Dengarlah Nyanyian Angin


DengarkaNyanyianAngin-harukiMurakamiJudul Buku: Dengarlah Nyanyian Angin
Pengarang: Haruki Murakami
Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia (KPG)
Tahun Terbit: 2013
Tebal Halaman: 119
ISBN: 978-979-91-0562-2

Aku mengalami masa tak terlupakan saat mengunjungi kota tempat tinggalnya. Disana ia menjumpai Jay, Nezumi dan Gadis berjari empat.

Aku adalah mahasiswa sebuah perguruan tinggi di Tokyo. Suatu ketika dia berlibur di kota tempat tinggalnya di sebuah kota pelabuhan. Liburannya dimulai pada tanggal 8 Agustus 1970 dan berakhir pada 26 Agustus 1970. Mulailah dia bernostalgia, pertama-tama, dengan Nezumi. Kedua, dengan seorang gadis yang jari tangan kirinya hanya berjumlah empat.

Nezumi adalah profil pemuda kaya tapi tidak menyukai orang kaya. Bukan pembaca buku dan bercita-cita menjadi penulis novel. Mereka bertemu saat pertama kali memasuki perguruan tinggi. Dalam keadaan mabuk Nezumi mengendarai Fiat hitam 600 dan mengalami kecelakaan. Namun mereka berdua selamat. Setelah peristiwa ini mereka pergi ke pantai. Pada pembicaraan-pembicaraan di saat itulah mereka saling akrab.

Aku bertemu dengan gadis berjari empat di sebuah bar. Ia menemukannya dalam keadaan pingsan di toilet. Aku kemudian mencari-cari alamatnya di tas gadis itu lantas memulangkannya ke rumah gadis itu sendiri. Esoknya gadis ini marah karena menemukan dirinya dan Aku telanjang. Dia mengira Si Aku menidurinya saat dia tak sadar. Hubungan mereka membaik setelah gadis ini menelepon Aku dan mulai mengajaknya makan dan jalan-jalan. Suatu ketika gadis ini memberitukan kepada Aku kalau dia akan berpergian. Lama kemudian gadis ini mengakui bahwa dia sebenarnya tak berpergian tetapi menjalani aborsi sehingga dia membutuhkan beberapa waktu untuk berpisah dengan Aku.

Disaat Aku menginjak usia dua puluh sembilan ia mendapati banyak perubahan besar pada masa lalunya. Nezumi menjadi penulis novel, Jay sang pemilik Jay’s Bar membuat bar-nya tampak lebih cantik setelah tempatnya mengalami pelebaran jalan. Gadis berjari empat tak tahu kemana ribanya. Si Aku kemudian pergi ke Amerika untuk mengunjungi makam penulis yang dikaguminya: Derek Heartfield. Penulis ini mati bunuh diri dengan menerjunkan dirinya dari balkon gedung Empire State Building, New York.

Jujur saja, saya mengalami kesulitan ketika membuat ringkasan novel ini. Kesulitan saya terletak dari teknik narasi novel ini. Tokoh utama novel ini adalah Aku, tak bernama, dan menceritakan dirinya seakan-akan menulis diari. Dia bercerita tanpa fokus tertentu. Tanpa urutan waktu yang jelas. Saya memberikan analogi seperti ini, andai saya menceritakan keseharian seseorang bernama Paiman. Paiman bercerita dari dia bangun di pagi hari sampai tidur di malam hari. Paiman bisa bercerita apa saja pada rentang waktu tersebut. Dan bisa saja ceritanya antara satu dan lainnya tak berhubungan. Lantas bagaimana meringkasnya selain: Cerita ini adalah mengenai keseharian seseorang bernama Paiman. Sudah sampai disitu. Atau pada kasus novel ini saya mengatakan: Novel ini bercerita tentang liburan tokoh Aku di kota tempat tinggalnya. Selesai. Namun saya tetap berusaha agar pembaca mendapatkan gambaran cerita dari novel. Sehingga saya memutuskan menampilkan tiga besar masalah dalam novel ini berdasarkan karakter yang dijumpai oleh tokoh Aku dan hasilnya seperti yang sudah anda baca di paragrap awal.

Acungan jempol saya tujukan pada pemaparan setting tempat dan penokohan. Nilai saya bagus. Bahkan bisa dikatakan ada-ada saja yang dilakukan penulis untuk memberitakan setting cerita. Tokoh-tokohnya lumayan berkarakter. Dalam arti, masing-masing individu mempunyai perilaku yang dapat dibedakan. Contoh: ada seorang gadis berjari empat; Aku adalah penggemar sastra (didukung dengan menampilkan beberapa karya sastra)

Akan tetapi saya gagal bersimpati pada minimal salah satu tokoh. Saya tak merasakan satu emosi pun. Sesuatu yang biasanya saya rasakan di novel-novel lain. Mungkin ini disebabkan saya tak merasakan empati antar tokoh. Nezumi dan Aku bercerita dalam kapasitas biasa. Seakan-akan mereka bertemu daripada tak ada kerjaan. Tak ada ketergantungan emosi ataupun hubungan sebab akibat diantara keduanya. Demikian juga antara Aku dan gadis berjari empat. Mereka hanya bertemu kebetulan. Seranjang dalam keadaan telanjang, setelah Aku pergi ke Tokyo, tak ada perpisahan. Tak ada pembicaraan. Bahkan saat tokoh Aku kembali ke kota pelabuhan tersebut, gadis ini sudah menghilang. Oleh karena itu saya tak sependapat dengan blurb pada sampul belakang. Disana dikatakan Aku mempunyai kekasih gadis manis yang menggugurkan kandungannya (gadis berjari empat ini). Darimana kesimpulan bahwa Aku dan gadis berjari empat ini berpacaran? Apakah menemukan gadis pingsan di toilet kemudian membawanya pulang ke rumahnya dan esoknya mereka telanjang bulat dapat dikatakan berpacaran. Atau apakah dari narasi mereka setelah itu sering ketemu dan makan bersama? Tak ada acara mengucapkan cinta. Tak ada perkataan yang menyatakan Aku atau gadis ini saling mencintai.

Pada blurb juga dinyatakan bahwa tokoh Aku terobsesi pada penulis Amerika. Meskipun ada pembahasan sedikit terutama di awal cerita dan akhir cerita (saat dia mengunjungi makam seorang penulis) dan ada pemaparan tentang kesenangan Aku pada sastra, namun saya tak menemukan petunjuk bahwa tokoh Aku terobsesi pada penulis Amerika. Bandingkan dengan novel The Vanished Man karya Jeffrey Deaver, yang di Indonesia diterjemahkan menjadi Sang Perapal. Tokoh penjahat di sana begitu terobsesi dengan gurunya sehingga membalas dendam pada orang-orang yang dituduhnya sebagai pembunuh gurunya. Dan tidak hanya dendam, dia juga meniru semua trik guru ilusionisnya. Ini baru dikatakan terobsesi.

Namun jangan terlalu percaya dengan tulisan saya. Silakan anda membaca novel ini sebagai bahan pertimbangan anda sendiri. Jangan lupa memberitahu saya komentar anda tentang novel ini agar saya bisa belajar memahami novel ini dengan lebih baik.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s