Shadow Light


shadow light, putu felisa, grasindoJudul Buku: Shadow Light
Pengarang: Putu Felisia
Tahun Terbit: 2011
Penerbit: Gradien Mediatama
Tebal Halaman: 280
ISBN: 978-602-208-013-8

Lee Shin bimbang setelah mengetahui bahwa Agni adalah pacar Joong, musuh bebuyutannya, padahal ia sudah terlanjur jatuh cinta. Agni pun jadi membenci Lee Shin setelah mengetahui bahwa pria itu pembunuh kekasihnya

Sehari-hari Lee Shin dikenal sebagai wartawan media grup Siddharta Corp. Suatu pekerjaan yang menjemukan baginya, karenannya ia lebih menikmati pekerjaan sebenarnya sebagai agen International Secret Agency for a very secret Mission (ISM). Di ISM inilah, Lee Shin mempunyai nama kode Light.

Beberapa waktu sebelumnya, ia harus berhadapan dengan musuh bebuyutannya, Shadow, alias Joong. Sebuah peluru telah mengenai kepala Shin dan sebaliknya, sebuah peluru juga membuat Joong terluka parah. Sejak saat itu ia dibebastugaskan untuk pekerjaan lapangan oleh Ochid, atasannya di ISM.

Takdir rupanya masih mempertemukan Shin dengan kelompok Death Hand, kelompok pembunuh bayaran yang dikepalai, Taejo Yamada, tempat Joong bergabung. Death Hand mempunyai rencana akan membunuh pengusaha Wijaya Wangsattama. Namun anehnya, ada salah satu pembunuh mereka yang mencoba melindungi pengusaha tersebut. Pembunuh tersebut bernama Agni. Shin akhirnya memahami kenapa Agni melindungi pengusaha tersebut. Wijaya Wangsattama adalah ayah tiri Agni. Perkenalan dengan Agni membuat Lee Shin menjadi jatuh hati pada gadis itu. Di kemudian hari, Shin mendapatkan kenyataan kalau Agni adalah kekasih Joong. Ia kuatir kalau Agni akan membencinya jika dia tahu bahwa Shin adalah penembak Joong.

Suatu saat Shin menyadari bahwa sebenarnya sasaran pembunuhan bukan Wijaya Wangsattama melainkan Agni. Rencana pembunuhan ini dilaksanakan oleh Phoenix, seorang wanita anggota Taejo Yamada dari kelompok Thunder. Disaat-saat genting, ketika Phoenix akan menghabisi nyawa Agni, kelompok Deathloard muncul. Deathloard tidak terima jika Agni akan dibunuh oleh kelompok Thunder maka kedua kelompok ini bertarung dan dimenangkan oleh Deathloard yang dipimpin oleh Ren Raizo.

Sewaktu mendengar sedikit bocoran dari beberapa orang, kalau novel ini tentang kriminal dan asmara. Saya berpikir ini pasti seperti James Bond 007. Namun pikiran saya berubah saat saya membaca adegan kedatangan para pembunuh saat berhadapan dengan Agni dan Lee. Mereka digambarkan seperti garis-garis berwarna hitam. Saya jadi teringat penggambaran kedatangan tokoh pendekar di komik-komik semacam Tiger Wong. Begitu juga dengan adegan menghadapi peluru dengan kusarigama (senjata ala ninja berupa dua pisau clurit yang dihubungkan dengan tali panjang). Memang, James Bond juga menghadirkan senjata-senjata aneh dan bombastis. Tetapi bedanya James Bond selalu berhubungan dengan teknologi sementara di novel ini adalah senjata manual. Dengan demikian saya agak sulit membandingkan novel ini dengan novel lainnya untuk mencari penilaian.

Pembukaan novel cukup menarik ala film-film Hollywood. Dibuka dengan adegan pembunuhan. Tokoh utama langsung diperkenalkan. Sepanjang novel adegan-adegan perkelahian juga digambarkan dengan baik. Hanya saja, menurut saya, kesan yang timbul dari narasinya membuat saya berpikiran bahwa kelompok pembunuhnya bekerja secara tradisional. Ala ninja-ninja.

Pemaparan senjata moderen tidak terlalu menyolok. Bahkan markas para pembunuh terkesan biasa meskipun ada bayangan dari narasinya kalau markas tersebut berteknologi dan terletak di tempat terpencil. Angan saya kembali ke Trio Dektektif. Penggambaran markas Trio Dektektif oleh Alfred Hitchcock sungguh menimbulkan imajinasi. Saya sampai membayangkan punya kamar di tumpukan barang-barang rombengan gara-gara pemaparan penulis Trio Dektektif ini.

Mungkin jika disebutkan beberapa jenis senjata semacam: Glock, Smith & Wesson, atau Beretta dengan mendeskripsikan di beberapa kesempatan akan lebih memunculkan “rasa gangster”. Begitu juga dengan “rasa teknologi”. Mungkin akan membantu jika disebutkan seperti: mempunyai server yang berada di pesawat udara selama 24 jam (untuk membuat jaringan internet pribadi agar sukar di-hacking) atau deskripsi agak banyak tentang sekuriti di markas para pembunuh tersebut seperti memasang gelang di masing-masing pembunuh dan gelang tersebut bisa meledak jika mereka berkhianat.

Plot lumayan maut. Banyak percabangan masalah yang cukup bagus untuk mendukung cerita. Bagi saya cerita sampingan yang bagus justru di Agni dan ayahnya. Kenapa? Penggambarannya cukup menyentuh. Perasaan duka Agni karena merasa ditelantarkan ayahnya tetapi tetap mencintai ayahnya dan membuat Agni ingin melindunginya dari pembunuhan kelompok Phoenix. Sementara untuk masalah asmara baik Agni-Lee dan Agni-Joong kurang greget. Chemistry mereka masih kurang. Jika saya melihat struktur ceritanya, sebetulnya ada celah bagus mengolah asmara Agni dan Joong.

Akhir cerita bagus. Saya suka. Setidak-tidaknya saya terkecoh. Saya pikir Lee Shin dan Agni akhirnya bersatu ternyata tidak. Bahkan kemunculan Ren di akhir cerita menimbulkan misteri. Sepertinya penulis memberi isyarat ceritanya belum selesai sampai disini.

Sebagai tipe novel yang berbeda dari lain-lainnya. Membaca Shadow Light memberikan pengalaman tersendiri bagi pembaca. Apalagi jika pesona Indonesia lebih diutamakan. Banyak lho hutan-hutan di Indonesia yang bisa dijadikan markas tersembunyi kelompok kriminal. Atau mereka bertarung di air terjun Madakaripura, Probolinggo Jawa Timur (Sherlock Holmes pernah berkelahi di air terjun). Mbak Putu Felisia bisa riset sambil berwisata.

2 responses to “Shadow Light

  1. bagaimana cara mengirim naskah novel

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s