Nyai Gowok


nyai gowok, diva press, budi sardjono, nyai bayak abang, nyai lindri, goo wook niangJudul Buku: Nyai Gowok
Penulis: Budi Sardjono
Jumlah Halaman: 330
Penerbit: Diva Press
Tahun Terbit: 2014
ISBN: 978-602-255-601-5

Rombongan Bagus dan pengiringnya sampai di tempat Nyai Lindri. Saat itulah pelajaran tentang hubungan pria-wanita dijalani putera Wedana itu.

 Bagus Sasongko baru saja disunat. Sudah saatnya seorang Gowok akan memberikan pelajaran mengenai hubungan antara pria dan wanita padanya. Ndoro Dono dan istrinya mengantar anak keduanya tersebut pada Nyai Gowok di Desa Gowangan.

Bagus Sasongko yang lugu pelan-pelan mulai menjadi lelaki dewasa. Malam itu, ia melihat Nyai Gowok mandi di pancuran dari jendela kamarnya. Sesuatu perasaan menggelora dalam dirinya, namun ia masih tak tahu perasaan apa itu.

Pagi harinya, ia mulai mengenal kopi purwoceng. Nyai Gowok alias Lindri tersebut mengatakan, bahwa Purwoceng didapat dari Pegunungan Dieng. Kopi tersebut berasal dari umbi Purwoceng yang dijemur sampai kering kemudian digoreng. Khasiatnya? Kata orang-orang, akan membuat laki-laki perkasa di ranjang.

Setelah melakukan ritual seorang gowok di makam Nyai Gowang, alias Goo Hwang Nio, Nyai Lindri mengajak Bagus ke Yogya. Ia berencana akan memberikan pelajaran kelaki-lakian sambil melihat perayaan Sekaten.

Perjalanan dari Temanggung ke Yogya tidak mudah. Lurah Juwiring yang menyukai Nyai Gowok dan berniat menikahinya, mengejar-ngejar mereka. Mengetahui bahwa Nyai Gowok jelas-jelas tidak mau menikah dengannya, Lurah Juwiring mendatangi seorang dukun untuk meminta guna-guna. Dukun tersebut memberinya mantra Jaran Guyang.

Nyai Gowok curiga bahwa ada seseorang yang merapal guna-guna pada dirinya. Ia bermimpi terus menerus tentang Lurah Juwiring. Lantas ia mendatangi seorang yang mengetahui masalah guna-guna. Dari orang tersebut, Nyai Gowok mendapat mantra pemusnah aji Jaran Guyang. Nyai Gowok sudah menduga bahwa Lurah Juwiring yang mengguna-gunai dirinya. Oleh karena itu, ia berpesan pada penerima tamu pada losmen tempat ia dan Bagus menginap, agar tidak memberitahukan kepada siapapun mengenai keberadaan dirinya di losmen tersebut. Taktik ini jitu. Lurah Juwiring tak berhasil mencari-cari penginapan Nyai Gowok dan Bagus di Yogya.

Saat Nyai Gowok dan Bagus kembali ke Temanggung, mereka mendengar kabar bahwa Lurah Juwiring tewas kecelakaan. Bagus sedih, bukan karena Lurah Juwiring, tetapi karena ia tahu bahwa hari perpisahan dengan Nyai Gowok bertambah dekat. Pada hari orangtuanya menjemput, Nyai Gowok tidak ada di rumah. Sebuah surat ditinggalkan olehnya. Di surat itu, Nyai Gowok mengatakan permintaan maaf karena dirinya sedang ke Ambarawa. Namun Martinah tahu, bahwa Nyai Gowok pergi untuk menghindari keharuan karena perpisahannya dengan Bagus.

Enam bulan kemudian, Bagus Sasongko mengunjungi Desa Gowangan lagi. Keadaan sudah benar-benar berubah. Nyai Gowok telah pergi meninggalkan desa tersebut dan pindah ke Blora. Sedangkan Martinah pindah ke Boyolali. Tempat tinggal Goo Hwang Lin menjadi Taman Kanak-kanak Lintang Enjing.

Tema novel ini adalah pelajaran seksualitas dari sisi pria (katuranggan wanita) . Ber-setting pada suasana Temanggung dan Yogyakarta tahun 1950-an. Penulis mencoba memaparkan seni kamasutra secara halus. Paduan sejarah keberadaan Gowok pertama kali di Jawa disertai mantra guna-guna dan tembang-tembang Jawa semakin menguatkan rasa Jawa. Dengan demikian tidak mengherankan jika plot novel ini dikatakan sederhana sekali. Tujuannya memang memaparkan seni seksualitas yang menunggang dalam cerita Bagus Sasongko dan Nyai Gowok.

Secara penulisan, saya suka. Namun ada beberapa hal yang menurut saya akan lebih baik kalau agak beberapa bagian agak diperpanjang dan beberapa bagian lagi diperkecil, lho? Iya, saya tidak bercanda. Penulis sering memaparkan detil secara singkat. Contoh:

Mereka pun bisa membeli aneka jajanan seperti galundeng, bujang gelut, martabak, jenang ketan, sate gajih, wedang ronde, sate kambing….

(halaman 8)

Andai penulis lebih memaparkan di salah satu narasinya seperti wedang ronde adalah minuman terbuat dari jahe dan gula…. tentunya akan membuat saya dapat lebih membayangkan dan membawa imajinasinya ke dalam cerita disamping sebagai variasi penulisan saja. Saya haus dengan cerita suasana Jawa jaman dulu, pemaparan yang mengurai detil seperti diatas akan lebih membuat saya lebih memasuki suasana saat itu. Namun diluar masalah detil seperti yang saya sebut diatas, penulis cukup bagus memberikan detil pada ruangan serta perangkat-perangkat seksualitas untuk kaum pria (seperti tulisan pada sampul novel: novel kamasutra dari jawa) seperti minuman kopi purwoceng dari Dieng, ramuan: jahe, beras kencur dan gula aren atau telur plus merica.

Penulis juga berhasil memaparkan seksualitas tanpa meninggalkan kesan porno. Penjelasan Nyai Gowok sangat masuk akal bahwa seksualitas bukan masalah nafsu. Seharusnya lelaki tidak asal tubruk, tetapi melakukannya dengan penuh rasa cinta. Mendahulukan kepuasan wanita terlebih dahulu, baru kepuasan dirinya sendirilah yang disebut Lelananging Jagad (Pria Untuk Dunia).

Pengunaan Onomatoeia pada narasi adegan seksualitas Bagus dan Nyai Gowok agak kurang menohok. Alangkah lebih baiknya jika memang kereta api dipergunakan sebagai perlambang hubungan seksual antara keduanya, penulis bisa tidak sekedar memakai bunyi kereta api, tetapi lebih ke tahap dari kereta diam sampai kereta mencapai kecepatan maksimal. Penggambaran seksualnya tetap samar namun pembaca bisa mengerti “suasana seksualitas” Nyai Gowok dan Bagus. Tetapi ya ini cuma masalah selera saja, sih. Mungkin penulis sudah cukup puas dengan pemakaian onomatopoeia saja (kalau saya, masih kurang, mengingat novel ini adalah novel kamasutra).

Saya juga cukup senang dengan pembahasan tembang Asmaradhana. Jujur, selama ini saya tidak tahu artinya. Pemaparan di novel ini membuat saya semakin mengagumi budaya Jawa. Begitu juga dengan mantra guna-guna Jaran Guyang dan mantra penangkalnya. Ini tidak sekedar mistik. Inilah alam jawa. Tembang Asmaradhana dan narasi tentang ilmu pelet khas jawa semakin mempercantik novel ini. Tetapi penambahan sejarah Nyai Bayak Abang terlalu panjang. Saya sempat mengira ini adalah novel sejarah perjuangan.

Jangan takut membeli novel ini meskipun bertajuk Novel Kamasutra dari Jawa. Pemaparannya cukup sopan bahkan mengurai seksualitas dari sudut pandang cinta bukan nafsu. Meskipun tidak seberat Serat Centhini atau penggambaran setting se-detil Ronggeng Dukuh Paruk, saya cukup puas membacanya. Apalagi ada adegan menyentuh, ketika Nyai Gowok memegang surat dari Bagus di dadanya dan menangis serta narasi singkat kedatangan Bagus enam bulan kemudian.

Daftar Tokoh

Nama Tokoh Keterangan
Nyai Gowok/Lindri/Goo Hwang Lin Tokoh utama; berprofesi sebagai Gowok
Bagus Sasongko Salah satu murid Nyai Gowok; putera Wedana
Pak Widi Kusir andong Wedana Randu Pitu
Kang Bogang Perawat kuda
Irawan Kakak Bagus Sasongko
Mbah Kyai Dalimun Sesepuh masyarakat Randu Pitu
Martinah Pembantu Nyai Gowok; janda muda
Lurah Juwiring Suka pada Nyai Gowok
Ndoro Dono Ayah Bagus Sasongko
Mbah Jomo Dukun Lurah Juwiring
Iklan

3 responses to “Nyai Gowok

  1. Bartolomius Loppies

    saya berminat membaca novel ini, tolong info dimana bisa mendapatkannya?

    Suka

  2. ada bagian2 yang juga bersumber dari Ronggeng Dukuh Paruk ya… hehe. Asmara dhahana, Jaran Guyang…. rasanya familiar di novel tsb

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s