Cerita Mini: Ayat-ayat Benci


Bernard meletakkan gelas lowball di meja. Matanya tetap menatap ke arah dua meja di seberang. Suara hiruk pikuk dan musik membuat Bernard tak bisa mencerna pembicaraan dari meja itu. Matanya melihat seorang wanita berambut pendek dengan bagian samping dipanjangkan sampai menutup pipi, sedang tertawa-tawa. Sorot matanya hanya berpusat pada gelas cairan coklat dengan es. Beberapa pria mengelilingi meja tempat gadis itu duduk pada sofa. Pria disebelah kanan tampak merangkulnya sedangkan pria di sebelah kiri tampak selalu sigap dengan botol di tangan kanan, begitu isi gelas wanita itu kosong, dia segera mengisi gelas wanita itu.

Bernard merogoh-rogoh saku untuk mencari pengikat rambut. Ia lantas turun dari kursi tinggi di depan meja panjang bartender. Tepat saat pria-pria itu mengajak berdiri wanita itu, Bernard sampai di meja mereka.

“Oh, Sis, tadi kamu kemana? Aku cari-cari kamu dari tadi,” ujar Bernard. Tangannya bergerak hendak meraih tangan wanita itu.

Pria yang terdekat dengan Bernard menangkis halus. Bernard melotot pada pria itu.

“Cari wanita lain saja, Bang. Dia punya kita.” Pria bertubuh lebih pendek itu tidak merasa terintimidasi dengan tubuh Bernard yang kekar.

“Aku sarankan kalian pergi.”

“Kalau tidak mau?” pria beruban mengepalkan tangan kanan dan mengelus-ngelus dengan tangan lainnya.

Tanpa diduga, telapak tangan Bernard sudah melingkari lelaki beruban. Ujung jempol Bernard menekan jangkunnya. Si rambut uban tergopoh-gopoh menarik nafas, tersendak-sendak. Pria pendek menyerbu ke depan dengan cepat. Tapi tak secepat kaki Bernard yang mengayun ke arah ulu hati. Dengan melolong ia terjatuh duduk pada sofa. Telunjuk Bernard memutar-mutar setengah lingkaran di depan mereka, bernada mengancam. “Sekali lagi ada yang maju, aku pastikan kalian keluar dari Pub ini dengan mobil jenazah.”

Tangan Bernard melingkar pada pinggang wanita itu. Dengan terhuyung-huyung, ia mencapai mobil dengan usaha seperti mendaki puncak Mahameru. Diletakkan wanita itu di kursi belakang. Aroma parfumnya benar-benar feminim. Ada rasa manis dan segar, seperti campuran lemon dan bunga mawar.

Bernard kaget saat menggendong. Wanita berat untuk ukuran tubuh semungil ini. Ia sudah membuka terlebih dahulu pintu depan dan pintu kamar, sehingga ia tidak perlu kerepotan membuka kunci sambil menggendong.

Tubuhnya benar-benar molek, batin Bernard. Pantas laki-laki tadi berusaha membuat wanita ini mabuk. Wajahnya oval. Deretan alis tipis berderet seperti barisan pohon pada tepi jalan setapak pegunungan diatas mata berbentuk rumah kerang jika dilihat dari belakang. Meskipun matanya tertutup, Bernard membayangkan ada keteduhan disana. Tetapi mengapa gadis wanita ini seperti frustasi? Sejak pertama kali ia melihat wanita ini datang dan memesan minuman, dia tahu kalau wanita ini seperti domba di tengah kawanan serigala, oleh sebab itu dia berusaha agar dirinya tidak mabuk. Ada sesuatu dari hatinya yang mengatakan Aku harus membawa wanita ini pergi darisini.

Bibirnya tipis, mengundang untuk meletakkan bibirnya sendiri disana. Menyapu dengan lembut dan mengakhirinya dengan sesapan. Damn! Aku mikirin apa, sih? Bukannya tadi aku ingin menyelamatkan gadis ini? Kenapa sekarang aku berpikiran seperti pria-pria di Pub.

Bernard bangkit dari ranjang dan keluar dari kamar ssetelah menyelimuti tubuh wanita itu dengan bedcover

***

Bau daging dibakar mengelitik hidungnya. “Dimana aku?” ia bertanya-tanya. Pusing masih berkeliling di sepanjang kepalanya. Ia mencoba duduk. Kepalanya masih terasa berdenyut-denyut. Untung ranjang ini punya sandaran pada bagian kepala yang cukup tinggi. Dengan malas digeser badannya agar tubuhnya tetap tegak ketika duduk. Ranjang! Oh God. Wanita itu menyibakkan bedcover. Ia memeriksa tubuhnya dan terkejut. Pakaiannya sudah diganti. Siapa yang mengganti? Keringat dingin keluar. Jangan jangan. Tangannya meraba tubuh bagian bawah. Tidak ada rasa apa-apa. Berarti tidak terjadi apa-apa. Ia mengendarkan pandangan ke sekeliling kamar. Sebuah lemari kayu tampak mengkilap terdiri dari dua pintu di sisi kiri ranjang. Di sebelah kanan lemari, terbuka jendela. Mengarah pada ruangan lain. Sepertinya dapur, pikirnya. Matanya tak dapat memandang dengan jelas. Sebidang halaman kecil membatasi kamar ini dengan ruangan yang diduga dapur. Sebuah gitar listrik bertuliskan Ibanez diletakkan pada penyangga terletak di tembok dekat pintu.

Kala sedang berpikir-pikir, dia terkejut saat pintu kamar terbuka. Suaranya memang tidak keras, hanya saja karena ruangan demikian sunyi, ia merasakan suara tadi seperti petir.

Seorang pemuda berbadan kekar masuk. Ditangannya ada nampan berisi sebuah hot plate nampak mengepul-ngepul. Diatasnya terdapat daging panggang. Di sebelah kiri daging panggang tampak nasi berwarna merah dengan telur ceplok diatasnya. Wanita itu cepat-cepat meraih bedcover untuk menutupi tubuhnya.

Bernard dengan santai memandang pada wanita itu. Ia meletakkan nampan di nakas dekat ranjang. Wanita itu baru menyadari ada segelas air berwarna kuning dengan aroma jeruk disampingnya.

“Ini sarapanmu. Sebaiknya kamu cepat sarapan dan minum air lemon manis-manis ini cepat-cepat agar kamu tidak muntah. Ini aspirin,” jarinya menunjuk pada tablet di samping gelas. “Jangan takut, itu bukan obat perangsang.” Wanita itu tak bisa melihat senyum jail Bernard karena badannya berbalik ke arah mejanya sendiri.

“Kamu siapa?”

“Bernard.”

Sebelumnya, wanita itu merasa cemas dengan kedatangan Bernard, tetapi tiba-tiba nama Bernard membuat dirinya ingin tertawa. Nama pria ini seperti tokoh kartun yang konyol. Tokoh kartun Bernard adalah beruang lucu, suka marah-marah dan selalu sial.

“Kenapa aku bisa berada disini?”

“Kamu mabuk. Beberapa pria ingin menidurimu. Sebelum itu terjadi, ada seorang pahlawan bernama Bernard menyelamatkanmu.” Bernard makan dengan lahap. Ia mengguyur dagingnya terlebih dahulu dengan kuah kental berwarna coklat. Banyi gemerisik kuah menyentuh piring panas membuat wanita itu hampir meneteskan air liur.

Bernard memperhatikan wanita itu saat makan, setelah beberapa suapan, pria itu bertanya, “Kamu lagi ada masalah?”

“Bukan urusanmu.”

“Kalau semua orang seegois kamu, mungkin sekarang kamu sudah tidak perawan karena diperkosa orang-orang kemarin malam.”

“Terima kasih sudah menolongku, kalau kata-kata itu yang pengin kamu dengar dari aku.” Wanita itu sebetulnya sebal dengan cara Bernard berbicara. Tanpa tedeng aling-aling, asal ngomong, tidak pernah berusaha memperhalus bahasa.

Bernard diam saja. Ia memandang keluar jendela. Kediaman Bernard membuat wanita itu merasa jengah. Bagaimanapun busuk omongannya, pria di jendela itu adalah malaikat penolongnya. Ia berdehem, kemudian membuka suara. “Namaku Riska.” Bernard tetap tak menoleh. Kali ini Riska mendengar suara gelegak saat Bernard meminum air putih.

“Apa yang membuat kamu menduga aku ada masalah?”

Bernard menghabiskan sisa makanan di mulut, kemudian berucap, “Kamu datang sendirian. Dan dengan berani mabuk. Biasanya wanita yang sering ke Pub akan mengajak orang lain, sehingga jika dia mabuk masih ada teman yang sadar untuk membawanya pulang. Aku rasa kamu bukan wanita bodoh, kamu pasti bisa berpikir hal seperti itu, jika kenyataannya tidak, itu berarti kamu lagi tidak beres. Tidak bisa berpikir jernih. Orang yang tak berpikir jernih pastilah punya masalah.”

Riska mengetuk-ngetuk hot plate dengan garpu. Ia menelusuri wajah Bernard dari jarak jauh. Seakan memastikan apakah cowok ini dapat dipercaya. Ia menarik nafas dalam-dalam. “Cowokku mutusin aku.”

Di luar dugaan, Bernard tertawa terbahak-bahak. Riska tersinggung. Ia sudah memutuskan memercayai pria ini, tetapi dia malah menertawakan. Ia membanting garpu ke hot plate. Bernard menyadari perubahan sikap Riska.

“Sori. Kamu tuh aneh. Kamu bisa mendapatkan pria mana saja, kenapa kamu mikirin mantanmu? Memangnya atas dasar apa-apa pria tadi malam mau membawamu pulang.”

Riska benar-benar jengkel dengan gaya bicara Bernard. “Kenapa juga cowok selalu senang ngomong seks. Gak ada yang lain apa?”

“Kalau cowok ama cewek ngomongnya sama, entar apa bedanya? Setidak-tidaknya aku ngomong apa adanya, tidak munafik, mungkin, seperti cowokmu.”

“Tahu darimana kalau cowokku munafik?”

“Udahlah, gak usah ngomong masalah mantanmu, gak ada gunanya. Sekarang begini saja, beri aku foto mantanmu.”

“Buat apa? Bantu aku melet dia?”

“Kalau aku jadi kamu, aku bakalan cari cowok lain. Dia aja tidak mikirin kamu, ngapain juga kamu mikirin dia.” Bernard duduk di tepi ranjang. “Nah, sekarang mana foto cowok kamu?”

Bernard mengangsurkan tas tangan pada Riska. Wanita itu mengambil sebuah foto dan menyerahkan pada Bernard.

“Sekarang pejamkan matamu.”

Riska heran. “Ngapain?”

“Udah pejamkan saja kok ribut.”

Riska memejamkan mata. “Sekarang bayangkan wajah monyet, pakai kacamata, lagi ngisep rokok.”

Riska tidak bisa tidak tertawa. Tapi Bernard tak menanggapi. “Ayo, jangan bercanda.” Riska lantas mengambil nafas dan mulai membayangkan. Bibirnya mulai tersenyum.

“Habis gini, aku hitung sampai tiga dan kamu membuka mata. Saat membuka mata, katakan kata-kata ini, kamu monyet merokok, kamu monyet pakai kacamata, aku tidak suka monyet. 1..2..3.”

Riska pelan-pelan membuka mata. Di depan wajahnya, ia melihat Bernard memegang foto mantannya. Lama kelamaan bibirnya merekah. “Bagaimana bisa begini?”

“Apa yang kamu lihat?”

“Aku melihat bayangan monyet di benakku tadi sekarang terbayang samar-samar di foto. Kok bisa gitu, sih?”

“Itu cari kerja otak kita. Otak kita memang hebat.”

“Darimana kamu tahu cara-cara seperti ini.” Riska tak percaya tubuh preman seperti Bernard tahu cara-cara kejiwaan seperti ini.

“Aku kuliah di Psikologi. Sekarang aku tinggak skripsi, tadi malam aku lagi survey buat skripsi, aku mencari gigolo, eh….tahunya malah dapet kamu. Cewek mungil sok perkasa.”

Riska berkaca-kaca memandang Bernard. Ternyata di dunia ini masih ada cowok sebaik Bernard. “Terima kasih.”

“Gak usah dipikirin. Mulai dari sekarang lakukan cara-cara seperti tadi apabila kamu ingat mantanmu. Dan jangan lupa ayat-ayat bencinya, ‘kamu monyet merokok, kamu monyet pakai kacamata, aku tidak suka monyet’.”

Riska sesenggukkan. Air matanya meleleh. Empati Bernard makin membesar. “Udahlah. Yang sudah-sudah gak usah dipikirin. Apabila cowok itu pergi berarti dia memang gak pantas bagi kamu.”

Bernard berdiri, berbalik arah perlahan-lahan. “Aku mengganti bajumu karena kamu muntah hebat. Dan jangan kuatir. Yang mengganti pakaianmu bukan aku, tapi adik perempuannku. Sekarang mungkin dia lagi mandi. Entar kamu ketemu dia. Sekarang aku mau siap-siap bimbingan skripsi. Lain kali jangan sok jagoan minum api.”

Riska menyandarkan punggung pada sandaran ranjang. Matanya masih menatap pintu. Air bening di sudut matanya kembali mengalir, tapi kali ini karena dia merasa beruntung diketemukan oleh Bernard.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s