Norwegian Wood


nowergian wood haruki murakami kpgJudul Buku: Norwegian Wood
Pengarang: Haruki Murakami
Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia
Tahun Terbit: 2013
Jumlah Halaman: 426
ISBN: 978-979-91-0563-9

Watanabe harus memilih: Naoko yang sedang depresi karena kematian Kizuki pacarnya atau Midori, gadis badung, jago masak dan membuatnya merasa nyaman.

Kizuki mati bunuh diri di usia 17 tahun. Kematian terjadi setelah ia menghisap asap knalpot mobil di garasi. Sebagai pacar, Naoko trauma dan menderita tekanan batin atas kematian Kizuki. Padahal ketika ia masih kecil, dia sendiri juga menyaksikan kakak perempuannya gantung diri di kamar. Watanabe sahabat Kizuki dan Naoko, berusaha menghibur Naoko. Perasaan aneh segera tumbuh di hati Watanabe. Ia pelan-pelan menyukai Naoko.

Setelah menamatkan SMA, baik Naoko dan Watanabe pindah ke Tokyo. Watanabe tinggal di asrama, sementara Naoko di sebuah apartemen. Pada setiap hari libur, mereka berdua mengisi waktu luang dengan berjalan-jalan. Hubungan mereka masih kaku. Rupanya bayangan Kizuki masih membuat mereka jengah. Di saat ulang tahun Naoko ke duapuluh, Watanabe mengunjungi Naoko. Watanabe berusaha keras mencairkan hubungan mereka.

Sebelum status mereka jelas, gadis itu menghilang. Beberapa waktu kemudian Naoko mengirim surat pada Watanabe. Dia mengkabarkan kalau dirinya saat ini berada di Asrama Ami. Suatu tempat di pegunungan untuk menyembuhkan orang-orang yang mengalami gangguan jiwa. Watanabe bergegas kesana. Disana ia menjumpai Ishida Reiko, teman sekamar Naoko. Seorang pemain gitar. Mantan pianis. Lewat Reiko, Watanabe mengetahui kalau Naoko sangat menyukai lagu Norwegian Wood milik The Beatles. Sesudah tiga hari menginap bersama mereka di Asrama Ami. Toru Watanabe pulang ke Tokyo.

Di saat istirahat dari perkuliahan. Watanabe berkenalan dengan seorang gadis bernama Midori. Seorang gadis cuek, perokok, periang, jago masak dan bersama kakaknya, mengelola Toko Buku milik orangtuanya. Sifat riang Midori membuat Watanabe merasa nyaman. Segera saja ia akrab dengannya. Namun meskipun Midori sudah mempunyai seorang kekasih, Midori membuka pintu hatinya untuk Watanabe. Pemuda itu bingung. Dia mencintai Naoko dan ingin hidup bersamanya, namun kesembuhan Naoko tak berbatas waktu. Dia ingin menunggu Naoko sampai kapan pun, tetapi Midori mengatakan padanya bahwa dia tak akan selamanya menunggu Watanabe. Sebelum sempat menjawab keinginan Midori agar berpacaran dengannya, Watanabe mendapat kabar buruk. Di tengah malam, Naoko gantung diri di hutan.

Novel dengan suasana mencekam ini ada sisi buruk dan baiknya. Sisi baiknya, sampulnya cukup keren. Di tengah halaman sampul berlubang. Di belakang sampul ada gambar hutan berwarna merah. Mungkin untuk mengkiaskan bendera jepang?

Bagi penggemar dialog, jangan berharap akan terpuaskan di novel ini. Narasi dan penggambaran setting lebih menonjol. Alur berjalan secara flashback. Namun perpindahannya terkadang agak mengejutkan. Sebagai contoh: pada akhir bab 10 dikatakan keadaan Naoko membaik. Penutup surat dari Reyko untuk Watanabe bahkan terkesan ada harapan akan kecepatan kesembuhan Naoko. Tiba-tiba pada awal bab 11, langsung dimulai dengan: Sepeninggal Naoko pun……hiks…hiks..ternyata bab 11 menceritakan kalau Naoko meninggal.

Tokoh-tokohnya mempunyai karakter unik. Saya sangat menyukai ini. Hanya saja agak disayangkan gambaran Jepang agak kurang. Untuk ini saya agak kecewa. Mulai dari nama-nama minuman keras, judul novel yang dibaca Watanabe, lagu-lagu yang dinyanyikan Reyko-san semua berbau bukan Jepang.

Membaca novel ini juga seperti berada di awang-awang. Kita diombang-ambingkan dengan cerita yang sedih, tak berujung, tak terkendali, tak ada pesan moral. Maaf bagi penggemar Haruki Murakami, novel ini lebih mirip novel horror. Bedanya, tak ada hantu disini. Namun suasana pedih benar-benar mengitari saya. Hampir semua masalah tokohnya tak terselesaikan. Bahkan bisa dikatakan tragis.

Akhir dari novel juga membuat ngilu ulu hati saya. Saya pribadi sebetulnya tak mempersalahkan akhir yang menggantung. Cuma…..di novel ini, sisi menggantungnya tidak di adegan yang tepat. Akhir novel seperti akhir dari film yang to be continued atau akhir dari film horror ala barat.

Saya tak menyarankan novel ini dibaca oleh orang dibawah umur 17 tahun. Disamping karena adegan seksnya, banyak penyelesaian seseorang dilakukan dengan bunuh diri. Dan parahnya, penulis sering tak mempunyai adegan tandingan untuk melawan adegan bunuh diri. Takutnya ada pembaca yang mengambil kesimpulan agar bunuh diri jika masalah tak terselesaikan.

2 responses to “Norwegian Wood

  1. Setuju dengan Octa. Meskipun belum baca novel ini, tapi aku setuju jika sebuah novel seharusnya terselip hikmah atau pesan moral dibalik setiap kejadian tragis, misalnya bunuh diri.
    Aku malah teringat dengan quote yang disampaikan Orhan Pamuk, “I read a book one day and my whole life was changed.”

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s