Nyoman Sulastri


nyoman sulastri; gerson poyk; libriJudul : Nyoman Sulastri
Pengarang: Gerson Poyk
Tahun Terbit: 2012
Penerbit: Libri
Jumlah Halaman: 232
ISBN: 978-602-7688-01-8

Secara tak sengaja Hanibal datang ke warung Nyoman. Perkenalan mereka membawa Nyoman mengetahui latar belakang kelam Hanibal dengan dua istri sebelumnya dan bersedia menikah dengan Hanibal.

Nyoman Sulastri hanyalah lulusan SPG. Dia jenuh menunggu pengangkatan menjadi guru. Menyadari keluarganya bukan orang berada dan bersaudara banyak maka ia memutuskan untuk mencari penghasilan sendiri dengan membuka warung makanan di Desa Bedaulu, Pulau Bali.

Suatu hari ia kedatangan pria berpakaian lusuh. Orang tersebut sering makan dan minum kopi namun tak pernah membayar. Pria tersebut meminta Nyoman untuk mencatat segala hutangnya dan berjanji suatu ketika akan membayarnya. Nyoman tak berkeberatan. Bukan saja karena belas kasihan, tetapi ia merasa ada sesuatu yang menarik pada diri pria itu.

Tiba-tiba saja pria itu tak pernah datang ke warungnya. Nyoman merasa kangen. Ia menyadari kalau dirinya mungkin jatuh cinta pada pemuda tersebut. Dia juga yakin bahwa pria itu juga menyukainya. Itu bisa dilihat dari rasa cemburunya ketika beberapa pengunjung warung sesekali mencubit paha dan memegang-megang lengannya.

Beberapa waktu kemudian pria tersebut datang kembali. Kali ini penampilannya lain daripada biasanya. Ia membawa mobil jeep tentara dan dua orang. Satu bernama Wayan Panci dan lainnya bernama Sujono. Sekarang Nyoman mengetahui kalau nama pria tersebut adalah Hanibal. Pria itu datang dengan dua permasalahan. Pertama mengenai keinginannya menerbitkan majalah kebudayaan di Bali dalam bahasa inggris. Kedua, dia berjanji akan menikahi Nyoman.

Nyoman tentu saja menerima cinta Hanibal. Maka resmilah ia sering-sering ke tempat tinggal Hanibal. Sewaktu ia datang ke tempat Hanibal, Nyoman tak sengaja menemukan catatan Hanibal. Di dalam buku tersebutlah terkuak masalalu Habinal.

Hanibal ternyata pernah mempunyai istri. Namanya Ineke. Seorang pelacur berumur 16 tahun di Banyuwangi. Dari Ineke, Hanibal mempunyai seorang anak laki-laki. Suatu saat ketika berlibur ke kebun binatang, Ineke bertemu dengan bekas langganannya. Pria itu mencium Ineke. Hanibal cemburu tetapi berusaha menahan diri. Kecemburuan ini berbuah sebuah pikiran. Ia membujuk Ineke untuk pindah ke tanah kelahiran Hanibal. Disana Hanibal mendapat warisan dari orangtuanya yang dapat dipakai untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Malang, saat semuanya terlihat baik, bencana datang. Orang-orang tak suka pada cara Hanibal mengajari kerbau untuk membajak. Apalagi dengan pembuatan kandang bagi kerbau. Di tempat tinggalnya, sawah diolah dengan dicangkul dan kerbau dibiarkan berkeliaran. Kemarahan mereka ditunjukkan dengan membakar warung makan Ineke dan mengirimkan surat ancaman agar mereka segera meninggalkan pulau tersebut. Hanibal kuatir dengan keselamatan istri dan anaknya. Pada malam hari, mereka bergegas meninggalkan pulau tersebut. Di tengah laut, kapal mereka terkena badai. Ineke dan anaknya terlempar ke lautan.

Sesudah selamat, Hanibal menetap di Jakarta. Sekali lagi dia menikah dengan seseorang yang terpelajar dan mempunyai anak. Hanibal meminta pada istrinya agar keluar dari tempat pekerjaannya dan membuka warung untuk mencari penghasilan. Istrinya tentu saja tidak mau melepas pekerjaan di kantornya demi menjadi penjaga warung. Keributan-keributan karena perbedaan prinsip ini akhirnya memuncak pada perceraian.

Novel ini mempunyai struktur tak biasa. 232 halaman novel hanya dibagi menjadi tiga bagian. Bagian pertama mengisahkan pertemuan Nyoman dan Hanibal sampai pada masa pacaran mereka. Bagian kedua bercerita tentang masalalu Hanibal. Bagian ketiga tentang pernikahan mereka.

Mengambil tempat kejadian di Bali dan Pulau-pulau bagian timur Indonesia, novel ini menampilkan keelokan pulau dan selentingan kehidupan mereka. Setting tempat Bali dituturkan ketika mengeksplorasi tempat kejadian di sekitar Nyoman. Sedangkan pemaparan pulau-pulau bagian timur dituturkan saat Hanibal dan kawan-kawannya memaparkan keinginannya berkeliling dari Bali menuju ke Australia serta saat Nyoman membaca diari yang berisi masalalu Hanibal.

Bahasa pada novel ini cukup bagus. Meskipun terjadi di Bali, tak satupun ada bahasa Bali (bandingkan dengan Maria Tsabat karya Herlinateins, terbitan Divapress). Pada Maria Tsabat, saya bingung karena adanya beberapa kata bahasa bali yang tak diterjemahkan.

Saat berbicara dengan orang-orang dari Amerika pun, tak ada satupun kata-kata berbahasa inggris (bandingkan dengan Selamanya Cinta milik Rustam Effendy terbitan Andi). Pada Selamanya Cinta, rupanya penulis menganggap semua orang bisa berbahasa inggris dengan baik, sehingga kalimat-kalimat berbahasa inggris tak diterjemahkan. Bahasa-bahasa tidak baku memang sesekali digunakan, hanya yang umum saja. Saya pribadi senang dengan penulisan bahasa inggris di novel ini yang tetap memakai bahasa indonesia.

Dua tokoh utama, Nyoman dan Hanibal juga diceritakan dengan baik. Novel ini penuh dengan penggambaran keadaan batin tokoh-tokohnya. Setiap dasar pendirian dan tingkah laku tokohnya dijelaskan. Penjelasan ini diperkuat dengan penggunaan sudut pandang orang pertama, baik saat menceritakan Nyoman (bagian 1) dan Hanibal (bagian 2). Pada bagian 1, penulis menggunakan alur maju sedangkan pada bagian 2 menggunakan alur mundur (flashback) dimulai saat penemuan diari Hanibal oleh Nyoman di rak buku Hanibal. Karena porsi penceritaan yang besar dan adanya perkembangan karakter, maka bisa ditebak bahwa Hanibal dan Nyoman adalah rounded character (karakter yang berkembang dalam novel).

Plot tidak banyak dan banyak memakai narasi-narasi panjang. Terutama pada bagian ke-2, saat Nyoman membaca catatan Hanibal tentang masalalunya. Saya pribadi lebih menyukai jika narasi panjang dipecah-pecah untuk bergantian ditampilkan dengan narasi lain. Mengenai pemecahan seperti ini, saya menyukai Musim Panas di Danau Willow karya Susan Wiggs. Pada novel tersebut, narasi tentang masalalu juga cukup panjang tetapi Susan Wiggs menampilkan dengan berselang-seling.

Muatan budaya, penggambaran daerah-daerah timur Indonesia dan kisah romansa Nyoman Sulastri-Hanibal disajikan cukup ringan. Anda tak perlu menyiapkan ruangan khusus untuk mencerna novel ini karena anda dapat membacanya dimana saja dan tak perlu menyediakan tisu untuk mengusap air mata.

4 responses to “Nyoman Sulastri

  1. Bagus nampaknya.. Gerson Pyok ini kalau gak salah sering juga nulis di cerpen kompas minggu ya Mas Octa ?

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s