Ronggeng Dukuh Paruk


ronggeng duku paruk ahmad tohari gramedia pustaka utamaJudul Buku: Ronggeng Dukuh Paruk
Pengarang: Ahmad Tohari
Tahun Terbit: 2011
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tebal Halaman: 404
ISBN: 978-979-22-7728-9

Srintil didapuk sebagai ronggeng baru. Rasus tidak terima Srintil menjadi ronggeng, terutama karena acara bukak-klambu jelas-jelas membuat dirinya cemburu. Bertahun-tahun kemudian orang-orang di tempat tinggalnya mengetahui betapa besar cinta Rasus ketika dia merawat Srintil yang telah menjadi gila

Dukuh Paruk hanya sebuah tempat di tengah-tengah pematang sawah. Jumlah penduduknya hanya sekitar tujuh puluh. Bertahun-tahun hidup dalam kemiskinan, kebodohan dan percabulan. Tidak heran, penduduknya sendiri adalah keturunan dari Ki Secamenggala, seorang bromocorah.

Karena tidak punya apa-apa, maka harapan satu-satunya kebanggaan mereka adalah Ronggeng. Ronggeng adalah wanita penghibur. Menghibur mereka dengan tarian. Bukan tarian biasa. Tetapi tarian yang mengundang birahi. Maka menjadi hal yang jamak jika seorang Ronggeng juga berprofesi sebagai wanita penghibur.

Namun demikian, mencari Ronggeng tidaklah mudah. Mereka mempercayai bahwa seorang yang ditakdirkan menjadi Ronggeng akan dihinggapi indang ronggeng. Jika wanita tersebut sudah dihinggapi, maka tanpa dilatih sekalipun, wanita tersebut akan bersuara emas dan mudah mempelajari tari-tarian seorang ronggeng.

Tersebutlah nama Srintil, seorang gadis berusia 11 tahun. Cucu Sakarya. Suatu hari Sakarya tanpa sengaja melihat Srintil menari ronggeng. Yakinlah ia bahwa Srintil ditakdirkan menjadi seorang ronggeng. Segera ia menghubungi Kartareja, seorang dukun Ronggeng dan mulailah Srintil menjalani upacara-upacara untuk menjadi ronggeng. Ada dua cara pentahbisan ronggeng. Pertama: diadakan upacara di depan makam Ki Secamenggala. Kedua: melalui acara bukak-klambu. Acara bukak-klambu inilah yang tidak disukai Rasus, seorang pemuda yang mencintai Srintil. Bukak-klambu sendiri adalah acara penyerahan keperawanan calon ronggeng kepada orang yang sanggup memenuhi syarat dari dukun ronggeng, yaitu Kartareja. Rasus pergi meninggalkan Dukuh Paruk karena kecewa dengan Srintil sementara Srintil sendiri semakin lama semakin terkenal sebagai ronggeng.

Kebodohan Dukuh Paruk menimbulkan bencana. Tanpa mereka sadari, penampilan grup ronggeng mereka sering tampil di rapat-rapat PKI. Mereka tak dapat membaca dan tak mengerti lambang-lambang PKI disaat rapat. Saat pemberantasan PKI setelah peristiwa September 1965, maka Srintil dan teman-temannya dipenjara. Teman-temannya hanya dua minggu tetapi dia sendiri dipenjara selama dua tahun.

Saat dibebaskan, Srintil berjanji pada dirinya sendiri bahwa dia akan berhenti menjadi ronggeng dan menginginkan menjadi ibu rumah tangga biasa. Harapan tinggal harapan. Bajus, lelaki yang diharapkannya menjadi suaminya ternyata ingin menjualnya sebagai wanita penghibur. Srintil tidak kuat menanggung masalah dan menjadi gila.

Ketika saya mendapat sedikit bocoran mengenai setting novel ini, saya ragu apakah saya akan menikmati novel ini. Cerita Ronggeng Dukuh Paruk sepenuhnya terjadi pada pedesaan sementara saya banyak membaca cerita ber-setting desa manakala saya masih SD. Jadi suasana pedesaan selalu menghubungkan pikiran saya dengan cerita anak-anak, tetapi saya salah besar.

Ahmad Tohari jelas-jelas sangat menguasai alam pedesaan. Dia mengetahui hewan-hewan apa saja yang berada di desa. Mulai dari burung: alap-alap, pipit, kucica, trinil, sikatan, perkutut, kuntul, puyuh, cucakrawa, branjangan, kacer, keket, gagak, brondol; kumbang, gangsir, kepiting, ular, walang kerik, celeret, tabuan (sebangsa lebah), tokek, bluwak, hahayaman dan lain-lainnya serta mengetahui tindak-tanduk mereka. Penulis juga mengetahui bentuk-bentuk rumah pedesaan serta adat istiadatnya terutama tentang ritual-ritual ronggeng. Cara penggambaran setting membuat saya seakan-akan berada di desa seperti penuturannya.

Keterkejutan saya bertambah. Saya menjumpai istilah-istilah istimewa. Istilah-istilah yang membuat saya berubah pikiran. Membuat saya tak dapat memandang sebelah mata pada novel ini. Pemakaian istilah virginitas sebagai pengganti keperawanan dan istilah-istilah yang berhubungan dengan pemikiran seseorang semacam transenden, menjadikan novel ini sebagai salah satu novel paling saya sukai. Ahmad Tohari menjelaskan keadaan batin tokoh tidak sekedar sambil lalu, bahkan dapat saya katakan dalam sekali. Saya menjadi semarah Rasus ketika membaca narasi kekecewaannya. Saya menjadi penuh penderitaan ketika membaca narasi dan pemikiran Srintil. Saya juga kasihan terhadap Sakarya mengenai kebingungannya antara memilih alam moderen atau tetap pada adat istiadat dukuhnya.

Adat jawa tergambar sangat kental. Ahmad Tohari tak segan-segan menyisipi beberapa tembang jawa (beberapa diantaranya adalah mantra). Dan bagusnya, penulisnya juga menerjemahkan tembang berbahasa jawa tadi ke bahasa indonesia, sehingga bagi pembaca yang tak berbahasa jawa juga dapat mengerti artinya. Tak tanggung-tanggung juga. Penyebutan beberapa macam merek senjata pun disebutkannya (Pietro Beretta, Parabellum, Lee Enfield, Thompson) untuk memperkuat karakter tentara seperti Kopral Pujo. Dengan demikian, bagi saya, penggambaran tokoh sungguh baik sekali.

Tempat kejadian perkara di novel ini memang cuma tiga: Dawuhan (kecamatan yang menaungi Dukuh Paruk), Dukuh Paruk sendiri, dan kota Eling-eling (tempat Srintil ditahan karena dituduh sebagai simpatisan PKI) tetapi tak mengurangi kepadatan cerita. Cerita tentang Rasus, Srintil dan tindak-tanduk orang-orang Dukuh Paruk ini menggabungkan unsur tradisional (mantra dan tembang), pemikiran batin yang mendalam dengan dukungan detil suasana pedesaan dan narasi penyerta karakter yang menguatkan tokoh sehingga layak dijadikan target bacaan anda.

6 responses to “Ronggeng Dukuh Paruk

  1. Ping-balik: Resensi Novel Gadis Kretek Karya Ratih Kumala | Octa Cinta Buku

  2. Buku yg keren.. aku sdh baca lama buku ini, versi cetakan lama juga..
    tp pas di film-in malah gak nonton

    Suka

  3. Ahmad Tohari itu penulis jempolll. Buku-bukunya semua bagussssss

    Suka

    • Betul sekali Bang. Saya agak kesusahan menemukan kelemahan sebagai bahan tinjauan. Detil, kedalaman karakter, tema, teknik narasi, pembukaan cerita, penutup cerita semuanya bagus (setidak-tidaknya bagi saya)

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s