Surat Terakhir untuk Mantan


wajah tanpa mulut cewek wanita sketsaHari ini aku ingat. Hari saat kamu tidak bersamaku lagi. Engkau pergi meninggalkan gelap tak bercahaya berkawan denganku. Aneh! Aku tak menangis. Padahal aku masih mencintaimu. Aneh! Aku tak bersuara memanggil namamu, padahal hatiku pedih karena sikapmu. Bayangmu semakin menghilang di ujung sana, di sebuah perempatan. Lelaki itu memanggilmu. Panggilan yang mesra. Engkau menyambutnya dan aku cuma terduduk memunggunginya.

Aku tahu kamu takut. Dia pasti akan marah kepadamu kalau engkau masih bersamaku. Tetapi saat itu kamu sendiri yang memintaku menemanimu. Kamu berkata bahwa kamu ingin ke toko buku dan tak seorang pun mau mengantarmu. Rumahmu jauh, itu aku tahu. Aku pernah selama empat tahun mengunjunginya. Saat itu aku selalu berharap senyummu hadir hanya untukku. Tidak seperti sekarang, kamu hanya mau mengerutkan sudut bibirmu hanya untuknya. Okelah. Tak masalah. Bukankah aku masih mencintaimu. Lagipula masih berhakkah aku marah? Kita sekarang cuma sepenggal kisah masa lalu.

Aku pulang dengan memelankan laju motorku. Kakiku melangkah menuju ke sebuah rawa setelah memarkir motor. Jarak dari sini ke rumahku cuma puluhan meter. Rawa ini selalu menemaniku sejak aku kecil. Disini juga aku meletakkan binatang peliharaanku yang telah mati. Disini aku menangkap ikan dengan membendung air rawa. Lewat rawa ini pulalah aku memintas menuju sekolah SD-ku. Tempat ini banyak menyimpan sedih-suka-ku. Dan sekarang, disini juga aku membayangkan kepalamu di pundakku.

Mataku terpenjam meski tak perlu. Tak ada lampu disini. Memejamkan mata atau tidak tak ada bedanya. Aku mulai mencoba mengingat semua masa kita dengan terlebih dahulu menyebut empat huruf namamu. Ada rasa cinta yang masih mengalir. Dingin. Perih. Berombak-ombak. Lantas bermuara di dada.

Putus! Mulutmu mengeluarkannya. Biasanya aku cuma diam saja. Namun ini sudah kesekian kalinya kamu bilang. Aku pun sudah pernah mengatakan padamu Jangan pernah main-main dengan kata ‘Putus’. Kali ini aku bilang ya sambil melihat boneka dan barang-barang pemberianku yang kamu lempar di depanku.

Sayangku……..
Kamu tidak pernah menungguku menjadi dewasa. Kamu tak mengijinkanku berbagi maaf denganmu. Sudah berapa kali aku bertengkar dengan keluargamu untuk melambangkan perlawanan akan penindasan kepadamu. Namun engkau salah sangka. Kamu berpikir aku-lah yang tak cocok dengan keluargamu.

Sayangku……..
Kamu bahagia saat ini, kan? Senyum pipi chubby-mu menggembung. Matamu membesar. Mengisikan keceriaan akan masa depanmu. Seorang lelaki disampingmu. Berbalut jas hitam. Kumpulan berbagai bunga tertata indah. Berselimut kain dengan benang jarang ada di tanganmu. Aku bahagia juga buat kamu. Tak terucap, namun rasakan di hatimu. Aku mengirim degup jantungku. Sudah terasa-kah? Mengertikah kamu, degup jantung kita sama. Degup jantung sebahagia dirimu. Kamu memang pantas bahagia setelah apa yang kamu alami.

Tak pernah terpikir olehku menyumpahimu meski kamu mengatakan Putus, karena aku memujamu. Tak pantas aku menyesali kepergianmu karena engkau selalu dekat dengan jiwaku. Malam itu. Di rawa itu. Aku meninggalkan lukaku. Menguburnya di rerimbunan ilalang setinggiku. Aku bangkit lagi. Menyalakan motor untuk pulang. Aku masih menggigil menanti hari cahaya di dalam kamar. Suatu kesadaran menghampiri, memberitakan hal bahwa esok kamu tak pernah lagi mau menemuiku. Esok…..kamu bukan milikku selamanya…..

Sekarang rawa itu sudah tak ada. Sebuah komplek dengan ukuran tipe rumah seratus persegi keatas menggantikannya. Cintaku, tengkorak hewan peliharaanku, jalan kenangan semasa SD-ku, lukaku, hancurku, tanaman rinduku sudah tak berbekas. Manakala aku berjalan di komplek itu, aku tak dapat mengira dimana aku duduk saat itu. Saat aku membayangkan terakhir kali kepalamu menyampir di pundakku. Entah aku lega atau tidak atas ketidaktahuan ini.

***

Aku menutup laptop. Kata terakhir sudah aku tulis. Kata perpisahan untuk selama aku hidup di bumi. Aku mengantuk tanpa menguap, lantas kuhampiri box tempat bayiku tidur. Badan mungilnya berpindah di lenganku. Aku mendekatkan kepalanya. Menelusuri cinta istriku disana. Mata beningnya tak dapat kulihat. Sepasang kelopak menutupinya. Bau susu memasuki hidungku. Rupanya ia baru saja minum susu beberapa menit lalu. Bayi perempuanku memang jago minum susu. Jangan harapkan ia tidur tanpa isak tangis sebelum susu hangat mengaliri jalur mungil di lehernya.

Aku tersenyum dan mendekatkan telinga kanannya pada bibirku. Bisikku kepadanya, Jika kamu besar nanti, maafkan lelakimu. Itu bukan untuk menunjukkan kelemahanmu tetapi kebesaran jiwa wanitamu. Lelaki memang tampak kuat, tetapi sebetulnya ia pengemis cinta di hadapan dewi-nya. Pria adalah kelemahan yang menjadi kuat di dalam pelukanmu. Ia tak akan berdiri jika kamu tak mengulurkan tangan. Namun saat ia sudah berdiri dengan gagah, giliran lengannya yang menjadi sandaran tangismu. Ia payung dari hujan putus asa-mu. Dadanya akan membusung untuk menakut-nakuti lawanmu. Matanya akan jalang mengejar orang yang memerahkan lukamu.

Gadis kecilku menguap dengan lucu. Aku tak ingin mengganggunya. Kuletakkan lagi pada box pelan-pelan. Sebelum kupadamkan lampu, sekali lagi kusenandungkan doa untuk kebahagianmu, mantanku, lewat hembusan nafas. Selamat tidur. Kamu adalah hal terindah dalam hidupku. Jika engkau mati sebelum aku. Aku berjanji untuk datang ke makammu. Tentu dengan terlebih dahulu melihat di sekitar makam, adakah suamimu. Aku akan letakkan segerombolan mawar. (Eh….masih ingatkah kamu saat aku meletakkan mawar di depan rumahmu. Malamnya kamu telepon aku untuk menanyakan apakah aku yang meletakkannya?)

Aku mencintaimu dengan segala kelemahanku
Aku menyanyangimu dengan berlagak kuat selalu
Kusebut namamu di setiap hari ulang tahunmu
Kuingat darahku memanas memandang penggantiku

Kutata doa untuk Sang Mahakuasa
Maafkan aku telah menyakitinya
Jangan tulis dosaku atas rintihan air matanya
Hitunglah nafasku sebagai ganti nafas dia

39 responses to “Surat Terakhir untuk Mantan

  1. Tidak beda jauh dengan cerita cintaku😦
    Apalagi namanya sama 4 hurup😦

    Suka

  2. bagus banget,, macamcerita asli aja,,! izin copas ya,,! kami sertakan link sumber, thx u

    Suka

  3. Keren banget kak… semoga bisa menjadi inspirasi bagi penulis lainnya.

    Disukai oleh 1 orang

  4. Nice short story Anes. Teman SD ku.. Hihihi

    Suka

  5. Pengen bgt bisa nulis kayak gitu..🙂

    Suka

  6. kereeen….

    Suka

  7. bagus, pengen nangis, mirip ma crta cinta aku. sulit tk melupakan mantan krn msh ada rasa syg walaupun sudah sma2 memiliki pasangan masing2..

    Suka

  8. Pedih bgt bacanya aku sampe nangis2 mirip yg aku rasakan.ditinggal istri meskipun kta cma nikah siri tpi pedih bgt rasanya

    Suka

  9. jd inget ssam1 hiksss

    Suka

  10. kren gan…

    Suka

  11. Bagus bnget,puitis abiz

    Suka

  12. keren🙂

    Suka

  13. Bner ssuai m hati q mas,.,
    Thanks ea :’)

    Suka

  14. Keren! Salam kenal🙂

    Suka

  15. bagus mas…. ngakak pedih bacanya…. hehehe…

    Suka

  16. *speechless* pokoknya Bagus. Banget..😀

    Suka

  17. Ceritanya sedih mengharukan.

    Suka

  18. Cinta memang luar biasa ya.
    Bohong jika kita nggak sedih melihat dia bahagia bersama orang lain, tapi lebih sedih kalo liat orang yang kita syg nggak bahagia sama kita.🙂

    Suka

  19. Jika kita benar-benar mencintai seseorang, kita tak akan pernah mengenal kata mantan

    Suka

  20. baca ini sampai nangis. jadi inget dirinya😥

    Suka

  21. jadi pengen terbitin naskah aku dehh🙂

    Suka

  22. jadi pengen nangis, hikhikhik…..sedih banget

    Suka

  23. Wahhhhhhh… speechless…
    keren banget!!!! banget! Banget!!!
    🙂

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s