Cara Membuat Cerpen Dalam Satu Jam (Bagian 2)


Artikel ini adalah lanjutan dari artikel saya terdahulu, Cara Membuat Cerpen Dalam Satu Jam (Bagian 1). Beda dengan artikel terdahulu, pada artikel ini saya akan mempraktikkan teori di bagian 1.

Seperti yang sudah saya tulis, saya lebih senang memulai cerita pada bagian konflik. Saya merasa lega jika sudah menyelesaikan bagian konflik, sebab “tak ada masalah” berarti tak ada cerpen/novel. Untuk mempratikkan teori, saya akan memaparkan proses pembuat cerpen horor saya yang berjudul Temani Aku.

Saya mengambil ide cerita dari bank ide yang selalu saya tambahkan apabila saya mendapat ide baru. Ide tersebut saya tuliskan seperti ini:

Seorang arwah A mencari manusia hidup B untuk menemaninya di alam mereka

Ide diatas saya kembangkan dengan mengacu pada tokoh. Dalam membuat cerita, saya selalu memasukkan unsur humanisme karena meskipun saya membuat cerita horor, saya tidak ingin hanya sekedar membuat rasa ngeri atau misteri. Saya punya tiga pilihan kelamin tokoh A-B Cowok-cowok, cowok-cewek, atau cewek-cewek. Pilihan cowok-cowok saya buang, karena tokoh cowok-cowok lebih bagus hanya untuk berseteru, teman adu fisik, atau adu ego. Rasanya cowok-cowok akan aneh kalau terlalu mesra (kecuali homo). Sebenarnya tokoh cewek-cewek adalah baik mengingat cewek-cewek mempunyai apa yang disebut sebagai sisterhood yang kuat (rasa solidaritas antar cewek), tetapi saya mengubah kelamin tokoh B saat menulis bagian awal cerita. Nah, sekarang ide saya menjadi berikut:

Seorang arwah wanita A mencari cowok B untuk menemaninya di alam mereka

Terus apa konfliknya:
Arwah wanita A kesepian, karena dia dibunuh dan dibuang di tempat terpencil. Dia mencari cowok yang baik B (karena dia mati oleh cowok yang berkelakuan buruk sehingga dia rindu merasakan kebaikan cowok). Cowok B tidak mau, sebab dia sudah mempunyai pacar C (Cowok B mengira cewek A menginginkannya menjadi cowok-nya. Padahal maksud Si Arwah, cowok B mati dulu agar arwah cowok B masuk ke alam cewek A).

Konflik sudah tercipta. Sekarang saya harus merancang bagian akhir. Rasa kemanusiaan harus terasa di bagian ini, oleh karena itu saya menginginkan arwah A harus diakhiri penderitaannya dan menemui kedamaian tanpa mengorbankan cowok B (cowok B tetap hidup dan tetap bersama pacar C). Saya melaksanakan pemikirin ini dengan: Mayat cewek A diketemukan. Saya merancangnya diketemukan di danau. Danau saya pilih sebab bagian konflik terjadi pada mimpi cowok B di danau. Dan kenapa konflik di danau? Karena akan menimbulkan rasa misteri. Gak lucu cerita horor terjadi secara massal (seperti film The Mummy). Cerita horor harus terjadi pada kesendirian tokohnya atau grup kecil dan pada tempat yang terpencil (dalam cerita saya, danau).

Pada bagian akhir, saya juga menceritakan sejarah cewek A menjadi arwah. Sejarah cewek A ini saya gunakan untuk memperkuat rasa sentimental di bagian konflik (yang lebih ke arah konfrontasi antara cewek A dan cowok B). Setelah itu, saya memberitahu pembaca bahwa cerita selesai dengan cara menarasikan kedatangan cowok B ke makam cewek A bersama pacar C. Keikutsertaan pacar C ke makam bersama cowok B saya gunakan sebagai keterangan akhir bahwa cowok B masih setia pada pacarnya.

Bagian akhir perancangan cerita justru merancang bagian permulaan (Lho?) sebab saya memulai dari bagian konflik, bagian akhir terus ke bagian permulaan. Pada bagian permulaan, saya harus melogiskan cerita di konflik dan bagian akhir.

  1. Kenapa cowok B bisa ketemu cewek A? Jawaban: Karena cowok B sedang KKN di desa tempat cewek A tewas dan cewek A ingin mencari seseorang untuk menemaninya dan memuaskan akan perasaan dicintai seorang cowok yang baik.
  2. Kenapa cewek A suka dengan cowok B? Jawaban: Karena perhatian cowok B dengan mengurut kakinya
  3. Cowok B harus diisolasi dari orang lain (dia harus sendirian berhadapan dengan cewek B agar lebih mendebarkan)
  4. Saya memasukkan chemistry antara cowok B-cewek A agar cerita lebih sentimentil dengan adegan cowok B mengurut cewek A. Tetapi kenapa cowok B mengurut cewek A? Oleh karena alasan ini, saya membuat cewek A jatuh karena terkejut. Lantas hal logis apa yang membuat cewek A terkejut, kan dia arwah, pastinya tak akan ada seseorang yang membuat arwah takut (kalau manusia takut arwah sih sudah jelas jawabannya). Jawaban: cewek A ingin menguji kebaikan cowok B

Sampai tahap ini, anda sudah mengetahui proses kreatifitas saya dalam membuat cerpen horor Temani Aku. Anda pasti memperhatikan, bahwa saya cuma menggunakan A, B, dan C untuk mengidentifikasi tokoh secara individu. Saya mempunyai kecenderungan menyelesaikan plot cerita terlebih dahulu daripada nama karena bagi saya plot adalah bagian terberat dalam memanjakan pembaca. Mengganti nama tokoh dapat dengan cepat dilakukan di MS Words atau Open Office. Tinggal search dan replace tetapi tidak dengan plot. Mengubah di titik tertentu plot bisa saja merubah keseluruhan cerita. Membuat plot sama saja membuat pondasi sebuah rumah. Lewat pondasi, kita dapat mengetahui ukuran ruangan, juga menentukan apakah rumah kita dapat dibuat bertingkat atau tidak, atau apakah tembok kita cepat menjadi lembab atau tidak.

Saya menginginkan arwah A haruslah cewek manja (kelemahan) tetapi tangguh (kekuatannya). Sedangkah tokoh B haruslah cowok setia (kekuatannya) tetapi mudah merasa kasihan (kelemahannya). Dalam kelemahannya, cewek A ingin mencari seseorang untuk menemaninya tetapi tangguh (ingin mencekik cowok B dalam mimpi). Dalam kekuatannya cowok B tetapi setia dan tak menuruti cewek A namun berusaha menemukan tempat mayat cewek A(karena kasihan terhadap nasibnya, meskipun cewek A berusaha mencekiknya). Pemikiran-pemikiran tadi yang membuat saya memilih nama Icha dan Jaka. Nama tersebut saya ambilkan dari library saya, sebab saya sudah mempunyai kamus nama lengkap dengan artinya. Saya mengulang-ulang nama Icha dan Jaka dalam batin saya untuk merasakan efek nama ini, dan saya mantap memakainya.

Sebagai akhir artikel, saya meringkas apa yang sudah saya jelaskan pada artikel pertama dan kedua ini dengan membandingkan waktu untuk mendapatkan hal tersebut antara cara konvensional dan cara yang saya lakukan sebagai berikut:

Nama Aksi Cara Saya Cara Konvesional Saya
Mendapatkan ide Bank Ide: 0 menit, karena saya tinggal mengambil dari catatan saya Mendadak: 3 hari
Mengerjakan bagian yang paling disukai (Anda dapat memilih sendiri sesuai kemampuan anda) 0 menit Bisa sampai sejam
Nama tokoh Bank Nama: 0 menit. Saya tinggal mengambil dari library saya (kamus nama, catatan mengenai arti nama) Bisa sampai sehari

 Cara Membuat Cerpen Dalam Satu Jam (Bagian 1)

6 responses to “Cara Membuat Cerpen Dalam Satu Jam (Bagian 2)

  1. wah tulisannya top markotop. thanks ye…

    Suka

  2. mamah belum pernah bikin cerpen horor maz bro, soalnya takut setannya datang betulan xixixi

    Suka

  3. thanx bang sudah bagi-bagi ilmu, saya langganan update by email. wow banget pokoknya!
    Sekalian tanya dong Bang, kalau saya mau ikut lomba kok jadinya nulisnya gak lancar ya, kayak terbebani gitu. tapi kalau nulis niatnya buat senang2 nulisnya lebih lancar tidak ada beban. jadi akhirnya saya gak pernah deh ikut lomba2, apdahal pengin banget. ada solusi Bang agar saya nulis apa saja tanpa beban?makasih bang

    Suka

    • Dalam mengerjakan sesuatu, selalulah memasang target, entah sedang lomba atau tidak. Misal perhari menulis 100 kata. Jangan memikirkan menang. Jangan memikirkan kapan selesai, dan teruslah menulis. Agar jangan sampai kehabisan bahan, selalu buat rancangan plot

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s