Mrs McGinty Sudah Mati


mrs mcginty sudah mati, hercule poirot, gramedia pustaka utama, agatha christieJudul Buku: Mrs McGinty Sudah Mati
Penulis: Agatha Christie
Alihbahasa: Drs. Budijanto T. Promono
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit: 1991
Tebal Halaman: 343
ISBN: 979-511-106-X

James Bentley akan digantung dalam dua minggu mendatang karena dituduh membunuh Mrs McGinty. Inspektur Spence meminta bantuan Hercule Poirot supaya menyelidiki ulang pembunuhan tersebut karena dia masih ragu kalau pemuda itu adalah pembunuhnya.

 James Bentley dinyatakan bersalah membunuh Mrs McGinty. Lelaki itu adalah orang yang menyewa kamar di tempat Mrs McGinty sendiri. Dua minggu lagi ia akan menjalani hukuman gantung. Inspektur Spence ragu akan hasil penyelidikannya sendiri. Seluruh bukti memang mengarah pada pria itu. Tetapi perasaannya mengatakan ada yang tidak beres, justru karena bukti-bukti tersebut terlalu jelas. James dituduh membunuh Mrs McGinty dengan memukul kepalanya karena menginginkan uang sebanyak 30 pound. Uang tersebut disimpan Mrs McGinty dibawah tempat tidurnya. Senjata pembunuh tak diketemukan. Uang curiannya diketemukan dibawah batu dibelakang rumah dan pada jas James diketemukan noda darah milik Mrs McGinty. Tak ada kerusakan pada pintu dan jendela.

Spence lalu mendatangi Hercule Poirot. Kepada detektif Belgia tersebut ia meminta pertolongan agar mengusut pembunuhan Mrs McGinty. Maka berangkatlah Poirot menuju desa kecil Broadhinny, suatu tempat berjarak seperempat mil dari jalan raya Drymouth dan Kilchester. Di sana Poirot menginap di Long Meadows, tempat Mrs Maureen Summerhayes.

Titik cerah didapatkan Poirot saat ia berbincang-bincang dengan Mrs Sweetiman. Petugas Pos tersebut mengatakan kalau Mrs McGinty telah membeli sebotol tinta. “Sebotol Tinta!” Poirot heran. Bagi orang seperti Mrs McGinty, menulis sesuatu adalah hal luar biasa. Lantas apa yang ditulisnya?

Saat Poirot merasa tak mendapat apa-apa, ia mendatangi tempat kejadian. Saat itu, rumah McGinty sudah ditempati oleh Mr/Mrs Kiddle. Pada barang-barang peninggalan Mrs McGinty, ia menemukan guntingan artikel koran Sunday Companion. Berita pada artikel tersebut membahas tentang wanita-wanita yang terlibat pembunuhan di masa lampau. Wanita-wanita tersebut adalah sebagai berikut: Eva Cane, Janice Courtland, Lily Gamboll dan Vera Blake.

Timbul pikiran pada Poirot bahwa kemungkinan Mrs McGinty mengetahui salah satu dari mantan pembunuh tadi adalah penduduk di Broadhinny. Mantan pembunuh ini kelihatannya tahu hal tersebut dan membungkam Mrs McGinty selama-lamanya.

Karena Mrs McGinty menghidupi dirinya sebagai pembantu di rumah orang-orang disekitar sana, membuat Poirot melanjutkan penyelidikannya dengan mewawancarai para majikan Mrs McGinty. Majikan-majikan dan jadwal datang Mrs McGinty pada rumah mereka adalah:

  1. Suami/istri Dr Rendell/Shelagh (Selasa pagi),

  2. Suami/Istri Summerhayes (Senin Sore dan Kamis Pagi),

  3. Mrs Carpenter (Jumat),

  4. Suami/Istri Wetherby (Rabu),

  5. Robin Upward dan Ibunya (Selasa Sore)

Selesai berbicara dengan semua majikan Mrs McGinty, Poirot masih belum dapat menentukan pembunuhnya. Sebagai langkah terakhir, ia berpura-pura bergosip dengan mereka tentang artikel koran Sunday Companion tersebut. Gayung bersambut. Mrs Upward terlihat mengenali salah satu wajah pembunuh tersebut tetapi tidak mengatakan pada Poirot. Keputusan tersebut ternyata berakibat fatal baginya. Robin dan Mrs Oliver menemukan Mrs Upward tewas tercekik.

Mengetahui kesedihan Robin, keluarga Summerhayes menawarkan tempat tinggalnya sebagai tempat mengungsi sementara agar Robin tidak teringat akan kematian ibunya. Saat itulah Poirot mulai menyadari siapa pembunuh sebenarnya. Ia menemukan palu pemukul gula di tempat Summerhayes. Palu tersebut adalah senjata pembunuh Mrs McGinty. Disana juga ia menemukan foto Eva Crane alias Eva Hope. Hope jugalah nama keluarga Robin, bukan Upward. Poirot mengetahui nama keluarga Robin dari para pekerja panggung tempat Robin berkarya. Nama asli Robin Upward sebenarnya Evelyne Hope.

Terbukanya kedok Robin sebenarnya lewat cara sederhana. Nyonya Summerhayes adalah orang yang pelupa. Dia sering mencari barang dengan membongkar barang-barang dan lupa mengembalikannya. Suatu hari Poirot harus merapikan barang-barang yang dibongkar olehnya. Dua kali Poirot melakukannya. Pada kali kedua ia terkejut. Sebab pada saat itu ia baru menemukan foto Eva Hope, padahal saat pertama kali merapikan, Poirot tak menemukan foto tersebut. Anggota keluarga Summerhayes tak mungkin melakukannya sebab itu sama saja dengan memojokkannya. Hanya tinggal dua orang. Ia sendiri atau Robin.

Robin sendiri jugalah yang membunuh Mrs Upward. Ia melakukannya sesaat sebelum pergi ke teater bersama Mrs Oliver. Mrs Upward bukan ibu Robin, tetapi kekasihnya. Robin tak ingin Mrs Upward mengubah surat wasiatnya karena Mrs Upward marah kepada Robin yang telah berani menipunya karena tak mengatakan ibunya yang sebenarnya.

Hanya ada satu gaya dari cerita kriminal yang saya suka di novel ini: Poirot bingung mau mulai darimana. Lebih dari itu saya kehilangan ciri-ciri Agatha Christie yang lain. Biasanya saya selalu menyukai cerita sampingan, diluar cerita kriminal. Mungkin cerita romantik. Mungkin cerita latar belakang pelaku atau mungkin juga masalah Poirot sendiri. Apakah di novel ini tidak ada? Ada juga, sih. Misal, kelakuan-kelakuan Miss Oliver kepada Poirot. Namun kisah “pertengkaran” manis Poirot dengan Miss Apel ini tidak hanya terjadi di buku ini, sehingga bukan hal baru lagi.

Cerita mengenai kegelisahan Poirot terhadap tempat dia menginap agak menghibur saya. Cerita ini menguatkan karakter Poirot: Cinta kebersihan, rapi, senang cuaca hangat dan senang makan enak sehingga tampak berkomplemen dengan Nyonya Summerhayes yang tidak bisa memasak enak, tidak rapi dan ceroboh. Diluar cerita ini, tokoh-tokohnya seakan-akan hanya tersedia hanya sebagai alat Poirot untuk menyelesaikan kasusnya (messenger character). Namun saya akui, variasi karakternya cukup banyak. Di novel ini saya tidak hanya memanjakan otak saya dengan logika berpikir Poirot, tetapi juga menikmati keunikan karakter-karakter ciptaan Agatha Christie.

Alur bercabang-cabang seperti Misteri di Styles tidak saya ketemukan. Semuanya berjalan lurus dari awal sampai akhir dengan POV-3. Membosankan? Tergantung anda. Saya pribadi terlanjur terbiasa membaca Agatha Christie dengan alur bercabang-cabang. Meskipun cara Agatha Christie membingungkan pembaca masih menjadi modus disini: mengarahkan pembaca pada bukti yang terlihat jelas (saya sendiri tertipu masalah palu pemukul gula). Saya pikir pembunuhnya keluarga Wetherby atau Summerhayes.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s