Cerita Mini: Lonte


hookerSuasana di jalanan Putat Jaya selalu ramai. Jam enam sore mulai terdengar lagu-lagu dangdut koplo bertalu-talu. Satu dua kali suaranya berpapasan dengan suara tukang parkir dan penjual asongan. Jalan ini adalah salah satu jalanan paling ramai dan padat di Surabaya pada malam hari. Terutama bagi laki-laki.

Pria itu memakai kacamata rayban dengan bidang luar seperti cermin sehingga orang-orang di depannya dapat melihat muka mereka sendiri. Rambutnya agak gondrong. Kumisnya tampak mulai disisipi uban di beberapa bagian. Perawakannya agak kurus namun cara berjalannya masih gagah. Beberapa pria berbadan tegap dan bertato yang dijumpainya selalu memberikan gerakan-gerakan hormat pada dirinya.

Setelah membayar pada tukang bakso. Ia berjalan memasuki Wisma Gunung Jalang. Dari tempat dia menyantap baksonya, ia dapat menghitung sudah ada tiga lelaki yang keluar bersama gadis itu. Pada hitungan ketiga atau keempat biasanya ia akan bergegas masuk ke dalam.

Dari luar ia dapat melihat suasana ruang tamu pada Wisma. Ruang tamu tersebut mempunyai kaca yang berhadapan dengan jalan masuk ke Wisma. Di ruang tamu terdapat tiga sofa ukuran besar membentuk setengah lingkaran. Seluruh sofa diduduki oleh wanita. Tiga di kanan kiri. Sedangkan sofa tengah berisi empat orang.

Sofa bagian tengah berisi wanita-wanita dengan dandanan paling terbuka. Dua diantara mereka memakai hotpants. Satu orang memakai jeans dipotong sepaha dan satunya lagi memakai rok span diatas lutut dari bahan seperti karet. Pria itu melirik wanita pada sofa tengah dengan jeans dipotong pendek. Tanktop warna kuningnya menguarkan suasana ceria. Bentuk buah dadanya yang kecil namun menonjol dengan perut rata tampak mengesankan belia. Orang tak perlu diberitahu untuk menyadari bahwa sofa tengah adalah komoditi utama Wisma Gunung Jalang.

Seorang pria berbadan besar dengan kaos fitness ketat menghampirinya tergopoh-gopoh. Mukanya ceria dan sopan. “Seperti biasa, Mas?” Pria itu mengangguk. Lantas pria berkaos fitness tadi berteriak, “Angela. Sini. Buat kamu.” “Unjukane, Mas? Topi miring?” Minumnya, Mas? Topi Miring. Tanya pria berkaos fitness tadi.

Jancuk awakmu. Mbok pikir aku wong melarat. JW (johnnie walker/minuman keras jenis whisky).” Sialan kamu. Kamu pikir aku ini orang miskin? Orang berkaos fitness terkejut dan bergegas meminta maaf dan segera berlalu.

Wanita bernama Angela tadi menyambut pria tadi di kamarnya dengan senyum yang tak dibuat-buat. Bahkan terlalu ramah. Ia berdiri di depan pria tadi. Menunggu. Pria itu diam. Dibalik kacamatanya ia menatap wajah gadis tadi. Masih belia. Matanya bahkan pancaran mata kanak-kanak.

Kedua tangan Angela menjulur ke dadanya. “Dibuka, ya, Mas?” tetapi tangan pria tadi menekan tangan Angela dengan lembut. “Tidak usah—kamu tidur saja seperti biasa. Satu jam lagi aku bangunkan kamu.” Seharusnya kata-kata semacam ini membuatnya senang. Pria itu membayarnya tetapi tidak pernah memakainya. Dia hanya menyuruh dirinya tidur selama satu jam. “Siapa sebenarnya pria ini? Kenapa begitu baik?” Angela berpikir sambil menatap kacamata pria itu. Ingin sekali dibukanya kacamata itu. Ia ingin tahu mata yang selama hampir seminggu ini menatapnya.

Angela membaringkan dirinya di ranjang. Kepalanya masih menghadap pria itu yang sekarang duduk di kursi samping meja dekat dinding. Angela tidak tahu apa yang dikerjakan pria itu sewaktu dia tidur. Menyentuhnya? Merabanya? Tidak. Meskipun dirinya tidur, ia tak pernah merasa disentuh oleh pria itu. Apakah dia imponten sehingga dia hanya puas dengan memandangi dirinya? Rasanya juga tidak mungkin.

Beberapa teman satu wismanya selalu berebut mencari perhatian dari pria ini. Diantara mereka bahkan berkata pria satu ini adalah kuda nomor satu di ranjang-ranjang mereka. Tapi kenapa terhadap dirinya pria ini dingin sekali. Apakah dirinya tidak semenarik teman-teman satu wismanya yang lain? Ia sering memperhatikan warna kulitnya. Kulit paling halus di wisma ini. Beras menir selalu ia sapukan tiap minggu setelah ditumbuk halus dan direndam air. Ia rajin minum ramuan kunyit dan jamu-jamuan dari Mbok Geni. Muda. Halus. Cantik. Manja dan kalem. Itu gambaran dari dirinya. Tidakkah itu menarik bagi pria ini. Kalaupun pria ini menidurinya di luar waktu jam “kerjanya” ia tak akan meminta bayaran satu sen pun.

“Mas ingin aku membuka baju?” Angela memecah kesunyian. Pria itu menggeleng. Akhirnya Angela tidur karena terlalu lelah memikirkan pria ini.

Angela terbangun saat ia merasa ada sesuatu membelai kepalanya. Matanya yang setengah kabur melihat pria itu sudah duduk di tepi ranjangnya. Ada tarikan-tarikan di kedua sisi mulutnya. Angela yakin pria ini sedang tersenyum. Senyum untuk dirinya. Akhirnya Angela merasa senang bisa memberikan kesenangan pada pria itu.

“Angela. Kamu harus pegang janjimu. Aku sudah melakukan bagianku. Di akhir bulan ini kamu harus melakukan apa yang menjadi bagianmu.”

“Kenapa, Mas mau melakukan ini. Mas ingin aku menjadi istri, Mas Dar? Aku mau Mas.”

Daryono memegang pipi Angela. Diusap-usapnya pipi Angela. “Ingat kata-kataku Angela. Jangan pernah bersuami dengan pria brengsek seperti aku. Cari saja pria baik-baik. Pegawai negeri, kek. Guru, kek. Atau dokter.”

“Kalau Mas menganggap diri Mas Dar brengsek, lantas aku ini wanita seperti apa, Mas?”

“Kamu wanita baik-baik, Angela. Kalau saja tidak ada….” Daryono tiba-tiba menghentikan kalimatnya.

Angela menatap dengan penasaran, “Maksud Mas apa?”

“Sudahlah Angela. Bagiku yang penting kamu harus meninggalkan tempat ini.”

“Tapi Mas, Mami bilang harus kasi uang 30 juta kalau aku mau keluar dari tempat ini.”

“Aku sudah ngomong berkali-kali. Kamu tidak perlu memikirkan uang 30 juta itu.”

“Tetapi sebenarnya kenapa? Kenapa Mas mau repot-repot membeli aku dari tempat ini. Mas tidak mau memperistri aku. Mas juga tidak mau menjadikan aku pembantu di rumah, Mas. Terus kenapa? Kenapa, Mas?” Angela mulai menangis. Nafasnya putus-putus. “Mas Dar jijik sama aku? Mas ingin membuang aku?” Ia lantas berlutut di dekat kaki Daryono, “Mas mau handjob? Aku juga bisa blowjob. Ayo aku buka, Mas.

Daryono menepis dengan lembut. Ia lantas berlutut di depan Angela. Diraihnya tangan Angela yang bertumpu pada lantai. Dibimbingnya agar tersampir di pundaknya. Tangannya sendiri meraih pinggang Angela. Sedikit demi sedikit jarak tubuh Angela mengecil. Saat Angela merasakan bibirnya basah. Ia membalas kecupan Daryono dengan liar.

Angela mengeluh ketika tangan Daryono menjauhkan pinggangnya dari tubuhnya. Sudah jelas Daryono hendak mengakhiri apa yang dilakukannya sekarang. “Nah, kamu sudah memberikan sesuatu ke aku. Jadi jangan merasa aku jijik sama kamu. Kamu berharga. Ingat itu—seminggu ini aku datang kesini tiap malam untuk menolong kamu. Kamu primadona disini. Aku tahu kamu melayani lima sampai enam laki-laki. Kamu pasti capek, kan? Aku menyewa kamu supaya kamu punya waktu istirahat. Dan sesuai kesepakatan kita dulu, kamu harus membayarnya dengan keluar dari wisma ini. Tidak perlu kamu memikirkan uang 30 juta itu. Dan akhir bulan ini aku kawal kamu di terminal agar kamu bisa pasti pulang ke Probolinggo. Aku sudah menyiapkan tanah disana. Kamu tidak perlu mengolah sendirian. Kamu bisa bagi hasil dengan penggarap. Tanah itu cukup untuk menghidupi kamu.”

“Probolinggo? Itu kotaku. Kok, kebetulan, sih, Mas?”

Daryono cuma tersenyum. Tak menjawab apa-apa. Angela lantas bertanya, “Aku boleh melepas kacamata, Mas Dar? Aku ingin tahu mata Mas Dar seperti apa?”

Daryono menggeleng. Angela kecewa.

***

Angela dan Daryono berdiri di tempat parkir bus jurusan Probolinggo. Mata Angela ditutup kacamata lebar hitam. Sebuah kerudung merah darah tampak manis diatas kepalanya. Sejak dari wisma ia terdiam. Dibalik kacamata Angela, sebuah genangan air mata terus berontak untuk mengalir.

“Apa kita bisa ketemu lagi, Mas?”

“Jika Tuhan mengijinkan.”

“Mas Dar serius tidak ingin memperistri aku?”

“Aku sudah bilang, carilah pria baik-baik.”

“Kata Emak, masakan lodehku enak. Aku juga bisa bikin sambel terasi yang pedes.”

“Begini saja, Angela. Percayalah dengan Tuhan. Kalau memang kita berjodoh, hal itu pasti terjadi.”

Angela berjalan memasuki bis. Dari tempat duduknya ia memandangi lelaki berkacamata rayban itu. Ia masih berharap di detik-detik terakhir bis akan berangkat, pria itu lantas melepas kacamatanya dan meminta dirinya untuk menjadi istrinya. Tetapi cuma harapan kosong. Saat bis tersebut perlahan-lahan akan meninggalkan Terminal Bungurasih, bibir lelaki itu masih terkatup.

Setelah yakin bis tadi hilang dari pandangan matanya, Daryono membuka kacamatanya. Kalau saja Angela melihatnya saat ini dia akan menyadari siapa Daryono sebenarnya. Angela mengenalnya sebagai Karsimin. Ia dan dua lelaki lainnya sering mondar-mandir daerah Tulungagung, Probolinggo dan Kediri, mencari gadis-gadis muda untuk dipekerjakan di Hongkong. Beberapa bulan kemudian gadis-gadis tadi baru mengetahui bahwa tujuan mereka bukan Hongkong tetapi tempat-tempat lelaki memuaskan malam mereka.

Karsimin mengambil secarik kertas pada sakunya. Masih ada tiga nama tertulis disana. Tiga nama gadis yang harus dibebaskannya karena perbuatannya. Setahun lalu Karsimin bertobat dan bersumpah akan membebaskan setiap gadis yang pernah dijualnya.


Sumber gambar: http://fineartamerica.com

Iklan

7 responses to “Cerita Mini: Lonte

  1. mantap…aku baru mengikuti dan banyak belajar dr sini…mksh mas…

    Suka

  2. keren ih Mas Karsismin..gawe opo tho mas duite akeh tenan hahahaa..
    ceritanya sprt biasa enak mantap mas Octa

    Suka

  3. *dengan sengaja di hotelku dengan sebagus ini…

    Suka

  4. Mantap! ah! Seandainya saja aku bisa menuliskan ‘seseorang wanita’ yang tinggal ‘longstay’ dengan saja di hotelku sengan sebagus ini…

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s