The Key


TheKey-JunichiroTanizakiJudul Buku: The Key
Pengarang: Junichiro Tanizaki
Penerbit: Serambi
Tahun Terbit: 2012
Tebal Halaman: 195
ISBN: 978-979-024-385-9

Ikuko mempunyai suami yang sangat mencintainya. Namun sang suami mempunyai cara-cara berhubungan seksual yang tak disukai Ikuko. Sehingga sang suami mencari cara agar Ikuko dapat memuaskan hasratnya

Suami Ikuko sangat berhasrat berhubungan seksual dengan istrinya, Ikuko. Hanya saja Ikuko adalah produk kuno wanita Jepang jaman dulu. Ikuko lebih suka berhubungan badan dalam keadaan gelap. Ia pun tak mengijinkan suaminya melihat bagian bawah tubuhnya. Padahal suami Ikuko yang berusia 55 tahun itu sangat mengagumi kaki istrinya yang berusia 40-an.

Komunikasi yang buntu diantara suami-istri ini menyebabkan mereka mencari cara lain. Lewat buku harian. Mulai saat tahun baru, suami Ikuko menulis segala kegalauan tentang hubungan seksual tersebut. Ikuko pun tak mau kalah. Setelah mengetahui suaminya mempunyai buku harian, maka ia pun mulai menulis buku harian juga.

Dalam salah satu catatannya di buku harian, si suami menyatakan kelemahannya dalam berhubungan seksual karena istrinya hanya memakai cara yang sama selama bertahun-tahun. Dia bosan. Sesekali ia ingin berhubungan dengan cahaya yang terang sehingga ia dapat melihat tubuh istrinya. Untuk membuat gairahnya agar membara inilah maka dia memanfaatkan Kimura. Suami Ikuko sengaja membuat keadaan agar Ikuko menyukai Kimura. Rasa cemburu akibat memikirkan hubungan Ikuko-Kimura inilah yang memicu gairahnya.

Semakin lama hubungan Kimura-Ikuko bertambah mesra. Bahkan mereka sering mengadakan pertemukan di Osaka, di sebuah tempat kecil untuk memadu cinta. Namun Ikuko pun tak dapat sepenuhnya disalahkan, karena anak mereka, Toshiko, turut berperan dalam membantu kelancaran perselingkuhan ini.

Sejak menjalin hubungan dengan Kimura, Ikuko mulai lunak terhadap pendiriannya sendiri. Pelan-pelan ia membiarkan suaminya melakukan semua fantasi seks yang dia miliki. Suami Ikuko mulai bergairah kembali, gairah yang membawanya pada kematian. Saat itu, setelah melakukan hubungan suami-istri, suaminya terkena stroke dan meninggal pada bulan Mei.

Narasi pada novel ini disajikan sebagai catatan diari dari Ikuko dan suaminya. Suatu gaya unik. Saya pribadi baru pertama kali membaca novel dengan model seperti ini sebab jika berbentuk diari, biasanya cuma diari dari satu orang sajaseperti Waktu Aku Sama Mika, karya Indi—tetapi novel ini berisi dua diari dari orang yang berbeda.

Novel ini bukan novel aksi raga. Cerita lebih cenderung memaparkan keadaan jiwa tokoh-tokohnya dan memberikan alasan kenapa tokoh-tokohnya bertindak seperti itu serta pertentangan psikologis dengan tokoh lainnya. Keadaan kejiwaan yang dilukiskan pun termasuk keadaan pemikiran berat. Biasa saya katakan jika ada aksi oleh raga (seperti meninju, memukul, menangis, dll) maka novel ini menggambarkan aksi jiwa (cemburu, Kepatuhan Ikuko pada adat kuno, ketakutan suami Ikuko akan kehilangan kemampuan seksualnya)

Yang lebih mengejutkan saya, Junichiro Tanizaki juga mempunyai pengetahuan tentang obat-obatan dan medis. Lihat bagaimana Dokter Kodama memberikan suntikan Vitacamphor untuk Ikuko (hal. 28) atau saat suami Ikuko memberikan tablet luminal dan quadronox (hal. 35) padanya. Bahkan saat suami Ikuko dalam keadaan stroke, penulis juga menggambarkan keadaan tekanan darah suami Ikuko yang berubah-ubah. Penulis benar-benar tidak setengah hati sewaktu membuat novel ini. Saya jadi ingat Montase karya Windy Ramadhani. Disitu penulis memasukkan dunia sinematographi sebagai latar belakang cerita. Benar-benar bagus, tidak dibuat-buat.

Namun ada beberapa hal yang membuat saya sejenak mengernyitkan dahi. Kemasabodohan Toshiko sebagai anak Ikuko yang membiarkan ibunya berselingkuh, bahkan membantu mencarikan tempat sungguh membuat saya tak habis pikir. Memang ada ya? Begitu juga dengan kecuekan suami Ikuko. Jarang sekali sekali dia menanyakan istrinya pergi kemana? Sayang sekali sebagai tokoh kunci perselingkuhan, pandangan-pandangan Toshiko tak banyak diulas oleh penulis. Tokoh Toshiko cuma menjadi tokoh datar tanpa emosi. Saya sampai merasa seperti ada cerita yang tak selesai. Di akhir cerita pun, Toshiko seakan pasrah diperistri Kimura supaya Kimura dan ibunya terus berhubungan.

Akhir kata, sebagai penambah wawasan sastra Indonesia. Novel ini bisa menjadi sumber inspirasi penggambaran latar belakang yang berhubungan dengan masalah utama dan penggambaran keadaan psikologis karakter novel. Pemakaian detil obat-obatan dan tindakan medis agak menonjol (meskipun tak seperti Marga T) namun kurang sedikit di setting tempat.

One response to “The Key

  1. Kalo yang ginian mending ga beli ah. Takut dibaca anak-anak🙂

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s