Cerita Mini: Nama Pacarku Bukan Veronal


veronal sketchElla dan Susi menjerit-jerit memanggil Cindy. Pintu kamar Cindy terkunci. Penghuni kos panik. Semua berawal dari jam satu siang tadi. Beberapa teman kosnya melihat Cindy menangis sesaat sebelum memasuki kamarnya. Saat makan malam, semua penghuni kos heran tidak melihat Cindy di meja makan. Karena mereka melihat Cindy menangis tadi siang maka sangat beralasan jika mereka menduga ada apa-apa dengan Cindy di kamar. Sebelum turut dengan teman-temannya ke depan pintu kamar Cindy, ia menelepon Jorgi sahabat Cindy. Cowok inilah yang selalu membantu Cindy melewati segala persoalannya.

Ketukan kamar yang semula lembut lama-lama menjadi keras. Rasa frustrasi turut andil di dalamnya. Beberapa saat kemudian mereka mendengar deru sepeda motor di depan rumah. Bik Nur berlari ke depan. Jorgi turun tergopoh-gopoh. Dia berlari melewati Bik Nur yang membuka mulut.

Jorgi menggedor-gedor pintu, “Cindy, ini Jorgi! Buka pintu!” Tak ada sahutan di dalam. Jorgi menggedor lebih keras. Ia menoleh pada Bik Nur. “Bibik tahu harga pintu ini berapa?”

Bik Nur hanya mengeleng-geleng dan tak mengerti maksud pertanyaan Jorgi. Ella dan Susi juga mengerutkan dahi. Seorang penghuni kos yang baru datang dari luar rumah pun cepat-cepat menghampiri mereka. “Ada apa?”

Tiba-tiba Jorgi mundur beberapa langkah, kemudian berlari dengan sekuat tenaga menghantamkan dirinya ke pintu. Pintu roboh kearah dalam. Jorgi terjerembab dan kesakitan karena dadanya tersodok pegangan pintu yang terlentang di lantai.

Tiga orang menghambur kedalam. Cindy berbaring terlentang. Rambutnya acak-acakan. Di matanya terukir bayangan lingkar hitam. Ella duduk disamping di tepi ranjang. Tangannya menepuk-nepuk pipi Cindy. Bik Nur masuk sambil membawa air. Jorgi bangkit, matanya menangkap segelas air dan sebuah botol disamping. Cepat-cepat ia melihat label pada botol. “Veronal?” dengan liar matanya menoleh pada Cindy. “Gila—kita harus membawanya ke rumah sakit.”

Ella menoleh kuatir. “Pakai mobilku saja, Gi.”

Lantas mereka bertiga menggotong Cindy masuk ke mobil.

***

Jam bergerak mendekati tengah malam. Jorgi duduk di tepi ranjang. Teman-teman kos Cindy sudah pulang dua jam yang lalu. Wajah gadis itu benar-benar tenang. Pembuluh darahnya bekerja dengan baik. Itu tampak dari rona kemerah-merahan pada pipinya.

Dipegangnya tangan Cindy, seperti memastikan bahwa suhu tubuhnya tetap hangat. Jorgi menaikkan selimut bergaris-garis putih dan biru sampai dada. Ketika ia mencoba duduk di kursi, tiba-tiba ia mendengar suara seperti mengerang. Ia berdiri lagi dan memperhatikan Cindy, menduga-duga apakah tadi suara gadis ini.

Pita suara Cindy bergetar pelan, “Gi.”

Cepat-cepat Jorgi mencondongkan badan. “Aku disini, Di. Ada apa?”

Mata Cindy pelan-pelan terbuka. Saat Cindy menyadari kehadirannya, air matanya mulai meleleh. “Dia putusin aku.”

Suara serak Cindy membuat Jorgi trenyuh. Gadis satu ini memang terlihat kuat diluar. Meskipun tubuhnya kecil, kakinya pejal. Downhill adalah penyebabnya. Olahraga menuruni bukit dengan sepeda ini menjadi olahraga kegemaran Cindy sejak dua tahun terakhir.

Jorgi meraih tangan kanannya. Memegangnya erat-erat dan berbisik, “Memangnya cowok cuma dia.”

“Tapi aku sayang dia.”

“Huh,” gumam Jorgi dalam hati. Kalau saja Cindy tidak lemah seperti ini, sudah dari tadi dia akan mengatakan, “Lebay.”

“Jangan pikirin dia dulu. Kamu masih lemah. Entar kalau kamu keluar dari sini kita bisa ngomong-ngomong lagi. Oke?”

Air mata Cindy semakin deras mengalir. Jorgi cuma geleng-geleng kepala. Apa sih kelebihan Yudi. Cowok beranting satu. Berbadan atlit tetapi mata keranjang. Berambut cepak tapi berlagak bak peragawati. Jorgi merasa pasti, andai dia perempuan, dia tidak akan mau menjadi pacar Yudi.

Cindy bukan cewek matre. Jorgi yakin akan hal ini karena dia sudah berteman dengan Cindy sejak mereka masih TK. Keriangan Cindy langsung musnah sejak berpacaran dengan Yudi. Hampir setiap kali berpapasan dengan mereka, Jorgi melihat muka mereka seperti tomat busuk. Merah campur hitam. Pacaran kok ribut melulu.

Dengan jempol ia mengusap lingkaran mata Cindy yang basah. “Aku ingin tahu—” Jorgi memperbaiki posisi duduknya. “Sebutkan satu hal saja kenapa kamu suka Yudi?”

Hampir semenit waktu berlalu. Cindy menggeleng. “Aku suka aja. Memangnya cinta harus punya alasan.”

“Okelah kalau kamu bilang cinta tidak punya wujud. Tetapi kamu pasti punya alasan kenapa kamu lebih memilih dia daripada —aku— misalnya.”

Cindy menatap Jorgi dengan penuh minat. Ia berpikir-pikir apa maksud Jorgi. “Kamu temanku, Gi.”

“Mana yang lebih nyaman? Berada disampingku atau Yudi? Siapa yang menyakiti kamu? Aku atau Yudi?”

“Kamu suka aku? Kamu pengin jadi cowokku?”

“Apa itu kelihatannya mustahil?”

Cindy mengulurkan tangannya. Dia rapikan rambut Jorgi dengan menyisirnya memakai jemari tangannya. Ia tatap bola mata pemuda itu. Dia seperti menimbang-nimbang apa yang mau dikatakannya.

“Aku tanyakan ke kamu sama seperti yang baru saja kamu tanyakan, kenapa kamu pengin jadi cowokku?”

“Kamu curang. Ceritanya disuruh presentasi, nih?” Jorgi pura-pura cemberut. “Aku yang tanya duluan, sekarang aku yang disuruh jawab.”

“Entar aku jawab sesudah kamu.”

“Aku tahu segala keburukan kamu. Mulai dari ngompol waktu di TK A sampai gendong kamu karena kamu sering pingsan waktu upacara bendera di SMP. Jadi kalau aku suka kamu itu berarti aku menerima segala kejelekan kamu. Sementara Yudi tak tahu apa-apa tentang kamu. Jadi bisa saja suatu ketika dia akan meninggalkan kamu ketika dia menemukan kejelekan kamu yang tidak bisa ia terima.

“Sudah dua tahun yang lalu aku mau bilang kalau aku suka kamu. Tetapi aku selalu terlambat. Malam ini aku mau bilang kalau aku suka kamu. Aku pengin kita bisa samaan terus seperti ini sampai lama. Aku tidak bermaksud memancing di air keruh, mentang-mentang kamu lagi down lantas aku manfaatin kesempatan. Aku cuma tidak ingin terlambat lagi. Kamu tidak harus jawab sekarang. Bisa kamu pikir-pikir dulu. Kamu tolak pun boleh. Apapun jawaban kamu aku tetap nganggap kamu temanku. Gak akan ada yang berubah. Percaya deh.”

Cindy sekarang duduk di ranjang. Punggungnya disandarkan pada dinding. Ia menepuk-nepuk tempat disampingnya. Jorgi pergi mendekati Cindy. Mereka lantas duduk berdampingan. Gadis itu melingkarkan tangan pada pinggang Jorgi. Lama tak ada suara. Cindy hanya meletakkan kepala pada pundak Jorgi.

Tiba-tiba Cindy bersuara, “Aku sebenarnya juga pengin kita jadian. Tapi aku takut entar kita bertengkar. Kalau kamu ngambek trus aku curhat sama siapa? Selama ini aku tetap bertahan dengan Yudi karena kamu selalu mendukung aku. Aku selalu lega kalau udah cerita semua unek-unekku. Kamulah cowok yang paling aku takutkan buat meninggalkan aku.”

Jorgi menarik nafas, “Cowok-cowok di novel selalu berjanji pada ceweknya kalau gak akan menyakiti. Tapi aku mau jujur sama kamu. Mungkin suatu ketika kita bertengkar. Marahan. Tapi tolong ingatkan aku, kalau hari ini aku pernah meminta kamu jadi pacarku, bahkan lebih dari itu, nemenin aku sampai tua.”

Cindy mengeratkan pelukannya. Dia sekarang menangis. Ia tidak berusaha menahannya. Kalau ini ia berharap bahwa ini adalah airmatanya yang terakhir.

“Aku bisa jadi veronalmu kalau kamu mau. Jadi kamu tidak usah susah-susah beli.”

“Gak. Aku gak mau punya pacar namanya Veronal. Aku pengin punya pacar namanya Jorgi.”

Hanya ada dua kebahagiaan yang pernah dirasa Jorgi. Yang pertama adalah mengetahui bahwa orangtuanya mencintainya. Yang kedua adalah jawaban Ya dari Cindy.


Sumber gambar: http://www.shutterstock.com

4 responses to “Cerita Mini: Nama Pacarku Bukan Veronal

  1. Cindy parah juga ya kalo putus dari cowok sampai masuk rumah sakit. Sweet nih, Kak🙂 I like.

    Suka

  2. ringan dan mengena🙂

    Suka

  3. klasic dan menarik ..

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s