Tuhan Tidak Mahakuasa


GadisDiKamar2Catatan Penulis:
Cerpen ini pernah dimuat di majalah KOMUNIKASI. Beredar secara regional di Bandung. Saya membuat beberapa perbaikan dan perubahan sehingga agak berbeda dengan yang dimuat di majalah tersebut

Namanya Anneke. Umurnya tiga tahun lebih tua dariku. Dari foto yang diberikan oleh petugas, aku tahu Anne berambut panjang. Mengkilat. Eye Shadow-nya redup dalam bingkai wajah trapesium, menambah kesan sebagai wanita kuat. Namun aku terkejut saat memasuki kamarnya. Gadis di hadapanku ini berbeda sama sekali. Kulitnya hampir-hampir seperti jeruk. Matanya tenggelam dalam cekungan mata. Rambutnya dipotong pendek.

Senyumnya sungguh ajaib. Bola kehitaman matanya memancarkan damai. Aku seperti masuk ke ruang ber AC setelah bermain seharian di lapangan bertabur siang.

“Hi.” Hanya kata pendek, sembunyikan kegugupanku. “Aku…”

“Relawan paliatif? Suster sudah memberitahuku. Akhirnya ada yang mau kesini.”

Aku tersenyum. Sejenak aku lupa akan ketakutannku untuk berdekatan dengannya. Tetapi ketika ia mengulurkan tangan, ketakutan kembali mencekamku. Aku mencoba-coba mengingat ajaran pelatih relawan. AIDS tidak menular melalui sentuhan tangan. AIDS hanya menular melalui pertukaran cairan tubuh: Senggama, berciuman sehingga bertukaran ludah, luka….

“Eh, kok bengong.” Gadis itu setengah berteriak.

Aku mengulurkan tangan, “Johan.”

“Anneke.” Senyumnya tak dibuat-buat. Seperti permen. Manis.

Sifat periang Anneke mempengaruhiku. Ini terbalik. Seharusnya aku yang mempengaruhinya agar menjalani keadaannya dengan baik. Tapi aku memang semula tidak rela menjadi relawan, jadi wajar kan kalau aku masih amatir. Aku hanya anak Sekolah Kejuruan yang dihukum karena perkelahian antar sekolah. Kepala sekolah memberikan pilihan kerja sosial atau keluar dari sekolah. Aku memilih kerja sosial. Pilihan itu ada di otakku sebelum aku tahu apa itu sukarelawan Paliatif. Setelah selesai mengikuti pelatihan sukarelawan Paliatif, mereka memberiku tugas. Mendampingi Anneke adalah tugas pertamaku.

Teman-teman yang senasib denganku, sama-sama terhukum, keheranan dengan keantusiasanku. Sehabis pulang sekolah aku selalu terburu-buru menjalankan hukumanku, ke rumah sakit. Dan saat ini aku datang tidak dengan tangan kosong. Kali ini aku membawa beberapa novel. Baru kemarin aku tahu Anneke suka membaca novel. Tapi…

“Kenapa kamu menangis?” Aku kaget melihat ia duduk di ranjang. Kakinya ditekuk. Dahinya menempel pada lutut. Aku tidak melihat wajahnya karena menunduk, tapi aku yakin dia sedang menangis.

Aku duduk pada kursi dekat nakas. Menunggunya untuk bicara. Cukup lama aku melihat punggungnya naik turun sampai akhirnya kepalanya terangkat ke atas. Menatap langit-langit. Ia bersandar pada tembok.

Ia mulai bercerita bahwa dia kesepian. Dia sudah berada di rumah sakit ini selama enam bulan. Namun sepanjang waktu itu, hanya dua kali ia dijenguk oleh orang tuanya. Pertama waktu mengantarnya masuk ke rumah sakit ini. Kedua, saat mengantar barang-barangnya.

“Aku terkutuk.” Air matanya bercucuran. Ia mulai menarik-narik rambutnya. “Ini salahku. Andai aku ga pake obat-obatan itu. Bodoh. Bodoh.”

Buru-buru aku berdiri. Memegangi tangannya agar tak menarik rambut. Setelah sukses melepas tangan dari rambutnya aku memeluknya. Berharap dia tak punya kesempatan melayangkan tangan ke arah kepala lagi.

Setelah perlawanannya mereda. Aku merenggangkan pelukan lantas menatapnya. “Aku menjengukmu setiap hari,” protesku, “kenapa kamu tidak menghitung kunjunganku?”

Ia tersenyum. Kali ini tak seperti permen. Senyumnya seperti rasa jeruk. “Kenapa Tuhan tak membantuku? Aku tidak minta apa-apa selain orangtua dan adikku datang kesini.” Matanya berputar ke arahku. “Tidak berlebihan, kan?” Ia kemudian duduk di tepi ranjang. Kakinya menggantung. “Mungkin Tuhan sedang menghukumku.” Telingaku masih menangkap kalimatnya meski bervolume kecil.

“Aku banyak melakukan kesalahan. Mungkin ini saat aku harus membayarnya.” Ia memain-mainkan jempol dan telunjuk.

Aku menghela nafas sebelum berkomentar. “Aku beritahu kamu suatu rahasia. Kamu mau dengar?”

“Apa itu?” Ya..ampun, aku baru sadar kalau cewek satu ini punya lesung pipit.

“Banyak orang bilang Tuhan itu Mahakuasa.” Aku memandang tepat di antara kedua matanya. “Menurutku tidak.”

Dia terkejut dan memandangku. “Aku memang kesal dengan Tuhan sekarang. Tapi aku tidak bermaksud membenciNya. Aku gak mau denger omonganmu.” Anneke bersiap-siap akan merebahkan diri. Aku buru-buru mendekat dan duduk di tepi ranjang. Aku memegang tangannya.

“Bagaimana jika aku benar? Kamu mau mendengar alasanku?”

“Oke. Oke. Tapi sebelum kamu ngomong, aku pengin kamu tahu keyakinanku. Aku-Kamu dibuat oleh Dia. Kamu bisa makan karena Dia. Matahari bulan juga dibuat oleh Dia. Bunga, rumput, pokoknya banyak. Pokoknya semua.”

Aku sengaja membiarkannya bermain-main dengan pikirannnya sebelum aku berkata, “Baiklah Mbak religius. Kamu benar, semua yang kamu katakan made by heaven, tapi kamu lupa sesuatu…ada di dunia ini yang tidak made by heaven, tetapi Tuhan menginginkannya.”

Anneke mengernyit, “Apa itu?”

“Cinta kita.” Kata-kataku membuat mimiknya tambah lucu. Mimik tak mengerti. “Tuhan tidak bisa menciptakannya tapi ingin mendapatkannya dari kita. Oleh kita dan hanya kita yang bisa memberikan kepada Dia. Cinta kita adalah satu-satunya di dunia ini yang ingin Tuhan miliki dan tak dapat memaksa kita untuk memberikannya.”

Aku mengambil telapak tangannya yang terdekat denganku. “Jiwa kita adalah berlian bagi Tuhan. Dia mencintaimu dan aku. Tuhan tak pernah menghukum.”

“Berarti aku berlian yang gagal?” Anneke mencari pembenaran lewat mataku. Tetapi aku tak mengijinkannya membenci dirinya sendiri.

“Apa mungkin Tuhan membuat sesuatu yang gagal?” Aku balik bertanya.

“Dia mahatahu. Berarti dia juga tahu bahwa aku bakalan brengsek seperti ini waktu dia menciptakan aku. Lantas kenapa Dia tetap nekat menciptakan berlian gagal seperti aku?”

“Kalau kamu mempunyai dua orang anak. Katakanlah namanya A dan B. Jika A adalah anak penurut sementara B hanya nurut kalau dipaksa-paksa, apakah kamu akan membuang B ke tong sampah? Bukankah kamu akan mencintai keduanya? Tidakkah kamu berharap suatu ketika B sadar dan akhirnya menurutimu karena mencintaimu? Dia tahu di masa depan kamu se-brengsek apa. Tetapi Tuhan berharap kamu berubah, Anneke. Dia menunggumu sampai saat ini.” Entah bagaimana caranya aku bisa langsung menyodorkan alasan tadi.

“Jadi kenapa aku menderita seperti ini kalau memang Tuhan sayang aku?” tungkasnya.

“Karena dengan begitu kamu ingat akan Dia. Bukankah kamu senang kalau pacarmu selalu ingat kamu?” Aku memikirkan jawabanku sendiri. Apa aku percaya kalimat ini? Aku sendiri ragu. Aku memeluknya saat sebutir cairan hangat jatuh ke pangkuannya.

Esoknya aku datang dengan membawa novel yang kemarin aku bawa. Kemarin dia belum sempat membacanya, tapi aku berharap hari ini suasana hatinya tenang sehingga dia mau menghabiskan novel-novel ini.

Aku terdiam ketika sampai di mulut kamarnya. Ranjangnya tertata rapi. Sepi. Jendela dibuka sehingga meloloskan sinar ke arah kamar. Tak ada Anneke disana. Aku bisa mengerti apa yang sedang terjadi. Aku berjalan menuju ruang jaga suster yang terdekat dengan kamar Anneke.

“Anneke meninggal?” pertanyaanku dijawab anggukan oleh suster itu.

“Kemarin malam.”

Aku terdiam sebentar, kemudian bertanya, “Apakah peti matinya akan disegel?” Suster itu mengangguk lagi. “Untuk sakit seperti Mbak Anneke, biasanya begitu Mas.”

“Saya bisa minta tolong, Sus?”

“Ya?”

Aku meletakkan tiga novel di meja. “Bisa masukkan ini ke dalam petinya. Dia ingin membaca novel ini.”

Mata suster berkaca-kaca. Tangannya terulur meraih novel. “Terima kasih, Sus.”

Ketika menuju pintu keluar, sekali lagi aku melewati kamar Anneke. Aku menyandarkan diri pada tiang. Di depan pintu masuk kamar. Mataku menelusuri ranjang lagi, berharap ada Anneke disana.

Aku membayangkan dia sedang menunduk karena membaca.
Aku membayangkan anak-anak rambutnya tertiup berderai-derai karena angin di samping tempat tidurnya.
Aku membayangkan dia tersenyum cerah saat aku datang dan berkata, “Hei, Johan. Novel ini sudah hampir habis aku baca. Besok bawakan lagi yang lain, ya?”

Tugas relawan Paliatif memang bukan menyembuhkan, tetapi lebih kepada membantu dan meningkatkan taraf kesehatan mereka sejauh yang mereka bisa. Dengan begitu aku menyadari bahwa kejadian seperti ini bukan hanya sekali terjadi. Tiba-tiba saja sebentuk pikiran melayang. Rasanya setelah masa hukuman ini selesai aku akan tetap menjadi relawan Paliatif.

Sebagai relawan Paliatif, aku memang seharusnya menghadiri pemakaman Anneke. Tugas relawan tidak hanya pada pasien, tetapi juga pada keluarganya. Tapi untuk sementara aku tak sanggup. Suatu perasaan perih tiba-tiba datang dari luka menganga di dadaku. Kenapa tiba-tiba saja aku seperti kehilangan kakak perempuan?

Aku mengijinkan beberapa butir air mata membentuk arus hangat dari kelopak mataku dan tumpah. Masa bodoh. Toh tidak ada orang lain disini saat ini.

Selamat jalan, Anneke. Tuhan pasti senang menerima cinta dalam senyum lesung pipitmu.

22 responses to “Tuhan Tidak Mahakuasa

  1. Reblogged this on ifamasluhah and commented:
    Jujur penasaran dengan judulnya, bagaimana mungkin Tuhan tidak Mahakuasa? lalu aku semakin tertarik membaca cerpen ini. dan penulisnya pandai sekali menyajikan twist.
    Cinta dan senyum yang sungguh manis🙂 dan sedikit tumpahan airmata sedih dan haru. good JOb

    Disukai oleh 1 orang

  2. cerpennya keren dan menginspirasi… gambarnya juga keren.🙂
    salam kenal mas.🙂

    Disukai oleh 1 orang

  3. Keren bgt mas.
    Boleh share ke fb saya?

    Suka

  4. iyaa, saya juga melek super lebar baca judulnya, setelah baca ceritanya, oh..ini maksunya tidak maha kuasa? boleh.. :’)

    Suka

  5. awalnya aku agak aneh sama judulnya…kemudian jadi terharu…tuhan yang maha kuasa jadi tidak maha kuasa dalam mendapatkan cinta hambanya…dan narasinya halus banget..keren mas

    Suka

  6. aaaaaaaa ini keren dan… menyakitkan… T.T

    Suka

  7. boleh share di pesbukku mas octa?

    Suka

  8. Wah!! Aku tahu banget rasanya…😦
    Suatu hari di tahun 2007 aku mengalami hal yang sama. Tapi bukan aku relawannya, tapi pasien-nya. Seorang diri, sekarat, dan ada 1 orang yang bukan siapa-siapa, tetapi aku tahu tidak pernah meninggalkanku. membacakan cerita untukku, berbicara pada saat mataku terpejam, dan banyak hal lain. Ketulusan ajaib yang mendorongku untuk sembuh.

    Hari ini, waktu telah lama berlalu sejak hari itu. Aku berbagi air mata dengan mereka yang lain,… Aku telah berhutang cinta… yang tak akan terbalas.🙂

    #sekedar berbagi, salah satu kisahnya ada di sini http://catatanie.wordpress.com/2012/12/26/kisah-malam-natal-1/
    😀 terima kasih buat artikel kerennya mas octa…😀

    Suka

  9. nambah komentar : ilustrasinya cakep banget, siapa yang bikin mas?

    Suka

  10. sebuah cerpen yang menyentuh..hati..
    ketika Tuhan sudah memberi mandat, betapa sungguh Dia tak ingin memaksa..
    dan bahwa betapa sungguh Tuhan sangat-sangat cinta hambanya, cuma masalahnya adalah kita hambaNya yang tak mengerti…
    “Ya Allah, kumohon kepadaMu yang pemurah berilah hamba kepahaman”

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s