Cerita Mini: Nafsu Bukan Sepenggal Cinta


no kiss signSaskia masuk ke halaman rumah dengan wajah kesal. Ia duduk dengan menghentakkan seluruh pantatnya keras-keras. Kakaknya kaget, ia mendongak sebentar dari bawah mobil. Ketika cuma melihat adiknya, ia masuk ke kolong mobil lagi. Pemuda berambut cepak itu sudah hafal watak Saskia. Dalam keadaan seperti ini adalah lebih baik jika didiamkan saja.

“Kak,” jeritnya setengah tertahan.

Saskia tidak ingin mamanya mendengarnya. Mamanya pasti akan cepat-cepat ke teras dan berkata seperti “Jangan menjerit, Saskia” “Hei, kamu ingin kita didatangin tetangga?” “Anak perawan tidak baik bicara keras-keras.”

“Hemm—ada apa lagi? Siang-siang berisik. Obatmu habis?

“Bantuin aku.” Suaranya serak.

“Aku mau diputusin sama Ardi.”

“Terus aku harus bilang wow, gitu.”

“Ih,” Saskia jengkel, “bantu aku!”

“Aku harus bantu apa?” Dicky berujar kalem, “ngancam dia supaya tidak putusin kamu?”

“Bukan.”

“Lantas apa—minta tolong kok tidak jelas.” Dicky ngedumel. “Cerita dari awal sampai akhir. Gitu, lho.”

“Pacarku minta cium tapi aku tidak mau. Dia terus ngancam putus kalau aku tidak mau..” Saskia berhenti sebentar, “ya gitu, deh.”

“Aduh,” jerit Dicky. Ketika ia mendengar kata “cium” dari adiknya ia kaget dan kepalanya terantuk pada bagian bawah mobil. “Asem,” ujung-ujung jarinya mengusap-usap jidat.

“Terus aku harus bagaimana?” Saskia kelihatannya tidak respek dengan penderitaan Dicky pada jidatnya, ia terus nerocos tidak karuan.

“Kamu masih suka sama cowokmu?”

Saskia mengangguk.

Dicky bertanya lagi dengan tidak sabar, “Kok pertanyaanku tidak dijawab?”

“Kan aku sudah mengangguk.”

“Hei, Non. Aku lagi dibawah mobil, mana bisa aku lihat anggukanmu. Jawab dong pakai kata-kata.”

“Iya, deh. M-a-s-i-h s-u-k-a banget.” Saskia mengeja kata-katanya.

“Kenapa kamu suka dia?”

“Lah malah aku diinterogasi.” Saskia gantian ngedumel.

“Udah, jawab saja.”

“Dia ganteng. Baik. Jagoan basket. Badannya maco banget…”

“Stop!” Dicky keluar dari kolong. Ia duduk di lantai dengan menekuk lutut. Disandarkan tubuhnya pada pintu mobil. “Kamu selalu menyebutkan masalah fisik, Sis.”

“Ya, iyalah, Kak. Aku kan tidak bisa lihat isi hatinya.”

“Justru disitu letak masalahnya, adikku sayang. Perasaan sayang, cinta, perhatian, atau apalah namanya, keluar dari hati. Kamu bisa mendapat perhatian dari orang yang berbeda dengan cara yang sama, tetapi dengan hati yang berbeda.

“Satu orang mungkin memberikannya dengan rasa cinta yang mendalam, satunya lagi mungkin karena dia pamrih, dia ingin kamu membalas sesuatu ke dia. Mestinya kamu harus memperhatikan hatinya untuk menilai apakah cowok itu benar-benar sayang atau sekedar eros.

“Kamu masih sekolah. Jangan terlalu serius dulu. Entah, ya pandangan orangtua kita, bagiku sendiri selama kamu pacaran dalam batas-batas wajar, aku sih tidak mempermasalahkan.”

Dicky lantas bangkit dan duduk di sisi Saskia. Ia mengambil kain majun di atas meja. Diusap-usapnya bekas oli pada tangannya. “Cowok yang baik pasti akan menjaga pasangannya. Dia tidak akan memaksa sesuatu yang tidak disukai pasangannya. Tidak mengancam buat kepentingan dirinya sendiri. Apa yang menjadi pusat perhatiannya adalah kebahagiaan pasangannya.

“Cinta dan nafsu adalah dua hal yang berbeda. Nafsu bukanlah penggalan cinta. Cinta bisa hidup tanpa nafsu. Hal yang terakhir tadi dibutuhkan kalau pengin punya anak.” Dicky mengedip-ngedipkan matanya.

Saskia tertawa, “Jorok—Jadi kesimpulannya?”

“Terserah kamu! Kamu sudah dengar pendapatku. Kamu sudah bisa memutuskan sendiri untuk terus atau benar-benar putus sama cowok tadi. Tetapi yang perlu cowokmu ketahui ini, jangan bikin adikku menangis atau dia akan menyesal pacaran sama cewek yang punya kakak cowok ganteng kayak aku.”

Saskia memeragakan gaya orang muntah. “Hoek…hoek…” Dia lantas bangkit dan sedikit berlari menuju pintu. Sebelum melewati pintu dia berbalik, “Bagaimana cara aku membayar biaya konsultasi?”

“Gimana kalau kopi aja. Gelasnya pakai yang ada di kamarku, ya. Belum dicuci. Jadi cuci sekalian.”

Saskia mencibir lantas lari meninggalkan Dicky. Sambil cengengesan dia kembali kolong mobil.


Sumber gambar: http://www.clker.com

Iklan

One response to “Cerita Mini: Nafsu Bukan Sepenggal Cinta

  1. lagi, ringan dan mengena 🙂

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s