The Empty Heart


TheEmptyHeart-MonicaAnggenJudul Buku: The Empty Heart
Pengarang: Monica Anggen
Jumlah Halaman: 215
Penerbit: Grasindo
Tahun Terbit: 2013
ISBN: 978-602-251-081-9

Eun Chaeri dan Jan Geun Seok bertemu secara tak sengaja di kedai. Kesamaan masalah pada hidup mereka membuat mereka saling membutuhkan dan berakhir dengan jatuh cinta. Penghalang mereka cuma satu. Ayah Eun Chaeri menginginkan agar puterinya itu menikah dengan Wong Bin, anak dari teman masa kecilnya, Han Tae Yeon.

Dua-duanya bukan dari keluarga bahagia. Eun Chaeri hanya mempunyai seorang ayah. Bukan ayah yang sempurna karena hampir setiap hari dikejar-kejar oleh penagih hutang. Jan Geun Seok juga mempunyai ibu, Ting Jae, yang melahirkannya ketika berumur tujuh belas tahun. Sifat kekanak-kanakan ibunya sangat menyiksanya. Tak pernah mau dipanggil Ibu oleh anaknya dan hanya mau bersenang-senang dengan berganti-ganti pria.

Eun dan Jan bertemu untuk pertama kali secara tak sengaja. Jan dalam keadaan mabuk karena soju sedang duduk di sebuah kedai di jalan Hongdae bertemu dengan Eun yang kehabisan tenaga dan lapar karena dikerjar penagih hutang. Sejak pertemuan itu, baik Eun dan Jan sama-sama mempunyai ketertarikan satu sama lain tetapi masih menahan diri untuk mengatakan cinta.

Suatu hari Eun pulang ke rumah dan mendapati suasana rumah berubah. Tumpukan surat hutang hilang. Kulkas terisi penuh dan berbagai macam perabotan baru bertengger disana. Kecurigaan mulai tumbuh saat ayahnya meminta dia menerima lamaran Han Tae Yeon, teman ayahnya, untuk menikah dengan anaknya, Won Bin.

Won Bin juga tidak mencintai Eun. Namun ia membutuhkan dana segar untuk drama-drama yang akan diterbitkan rumah produksinya. Dan dana tersebut akan didapatkan dari ayahnya, Han Tae Yeon. Ayahnya berjanji akan memberikan dana tersebut jika Won Bin mau menikah dengan Eun Chaeri.

Di kala hubungan Eun dan Jan semakin dekat. Eun tidak sampai hati mengabarkan kepada Jan bahwa dirinya akan menikah dengan Won Bin, malah Eun menyuruh Jan menunggunya di taman. Tapi tanpa Eun ketahui, Jan menghadiri pernikahannya. Hanya saja Jan langsung pergi dengan sedih. Kalau saja Jan mau tinggal sedikit lebih lama, dia akan mengetahui kalau pernikahan tersebut dibatalkan. Won Bin menyadari kalau Eun tidak mencintainya dan membiarkan Eun kembali pada Jan.

Ini adalah novel fanfic pertama saya. Biasanya saya cuma membaca di blog-blog ABG. Cerita-cerita fanfic memang menjamur akhir-akhir ini dan menggoda Mbak Monica Anggen untuk berstatusisasi…eh, berpartisisapi … halah … berpartisipasti … waduw … (sebentar, buka kamus dulu), berpartisipasi ikut dalam kancah fanfic.

Sejak membaca fanfic pertama kali (biasanya tokoh dari Korea) ada yang selalu menggelitik saya untuk berkomentar, yaitu pada masalah bahasa. Jika sebuah novel dikarang oleh orang Indonesia, beredar di Indonesia, maka novel tersebut berbahasa Indonesia. Jika salah satu tokohnya bertemu dengan orang asing (misalnya orang inggris), maka penggunaan bahasa inggris sebagai sisipan menjadi hal biasa (terjemahannya di catatan kaki) atau tetap berbahasa indonesia tetapi ditulis miring. Sebaliknya, jika novelnya berbahasa korea maka akan diterjemahkan dulu ke bahasa indonesia. Hasilnya tentu menjadi berbahasa indonesia, kecuali untuk kata-kata yang tak mempunyai padanan di bahasa indonesia.

Sebagai ilustrasi penjelasan saya pada paragrap diatas, saya akan mengilustrasikan seperti ini. Dalam bahasa tionghoa tidak dikenal kata paman seperti di bahasa indonesia. Bukannya tidak ada, tetapi lebih spesifik. Ada tiga kata tionghoa yang berarti paman: pe, cek, ku. Pe adalah sebutan kakak laki-laki ayah (anak-anak sering merubahnya secara manja menjadi empe). Cek adalah sebutan adik laki-laki ayah (anak-anak secara manja memanggilnya encek) sedangkan ku adalah sebutan untuk kakak atau adik laki-laki ibu (anak-anak merubahnya menjadi engku). Dengan demikian, jika saya editornya, saya akan tetap memakai empe, encek, atau engku (karena tak tergantikan).

Nah, kembali di novel ini, penulis sering memakai bahasa korea meskipun kata-kata tersebut sudah ada padanannya di bahasa indonesia (terbukti dengan adanya catatan kaki sebagai terjemahannya). Banyaknya catatan kaki membuat saya tidak nyaman karena harus sering-sering melihat terjemahannya. Disamping itu akan terasa aneh jika yang dijadikan bahasa korea hanya kata-kata tertentu, bukankah semua tokoh di novel ini orang korea? Sehingga mereka semua berbahasa korea?

Mungkin penulis ingin memberi “citra rasa korea”? Boleh-boleh saja. Namun menurut hemat saya, citra korea dapat dihidangkan pada pembaca lewat pemaparan sesuatu yang adanya cuma di korea dan penulis sebetulnya sudah melakukan, misal: adanya minuman soju, jalan-jalan di Korea, adat makanan orang korea yang sering memakai makanan fermentasi, warna pakaian tradisional korea yang cerah-cerah atau pemaparan tentang ramen (meskipun di Jepang juga ada).

Seperti yang sudah saya sebutkan diatas. Penggambaran ramen di dalam novel ini sangat menarik. Asli, lho, saya sampai sempat meneteskan air liur karena gambarannya membuat saya berimajinasi “Betapa enaknya ramen itu”. Cuplikan berikut ada di halaman 152-153

….rasanya terlalu sempurna karena ramen disini terasa begitu lembut dan segar dan diolah secara langsung tanpa sedikit pun menggunakan bahan pengawet. Penyajiannya yang dipadukan dengan kontotsu yang dimasak berjam-jam membuat ramen ini memiliki rasa yang luar biasa. Belum lagi penambahan irisan daging panggang, daun bawang, dan bubuk bawang putih yang sudah digoreng kering…..

Alur ceritanya menarik. Bahkan plotnya juga banyak: Masalah Eun dan Jan, masalah ayah Eun yang terlibat hutang, masalah Won dan ayahnya, masalah Jan dan ibunya, masalah Jan dan bekas pacarnya. Tetapi sayangnya novel ini terlalu tipis untuk memaparkan plotnya. Andai lebih tebal sedikit maka saya lebih memilih novel ini daripada kedua novel dari penulis yang sama: Love, Edelweiss, and me dan When I Met You.

Novel so sweet ini cukup bagus untuk ukuran teenlit. Mempunyai pembukaan cerita yang menarik sehingga menimbulkan rasa penasaran, tidak tebal, lebih banyak dialog, dan berakhir manis. Layak diperhitungkan sebagai bacaan remaja.


Karya Monica Anggen Lainnya:


2 responses to “The Empty Heart

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s