Mengungkit Pembunuhan


mengungkit pembunuhan. agatha christie, gramedia pustaka utamaJudul Buku: Mengungkit Pembunuhan
Penulis: Agatha Christie
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Alihbahasa: Alex Tri Kantjono W
Tebal Halaman: 399
Tahun Terbit: 1990
ISBN: 979-403-263-8

Carla Crayle datang kepada Poirot dan memintanya untuk mengusut kematian ayahnya, Amyas Crayle, yang terjadi 16 tahun yang lalu. Dalam sidang pengadilan diputuskan bahwa Caroline Crayle, istri Amyas, bersalah tetapi Carla masih ragu.

Setelah kedatangan Carla untuk memintanya menyelidiki kematian ayahnya. Hercule Poirot mendatangi Jaksa (Quentin Fogg), Pembela (Sir Montague Depleach) serta pengacara keluarga Crayle (Mr Caleb Jonathan), Inspektur Polisi yang menangani masalah tersebut (Hale) dan kelima orang yang ada di tempat kejadian pembunuhan tersebut. Kelima orang tersebut adalah: Kakak adik Meredith Blake dan Philip Blake (teman masa kecil Amyas dan Caroline, sekaligus tetangga), Cecilia William (Pengasuh Angela Waren), Angela Waren (adik tiri Caroline Crayle), Lady Dittisham (Kekasih sementara Amyas Crayle, semasa gadis bernama Elsa Greer).

Komentar dan pernyataan mereka rata-rata memberatkan Caroline. Hanya Angela Waren yang yakin kalau kakak tirinya tersebut tidak bersalah. Carla Crayle kecewa namun Poirot menyemangati Carla dan segera mengundang kelima orang tersebut untuk hadir di rumah Meredith Blake untuk mendapatkan penjelasan dari Poirot.

Fakta pengadilan menyatakan bahwa Caroline Crayle dinyatakan bersalah karena meracuni Amyas Crayle dengan coniine. Racun tersebut dicurinya terlebih dahulu dari rumah Meredith Blake. Dia mengakui bahwa dia mengambil Coniine (racun dari hasil ekstrak cemara bintik) yang sebenarnya akan digunakannya untuk bunuh diri. Botol tempat menyimpan racun tersebut pun juga hanya menera sidik jarinya. Motif bunuh dirinya adalah percekcokan antara dirinya dan suaminya. Amyas Crayle membawa pulang Elsa Greer. Alasannya adalah: Ia ingin melukis Elsa Greer. Namun dalam pernyataan Elsa kepada Caroline, Elsa mengatakan bahwa dia akan menikah dengan Amyas setelah Amyas menceraikan Caroline.

Poirot menuturkan pada mereka bahwa pada malam sebelum kejadian, kelima orang tersebut telah diundang ke rumah Meredith. Disana tuan rumah memamerkan pengetahuannya akan racun coniine. Dalam jumlah sedikit, coniine dapat dijadikan obat. Setelah Meredith puas menuturkan, masing-masing dari mereka keluar satu persatu. Caroline adalah orang terakhir yang keluar. Sewaktu menunggu tamu-tamunya keluar, Meredith berbicara dengan Elsa di dekat pintu. Posisi Elsa menghadap pintu sedangkan posisi Meredith memunggungi pintu. Elsa mengetahui bahwa Caroline mencuri coniine tetapi tak mengatakan pada siapapun. Elsa menduga Caroline akan bunuh diri karena sebelumnya Elsa mengatakan pada Caroline kalau dia akan menikah dengan Amyas setelah pria itu menceraikan Caroline.

Pada pagi harinya, Amyas menjelaskan perihal hubungan antara dirinya dan Elsa pada Caroline di ruang perpustakaan. Ia mengatakan bahwa hubungan tersebut hanya sementara. Amyas akan langsung menyuruh Elsa pergi begitu lukisan tentang Elsa selesai. Tanpa disadari oleh mereka berdua, Elsa sedang duduk di dekat jendela tempat mereka berbicara. Elsa marah. Ketika Amyas mengajaknya untuk pergi ke Taman Benteng untuk melanjutkan lukisannya. Elsa meminta ijin kepada Amyas untuk mengambil baju hangat terlebih dahulu. Namun yang sebenarnya dilakukannya adalah masuk ke kamar Caroline untuk mengambil Coniine.

Sesampainya di Taman Benteng. Elsa mengambil botol bir disana dan meneteskan coniine pada botol bir disana. Amyas punya kebiasaan meneguk habis seluruh isi botol. Sehingga sewaktu botol bir tersebut diperiksa Polisi, tak diketemukan coniine. Setelah jam makan siang, Amyas mengatakan pada Elsa bahwa dia tidak turut makan siang karena ingin cepat-cepat menyelesaikan lukisannya. Sembari melewati gelas minum Amyas, Elsa meneteskan semua coniine yang tersisa pada pipetnya pada gelas dan membuang pipetnya dalam perjalanan dari Taman Benteng menuju rumah.

Setelah makan siang, Caroline bermaksud akan menjenguk Amyas. Ditemani oleh Miss William, Caroline berangkat ke Taman Benteng. Di depan Taman mereka berpisah. Miss William akan mengambil baju hangat Angela Waren yang tertinggal di pantai, sementara Caroline memasuki Taman Benteng. Tak seberapa lama, Miss William mendengar jeritan Caroline. Ia bergegas memasuki Taman.

Saat mendengar penuturan kalau Amyas mati, ia bergegas menuju rumah. Di tengah perjalanan ia berjumpa dengan Philip Blake dan menyuruhnya untuk menelepon dokter. Ia sendiri segera berbalik menuju Taman lagi. Tanpa disadari Caroline, Miss William melihat Caroline menyeka botol bir dan berusaha menyentuhkan jari-jari Amyas ke botol. Kejadian inilah yang digunakan Poirot untuk menyakini kalau Caroline tidak bersalah. Sebab jika Caroline pembunuhnya, dia pasti menyeka gelas, bukan botolnya.

Ketika membaca blurb di bukunya kalau masalah kriminal di novel ini terjadi enam belas tahun yang lalu sebelum penyelidikan, saya sangat tertarik. Melacak pembunuhan yang terjadi setelah sekian lama tidak mudah sehingga membangkitkan rasa ingin tahu saya. Secara garis besar saya menyukai ceritanya. Hanya saja karena pemecahannya secara psikologi. Tak ada bukti fisik. Sehingga masalah tersebut tinggal masalah. Sulit untuk dibawa ke pengadilan. Untung saja Agatha Christie memberikan penutup yang menentramkan pembaca. Pada penutupan tersebut diceritakan kalau Elsa Greer (Lady Dittisham) mengakui kalau dia melakukannya. Meskipun saya masih gemas karena Elsa mempunyai kemungkinan untuk lolos dari jerat hukum, tapi setidak-tidaknya saya dan pembaca tidak ragu-ragu akan penafsiran Hercule Poirot. Andai tidak mungkin saya bisa bisulan karena terlalu gemas dengan Elsa Greer.

Novel ini dibuat dalam tiga bagian besar. Bagian pertama menceritakan tentang Poirot yang mewawancarai kelima orang tersebut. Bagian kedua memaparkan laporan yang dibuat kelima orang tersebut akan peristiwa peracunan saat itu. Dan bagian ketiga adalah penuturan Poirot dalam memberitahukan pembunuh Amyas Crayle. Keburukannya: Bagi beberapa orang mungkin model seperti ini begitu membosankan. Banyak penuturan yang sama meski juga ada yang spesifik. Saya rasa memang tak dapat dihindari. Pembunuhan ini terjadi dalam kurun waktu yang lama dan Poirot tak ada di tempat kejadian, sehingga tentu saja dia harus bertanya pada saksi-saksi di tempat kejadian. Kebaikannya: Saya dan mungkin juga pembaca lainnya dapat turut serta menjadi detektif. Meskipun menggunakan POV 3, namun pembaca tetap mendapatkan informasi seperti yang didapat Hercule Poirot. Tak ada kegiatan Poirot yang disembunyikan penulis seperti di Misteri di Styles atau Pembunuhan Atas Roger Ackroyd (sebetulnya ada sih, tapi sedikit sekali), dan baru muncul di bagian akhir buku (tentu saja hal begini membuat pembaca tidak bisa tebak-tebakan pembunuhnya karena informasi tersembunyi tadi).

Ada gaya penyelidikan yang lain daripada yang lain di cerita ini. Biasanya Agatha Christie selalu memakai jam untuk menyelidiki alibi para tersangka. Jam sekian Si A ada di rumah. Jam sekian korban terbunuh. Jam sekian adalah jam minum kopi. Ini membuat saya tidak jemu. Namun pemakaian racun, dan kemudahan Hercule Poirot mendapatkan informasi krusial (karena sering menangani kasus-kasus para pejabat Inggris sehingga mempunyai kenalan pejabat tinggi) yang menjadi trademark bagi sebagian besar cerita kriminal Agatha Christie masih saja ada. Tetapi jangan salah. Saya pribadi tetap mengagumi penulis. Setidak-tidaknya Hercule Poirot digambarkan tidak menarik, berbentuk lucu dengan kepala bulat telur. Coba bandingkan dengan Sherlock Holmes! Sehingga Poirot tetap mempunyai kelemahan/ketidaksempurnaan dalam menghadapi dunia kejahatan yang ganas.

3 responses to “Mengungkit Pembunuhan

  1. Ini adalah salah satu karya brilian dari Agatha christie. Dala kisah ini Poirot berhasil membongkar pembunuhan yang telah terjadi bertahun-tahun ke belakang. Sang pembunuh yang dengan pandangan matanya mengamati korbannya yang perlahan menuju ajalnya.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s