Mengenal Tema dalam Karya Fiksi


 Tema adalah hantu. Ia ada tetapi tak terlihat. Kita serasa ditemaninya saat membaca sebuah novel sampai selesai dan baru menampakkan diri sekilas di pikiran kita saat kita benar-benar memikirkannya. Adler dan Doren (2012:229) mengatakan bahwa menganalisis keindahan lebih sulit daripada kebenaran faktual.

Hartoko dan Rahmanto (1986:142) mengatakan tema adalah gagasan dasar umum yang menopang sebuah karya sastra dan yang terkandung di dalam teks sebagai struktur semantis dan yang mengangkat persamaan-persamaan atau perbedaan-perbedaan. Sementara Baldic (2001:258) mendefinisikan tema sebagai gagasan abstrak utama yang terdapat dalam sebuah karya sastra atau yang secara berulang-ulang dimunculkan baik secara eksplisit maupun implisit lewat pengulangan motif. Jika dua pendapat digabungkan, maka tema adalah gagasan dasar umum yang menopang sebuah karya sastra sebagai struktur semantis dan bersifat abstrak yang secara berulang-ulang dimunculkan lewat motif-motif dan biasanya dilakukan secara implisit. Atau singkatnya, tema adalah makna yang dikandung sebuah cerita (Kenny, 1966:88).

Agar gampang mempelajari tema, biasanya tema dibagi menjadi beberapa jenis.

  1. Tradisional dan Tidak Tradisional
    Tema tradisional adalah tema yang sering dipakai para pembuat cerita. Tema-tema berikut pasti sudah sangat dikenal

    • Kejahatan kalah dengan Kebenaran
    • Cinta tidak harus bersatu
    • Cinta Membutuhkan Pengorbanan
    • Sebaik apapun menyembunyikan kejahatan akhirnya akan ketahuan juga

    Sedangkan negasi dari tema diatas jarang dibuat. Siapa sih yang rela tokoh pujaan hatinya kalah oleh tokoh antagonis? Bisa-bisa novel-nya tidak ada yang membeli. Padahal kita menyadari bahwa dalam keadaan di dunia nyata, kejahatan ada kalanya menang. Ada pembunuh yang sampai sekarang tidak dapat diungkapkan atau bagaimana santainya koruptor bisa lolos dari jerat hukum. Itulah dunia novel, sebagai media hiburang, novel dapat digunakan untuk melarikan diri sementara untuk mendapatkan kepuasan yang tidak didapatkan di dunia nyata.

  2. Pembagian Tema Menurut Shipley
    Shipley membagi tema seperti berikut:

    • Tema Tingkat Fisik (man as molecul)
      Sesuai dengan namanya fisik, maka cerita dengan tema ini lebih menonjolkan hal-hal yang berhubungan dengan fisik. Cerita-cerita karangan Bastian Tito (Wiro Sableng) atau Asmaraman S Kho Ping Hoo tentu sudah sangat melegenda bagi pembaca cerita silat.
    • Tema Tingkat Organik (man as protoplasm)
      Tema ini menonjolkan seksualitas (biasanya explisit). Untuk memahami tema ini, silakan baca novel-novel Ayu Utami, seperti Saman, Bilangan Fu, dan Larung. Tak luput juga tema lesbian seperti karya Herlinatiens (Garis Tepi Seorang Lesbian), dan homoseksual karya Rangga, The Sweet Sin.
    • Tema Tingkat Sosial (man as socius)
      Tema ini paling banyak ditulis. Berisi konflik-konflik yang sering terjadi di masyarakat. Tengok Laskar Pelangi karya Andrea Hirata tentang konflik di dunia pendidikan atau Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari yang berisi suka duka seorang ronggeng hidup pada masyarakat di sekitar tempat tinggalnya.
    • Tema Tingkat Egois (man as individualism)
      Tema ini lebih menonjolkan bagaimana sikap individu dalam menyikapi permasalahannya. Sikap tersebut mencangkup sikap batin Sang Tokoh yang berhubungan dengan egoisitas, harga diri atau martabat. Saya jadi ingat Perempuan Kembang Jepun karya Lan Fang.
    • Tema Tingkat Divine
      Tema religi dan memakai filosofi-filosofi termasuk jenis tema Divine. Novel-novel karya Habiburraman El Shirazy atau novel semacam Dunia Sophie milik Jostein Gaarder adalah contoh tema divine.

    Tema-tema diatas tidak bersifat eksklusif menguasai novel. Bisa saja sebuah novel mempunyai lebih dari satu tema diatas. Contoh, Bilangan Fu, disamping tema tipe organik, dia juga bisa masuk tingkat divine.

  3. Tema Mayor dan Tema Minor
    Tema tidak hanya bersifat tunggal dalam sebuah novel. Disamping tema utama, tidak jarang kita juga menemui tema sampingan alias tema minor. Untuk menentukan tema tersebut maka diperlukan aktifitas mengindentifikasi, memilih, mempertimbangkan dan menilai diantara sejumlah makna yang akan ditafsirkan.Makna mayor harus terdapat disiratkan pada keseluruhan cerita, bukan hanya sebagian saja (makna minor). Makna ini harus dapat dibuktikan terdapat pada karya tersebut (bukan ngawur) dan terlihat dominan. Makna minor harus terlihat mendukung atau mendukung keberadaan makna mayor.

Stanton (1965:22-23) memberikan kriteria agar dapat menafsirkan karya fiksi sebagai berikut:

  1. Penafsiran harus memperhatikan detil cerita
    Ini adalah bagian yang melelahkan dalam menafsirkan sebuah tema, apalagi jika novel tersebut panjang. Namun biasanya dapat disiasati dengan memperhatikan konflik utama. Pada konflik utama biasanya sering terletak tema utama.
  2. Penafsiran tidak boleh bertentangan dengan detil cerita
    Alangkah anehnya suatu novel jika masing-masing detilnya bertentangan satu sama lain. Sebagai media penyampaian pikiran penulis harusnya hal demikian tidak terjadi, sehingga pada saat menarik kesimpulan sebuah tema kita harus memastikan kesimpulan tersebut tidak bertentangan dengan bagian-bagian cerita yang lain.
  3. Penafsiran tidak boleh mendasarkan diri pada hal yang tidak dinyatakan baik secara langsung maupun tidak langsung
    Jangan mengira-ngira! Semua harus ada penjelasannya. Dalam arti lain harus ada bukti empiris.
  4. Penafsiran harus berdasarkan bukti-bukti baik yang dinyatakan secara langsung maupun yang disarankan dalam cerita.
    Penafsiran harus terdapat dalam kata, alinea, dialog maupun penafsiran dari tulisan dalam novel tersebut yang sekiranya mencerminkan tema yang sedang ditafsir. Kriteria ke-4 ini adalah penjelas dari kriteria ke-3 diatas.
Iklan

4 responses to “Mengenal Tema dalam Karya Fiksi

  1. mas octa asli surabaya? di acara grasindo sabtu lalu, hadir bukan sih? saya ngeh abia liat tag-an mbak monica anggen di fb. karena saya juga ada di acara. hehehe…

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s