Dia Sudah Memulai


yudhet, balai pustaka, novel anak-anak, fiksiJudul Buku: Dia Sudah Memulai
Penulis: Yudhet (Yudi Triantoro)
Penerbit: Balai Pustaka
Jumlah Halaman: 74
Tahun Terbit: 2007, cetakan ke-4
Desain Sampul dan Ilustrasi: B.L. Bambang Prasodjo
ISBN: 979-407-577-9

Bermula dari perkenalannya dengan Kak Aini, Srikandi bercita-cita menjadi penulis. Namun menjadi penulis tidak semudah yang dibayangkan oleh Srikandi.

Pak Harno tidak berhasil mengorek alasan kenapa Srikandi tak mengerjakan PR mengarang. Srikandi tidak ingin merepotkan guru Bahasa Indonesia itu. Pak Harno mempunyai kebiasaan mengunjungi orang yang mengalami kesusahan, entah murid tersebut atau kerabatnya. Srikandi tak ingin Pak Harno membelikan ibunya oleh-oleh. Pak Harno memberi kesempatan kepada para murid yang tidak mengerjakan agar menyelesaikan tugas tersebut keesokan harinya. Srikandi merasa susah, sebab ia tak mungkin mengerjakan PR tersebut disaat ia harus menemani ibunya di rumah sakit.

Saat di rumah sakit, ia berkenalan dengan salah satu suster. Nama orang itu adalah Maria Renata Aini atau lebih suka dipanggil dengan Aini. Setelah membaca karangan Srikandi, tiba-tiba Aini mengundang Srikandi ke tempat kos tempat ia tinggal. Srikandi terkejut saat mengetahui bahwa Mbak Aini adalah salah satu penulis terkenal. Dan dengan senang hati menerima pengajaran perihal dunia tulis-menulis.

Pak Harno terheran-heran dengan hasil karangan Srikandi. Ia bertanya pada Srikandi, apa yang ia lakukan sehingga hasil tulisannya demikian bagus. Gadis kelas enam SD itu lantas menceritakan pertemuannya dengan Kak Aini dan bagaimana cara kakak angkatnya itu mengajarkan ilmu menulis padanya. Pak Harno terkesan dengan pertemuan Srikandi dan Aini dan menitipkan salam pada Aini.

Aini menceritakan kepada Srikandi bahwa dirinya sebatang kara. Ibunya meninggal bersama adik perempuannya, sedangkan ayahnya sudah meninggal sejak Aini masih kecil. Srikandi menjadi semakin dekat pada Aini ketika mendengar cerita tersebut. Ia ikut Aini pulang ke rumah Aini di Malang. Pertama-tama untuk berlibur, yang kedua adalah untuk merasakan perjalanan menggunakan kereta api. Tanpa mereka ketahui, Pak Harno menguntit mereka. Pak Harno baru menampakkan diri pada mereka berdua saat kereta api akan memasuki lorong di daerah perbatasan Blitar-Malang.

Beberapa waktu kemudian, Srikandi merasa terkejut. Ia mendapatkan kiriman dari Malang berupa mesin ketik, baju anak perempuan dan baju wanita dewasa. Ternyata paket kiriman tersebut berasal dari Aini. Di salah satu paket, terdapat sebuah surat yang memintanya agar menuju ke suatu tempat. Sesampainya disana, ia dan ibunya terkejut. Rupanya Kak Aini menikah dengan Pak Harno.

Saya jarang menemukan seseorang yang mengatakan bahwa penulis adalah salah satu dari profesi. Orang lebih lebih condong menganggap bahwa menulis hanya sekedar hobi. Bukan suatu hal yang dianggap serius. Novel berplot sederhana ini mengajarkan hal tersebut. Bahasa yang digunakan pun juga bagus. Bahasa yang baik bagi anak-anak, namun tidak terlalu kaku. Yang jelas ketidakkakuannya terletak bahwa membaca novel ini tidak seperti cerita-cerita pada buku pelajaran. Ada canda antara Aini dan Srikandi, ada sisi kemanusiaan ketika Srikandi membiarkan Pak Harno dan Mbak Iin saling bertukar cerita agar mereka selalu akrab. Ada sisi sedikit pendidikan sejarah tentang PETA dan juga akhir yang manis ketika Aini dan Harno menikah.

Saya tertarik mengenai pengajaran Pak Harno dan Mbak Iin tentang dunia menulis. Pak Harno mengajarkan mengenai show don’t tell. Mbak Iin melatih Srikandi tentang pentingnya sikap mengamati dari seorang penulis. Saya rasa kekentalan mengenai dunia tulis menulis tidak lepas dari latar belakang penulis sendiri sebagai penggiat dunia kepenulisan. Benar-benar buku yang unik. Sebab biasanya buku-buku terbitan Balai Pustaka lebih condong pada masalah-masalah di pedesaan dan masalah ekonomi.

Satu hal yang saya sayangkan. Kelihatannya buku-buku dari Balai Pustaka dibuat tidak maksimal. Sampul novel masih terkesan jadul. Beda jauh dengan novel-novel pop sekarang. Begitu juga dengan jenis kertas dan teknik cetak. Ada beberapa bagian tulisan yang blur. Apakah mungkin karena keterbatasan dana? Saya sangat menyayangkan andai buku-buku Balai Pustaka kalah bersaing dengan penerbit-penerbit swasta hanya karena masalah ini.

Daftar Tokoh

Nama Tokoh

Keterangan

Srikandi

Tokoh utama; bercita-cita menjadi penulis

Pak Harno

Guru Bahasa Indonesia Srikandi

Maria Renata Aini

Suster yang merawat ibu Srikandi

Ibu Srikandi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s