Satu Dua Pasang Gesper Sepatunya


hercule poirot, agatha christie, gramedia pustaka utama, satu dua pasang gesper sepatunyaJudul Buku: Satu, Dua Pasang Gesper Sepatunya
Penulis: Agatha Christie
Alihbahasa: Alex Katjono W
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit: 1988
Tebal Halaman: 319
ISBN: 979-403-013-9

Seorang wanita sederhana bernama Miss Seale mati dan dimasukkan kedalam peti penyimpan pakaian bulu. Wajahnya dirusak. Poirot lantas menghubungkan kematiannya dengan kematian dr Morley yang sebelumnya tewas tertembak dan sempat dinyatakan bunuh diri.

 Hercule Poirot baru saja sampai di rumah dari jadwal rutin ke dokter giginya, dr Henry Morley, ketika telpon dari Inspektur Kepala Japp berdering. Ia kaget, karena Japp memberitahu bahwa baru saja seorang dokter gigi tewas tertembak di Queen Charlotte Street 58. Dokter tersebut adalah Henry Morley. Poirot bergegas kesana dan langsung menyelidiki.

Dokter Morley adalah seorang dokter gigi. Pasien yang datang harus membuat janji terlebih dahulu. Pada hari pembunuhan tersebut ada beberapa pasien. Berikut adalah pasien-pasien tersebut: Mr. Alistair Blunt (11.30), Miss Mabelle Sainsbury Seale, Mr. Howard Raikes, Mr. Amberiotis dan Miss Kirby. Disamping pasien tadi, masih ada beberapa orang yang berada di tempat tadi. Orang-orang tersebut adalah: Frank Carter, pacar dari sekretaris dr Morley, bernama Miss Gladys Nevill; kakak dr Morley bernama Georgina Morley serta rekan kerjanya sendiri, sesama dokter gigi, bernama dr Reilly.

Kesimpulan Bunuh diri diambil oleh Inspektur Japp, setelah keesokan harinya dia mendapat laporan bahwa Mr Amberiotis meninggal. Orang tersebut meningal karena keracunan obat pemati rasa yang biasanya diberikan dokter gigi: Prokain dan adrenalin. Japp menduga, Morley baru menyadari kecerobohannya dan karena tak kuat menanggung malu, ia bunuh diri. Poirot tak setuju. Dokter berpengalaman seperti Morley tak mungkin seceroboh itu.

Perkara menjadi bertambah rumit setelah Miss Seale menghilang. Barang-barangnya di Hotel Glengowrie Court ditinggalkan begitu saja sehingga dugaan kalau ia pindah ke hotel lain diragukan. Japp mulai menganggap perkara ini serius. Sebulan lebih kemudian, Japp mengabari Poirot. Ia mengatakan telah menemukan Miss Seale di King Leopold Mansion, Batter Sea Park No. 45. Tempat itu adalah milik Mrs Albert Chapman. Di tempat itu, Japp menunjukkan mayat wanita dimasukkan ke dalam kopor. Wajahnya dirusak. Kakinya memakai sepatu lusuh bergesper. Poirot heran. Melihat caranya berpakaian, orang sangat mudah mengenali kalau mayat ini adalah Miss Seale, tetapi kenapa wajahnya dirusak?

Poirot mulai menata kepingan-kepingan penyelidikannya. Kepingan tersebut adalah:

  1. Blunt pernah tinggal di India. Begitu juga dengan Miss Seale

  2. Tidak ada alasan apapun bagi orang untuk membunuh Miss Seale. Dia adalah orang biasa. Yang bekerja hanya untuk amal. Bukan orang berada.

  3. Blunt menceritakan kepada Poirot bahwa Miss Seale mengaku-aku melihat dia dan istrinya di India. Jika Miss Seale mengenal Nyonya Blunt, itu berarti Nyonya Blunt pasti sekelas dengan Miss Seale. Sementara istri Blunt yang dikenal orang dan telah meninggal adalah Rebecca Arnholt

  4. Poirot merasa ada seseorang yang memaksanya berpikir bahwa pembunuhan ini adalah pembunuhan politik.

  5. Terdapat fakta bahwa Miss Blunt pernah sekapal dengan Mr. Ambroitis saat sedang dalam perjalanan pulang dari India ke Inggris. Poirot menduga Miss Blunt mungkin pernah berbincang-bincang dengan Mr Ambroitis saat itu dan tak sengaja bercerita padanya bahwa ia mengenal Blunt dan istrinya saat di India. Ambroitis yang cerdas dapat menangkap bahwa yang dimaksud dengan istri Blunt pastilah bukan Rebecca Arnholt. Dengan demikian pernikahannya dengan Rebecca Arnholt menjadi tidak sah sebab Blunt sudah menikah. Poirot menduga bahwa Amberoitis akhirnya mencoba memeras Blunt.

Poirot mulai mereka pembunuhan dr Morley. Baginya Miss Seale tidak sekedar mengaku-aku mengenal istri Blunt. Blunt menjadi kuatir jika rahasianya terbongkar. Jalan satu-satunya untuk mengantisipasi adalah dengan membunuh Miss Seale. Agar aksinya tak terlacak, maka ia harus merencanakan beberapa hal. Ia akan memberi kesan bahwa Miss Seale tidak mati tetapi menghilang. Dengan demikian dia harus menutup kemungkinan identifikasi bahwa mayat sebenarnya adalah Miss Seale. Cara ini ditempuh dengan membunuh dr Morley sebab setiap dokter gigi menyimpan tata letak gigi pasiennya.

Blunt juga mengetahui bahwa Amberiotis memeriksakan giginya pada Morley. Maka sambil menyelam minum air, dia akan membunuh Amberiotis juga di tempat praktek dr Morley. Untuk merealisasikan rencananya ini, dia harus membunuh Morley dahulu. Setelah itu Blunt berpura-pura menjadi Morley dan menyuntikkan obat penenang rasa dengan dosis berlebihan pada Amberiotis.

Tipe pembukaan di novel ini saya suka. Hanya beberapa halaman pembukaan dan langsung terjadi pembunuhan. Bahkan Poirot pun hadir disana saat pembunuhan, meskipun dia tak menyadari. Namun saya merasa kehilangan perasaan tercekam. Pertama-tama karena pembunuhan terhadap Morley adalah pembunuhan sekunder (Pembunuhan utamanya adalah Miss Seale). Tetapi pada pembunuhan Miss Seale, saya juga tidak merasa tercekam. Perasaan ini timbul karena penggambaran karakter Miss Seale kurang. Bandingkan dengan Mengungkit Pembunuhan. Amyas Crayle sebagai korban pembunuhan digambarkan dengan watak yang kuat. Perhatian pembaca (bisa dalam bentuk emosi atau sekedar empati) akan terpicu karena gambaran karakter ini. Dengan mengenal, pembaca bisa merasakan korban. Sebaliknya, jika tak mengenal, agak sulit untuk berempati.

Kasus dalam novel ini juga termasuk kasus krisis. Hampir tak terpecahkan. Permulaan Pemecahannya bisa dikatakan tergantung hanya dari dua orang. Perkataan dari Alistair Blunt sendiri bahwa Miss Seale mengaku-aku tahu istri Blunt dan perkataan dari teman Miss Seale bahwa wanita itu pernah sekapal dengan Mr Amberiotis. Kurangnya bobot penyelidikan membuat hanya rasa-penasaran-siapa-pembunuhnya saja yang masih tertinggal di benak saya sehingga saya tetap membacanya.

Menurut saya, ada satu adegan di novel ini yang riskan untuk dilakukan. Adegan tersebut diceritakan sebagai berikut: Blunt berencana menjebak Frank Carter. Blunt ingin menjadikan Frank Carter sebagai kambing hitam. Ia mengarahkan Polisi agar mencurigai Frank sebagai pembunuh dr Morley. Blunt memasukkan Frank sebagai tukang kebunnya. Suatu hari Blunt meletakkan pistol yang terkokang dengan peluru pada sebuah semak-semak (pistol yang sejenis dengan yang dipakai membunuh Morley). Ia berharap Frank yang sedang memotong semak-semak akan tak sengaja menjatuhkan pistol tersebut dan menembakkan pelurunya. Harapan Blunt, insinden tak sengaja ini dianggap sebagai usaha Frank untuk membunuh dirinya. Yang menjadi masalah bagi saya, pistol tersebut akan jatuh secara random. Bisa mengarah kemana saja, termasuk ke arah Blunt. Kalau saya yang menjadi Blunt, saya tidak akan merancang hal seperti itu, sebab jelas membahayakan saya sendiri. Salah-salah bisa saya yang kena tembak sungguhan.

3 responses to “Satu Dua Pasang Gesper Sepatunya

  1. ini aku juga udah baca…aah lupa lagih ceritanya sdh lama sekali, ths Mas Octa masih rajin posting2🙂

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s