subur karena tak bisa diairi oleh air dari sungai Mendengin. Suatu ketika Pak Lurah mengabarkan lewat Kebayan (Sekretaris desa) bahwa di Depok akan didirikan sekolah. Beliau meminta penduduk desa untuk mendaftarkan anak-anaknya yang belum bersekolah. Ranu, ayah Randimin, berkeberatan menyekolahkan anaknya. Dia beralasan masih banyak pekerjaan yang harus dikerjakan Randimin di rumah.

Pak Lurah tidak puas pada hasil pendaftaran sekolah. Ternyata masih ada beberapa orangtua yang belum mendaftarkan anak-anaknya. Suatu hari ia mengundang seluruh warga di balai desa. Saat itulah, Pak Lurah dan Sumantri berhasil membujuk ayah Randimin agar menyekolahkan anaknya di Depok.

Di saat Randimin sedang giat bersekolah, ayahnya meninggal karena Kolera. Saat itu penduduk desa tidak tanggap terhadap sakit Pak Ranu. Mereka malah memanggil dukun desa. Dukun tersebut mengatakan bahwa Pak Ranu diganggu penunggu hutan. Tigapuluh tahun kemudian Randimin berubah menjadi seorang insinyur. Saat itulah ia baru menyadari bahwa kebodohannya dan penduduk desa saat itu yang membuat ayahnya tidak tertolong. Sebagai bentuk pengabdian kepada kampung halamannya, ia membangun bendungan di sungai Mendengin. Dengan demikian sawah-sawah kering di daerah tersebut menjadi subur.

Entah karena untuk konsumsi anak-anak atau ada pertimbangan lain, novel kecil ini mempunyai gaya bahasa yang kaku (Bahasa Indonesia yang benar?) sehingga tidak sama dengan dialog yang dibuat anak-anak pada umumnya (Bahasa Indonesia yang salah?) . Kosa kata yang dipakai memang sesuai sebagai bacaan anak-anak. Tidak berat dan lugas (tanpa gaya bahasa)

Tokoh tidak banyak digambarkan secara emosional, lebih condong digambarkan secara penampakan luar dan interaksi dengan lingkungannya saja. Untungnya, sudut pandang yang diambil adalah sudut pandang orang pertama, dari pihak Randimin sendiri, sehingga sedikit emosi tokoh dapat dirasakan.

Pemberian beberapa gambar juga turut membuat anak-anak yang baru mulai membaca cerita agak panjang menjadi tidak bosan. Hanya satu hal yang mengganggu. Kualitas cetakan tulisan agak buram di beberapa tempat.

Plot cerita juga semarak. Meskipun inti cerita adalah Randimin dengan kesulitan untuk bersekolah, penambahan beberapa plot seperti masalah Mbak Niar karena harus dinikahkan, orangtua Randimin yang meninggal karena kolera serta kesulitan keluarga Pak Ranu karena harus mencari nafkah untuk keluarganya cukup membuat cerita tak membosankan.

Materi yang dikandung cukup mendidik. Novel ini mengajarkan agar seseorang harus memperjuangkan pendidikan. Pendidikan yang baik akan mengangkat derajat mereka di kemudian hari.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s