Cerpen Horor: Temani Aku


Jaka turun dari truk tentara dengan malas. Desa ini memang tidak bersuasana buruk. Bayangan desa seperti lagu Desaku karangan Dr L Manik terasa nyata. Hanya saja suasana hati Jaka begitu jatuh saat harus KKN pada saat Nissa, kekasihnya, sedang sakit. Ia sudah mencoba menghubungi Ketua Program Studi maupun Rektor untuk meminta dispensasi. Jawaban mereka kompak. Tidak ada toleransi. Jaka sudah sudah empat belas semester. Berarti ini semester kiamat. Jika tidak lulus, sudah dipastikan dia harus keluar dari perguruan tinggi ini. Bersamaan langkah kakinya menuju tempat dia akan tinggal selama dua minggu KKN di desa ini, satu persatu truk tentara yang membawa rombongan mahasiswa berlalu.

Tempat Jaka bersama tujuh orang anggota kelompoknya adalah sebuah rumah penduduk yang lama tidak terpakai. Pak Dirman, Kepala Desa disini, mengatakan kalau rumah ini tidak ditempati karena masih diperebutkan antara ahli waris setelah Mbah Joyo meninggal. Mahasiswa pionir yang bertugas mempersiapkan tempat bagi mahasiswa lain, rupanya telah merapikan rumah ini dengan baik. Tidak ada tanda-tanda rumah kosong sebelumnya. Tembok-tembok sudah dipoles dengan kapur sehingga lumut-lumut dan bau lembab hilang. Kamar Jaka terletak paling belakang, bercampur dengan tiga anggota lainnya, sedangkan kamar depan diisi anggota perempuan. Kamar mandi rumah ini sudah rusak. Meninggalkan tumpukan batu bata dan atap tanpa genting, untunglah para pionir sudah membuatkan kamar mandi dan kloset darurat dua meter dari reruntuhannya dan satu meter dari sumur tua.

Malam pertama diisi dengan perkenalan antara mahasiswa dan penduduk sekitar. Jaka minta ijin ketua kelompok untuk tidak ikut serta. Sejak dari Jakarta kepalanya memang selalu berputar-putar. Kata dokter dia mengindap Vertigo. Agar ijin dari Ketua kelompok keluar ia berjanji untuk merancang saluran air yang akan digunakan mengalirkan air dari sumber di pegunungan sampai ke desa penduduk.

Baru saja jam yang dilihat Jaka bergerak di pukul sepuluh. Ia heran, pertemuan di Balai Desa seharusnya sudah selesai tetapi belum ada tanda-tanda keramaian diluar rumah yang menandakan mereka sedang menuju ke dalam rumah. Suasana rumah sepi. Bunyi jengkerik dan kumbang tanah bertalu-talu. Dingin sungguh menggigit. Jaka merapatkan sarung. Matanya sudah tak kuat lagi melihat kertas rancangan saluran air. Ia meletakkan pensil dan penggaris, menyesap kopi kemudian menyandarkan punggung pada sandaran kursi.

Jendela disamping tempat duduknya terbuka. Sinar bulan seharusnya dapat menerangi ruangannya. Sayang sinar lampu tempel menyembunyikannya. Listrik di rumah ini sudah dicabut beberapa bulan yang lalu. Masing-masing ahli waris tidak ada yang mau membayar sebelum ada kejelasan kepemilikan rumah.

Mata Jaka setengah tertutup. Hampir saja ia jatuh tertidur. Samar-samar, terdengar suara air bergemericik di belakang. Telinga Jaka menangkap senang, itu tandanya sudah ada teman-temannya yang datang. Mereka pastilah mencuci kaki sebelum memasuki rumah. Jaka membenahi cara duduk. Ia tidak ingin diketahui sedang bermalas-malasan, sebab lain kali Ketua kelompoknya pasti tidak akan memberikan ijin untuk tidak mengikuti acara.

Dia merasa heran. Sudah beberapa menit, tetapi suara air itu tetap terdengar. Tidak ada tanda-tanda ada orang masuk rumah. Tapak kakinya menapak pelan-pelan menuju pintu belakang. Suara air berhenti. Ia heran. Dengan hati-hati dibukanya pintu. Lintasan angin basah membuat dadanya tiba-tiba seperti kram. Ini bukan lagi dingin, tapi beku. Pandangannya menyatroni dari kiri ke kanan. Tak ada tanda-tanda orang. Lantas suara apa tadi? Sudah jelas tadi suara air.

Ia menutup pintu lagi dan masuk ke dalam. Kurang beberapa langkah di depan pintu kamar, suara gemericik air kembali terdengar. Jaka berlari menuju pintu dan cepat-cepat membuka pintu. Suara air jatuh masih terdengar. Kali ini ia yakin ada seseorang di kamar mandi. Ukuran kamar mandi dari dinding besek memang cukup kecil. Sehingga tidak heran jika seseorang yang mandi di dalam sesekali menyenggol besek.

Tersengal-sengal, hidungnya berusaha mengatur aliran udara lambat-lambat agar tak menimbulkan suara. Matanya mencari sesuatu di sekitarnya. Sesuatu yang dapat dipergunakan sebagai senjata. Ini pasti pencuri, pikirnya. Orang ini pasti tahu kalau mahasiswa-mahasiswa dan penduduk saling mengenalkan diri di balai desa sehingga tempat tinggal mahasiswa banyak yang sepi.

Jaka menemukan pacul dan mengacungkan pacul tersebut ke udara sambil berjalan mengendap-endap mendekati kamar mandi. Jantungnya serasa meledak menahan nafas. Pintu besek nampak bergeser. Suara deritan karena beradu dengan tanah seakan seperti suara rem kereta api. Ia bersiap. Genggaman jemarinya pada kayu pacul semakin kuat.

“Ahhhhh,” suara perempuan menjerit tertahan. Beberapa menit yang lalu, Jaka melihat sebuah kaki akan menapakkan kaki di tanah depan kamar mandi. Sinar bulan menerangi sedikit bayangan sosok yang merunduk. Rambutnya lebat. Baru saja tangannya akan mengayunkan pacul ke arah kaki sosok itu, perempuan itu menjerit.

“Maaf, Mbak.” Dia merasa bersalah.

Mata perempuan itu terbelalak. Tiga deret garis terbentuk di keningnya. Ia menyeret pantatnya mendekati pintu besek, menjauhi Jaka. Cahaya rembulan yang pelit membantu mengenali kulit tangannya yang putih, menyembul dari kaos berwarna putih. Rambutnya terberai-berai tak beraturan. Sejenak Jaka mengendus wangi bunga sedap malam.

“Saya kira Mbak tadi pencuri. Maaf.” Ia mengulurkan tangan. “Mari saya bantu berdiri.”

Tangannya tetap terpaku ke tanah sementara mata gadis itu melebar. Menatap tajam tapi lemah ke arah Jaka. Pemuda itu berjongkok. Diam. Berharap gadis itu pulih dari rasa terkejut. Pelan-pelan gadis itu berdiri sendiri, tapi tiba-tiba tubuhnya limbung ke arahnya. Jaka cepat-cepat mengembangkan tangan. Tubuh gadis itu tertangkap lengannya sebelum tersungkur. Sekali lagi wangi bunga sedap malam menari-nari di ujung hidungnya. “Ahh.” Sekali lagi gadis itu terpekik.

“Sepertinya kaki Mbak terkilir. Ayo masuk kedalam, saya punya minyak urut.” Gadis itu mencengkram lengan Jaka. Pria itu maklum kalau gadis itu masih ketakutan. “Jangan takut. Saya gak akan menyakiti, Mbak. Saya pikir Mbak pencuri, jadi saya tadi mau pukul, Mbak.” Cengkeramannya semakin mengendur. Jaka lantas menuntunnya masuk ke dalam rumah.

Gadis itu duduk pada kursi. Jaka mengurut dari bawah kaki keatas.

“Namaku Icha,” ujar gadis itu serak.

Jaka mendongak. Ia lega gadis itu mulai pulih. “Aku Jaka.” Senyum mengembang Jaka membuat Icha merasa nyaman. Gadis itu mulai tampak rileks.

“Kamu penduduk disini?” Jaka bertanya-tanya sambil mencuri-curi pandang. Jeansnya terlalu bergaya untuk dikatakan penduduk daerah ini. Kulitnya putih bersih. Tak ada laburan make-up pada wajah. Rambutnya bergelombang hitam legam, tampak terawat.

Icha menarik sudut bibirnya. Senyum masih diantara rasa nyaman dan jengah. Karena Icha tak bersuara, Jaka melanjutkan, “Atau kamu salah satu mahasiswa yang KKN? Aku tidak pernah lihat kamu sebelumnya. Dari fakultas apa?” Telapak tangannya mengurut sampai dibawah lutut setelah menggulung celana Icha.

Semakin lama, pria ini merasa heran. Seharusnya balsem akan membuat telapak tangannya dan kaki Icha hangat. Tetapi entah kenapa, ketika telapak tangannya bersentuhan dengan kulit Icha, Jaka merasakan kebekuan. Semula tidak terasa. Tapi lama kelamaan, tangannya terasa kaku, seperti mencelupkan tangan pada sebaskom es.

Jaka mendengar ada suara dari arah depan dan mengarahkan wajah pada pintu. Suara laki-laki bersahut-sahutan dengan gelegak tawa wanita. “Sebentar, ya. Aku buka pintu dulu. Tadi aku kunci pintu karena sendirian.”

“Hei, kamu rugi gak ikutan. Tadi kita kenalan dengan anaknya Pak Lurah. Cakep juga.” Budi terkekeh. Membesar-besarkan kata “Cantik” agar Jaka merasa rugi,

“Klise banget,” jawab Jaka. “Seperti di sinetron. Kenapa kalau di desa yang cantik selalu anaknya Pak Lurah? Kenapa tidak anaknya Pak Camat atau salah satu penduduk, kek.”

Mereka serempak tertawa. Jaka menggeser badannya agar teman-temannya melewatinya. “Aku gak kalah sama kalian, meskipun bukan anak Pak Lurah.”

Budi dan Ruslan berputar balik, “Maksudnya kamu juga sama….hemmm…ehmmm disini?” Ruslan menyelidik. Mereka berdua lantas berjalan cepat ke arah dalam. Ruangan depan memang dipisahkan oleh tembok dan dihubungkan dengan pintu berteralis besi model jaman dulu. Ketiga gadis di belakang mereka cuma geleng-geleng kepala. “Dasar cowok.”

Jaka berjalan lambat-lambat, dia sengaja membiarkan mereka merasa buntung karena gadis yang ditolongnya tak bertampang mengecewakan. Namun ketika dirinya sampai selangkah dari pintu, ia melihat Budi dan Ruslan kebingungan. Mata Jaka tidak dapat melihat kedudukan kursi dan Icha dari seberang pintu karena terhalang tembok. Ia lantas melewati pintu dengan tanda tanya. Tak ada Icha. Dia lantas ke kamar. Tak ada seorang pun. Kemudian ia menyusuri koridor pendek menuju pintu belakang. Tak ada sesosok pun. Pandangannya terarah ke kamar mandi. Tak ada gerakan apa pun. Ia lantas melihat Budi dan Ruslan lewat bahunya. Kedua temannya tampak terheran-heran.

***

“Ikuti aku.”

“Tadi kamu kemana? Kok gak pamit dulu. Masih marah sama aku?”

Alih-alih menjawab, gadis itu hanya menaikkan sebelah alisnya. Tangannya menggandeng tangan Jaka. Pria itu tak merasa dipaksa, bahkan berada dalam keadaan jantung tak menentu. Seperti hendak mengajak gadis untuk jadian. Icha berjalan dengan kadang-kadang meloncat. Satu dua kali ia menoleh pada Jaka. Saat mata mereka bertemu Jaka merasa ada suatu arus tak kasat mata menjalar dari mata gadis itu ke matanya. Sesuatu yang menguncinya. Terkadang di sepanjang perjalanan mereka, Jaka terpikir hendak menanyakan sesuatu, tetapi entah kenapa, keinginan itu musnah dengan sendirinya.

Jaka tidak mengenal tempat ini. Pemandangan yang dia ingat adalah sebuah jalan kecil dengan barisan rumput-rumput setinggi manusia sebelum danau. Sebentuk pohon besar tampak merajai ketinggian di tempat itu. Sinar bulan menjatuhi air danau, membuat pecahan sinar-sinar kecil seperti berpendar dari permukaaan.

Jaka turut duduk disamping Icha. Gadis itu masih membisu agak lama. Kedua kakinya ia tekuk. Rok putihnya seakan menyatu dengan pendar sinar bulan. Matanya seperti melihat sesuatu di kejauhan. Tepat saat Jaka menoleh padanya, Icha juga turut menoleh. Matanya tampak lebih bulat. Kelam dikitari bayangan hitam.

“Apa kamu punya pacar?”

Jaka mengangguk.

“Kalau begitu, lupakan dia.”

Jaka terkejut. Dia baru saja kenal Icha beberapa jam sebelumnya, tetapi gadis ini sudah berani berbicara seakan-akan mereka kenal lama.

“Maaf. Aku tidak tahu kenapa kamu tiba-tiba begini.”

“Aku butuh teman. Di tempatku aku merasa sepi.” Icha mendesah pelan. “Ketika aku melihatmu kemarin, aku menyukaimu. Aku memutuskan untuk mengujimu dan aku menyukai cara kamu memperlakukanku.”

“Kalau yang kamu butuhkan cuma teman, kenapa aku mesti meninggalkan pacarku.”

“Karena sekali kamu datang ke tempatku, kamu tak akan pernah kembali.”

“Maksudmu tidak ada kendaraan semacam Angkot atau Bis?”

Icha menarik pipinya kesamping. Bola matanya kembali ke posisi semula. Meredup. Suatu tawa samar terbayang disana.

“Kamu akan bahagia disana. Kamu tak perlu bekerja. Kita bisa berduaan seharian.”

Jaka bingung dengan keberanian Icha. Seorang pria lumrah berbicara seperti Icha tadi, tetapi jika yang berbicara adalah gadis, barulah luar biasa. Seorang gadis berani berduaan dengan seorang pemuda? Tidak salah dengar?

“Icha.” Jaka serasa tercekik, kemudian berdiri di depan Icha. Kedua tangannya memegang bahu Icha “Kamu gadis yang cantik. Tapi aku sudah punya Nissa. Andai keadaanku berbeda.” Jaka berada diantara perasaan bingung dan cemas.

Sejenak Icha lebih mengagumi Jaka lebih besar dari beberapa menit lalu. Namun suasana hatinya sedikit demi sedikit berubah mengingat bahwa pria di depannya ini telah menolaknya.

Jaka bergidik. Icha terdiam beku. Matanya berkaca-kaca. Sesuatu dari sudut matanya mengalir. Semakin lama cairan itu semakin deras. Bau anyir menyeruak tajam. Jaka terperangah saat cairan tadi mulai membasahi pakaian Icha. Pakaian gadis itu berubah berwarna merah. Cairan pekat itu tak hanya keluar dari mata namun mulai keluar dari dahi, telinga, dan hidung. Pria itu bermaksud akan mundur, namun kakinya serasa tertancap ditanah, bahkan matanya tak dapat ditutup untuk menghindari kengerian pandangan di depannya. Pundak Icha bergetar hebat. Deru nafasnya mulai terdengar tersengal-sengal.

Jaka mencoba menggerak-gerakkan kaki, tetapi percuma. Keringat dingin mengalir deras dari kening. Tenggorakannya dipenuhi sisa-sisa makanan tadi malam. Perasaan mual mencuat dari perut.

Air danau berubah menjadi lautan darah. Entah darimana, tiba-tiba sebuah lingkaran api mulai mengelilingi gadis itu.

“Aku menawarkan kebahagian dan kamu menghinaku. Bahkan aku mengemis di depanmu. Tapi kamu cuma bergeming. Semua laki-laki sama. Kaummu cuma perusak wanita, seharusnya Tuhan menyesal pernah menciptakan laki-laki.”

Seiring dengan berakhirnya kata terakhirnya, tubuh Icha meninggi. Tubuhnya menjadi setinggi pohon paling besar di tepi danau.

Jaka mencelus dalam ketakutan. Jantungnya serasa berhenti berpacu saat tangan Icha mengulur dari ketinggian mencekiknya. Pandangan Jaka kabur. Paru-parunya serasa pecah karena tidak mendapatkan udara.

***

Jaka bangun. Dengan rakus diambilnya udara kuat-kuat. Dia duduk di ranjang. Telapak tangannya memeriksa leher. Tak ada telapak tangan seseorang disana. Tak ada gangguan di paru-parunya. Suara berderit dari alas kasur kalah dengan suara hiruk pikuk diluar. Beberapa teman-temannya ternyata sudah bangun. Hari ini mereka mempersiapkan pembuatan saluran dari sumber air di dekat gunung menuju ke perkampungan penduduk.

Ruslan masuk kamar sambil menenteng handuk. Ia tersenyum pada Jaka. “Mana rancangan saluran airmu?”

Jaka menunjukkan dengan dagu ke arah meja. Ruslan menuju ke meja.

“Bagus. Sudah pantas kamu lulus dari teknik sipil.” Ia terkekeh.

“Rus?”

“Hemmm.”

“Apa ada mahasiswi yang bernama Icha?”

Ruslan mengalihkan pandangan dari kertas rancangan ke Jaka. “Seingatku tidak ada.”

“Kalau penduduk?”

“Yailah, Sob. Kita-kita baru ketemu mereka tadi malem. Itu pun cuma kepala keluarga, bagaimana kita bisa tahu ada anggota keluarga mereka yang bernama Icha?” Ruslan berjalan mendekati ranjang Jaka dan duduk di tepi. “Kamu kelihatannya penasaran banget dengan nama Icha?”

“Tidak apa-apa.” Jaka berdiri, menghampiri tempat meletakkan handuk dan pergi ke kamar mandi.

Pukul tujuh pagi pekerjaan pembuatan saluran air dimulai. Jaka melihat setiap muka penduduk dan mahasiswa. Menjelang jam sepuluh ia kecewa. Tak satu pun dari mereka bermuka Icha. Jaka duduk dibawah pohon, menikmati kopi dari teko. Di kejauhan tampak Budi memberi instruksi pada sesama mahasiswa dan beberapa penduduk. Baru saja hendak menyandarkan punggung ke pohon, Ruslan menepuk punggungnya.

“Kamu masih mencari Icha? Aku lihat kamu seperti kebingungan dari tadi.”

Jaka tak menjawab. Matanya diarahkan pada Budi dan kawan-kawannya. Tak mungkin ia menceritakan kejadian malam itu pada Ruslan. Temannya itu pasti mengiranya sedang berhalusinasi.

“Oke oke, gini. Aku bantu kamu. Kita menuju ke tempat Pak Lurah. Kita tanya disana, apakah ada penduduk yang bernama Icha? Sebab sudah jelas diantara mahasiswa tidak ada yang bernama Icha. Bagaimana?”

Jaka tersenyum. Sejurus kemudian mereka berjalan bersama menuju ke tempat Pak Lurah.

Wajah Pak Lurah tampak menegang. Beberapa pegawai di sekitar mereka juga tampak berpandang-pandangan ketika mendengar nama Icha disebut. Pria paruh baya itu kemudian menuntun Jaka dan Ruslan agar memasuki ruang pribadinya. Setelah pintu ditutup, Pak Lurah berdehem sebentar sebelum berkata, “Bapak ingin tahu, darimana Nak Jaka tahu nama Icha?”

Jaka sudah menduga pertanyaan seperti tadi akan diajukan. Ia menimbang-nimbang jawaban yang akan dia berikan. Dia tidak tahu apakah nama Icha berarti buruk atau baik bagi desa ini, jika baik tak masalah, namun jika buruk namanya sendiri juga turut buruk. Akhirnya ia memutuskan untuk berterus-terang kecuali tentang mimpinya.

Pak Lurah menyatukan kedua ujung jari dan bertelekan pada meja di depannya. Matanya terkatup rapat. Ruangan tampak sunyi untuk beberapa saat. Pelan-pelan Pak Lurah membuka mata. Tampak cairan bening mengalir deras. Sebelum bersuara, ia mengusap-usap kedua matanya dengan tisu. “Icha anak saya. Tetapi kenapa dia selalu menampakkan diri ke orang lain? Saya dan ibunya kangen. Kenapa dia tidak pernah berbicara pada kami, meskipun cuma lewat mimpi.”

Jaka terperangah. Ruslan bingung. Kedua alisnya naik saat menoleh pada Jaka. Ia hendak bertanya pada Jaka tapi terpotong oleh suara Pak Lurah. “Icha kuliah di Bandung. Setahun lalu, Icha pulang berlibur ke rumah kami. Kami senang sekali. Sudah dua tahun dia tidak pulang.” Pak Lurah menerawang. Matanya seperti melihat kejadian masa lalu dalam layar. “Suatu hari dia ijin pada kami. katanya ingin mengunjungi teman-teman sekolahnya dulu.” Pria baya itu kembali bergetar. Sekali lagi ia menangkupkan kedua telapak tangan ke wajah. “Sejak itu dia tak pernah kembali.”

“Apakah sudah dilakukan pencarian?” Jaka terburu-buru bertanya tetapi kemudian menyesal. “Tentu saja sudah, tidak mungkin orangtua membiarkan anaknya hilang,” batinnya.

“Kami sudah melakukakan pencarian dimana-mana. Bahkan sudah melaporkan ke Polisi. Ada saksi mata mengatakan melihat Karso bersama Icha sebelum hilang. Polisi menangkapnya, tetapi kemudian melepaskannya lagi karena tidak ada bukti.”

Jaka menarik nafas panjang. Dari sudut matanya ia melihat Ruslan tampak gelisah. Tiba-tiba ada sesuatu melintasi benaknya. “Apa di sekitar sini ada danau, Pak?”

Pak Lurah memakai kaca mata yang ia lepas tadi. Bergantian antara punggung tangan dan telapak, ia mengusap sisa-sisa cairan hangat pada pipinya. “Saya tahu maksud Nak Jaka. Kami sudah mencari disana, tetapi tidak menemukan apa-apa.”

“Apa Bapak sudah mencari di tengah-tengah danau?”

Ruslan dan Pak Lurah sama-sama terkejut. “Maksud kamu dia ditengge….” Ruslan buru-buru menutup mulutnya yang lancang setelah melihat pandangan wajah Jaka yang menegur.

Dada Pak Lurah serasa meledak. Gelombang emosi tampak bergelora pada titik paling tinggi.

“Kalau diperbolehkan, kami ingin meminjam perahu atau apalah untuk bergerak ke tengah danau,” ucap Jaka.

Pak Lurah menggeleng. Jaka kemudian berpaling pada Ruslan. “Kamu tahu sejak dari Bandung kalau rancanganku butuh beberapa tong untuk penjernihan air dari gunung? Aku pinjam dulu buat membuat rakit.”

Ruslan mengangguk.

Suasana siang menjadi gempar. Kasak-kusuk mengenai maksud pembuatan rakit tersebar dengan cepat. Beberapa mahasiswa membantu Ruslan dan Jaka membuat rakit, sisanya ada yang langsung menyiapkan jalan agar mereka mudah membawa rakit ke danau. Istri Pak Lurah tergopoh-gopoh menghampiri suaminya. Pakaiannya tak rapi, sepertinya wanita itu langsung pergi dari rumah begitu mendengar pemberitaan mengenai Icha.

Jaka menggumam pada Ruslan, “Siapa yang menyebarkan berita, sih, kok jadi ramai sekali.” Ruslan tak menanggapi, dia terus mengikat tong-tong.

Penduduk dan mahasiswa berdiri di pinggir danau, berharap-harap cemas ketika rakit mulai berjalan di danau. Jaka berdiri di bagian belakang, Ruslan dan tiga orang lainnya mendayung. Sesampai di tengah danau, Adi, Bayu dan Ruslan menyelam dengan bermodal kaca mata renang. Sebagai mahasiswa UKM Selam, mereka bertiga dapat diandalkan.

Beberapa menit kegiatan penyelaman tak menghasilkan apa-apa. Beberapa kali Ruslan dan teman-temanya naik ke permukaan mengambil udara lantas menyelam lagi.Pada menit ke enam belas, Ruslan muncul ke permukaaan.

“Jak, sepertinya kita harus menelepon Polisi. Aku menemukan mayat. Salah satu kakinya diikat dengan pemberat.”

Mata Jaka membesar. Mukanya memerah. Aliran darah pada nadi di kepalanya tampak akan meledak. Ia memejamkan mata kemudian menaikkan handy talky sampai sebatas mulut. “Katrina. Tolong panggil ambulan dan Polisi.”

Tangis Pak Lurah menjadi-jadi saat petugas ambulan memasukkan jenasah pada kantung berwarna kuning. Bu Dirman pingsan. Katrina dan beberapa mahasiswi lain membombongnya menjauhi ambulan.

Pandangan Jaka kosong seiring bunyi suara ambulan menjauh. Kedua lengannya terkulai disamping. Ruslan dan Budi menghampirinya. Tangan Ruslan menepuk-nepuk bahu Jaka. Tetapi Jaka seperti ada di dunia lain. Pandangannya terletak pada belokan tempat ambulan menghilang ditutupi perumahan penduduk.

“Bagaimana kamu tahu kalau dia ada disini?” Ruslan bertanya dalam nada rendah.

“Icha pernah membawa aku di danau ini dalam mimpi. Dia duduk disini,” Jaka menunjuk pada sebuah batu di sela-sela tanaman berbunga kuning kecil. “Pandangannya selalu menuju pada tengah danau. Pandangan sedih. Pandangan tak berdaya tapi marah. Lagipula sangat mudah ditebak. Kalau kamu membunuh seseorang di danau, maka tengah-tengah danau adalah tempat paling tepat untuk menyembunyikan mayatnya.”

Ruslan dan Budi membimbing Jaka meninggalkan danau. Seorang polisi memandang ke arah mereka. Ketika sudah dekat, Polisi itu menghampiri. Ruslan memisahkan diri menghadang Polisi. Budi tak mendengar isi pembicaraan mereka, tetapi beberapa saat kemudian Polisi itu meninggalkan mereka. Ruslan kembali bersama Budi membimbing Jaka meninggalkan danau. Bisik-bisik orang-orang sepanjang perjalanan seperti bagian akhir dari musik. Menghilang perlahan-perlahan, tak pernah mampir ke telinga Jaka.

***

Jaka tersenyum pada penjaga makam. Ibu tua itu berdiri dengan tersenyum. Sebuah sapu lidi ada di tangan kanannya. Jaka mulai mengenal Ibu Sartinah karena sebulan sekali ia datang di makam ini dalam setahun terakhir. Lagipula dia tak pernah pelit memasukkan sepuluh ribu pada kotak amal dari kayu usang di jalan masuk, sehingga kedatangan Jaka selalu disambut dengan sangat sukacita.

“Ini makam Icha yang beritanya ada di TV-TV itu?” tanya Nissa. Baru kali ini dia ikut dengan Jaka ke pemakaman di desa ini.

Jaka mengangguk pelan. Ia menggandeng tangan Nissa. Kakinya sudah ahli menghindari makam-makam yang tak beraturan. Ia berusaha tak melangkahi makam yang hanya berupa gundukan di tanah. Jika terpaksa melewatinya dia berkata maaf dalam hati.

Jaka dan Nissa duduk pada sebuah makam sederhana. Batu nisannya terbuat hanya sebuah kayu bertuliskan Maleasiska Saraswati. Sebuah tanaman puring di tanam di bagian kepala makam, disamping kendi berisi air. Sebuah payung ada di seberang kendi. Menurut adat Jawa, payung ini adalah pertanda bahwa wanita yang meninggal belum menikah.

Karso langsung ditangkap saat jenasah Icha diketemukan. Ia mengakui bahwa dia yang membunuh Icha. Rupanya, diam-diam Icha melanjutkan hubungan mereka di Bandung meskipun Pak Lurah tak menyetujui hubungan mereka. Alasan Pak Dirman masuk akal, Karso pemalas. Sudah beberapa lama ia menganggur tanpa mau berusaha mencari kerja. Icha hamil dan ingin berterus-terang pada orang tuanya serta berusaha menuntut Karso menikahinya.

Sebelum sempat berbicara dengan orangtuanya, Karso membujuk Icha untuk bertemu dengannya di danau. Agaknya Karso bermaksud membungkam Icha sebelum menyampaikan kabar buruk dan menyebar pada seluruh kampung. Mereka bertengkar. Karso memaksa Icha menggugurkan kandungannya tetapi Icha tidak mau. Pria itu lantas kalap dan memukul Icha sampai jatuh tersungkur. Ketika melihat kepala Icha yang berdarah, timbul niatnya membunuh Icha. Tangan Karso yang gempal mencekik leher Icha.

Karso mulai ketakutan saat melihat tubuh Icha tak bergerak. Ia kemudian pulang ke rumah, mengambil tali, menghantamkan batu pada kepalanya untuk memastikan Icha tewas dan mengikat kaki Icha dengan batu tadi. Sebuah rakit pemancing ikan di tepi danau dijadikan alat membawa tubuh Icha ke tengah danau dan menenggelamkannya.

11 responses to “Cerpen Horor: Temani Aku

  1. keren kak ceritanya,,
    tapi maaf sebelumnya ..bedha bnget m judulx..
    jd kesanx agk melenceng siih
    icha ketakutan ddanau sendirian tp seharusx ia minta tolong krn sedih jasatx terjebak dtengah danau
    gtu😀 maaf

    Suka

  2. Bagus

    Suka

  3. Wuihh.. Menegangkan

    Suka

  4. walaupun klise, tapi menarik hehe

    Suka

  5. Tetap merinding walaupun bacanya pagi-pagi😀 apalagi dgn gambar-gambar yg mendukung seperti di atas.

    Suka

  6. hiiiiiiiii….. sereeem…

    Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s