Mengenal Penokohan dalam Karya Fiksi


fiction characterSaat kita berpapasan dengan seseorang di suatu tempat, tak ayal lagi kita tergoda untuk berpikir. Jika yang lewat adalah seseorang gadis, mungkin kita berpikir, “Cantik sekali.” “Kalem sekali pembawaannya.” atau “Kelihatannya judes banget.”

Persepsi-persepsi diatas timbul akibat dari macam-macam hal dari gadis tersebut. Bentuk tubuh, cara dia berbicara, penampilan wajahnya, reaksinya terhadap lingkungan dan sebagainya. Sayangnya dalam novel, penulis tak dapat menampilkan segi visual seperti ini. Senjata novelis hanya kata-kata.

Penulis fiksi menggunakan banyak cara untuk menampilkan karakter sebuah novel. Cara paling umum adalah nama. Tidak dipungkiri, nama bisa menimbulkan kesan tertentu. Nama Anna, Angel atau Monica akan terkesan berbeda dengan nama semacam Rusmini, Sarimin atau Ninuk. Tidak ada perjanjian tentang kesan sebuah nama meskipun masing-masing nama tersebut mungkin mempunyai arti tertentu. Reader and Woods menyatakan dalam tulisannya yang terbit tahun 1987 tentang karakter sebagai berikut:

The character in good novel are interesting, intriguing, consistent, convincing, complex, and realistic. If the author has created a particularly vivid or individualistic character, then we, as readers, will find that character interesting regardless of whether or not we sympathize with him/her

Tokoh-tokoh di novel yang bagus adalah menarik, menimbulkan perasaan ingin tahu, konsisten, menyakinkan, kompleks, dan realistis. Apabila pengarang telah membuat tokoh yang sangat hidup atau berkepribadian tertentu maka pembaca akan menganggap tokoh tersebut menarik, tak masalah apakah pembaca menyukainya atau tidak.

  1. Flat Character
    Para analis fiksi mempergunakan beberapa istilah utuk menjelaskan masalah penokohan. Salah satunya adalah flat character (sering juga disebut two-dimensional atau static characters). Istilah ini mengacu pada tokoh yang tak berkembang perwatakannya dari awal kemunculannya sampai akhir novel dan sering dipakai hanya sebagai pendukung tokoh utama. Tokoh semacam ini hanya terjadi di dunia fiksi. Dalam dunia nyata, agak tidak masuk akal jika seseorang tidak terpengaruh oleh hal apapun.Reader and Woods menggolong-golongkan flat character sebagai berikut

Jenis

Fungsi

Ornamen

Menurut bahasa gaul, tokoh jenis ini disebut tokoh lucu-lucuan, tokoh penggembira. Hanya sekedar memberikan suasana pada cerita.

Sekretaris

Menyampaikan pesan kepada karakter-karakter yang lain

Telinga

Hanya dipergunakan sebagai telinga untuk tokoh lain. Misal, mendengarkan tokoh utama sedang curhat karena sedang patah hati

Kritikus

Digunakan penulis untuk menyampaikan pandangan-pandangannya tentang orang lain atau sesuatu

  1. Round Characters
    Kebalikan dari flat character, round character adalah tokoh yang bergerak perwatakannya dan mempunyai karakteristik atau atribut paling banyak dibandingkan tokoh lain. Tak mengejutkan jika tokoh utama (tokoh mayor) selalu dalam bentuk round character.

  2. Uncharacteristic Character
    Ada juga tokoh yang tak berkarasteritik sama sekali. Fungsi dari tokoh ini macam-macam, antara lain:

  • Sebagai penghubung antar plot

  • Sebagai penghubung antara obyek dan tujuan dalam kaitannya dengan tema cerita

  • Menceritakan sesuatu kepada para pembaca

Lantas bagaimana cara penulis mengungkapkan karakter-karakter tersebut? Beberapa cara tersebut adalah sebagai berikut:

  1. Deskripsi atau Laporan

    Deskripsi adalah cara yang paling umum. Penulis menggambarkan karakter tersebut dengan memberikan detilnya. Contoh:

    Sebetulnya tingginya tak seberapa. Rambutnya pun dipotong pendek, tetapi matanya bagai pisau. Mengupas telanjang segala pria yang dilihatnya. Sesekali jemarinya yang lencir mengetuk-ngetukkan abu rokok pada asbak pualam putih disampingnya.

    Model laporan dilakukan oleh karakter-karakter lain terhadap tokoh tersebut, contoh:

    Wanita tipe pendiam seperti ini membahayakan dirinya sendiri. Sering dengan sifat seperti ini, dia menjadi santapan anjing-anjing geladak semacam Rendy. Playboy kampung cap tiga sandal

  1. Tindakan atau Perilaku

    Penulis menggunakan tindakan atau reaksi tokoh sebagai cara menggambarkan siapa si tokoh ini.
    Contoh:

    Dengan marah dilemparnya orang itu dengan pisau yang ada ditangannya. Mukanya berkedut, tanda aliran darah berputar-putar di pembuluhnya. Ini untuk ketiga kalinya pada hari ini. Kemarahan mengundangnya untuk membunuh.

  2. Pikiran atau Percakapan Tokoh
    Contoh:

    Aku sudah bilang berkali-kali. Jauhi cewek itu. Dia tuh gak ada bagus-bagusnya. Udah cerewet, narsis, matrek, bodoh lagi.”

    Bobi menoleh dengan acuh tak acuh pada kawannya. Meskipun ia tak suka dengan caranya mengomentari kekasihnya, ia memutuskan untuk diam.

  3. Simbol atau Image
    Dalam contoh dibawah ini, kesedihan dan kegundahan tokoh digambarkan dengan keadaan alam di sekitarnya saat itu.

    Contoh:

    Dengan letih ia duduk pada bangku kayu dibawah pohon kenari. Langit bergradasi merah menuju kuning. Burung layang-layang terbang tak beraturan. Sesaat kekanan, sesaat berputar-putar sambil mencicit. Langit menghitam pelan-pelan, menemani air matanya yang mulai jatuh.


Sumber gambar: http://weeklymagicfailure.blogspot.com

5 responses to “Mengenal Penokohan dalam Karya Fiksi

  1. Ping-balik: NOVEL BERJUDUL “STILL”, BY ESTI KINASIH | Tania Kharismaya

  2. nambah wawasan menulis , nuwun🙂

    Suka

  3. Permainan kata rupanya penting juga ya dalam menggambarkan watak ..

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s