Love, Lies, Loss


love, lies, loss, penerbitan pelangi indonesia, kunthi historiniJudul Buku: Love, Lies, Loss
Penulis: Kunthi Hastorini
Penerbit: P.T. Penerbitan Pelangi Indonesia
Tahun Terbit: 2013
Tebal Halaman:265
ISBN: 978-602-1627-12-9

Nanda mempunyai dua persoalan yang harus diselesaikan. Memilih Bagas atau Bara sebagai kekasihnya dan mengatasi akibat dari perceraian orangtuanya

Nanda dan Bagas telah berteman semenjak kecil. Mereka saling tahu banyak satu sama lain. Oleh karena itu Nanda terkejut ketika tiba-tiba Bagas sudah berpacaran dengan Tiara. Nanda tahu diri. Pelan-pelan dia mulai menjauhi Bagas. Bukan saja karena kecemburuan Tiara, lebih dari itu, karena dia sendiri pun mengalami problema. Ayah dan Ibunya bercerai. Ayahnya menikah lagi dengan seorang artis.

Selepas SMA. Tanpa sengaja Bagas dan Nanda bersama dalam satu sekolah. Keadaan menjadi terbalik. Kali ini Nanda yang sedang sedang jatuh cinta. Ia mengagumi sosok Bara Martian. Seorang penulis artikel yang sering mengirimkan artikelnya ke majalah sekolah dengan Nanda sebagai editornya.

Nanda tak merasa bahwa kedekatannya dengan Bara merusak hubungannya dengan Bagas. Nanda berpikiran Bagas pun berpacaran dengan Natasha jadi apa salahnya jika ia melakukan hal yang sama. Bara menyatakan cinta pada Nanda. Gadis itu masih bimbang. Ia meminta Bara untuk memberinya waktu.

Suatu ketika tanpa sengaja, Nanda melihat Bara sedang bersama teman-temannya. Ia mendengar dari mulut Bara sendiri bahwa pria itu cuma menganggapnya sebagai teman. Langsung saja Nanda marah. Ia memang belum memberikan jawaban pada Bara, tetapi Bara sudah pernah menciumnya dan mereka pun sudah dapat dikatakan berkencan. Bagaimana bisa Bara cuma menganggapnya sebagai teman?

Nanda terkejut saat Bagas menyatakan cinta juga. Nanda baru mengetahui bahwa Natasha bukanlah pacar Bagas. Nanda semakin bertambah bingung. Bagas sangat berjasa kepada dirinya: Menemani masa sulit perceraian orangtuanya, mencarikan rumah baru bagi mereka dan mengungkapkan perbuatan asusila Pak RT tempat tinggalnya sehingga nama ibunya bersih dari gunjingan tetangga, sehingga ia segan menolaknya.

Di tengah kekacauan pikirannya. Nanda menemukan kepuasan dengan mengobrol dengan teman mayanya, Abimanyu Rahardian. Nanda ingin berteman dengan Abimanyu karena ia melihat bahwa di salah satu foto Abi terdapat foto ayahnya, Restu. Sedikit demi sedikit terkuak misteri pertemanan ayahnya dengannya. Sampai suatu ketika Abi memberitahu Nanda bahwa ayahnya masuk rumah sakit karena gagal ginjal.

Nanda memberitahu ibunya bahwa ia menginginkan mendonorkan ginjal untuk ayahnya. Semula Ratna, ibunya, menolak. Namun cerita tentang suaminya yang disampaikan Nanda membuatnya mengubah pendiriannya. Nandita, istri suaminya, meninggalkan Restu karena tidak mau bersusah payah merawatnya. Sementara Restu sendiri memang tak mau membebani siapa pun atas penyakitnya tersebut. Ratna mengambil keputusan akan mendonorkan ginjalnya sendiri.

Setelah selesai dengan masalah ayahnya. Nanda sudah mempunyai bayangan, siapakah dari Bara dan Bagas yang akan dipilihnya.

Saat menggenggam novel ini untuk pertama kalinya, perhatian saya tercurah pada sampulnya. Anda tentu sudah melihat gambar sampul di artikel saya ini. Gambar dua hati tersebut diselimuti kain bulu-bulu semacam kain boneka. Entah apa nama kainnya. Cukup inovatif. Kertas cukup tebal. Sampul termasuk keras. Tidak mudah sobek. Tetapi….rawan putus karena ketebalannya membuatnya agak sulit dibuka. Dan….font-nya mengejutkan. Cukup besar. Seingat saya, ini adalah novel dengan font paling besar yang saya baca. Kalau menurut saya. Font jenis ini kurang proporsional jika dibandingkan dengan ukuran novelnya. Apalagi bentuk bold dari font juga kurang manis dilihat. Saya agak sukar membedakan bentuk miring dan tegak dari font ini.

Temanya khas teenlit. Seorang gadis harus memilih pacar dari dua pria yang ada. Disamping dua cerita minor: penistaan ibu Nanda oleh Ketua RT dan masalah perceraian orangtua Nanda. Saya menyenangi penggambaran karakter Nanda dan Bagas. Penulis menjelajahi pikiran para tokoh (dialog batin) dengan cukup baik, apalagi tokoh Bagas dan Nanda juga bergantian menggunakan POV 1 (sudut pandang pertama) sehingga penjelajahan pikiran masing-masing tokoh semakin dalam. Bagi saya penggambaran dialog batin untuk novel-novel dengan tipe drama kehidupan memang harus menonjol. Kenapa? Justru ini menariknya. Ini yang saya beli: Pikiran tokoh satu terhadap yang lain. Pertentangan batin antara tokoh satu dengan yang lainnya atau dengan dirinya sendiri, sedikit aksi yang membuat emosi (tindakan Ketua RT terhadap ibu Nanda, saat-saat ayah Nanda meninggalkan rumah karena bercerai, adu fisik Bara dan Bagas).

Penggunaan bahasa asing di novel ini cukup banyak. Saya pribadi tak dapat menyalahkan. Alasan saya karena penulis menggunakan POV 1. Andai POV 3, saya tidak setuju. Seperti yang anda ketahui, adalah hal yang masuk akal, seseorang sering mencampur Bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia dalam percakapan. Jika penulis menggunakan POV 1 maka sudah pasti tokoh “Aku” menarasikan dengan gaya bahasa tokoh tersebut.

Mengenai penggunaan Bahasa Indonesia. Saya memiliki beberapa catatan.

  1. Saya agak bingung dengan kalimat Pintu membuka dengan suara deritnya yang khas (halaman 19). Kenapa Pintu bisa membuka? Apakah tidak sebaiknya Pintu dibuka dengan suara deritnya yang khas? atau Pintu terbuka….

  2. Penggunaan kata-kata yang jarang digunakan seperti keriap, fasad, lindap saya acungi jempol. Bagi saya, novel juga dapat dikatakan penjaga bahasa. Penggunaan kata-kata yang hampir punah seperti ini membuat kata-kata tersebut dikenal kembali.

  3. Penggunaan bahasa daerah memang tak masalah. Seorang tokoh dari jawa masuk akal saya mencampurkan bahasa daerah ke dalam percakapannya. Hanya saja kenapa tidak ada catatan kaki. Saya membayangkan begini. Andai penulis orang Madura dan menggunakan beberapa Bahasa Madura. Apa tidak bingung orang jawa? Bahasa Inggris masih bisa dicari melalui google atau kamus, tetapi kalau bahasa daerah? Sebagai referensi, bisa dilihat di kudu (hal 115)

Sebagai debut awal penulis membuat novel, buku ini bagus. Satu cerita utama dengan dua cerita minor. Dua round character (Bagas, Nanda), beberapa flat character (Natasha, Tiara, Pak RT), satu messenger character (Abimanyu) dan penutupan manis oleh keputusan Nanda, menjadikannya patut dipertimbangkan sebagai bacaan untuk remaja.

Iklan

5 responses to “Love, Lies, Loss

  1. halo, kak octa.
    salam kenal.
    resensinya bagus dan banyak membahas segi-segi menarik novelnya. jadi tertarik untuk baca 😀

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s