Totto-chan Gadis Cilik di Jendela


totto-chan gadis cilik di jendela gramedia putaka utamaJudul: Totto-chan Gadis Cilik di Jendela

Pengarang: Tetsuko Kuroyanagi

Alih bahasa: Widya Kirana

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Tebal Halaman: 272

Tahun terbit: 2013, cetakan keempat belas

ISBN: 978-979-22-3655-2

 

Totto-chan tidak aneh. Ia hanya mempunyai karakter unik. Dia tidak bisa diam, mempunyai keingin-tahuan besar. Mama Totto-chan tidak putus asa mencari sekolah lagi setelah Totto-chan dikeluarkan dari sekolah untuk kedua kalinya. Kali ini, SD Tomoen Gakuen telah menjadi sekolah SD terakhir baginya berkat kepala sekolahnya yang berkarakter unik, Sosaku Kobayashi.

Saat saya masih di SMP, pada tahun 80-an, saya membaca sebuah artikel pada sebuah tabloid di perpustakaan. Artikel tersebut menceritakan tentang sebuah sekolah di Jepang. Yang menjadi daya tarik sekolah tersebut adalah bentuk dan sistemnya. Kelas-kelas sekolah dibuat dari bekas gerbong kereta api dan setiap muridnya dapat memulai pelajaran dengan bidang yang menjadi daya tarik siswa tersebut. Siswa yang senang menulis dapat menulis di kertas. Siswa yang suka fisika dapat langsung mengadakan percobaan-percobaan fisika juga. Ah indahnya!

Ketika saya membaca Totto-chan lagi beberapa bulan lalu, saya teringat kembali. Angan saya kembali ketika saya begitu bergembira dan larut dalam suasana sekolah tersebut. Sayang, sampai 20-an tahun kemudian, saya tak pernah menemukan sekolah seperti Totto-chan. Betapa gembiranya kamu, Totto-chan. Jujur saya akui, saya iri padanya.

Totto-chan suka berdiri di dekat jendela saat pelajaran sekolah. Jika ada pemusik jalanan yang lewat, ia akan menyuruh mereka bernyanyi untuknya. Tentu saja gurunya menjadi sangat terganggu. Kebiasaan “menyebalkan” itu bukan satu-satunya. Ia suka membuka-menutup mejanya ratusan kali, berbicara pada burung walet atau menggambar bendera jepang dengan rumbai-rumbai kuning di sekitarnya. Tidak berhenti disitu. Ia juga menggambar tiang bendera pada meja.

Dengan berat hati, guru mengeluarkan Totto-chan dari sekolah, sehingga ini sudah kedua kalinya ia dikeluarkan dari sekolah, padahal dia baru saja kelas satu SD. Mamanya berbesar hati. Dengan susah payah, akhirnya ia mendapatkan sekolah. SD Tomoe Gakuen. Sekolah aneh dengan dua pohon hidup sebagai gerbang dan kelas-kelas terbuat dari enam gerbong kereta api.

Kepala sekolah, Sosaku Kobayashi, menyambut Totto-chan dengan gembira. Ia senang karena kepala sekolah tidak menanyainya, sebaliknya, malah menyuruhnya bercerita apa saja yang menyenangkan hatinya.

Hari-hari bersekolah sangat menyenangkan bagi Totto-chan. Pelajaran di sekolah sungguh aneh. Murid-murid dapat memilih sendiri pelajaran yang mereka sukai setelah itu mereka berkesempatan jalan-jalan siang, misalnya mereka pergi ke kuil Kuhonbutsu untuk belajar sejarah. Tak lupa sepanjang perjalanan ke kuil, Sang Guru menjelaskan pelajaran biologi tanpa mereka sadari. Guru menjelaskan penyerbukan kupu-kupu ketika mereka melintasi taman bunga penuh kupu-kupu. Pelajaran aneh lainnya adalah Euritmik. Ini adalah pelajaran tentang ritme/irama khusus yang diciptakan guru musik dan pencipta lagu dari Swiss bernama Emile Jaques Dalcroze. Pada pelajaran “aneh” ini, murid-murid akan dilatih untuk mendengarkan dan merasakan musik dengan pikiran mereka. Saat itu, pelajaran ini hanya digunakan di sekolah Eropa dan Amerika, tidak dengan Jepang.

Novel ini adalah kisah nyata dari penulisnya, Tetsuko Kuronayagi. Memang bukan suatu hal yang mudah menulis kisah nyata diri sendiri sebab penulisnya tentu harus memilah-milah cerita yang akan ditampilkan pada bukunya. Namun saya melihat, penulis telah berusaha mengurutkan cerita secara kronologis. Meskipun begitu, saya masih merasa plot-nya patah-patah. Mungkin pembaca dapat membaca novel ini seperti membaca diari dari penulisnya. Ah, saya jadi ingat Waktu Aku sama Mika punya Indi. Novel tersebut juga merupakan kisah nyata dari penulisnya. Bedanya, Novel Indi itu dibuat seperti diari (aslinya memang diari punya Indi), dengan demikian kisah Indi tersebut lebih terpatah-patah karena cerita diurutkan menurut tanggal penulisan diari (yang tentu saja tergantung mood dan hati).

Gaya tulis Tetsuko benar-benar menarik. Saya membaca novel ini seakan-akan melihat film (bukan novel). Saya larut dalam “kenakalan” Totto-chan. Saya bisa merasakan kebingungan mama Totto-chan. Dia tidak merasa anaknya nakal, tetapi guru Totto-chan berpendapat sebaliknya. Saya sependapat dengan mama Totto-chan, kelakuan anaknya itu bukan nakal tetapi unik.

Disamping sampul hard cover yang terkesan menawan, buku ini juga dihiasi dengan beberapa gambar. Gambar kartun. Juga kertas tebal. Tidak heran buku ini agak mahal (untuk ukuran saya sih). Dan yang paling menarik, buku ini berhasil menggambarkan setiap peristiwa dari sudut pandang seorang anak kecil usia SD sehingga saya tidak merasai digurui, sebaliknya saya seperti mendengar anak saya bercerita tentang kesehariannya. Cara membuat dialog, peristiwa-peristiwanya, reaksi seorang anak, benar-benar alamiah.

Ada rasa nano-nano diceritanya. Ada bahagia, tertawa, menangis dan tentu kepahlawanan serta persahabatan. Campuran yang bagus. Saya menyarankan agar buku ini dibaca oleh anak-anak. Bukan untuk mengajarkan agar anak-anak menjadi pemberontak tetapi agar mereka dapat menikmati pendidikan mereka secara alamiah. Kata alamiah berarti mereka merasa bahwa pendidikan itu adalah seperti menghirup oksigen untuk bernafas atau makan ketika lapar. Agar mereka menyadari sendiri bahwa pendidikan itu penting bagi mereka tanpa orang dewasa terkesan memaksa pada mereka.

 

Daftar Tokoh

Nama Tokoh

Keterangan

Totto-chan alias Tetsuko kuronayagi

Tokoh utama, anak SD

Sosaku Kobayashi

Kepala sekolah SD Tomoen Gakuen

Yasuaki Yamamoto

Teman baik Totto-chan, penderita polio, tidak lama kemudian meninggal sebelum mereka lulus SD

Tai-chan alias Taiji Yamanouchi

Teman Totto-chan, jago fisika.

Ryo-chan

Tukang kebun sekolah Tomoe Gakuen

Baku Ishi

Guru balet gaya bebas di sekolah Tomoe Gakuen

Sakko Matsuyama

Anak perempuan yang memakai rok gambar kelinci yang ditemui Totto-chan ketika pertama kali bersekolah di Tomoe Gakuen

Aiko Saisho

Teman Totto-chan yang terlihat tenang dan santun

Kazuo Amadera

Teman Totto-chan, pencinta binatang

Yoichi Migita

Teman Totto-chan, suka menggambar

Keiko Aoki

Teman Totto-chan, punya ayam yang bisa terbang

Miyo Kaneko

Putri ketiga kepala sekolah

5 responses to “Totto-chan Gadis Cilik di Jendela

  1. wah saya ada tugas dari dosen suruh mbaca buku ini .. terimakasih ini sangat membantu

    Suka

  2. Terimah kasih ulasannya, saya suka sekali buku ini.sudah baca beberapa kali tapi tidak bosan ^_^ .Ini karena putri saya juga sudah mulai bertingkah seperti Toto-Chan😀

    Suka

  3. suka ulasannya, impian sekolah idaman terwakili dalam satu buku, bikin antusias membacanya ya.. asyiik

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s