Cerita Mini: Kupinang Kau Dengan Rambutan


rambutanAskeq mengetuk pintu kamar di dekat dapur. Kamar itu adalah kamar supirnya. Sebuah langkah kaki terdengar lemah dari balik pintu. Sesaat kemudian pintu dibuka. Dahi Askeq berkerut. Bibirnya mengerucut. Andai komik, diatas kepalanya pasti bertengger tanda tanya cukup besar.

“Bukannya kamu mau anterin aku?” Matanya menangkap supirnya dalam baju kaos berwarna hitam. Sebuah jam tangan digital hitam melingkari tangan kanan. Rambutnya disisir rapi. Dari bau udara disekitarnya, Askeq tahu kalau pria di hadapannya ini baru saja keramas.

“Maaf, Non. Saya belum sempat beritahu Non Askeq. Soalnya Non kan baru pulang kuliah. Tetapi saya sudah berpamitan sama Pak Rudy kalau saya berhenti bekerja.”

“Berhenti?— Tidak. Tidak — Ini pasti masalah dua hari yang lalu. Benar? Kamu tidak profesional kalau mencampuradukkan urusan kerja sama masalah pribadi.”

“Bukan, Non. Saya diterima kerja di Batam. Saya berangkat dua hari lagi.”

Askeq melirik pada sebuah tas travel besar di atas ranjang. Kelihatannya Supirnya sudah mengemasi semua pakaian dan barang-barangnya.

“Ya, sudah. Pergi sana. Gak usah balik.” Askeq membalik badannya dan lari menuju tangga di depan dapur. Tangga tersebut adalah tangga berputar menuju lantai dua. Kamar Askeq terletak di ujung sebelah kanan. Dengan marah ia membuka pintu dan membantingnya. Suara decit pintu dan hantaman besi pengunci pada lubangnya memekakkan telinga.

Onok opo to, Parto?” Ada apa, sih. Seru Bik Tin buru-buru keluar dapur. Mata uzurnya melihat ke arah tangga, kemudian menatap pria yang berdiri di depan kamar.

Supir itu cuma mengendikkan bahu. Ia balik ke kamar, mengambil tas travel kemudian menemui Bik Tin. “Aku pamit dulu, Bik. Mudah-mudahan bisa ketemu lagi.”

Yo, wis. Sing ati-ati. (Ya, sudah. Yang hati-hati) Mudah-mudahan di tempat baru kamu bisa lebih betah.”

Askeq menutup mata dengan bantal. Ia tidak ingin Si Parto jelek itu ke-GeEr-an. Biar aja dia pulang. Ke neraka sekalian. Emangnya aku peduli.

Bayang-bayang peristiwa mulai hadir dalam bingkai-bingkai serupa foto. Masing-masing ingin memasuki benaknya lagi..lagi….dan lagi. Kali ini yang berani masuk adalah ingatan tentang Parto dan dirinya.

Dua minggu yang lalu Parto mulai menunjukkan keanehan. Ia menangkap basah supirnya itu melihatnya. Awalnya ia merasa takut karena Askeq sering sendirian bersama supirnya. Tetapi Tak terjadi apa-apa sampai tiga sesudahnya. Parto tiba-tiba menghentikan mobil dan mengeluarkan bunga. Kata-kata, “Saya menyukai, Non Askeq. Non mau menjadi pacar saya?” meluncur dari mulutnya. Kurang ajar banget. Berani sekali orang seperti dia bilang cinta. Errrhh.

Askeq lantas ingat ujaran Angela. Cewek satu ini satu jurusan dengannya di Hukum Universitas Airlangga. Tiap kali Parto mengantarnya kuliah, Angela selalu cengegesan memandang Parto. “Ngapain lihat-lihat supirku? Suka?”

Angela cengar-cengir. “Mau dong punya supir cakep kayak gitu. Nganggur, gak dia. Kebetulan aku lagi jomblo.”

Askeq tertawa sendiri mengingat ulah Angela. Air matanya mulai menyusut. Diletakkan bantal ke samping. Matanya memandang ke arah plafon. Parto memang tampan. Dia sendiri sampai heran bagaimana bisa orang seperti Parto cuma menjadi supir. Aku rasa dia pantas bekerja di kantoran. Setidak-tidaknya manajer atau wakil papanya.

Apakah aku sedang jatuh cinta?

***

Askeq turun ke meja makan pukul setengah delapan pagi. Di meja makan sudah ada Papa dan Mama. Mereka berdua menyantap sepiring nasi goreng dengan telur orak-orik. Askeq sendiri menghadapi telur ayam kampung setengah matang.

“Pa. Askeq mau minta tolong.” Terdengar bunyi telur retak karena dipukul sendok teh.

“Hemm…”

Askeq takut-takut berkata, “Askeq mau ngomong sesuatu ke Parto, Pa.”

Papa dan Mamanya berpandang-pandangan. “Tumben, biasanya kerjaanmu marah-marah sama Parto.”

“Bisa, tidak?” Askeq tidak menanggapi sindiran papanya.

“Nanti setelah makan siang datang saja ke kantor Papa.”

Askeq bersemangat menghabiskan telurnya. Ia lega mendengar jawaban papanya. Tidak sabar rasanya menunggu jam makan siang.

Jam 12 teng teng Askeq sudah menaiki tangga ke ruang ayahnya. Beberapa karyawan ayahnya dan sekuriti tampak menghormati Askeq, putri pemilik perusahaan tempat mereka bekerja.

“Masuk,” suara ayahnya yang mirip Bebi Romeo bergema.

“Siang, Pa.”

Papanya menunjuk ke pintu samping. Di ruang ayahnya memang ada ruang lagi. Ruang tersebut biasanya dipakai ayahnya menemui tamu-tamu penting. Askeq masuk ke dalam. AC-nya ternyata sudah menyala, jadi tidak perlu menunggu sekian menit dulu untuk menikmati suasana ala kutub utara.

Askeq terbangun perlahan-lahan. Matanya masih agak kabur dan lengket. Sebuah sentuhan pada punggung tangan membangunkannya. Ia menguap lebar-lebar sebelum, “Eh, Parto..” Askeq terperangah. Ia baru sadar bahwa Parto yang di hadapannya benar-benar berbeda. Sebuah wajah rahang persegi tersenyum kepadanya. Ia heran, kenapa baru sekarang menyadari kalau Parto mempunyai rahang persegi.

“Lama nunggu? Maaf, ya. Ada truk menyebalkan lagi nge-ban di pinggir jalan. Macet setengah mati, Non.”

Askeq bergegas duduk bersandar pada punggung kursi. Dirapikan rambut dan kemejanya. “Hai.”

Parto tersenyum. Senyum maut. Jantung Askeq naik-turun melihat kaos hitam ketat ditutupi kemeja putih. Benarkah ini, Parto. Kok beda banget.

“Aku minta maaf. Kemarin malam sudah kasar sama kamu.”

Mereka berdua lantas diam. Cukup lama sampai Parto memecah keheningan. “Sudah, itu aja. Gak ada yang lain.”

Askeq menggeleng.

“Okelah. Aku pergi dulu. Selamat siang, Non.” Parto berdiri dari tempat duduknya lantas pergi menuju pintu.

“Tunggu,” Askeq bimbang. Tarikan nafasnya terdengar tidak normal. Tekanan darahnya pasti lebih tinggi dari biasanya. “Masih minat jadi cowokku?” Suaranya lirih. Takut terdengar ayahnya.

Parto berjalan menuju tempat Askeq. “Kamu menerimaku?”

Anggukan Askeq membuat rambutnya jatuh ke depan. Saat ia mendongak, tubuh Parto hanya sejangkauan kelingking. Keki, waktu dengar Parto bilang “kamu” sebagai pengganti “Non”. Apakah sekarang dia juga akan memakai “aku-kamu” juga?

“Terima kasih. Aku akan berusaha menjaganya supaya kamu tidak pernah menyesal karena sudah menerima aku.” Parto juga masih kelihatan kagok. Ia hanya meletakkan kedua tangannya di samping. Seperti orang saat upacara bendera. Tiba-tiba dia menuju sofa. Ia menepuk-nepuk tempat disampingnya agar Askeq duduk disana.

Askeq terkejut saat Parto mengeluarkan rambutan dari tas ranselnya. “Darimana kamu tahu aku suka rambutan?” Wajahnya berbinar-binar. Air liurnya hampir menetes. Tangannya langsung meraih sebuah. Tak sadar hampir setengah plastik hampir habis. Parto cuma tertawa tertahan melihat Askeq.

Gadis itu jadi tak enak dilihat olehnya. “Kenapa? Aku kelihatan rakus, ya?” Parto tak menjawab. Ia sedang repot menyembunyikan senyum ketika melihat ada sesuatu di dekat bibir Askeq. Ia mengulurkan tangan, “Permisi.” Askeq agak kemalu-maluan ketika punggung tangan Parto mengusap-usap sudut bibirnya.

Tiba-tiba Askeq tersadar. “Oh, ya. Kita masih punya satu masalah lagi.” Askeq membersihkan mulut memakai tisu. Menelengkan kepala. “Papa!”

“Pak Rudy pasti setuju dengan hubungan kita.”

Askeq tak mempercayai pendengarannya. Pria di depannya ini sangat percaya diri. Bagaimana mungkin Papa mau menerima begitu saja seorang supir memacari anaknya. Dengan penasaran ia bertanya, “Bagaimana kamu akan menyakinkan, Papa?”

“Pengin banget apa pengin aja?”

“Ayolah, aku pengin tahu.” rengek Askeq.

Parto berdiri dan melambaikan tangan agar Askeq mengikutinya.

“Bisa ganggu sebentar, Om.”

Om. Parto memanggil Papa dengan Om. Berani sekali nih orang. Mudah-mudahan Papa tidak malah marah.

“Oh, duduk saja.”

“Om, apakah saya diperbolehkan menjalin hubungan dengan Askeq?”

Darah Askeq langsung turun kebawah. Berkumpul di kaki. Seakan-akan siap-siap menahan kemarahan ayahnya. Tetapi aneh….ayahnya malah tersenyum. Senyum bahagia, bukan senyum sinis. Punya pelet apa Parto? Banyak mantan Askeq yang ketakutan dan mundur setelah mengetahui kegalakan Papa, tetapi Parto menghadapinya dengan tenang.

“Gimana, Keq. Kamu suka gak sama dia?”

Askeq terbengong-bengong. Tidak percaya. Dia hanya bisa mengangguk dengan hati-hati.

“Ya udah, terusin aja.” papa Askeq melihat ke arah Parto.

Semudah itu, Askeq benar-benar tak percaya.

“Kalau begitu saya sekarang mau pergi sama Askeq, Om. Mau jalan-jalan.”

Papa Askeq mengangguk. Mereka berdua akan melewati pintu ketika tiba-tiba Pak Rudy berkata, “Jordan. Nanti titip salam sama Papa Mama, ya.”

“Iya, Om.”

“Sebentar,” Askeq benar-benar penasaran dan bingung. “Kenapa namamu ganti Jordan? Terus kenapa juga kamu panggil Papa dengan Om. Jelasin! Aku tidak mau pergi kalau belum tahu.” Askeq tiba-tiba galak. Parto alias Jordan menoleh pada Papa Askeq. Tidak ada cara lain bagi Pak Rudy kecuali menjelaskan.

“Jadi Papa-Mama sengaja menyuruh kamu berpura-pura jadi supirku agar kita bisa dekat?” tanya Askeq setelah memasuki mobil Jordan.

“Papamu kuatir kamu masih belum punya pacar. Dia lantas bilang sama orangtuaku. Orangtuaku bilang ke aku. Aku bilang ke mereka, biarkan aku kenalan secara alamiah saja, tidak usah dijodoh-jodohin. Orangtua kamu setuju. Kata mereka, kamu tuh orangnya keras kepala. Apalagi sejak pacar terakhir kamu ditolak, kamu jadi dongkol. Kalau dijodoh-jodohin takutnya entar kamu antipati sama aku. Nah kalau sudah begitu bakalan lebih sulit.”

“Salah Papa sendiri. Kenapa galak banget sama mantan-mantanku dulu—Sebentar, waktu aku SMP aku sering ke rumah Om Bobi, orangtuamu. Rasanya aku tidak pernah ketemu kamu. Yang sering aku temui, Kak Mira. Berarti Kak Mira itu kakakmu?”

Jordan mengangguk. “Karena aku tinggal di opa-omaku di Jerman. Aku balik kesini setelah kuliahku selesai.”

“Cukup sekali ini saja aku ijinkan kamu bohong. Aku tidak suka dibohongin.”

“Iya, deh. Tapi terima kasih ya sudah terima lamaranku.”

“Terima lamaramu? Kapan?”

“Kamu sudah makan rambutan dari aku. Itu berarti kamu terima lamaranku.”

“Dasar cowok pelit. Lamaran cuma pakai rambutan.”

Askeq dan Jordan tertawa ngakak.


Sumber gambar: http://www.flickr.com/photos/debramorrishk

7 responses to “Cerita Mini: Kupinang Kau Dengan Rambutan

  1. keren….
    di pinang pakai rambutan gimana rasanya ya?
    suka bangt sama ceritanya.

    Suka

  2. Iya Seru Mas Ocat ceritanya kayak FTV… jadi kebayang si Jordan yg pura2 berlogat jawa medhok waktu jadi Parto wkwkwkw

    Suka

  3. wuaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa… andai cinta seindah FTV….
    hi hi hi hi…
    😀 bagus… cuma kayak FTV… he he he

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s